I Love You Too

I Love You Too
Kesayangan



"Loh kalian bobo di kamar Abang semalam?" tanya Kenan pada duo bocahnya saat pulang dari Mesjid, dapati Richie berteriak meminta Ncusss untuk ambilkan selimutnya di kamar Nanta.


"Iya don. Aban tesenenan deh ada tita, ya Chie." jawab Balen percaya diri jika Abangnya akan senang karena keduanya menginap dikamar Abang.


"Tania tesenenan juda denelin baban baca celita." jawab Richie.


"Kenapa jadi Tania yang kesenangan?" tanya Nona bingung.


"Soanna dia ndak tau celita itu, denelin aja selius." Richie kembali sok tahu.


"Memanna tamu tau ceitana?" tanya Balen.


"Ndak. Atu ndak denelin tan atu bobo." jawab Richie.


"Bobo apa? mata kedip-kedip begitu." Nanta terkekeh.


"Tedip sebental ajah." jawab Ichie


"Sebentar tapi kok duluan Balen yang tidur?" tanya Nanta.


"Baen lebih nantuk, jadi bobo duluan deh, telus Tania, balu atu."


"Kok tahu, Ichie mengintip ya?" Dania terkekeh.


"Tania sih nolok atu denel." semua terbahak mendengarnya, apalagi Dania.


"Ncusss baju beenang Baen don." pinta Balen hampiri Ncusss dikamarnya.


"Balen berenang?" tanya Nona pada Nanta.


"Iya sama aku disini." jawab Nanta tersenyum.


"Aku juga ya?" Dania meminta persetujuan suaminya.


"Loh iya justru bagus." Nanta anggukan kepalanya.


"Atu tundu Aban Maik aja yah?" Richie ikut minta persetujuan Abangnya.


"Iya boleh, yang buat kamu nyaman saja." Nanta mencubit pipi adiknya gemas.


"Janan cubit don, atu nanti pipina bentak taya olang dendut." katanya menatap Nanta serius.


"Memang iya?" tanya Kenan.


"Sepeltina beditu." jawab Richie membuat semua kembali terbahak.


"Aku kekamar dulu ya Pa, Mamon. Ganti baju." ijin Nanta pada keduanya.


"Atu juda." jawab Richie.


"Loh kamu kan tidak berenang?" Nona jadi bingung.


"Atu belubah pikilan." jawabnya membuat Nanta bertambah gemas saja, mengangkat tubuh adiknya dan menciumi perutnya sampai Richie berteriak kegelian. Kenan, Nona dan Dania jadi tertawa melihatnya.


"Baen udah sesai nih, Tapan beenangna bejanda teus." Omel Balen melihat Abang dan Ichie asik sendiri. Tak ada yang menjawabnya membuat Balen bertepuk tangan.


"Jadi beenang ndak?" teriaknya seperti Ibu guru yang meminta muridnya untuk diam.


"Yan seius don." wajahnya memberengut. Nanta tersenyum jahil, meletakkan Richie perlahan lalu gantian mengangkat Balen dan menciumi perutnya. Sekarang Balen yang berteriak kegelian. Begitu Nanta berhenti,


"Ladi, ladi." pintanya membuat semua terbahak.


"Dasar Ibu Balen, tadi saja suruh serius, sekarang kamu yang ketagihan." kata Nona disela tawanya.


"Abisna Aban sih. Bejandana ama Ichie aja." jawabnya rupanya tadi sedikit iri, kembali semua tertawa.


Disinilah mereka sekarang, dikolam renang melihat Balen yang semakin hari semakin bagus gerakan renangnya, sudah menguasai beberapa macam gaya, tapi Larry tekankan agar Balen memperlancar gerakan gaya bebasnya. Larry terobsesi untuk ikutkan Balen perlombaan sesuai umur. Berhubung kelas umur Balen belum ada maka menunggu sambil giat berlatih.


"Baen semakin pintar berenangnya." komentar Kenan, tentu saja bangga, anaknya berlatih dengan sungguh-sungguh.


"Jadi atlet juga nih?" tanya Nona pada suaminya.


"Terserah anaknya saja, kalau saya melihat Balen seperti ini saja sudah sangat senang." jawab Kenan membuat Nona anggukan kepalanya setuju. Ia tidak berharap banyak, ini saja sudah lebih dari cukup.


"Ichie butan ditu caana." Balen betulkan gerakan Richie.


"Atu bisa Baen, janan ajain." sitengil gengsi diajari Kakaknya.


"Talo taya ditu tamuna capek." kata Balen lagi, akhirnya Richie ikuti arahan Balen.


"Nah, kewen tamu talo ditu." kata Balen lagi, membuat semua tertawa. Dania juga sibuk berenang, dua kali ujung saja sudah cukup untuk Dania berolah raga.


"Oke latihannya cukup ya. Abang sebentar lagi dijemput Papi nih." kata Nanta pada adiknya.


"Mau kecabang utara." jawab Nanta.


"Ck...ck...ck... jauh amat." komentar Richie seakan pernah kesana.


"Janan upa bawa jatet, sana dinin loh banak saju." Richie kembali ingatkan Abangnya.


"Itu kutub utara bukan ya?" tanya Nanta terkekeh, hampiri Ichie yang semakin hari semakin menggemaskan.


"Sok tahu." kata Nanta ciumi adiknya ini.


"Janan cium sih, atu lisih." katanya menghapus bekas ciuman Abangnya. Nanta kembali terbahak, bisa-bisanya bilang risih dicium Abangnya sendiri.


"Abang sayang tahu." kata Dania pada Richie.


"Iya atu juda sayan sih, tapi ndak usah cium." katanya tengil.


"Cium Baen aja." kata Balen langsung melompat dalam gendongan Abangnya.


"Eh Baen, aban atu juda itu." protes Richie karena Abangnya diambil Balen. Langsung ikut juga melompat kepelukan Nanta.


"Aduh Abang susah nih." teriak Nanta karena keduanya ambil posisi ingin digendong Abangnya. Semua tertawakan Richie yang jual mahal di cium Nanta tapi tidak rela Balen kuasai Abangnya.


Sarapan pagi hari ini di pinggir kolam, setelah semuanya lakukan aktifitas berenang. Sementara Nanta setelah minum air putih dan jus murni langsung menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian, Dania ikuti suaminya, sementara Balen dan Richie masih sibuk menikmati sarapan pagi ditemani Kenan dan Nona.


"Atu mo buah aja ah, janan loti." kata Richie pada Nona.


"Tadi kamu bilang mau roti, bagaimana sih." protes Nona pada Richie.


"Soanna atu mo taya Papa, Mamon." Richie membela diri.


"Papa tidak makan nasi loh, kamu mau tidak makan nasi?" tanya Nona.


"Nanti atu tulus." Richie menolak.


"Papa tidak kurus nih." kata Kenan pada Richie.


"Papa tan udah teja, atu belum." kata Richie tidak nyambung.


"Matan, matan aja sih. Janan potes-potes." Balen pandangi adiknya sambil memberengut.


"Eman napa sih Baen, tan atu yan matan butan tamu." sahut Richie ikut memberengut.


"Atu tasih tau, jadi oan tuh janan suta potes, talo cewet taya sapa emanna?" tanya Balen melirik Mamon. Kenan langsung terkikik geli.


"Kaya siapa?" pancing Kenan.


"Taya ibu-ibu." jawab Balen tidak berani menyebut Mamon.


"Kamu saja belum ibu-ibu sudah cerewet.' kata Nona menahan tawa.


"Baen ladi sahain, Baen tan cuma tasih tau Ichie janan taya ibu-ibu." kata Balen tetap nikmati rotinya.


"Ibu-ibunya siapa ya?" tanya Kenan terkekeh.


"Papa pancing terus anaknya." Nona peringati Kenan yang tawanya sudah meledak.


"Janan ditu Papa. Nanti anakna yan dimaahin." kata Richie membuat Kenan semakin terbahak.


"Kenapa anaknya yang dimarahi?" tanya Nona pada Richie.


"Soanna bilan Mamonna cewet." jawab Richie.


"Kok Mamon?"tanya Nona lagi.


"Tan ibu-ibuna Mamon ajah, ndak ada ladi sini." jawab Richie membuat Kenan dan Nona terbahak.


"Tuh kan Papa..." Nona langsung merengek manja pada suaminya, Kenan masih saja tertawa hampiri istrinya kemudian memeluk Nona.


"Biar cerewet Mamon kesayangan Papa nih." katanya pada Richie.


"Iya Mamon juga sayang Papa, kalian saja yang tidak sayang Mamon." kata Nona pada kedua bocahnya.


"Sayan tok." jawab Balen pandangi Nona.


"Iya, apaladi talo ndak cewet malah-malah." jawab Richie sambil tersenyum manis.


"Siapa yang cerewet?" tanya Nona.


"Mamon, tadi Papon bilan bian cewet, Mamon sayanan Papon." jawab Balen membuat Kenan meringis karena Nona mencubit perutnya.


Maafkan kemaren absen, hari senin kamis itu jadwal sibuknya aku di dunia nyata, kemarin bertambah sibuk karena ada keluargaku yang accident. Alhamdulillah sedang dalam pengobatan, Semoga kita semua sehat selalu, hari ini aku usahakan minimal tiga ya. love u all.