
"Dek, ayo sarapan. Ngapain bengong disitu."
"Nanti aja Kak, Aku nunggu mama."
"Nunggu aku juga kan?" sahut Kenan yang berjalan digandeng mamanya. Terlihat manja sekali.
"Tumben cepat bangun, biasanya ikutan tidur dikamar Kenan tuh Mama dek, bisa satu dua jam lagi baru turun." Reza menjelaskan kebiasaan Mama jika membangunkan Kenan yang selalu minta waktu 5 menit dan berlanjut sampai satu jam kedepan. Kiki tertawa mendengarnya.
"Andi makan duluan nih tante." Andi mengangkat piringnya sambil tertawa pada Nina.
"Yang banyak Ndi makannya, kamu sekarang terlihat kurus ya?"
"Turun dikit tante, begadang terus kan kemarin biar bisa wisuda bareng berempat."
"Alhamdulillah berhasil ya kalian berempat, tinggal menunggu waktu wisuda."
"Harusnya Reza yang kurus ya tante, selain mengejar wisuda, mengejar cinta juga hahaha." Semua tertawa mendengar ocehan Andi. Terlebih Nina tertawa sampai air matanya keluar.
"Duh Ndi, si Eja kenapa ga kurus? karena mengejar cintanya dibantuin sama mama mama. Dia sih tinggal lapor ke mama kalau ada yang ga beres. Nanti mama sama mama Ririn deh cari akal." Semua kembali tertawa. Kecuali Kiki yang memandang Reza seperti minta penjelasan. Reza hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ah mama kebablasan, lagi ada Kiki, ketahuan deh.
"Ayo Kisay sarapan, nanti berangkat kuliah aku yang antar aja, sekalian aku berangkat kecirebon." Kata Kenan sambil meneguk jus melon yang sudah disiapkan Nina.
"Kisay?" apa tuh Ken?" tanya Nina
"Kiki sayang ma." jawab Kenan sambil melirik Reza. Ia sengaja menggoda abangnya pagi ini. Nina menepuk pundak kenan gemas, sementara Andi menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan Kenan.
"Jangan begitu Ken, jangan menggoda abangmu, nanti rusak moodnya, ga konsen lagi nanti apa yang mau dibahas, mau ketemu pihak ketiga nih." Andi mengingatkan Kenan. Membayangkan Reza yang kalau sudah galau banyak bengongnya, bisa gak beres nanti urusan hari ini.
"Kamu mau bareng Kenan dek? tanya Reza santai. Kiki menggeleng cepat. "Pak Min sebentar lagi sampai." jawab Kiki. Reza menjulurkan lidahnya pada Kenan dan menarik tangan Kiki yang sedari tadi berdiri untuk duduk disebelahnya. Kiki pun terduduk, Reza menyendoki nasi goreng lalu menggeser ke hadapan Kiki. "Yuuk buruan aku mau berangkat." katanya.
"Enak nih nasi goreng, siapa yang masak." tanya Andi sambil menikmati sarapan paginya.
"Kiki." jawab Reza yang juga menikmati sarapan pagi yang pasti terasa sangat enak karena ditemani pujaan hatinya.
"Aku cuma bantuin mama, masih belajar." Jawab Kiki mengingat tadi hampir saja memasukan garam sesendok penuh kedalam adonan nasi goreng.
"Pintar ya Kiki masaknya, padahal cuma dikasih tau sambil lewat." jawab Nina senang. Setelah sarapan Reza dan Andi berpamitan, menyalami Nina juga Kenan.
"Aku berangkat dulu ya." Reza mengacak anak rambut Kiki yang mengantarnya sampai teras, lalu segera menyusul Andi yang sudah menunggu di mobil.
"Nanti aku jemput." Reza mengingatkan Kiki ketika mobil perlahan melaju. Kiki mengangguk sambil melambaikan tangan pada Reza dan Andi.
"Besok kita perawatan ya Ki." kata Nina begitu Kiki masuk kedalam rumah.
"Iya ma, besok aku kuliah pagi aja sampai jam 10."
"Nah pas itu, kamu selesai kuliah langsung perawatan, besok mama jemput kekampus setelah itu kita langsung ke House of Charming."
"Iya ma."
"Ma, lamarin Sheila." Rengek Kenan, langsung dipukul Nina. "Kuliah kamu selesaikan dulu." tegas Nina.
"Ah Bang Eja belum selesai kuliah malah dijodohin dari balita." sungut Kenan.
"Eja sudah punya penghasilan sendiri Ken, kamu belum kan. Kamu juga belum belajar dikantor Papa, dari awal kamu kuliah mama sudah minta kamu paling ga seminggu dua kali kekantor cabang Malang, Seperti Reza disini pelajari pelan-pelan dari bawah. Sampai punya usaha sendiri dia sudah mengerti sedikit banyaknya dunia kerja. Kalau kamu menurut saat itu, ketika kamu lulus kamu sudah bisa handle kerjaan papa." Oceh Nina sedikit kesal. Kiki hanya mendengarkan tanpa komentar. Ingin kembali kekamar berleyeh-leyeh tapi tak enak hati. Terpaksa duduk di sofa diantara Kenan dan Nina.
"Kamu magang dulu deh dikantor papa tiga bulan, setelah itu baru mama lamar Sheila untuk kamu."
Kenan memajukan bibirnya, "Saingan aku banyak ma. Ada dua orang yang mau melamar Sheila." sungut Kenan
"Kalau keduluan orang berarti Sheila bukan jodoh kamu."
"Mamaaa...." Rengek Kenan
"Duh yang kaya gini mau melamar anak orang. Sedikit sedikit merengek." goda Nina. Kiki ikut tertawa.
"Tadi malam sudah bijaksana, pagi ini manja sekali." celutuk Kiki.
"Ah kamu kisay, berpihak ke mama lagi. Kalau aku ga lamar segera, Sheila bisa menggoda bang Eja loh." Kenan menakuti Kiki.
"Kalau tergoda berarti bukan jodoh aku." jawab Kiki asal.
"Ih jangan mengada-ada, Eja ga akan tergoda, kamu kaya ga kenal abangmu saja Ken." sahut mama cepat, khawatir Kiki salah sangka.
"Iya maaa, aku cuma menakuti Kiki." Kenan terkekeh, membuat Kiki mencebikan bibirnya.
"Kamu ga naik kereta aja, ke cirebon?" tanya Nina
"Ga ma, aku perlu mobil dimalang. Nanti harus ke kampus dan kekantor kan."
"Ya sudah sana berangkat, nanti kesorean."
"Mama mengusir aku?" Nina segera menjewer telinga Kenan. Ada saja celutukan bungsunya yang membuatnya sedikit naik darah.
"Semalam bang Eja, hari ini mama, kalian kompak sekali menyakiti aku."
"Kamu sih suka memancing emosi kita. Mama suruh kamu berangkat sekarang biar bisa ngobrol enak sama papa. Trus kamu mau lanjut kemalang hari ini juga atau besoknya?"
"Tergantung papa, kalau papa masih bermalam di cirebon aku ikut papa. Janji ya ma kalau tiga bulan ini kerja aku bagus, mama lamar Sheila untuk aku." Kenan mengingatkan Nina.
"Iyaa mama janji, walaupun mama berharap kamu berjodoh sama yang lain aja."
"Ih mama kok setengah hati, pantas aja Sheila setengah hati juga ke aku."
"Mama sih suka Sheila anaknya baik, tapi mama ga suka sama ibunya."
"Aku nikahnya sama Sheila ma, bukan sama ibunya."
"Iya, tapi kamu akan ketemu terus sama Ibunya, siapkan mental aja. Belum tau juga kan Ibunya mau ga kamu jadi menantunya. Dia juga ga suka sama mama." Nina tertawa mengingat dia pernah beradu mulut dengan Ibu Sheila yang selalu kepo ingin tahu urusan orang, kebetulan waktu itu Nina yang dikepoin, jadi terbentaklah Ibunya Sheila karena Nina merasa terganggu.
Kenan menghela nafas panjang. Bersyukurlah bang Eja punya calon mertua seperti mama Ririn yang setype dengan mamanya, pikir Kenan.
"Gimana tuh ki?" tanya kenan memandang Kiki yang sedari tadi jadi pendengar yang baik.
"Ikutin alur aja," jawab Kiki sambil tersenyum menenangkan.
"Kenapa mama jodohinnya abang sih bukan aku." protes Kenan pada Nina. Lagi-lagi Nina menjewer Kenan. Dasar Kenan.