I Love You Too

I Love You Too
Membujuk



Setelah melihat Raymond dan Nanta saling tos, Nona menganggukkan kepalanya, seperti sudah mempersiapkan aksi balas dendam. Ia tampak tersenyum sinis pada Raymond dengan tangan di dagunya.


"Kenapa?" tanya Kenan terkekeh, Nona terlihat sangat lucu dan menggemaskan dengan ekspresinya saat ini.


"Tidak." jawab Nona cepat merubah ekspresi wajahnya, mengerjapkan matanya lalu tersenyum lebar pada Kenan. Duh benar-benar manis sekali, batin Kenan semakin gemas. Lutfi seperti melihat tatapan penuh cinta di mata Keduanya.


"Hmm... jadi ini calon istri lu, bro. Pantas tadi menolak mau dikenalkan sama cewek ya." Lutfi melipat tangannya di dada, menunggu jawaban dari Kenan sahabatnya. Kenan hanya mengedikkan bahunya tersenyum tipis.


"Oh ya Mas Kenan, kamu menolak dikenalkan sama cewek. Hebat!!!" Nona mengacungkan jempolnya beneran kagum sama Kenan. Kenan jadi meringis dibuatnya.


"Iya tadi dia tidak cerita kalau kamu lagi jalan sama Nanta, dia cuma bahas anaknya saja." adu Lutfi pada Nona. Nona pun tertawa mendengarnya.


"Kamu tinggal dimana, Non?" tanya Anggi pada Nona.


"Cirebon Malang mondar-mandir saja." jawab Nona nyengir. Kenan hanya menyimak, ternyata tinggal di Malang juga.


"Wah kenapa mondar-mandir? kerja?" tanya Anggi lagi, seperti ingin mengorek Nona lebih dalam. Nona menganggukkan kepalanya.


"Kerja dimana?" tanya Lutfi. Nona menyebutkan nama salah satu perusahaan terkenal di Kota Malang.


"Dekat kantor lu kan Ken?" kata Lutfi pada Kenan. Kenan menaikkan alisnya, ia saja baru tahu Nona tinggal dan kerja di Malang.


"Cinta lokasi ternyata ya kalian." Lutfi menyimpulkan. Nona terkekeh sambil mengibaskan tangannya dan juga menggelengkan kepalanya. Kenan cengar-cengir membiarkan sahabatnya menduga-duga.


"Bukan seperti itu." Kekeh Nona ia ingin mengatakan yang sebenarnya.


"Apanya yang cinta lokasi sih. Jelaskanlah Mas Kenan." kata Nona lagi menepuk bahu Kenan. Kenan masih saja tersenyum pada kedua sahabatnya.


"Di Jakarta tinggal dimana Non?" Anggi tidak menggubris pernyataan Nona. "kapan-kapan main ke Malaysia, kita juga lagi liburan disini." lanjut Anggi tersenyum pada Nona.


"Sebelumnya aku menginap di hotel, baru tadi malam menginap di rumah Tante Nina. Nanti kalau ke Malaysia in syaa Allah aku kabari" jawab Nona apa adanya.


"Ooh..." ekspresi Anggi benar-benar seperti mendapatkan gossip terhangat masa kini. Wajahnya senyam senyum penuh arti sambil menangkupkan kedua tangannya.


"Sudah menginap dirumah Mama toh." Lutfi menganggukkan kepalanya berulang-ulang. Suami istri sama saja, Nona menatap Kenan bingung. Lagi-lagi Kenan terkekeh dan mengacak anak rambut Nona, tentu saja sahabatnya jadi semakin salah sangka dengan kejujuran Nona dan aksi Kenan menjadi pemandangan yang sangat manis menurut semua yang melihat.


"Sudah ya interogasinya, nanti imajinasi kalian tambah berkembang lagi, bikin repot saja." kata Kenan akhirnya buka suara.


"Undangan jangan lupa ya. Honeymoon ke Malaysia saja." kata Lutfi lagi.


"Ish panjang ya hayalannya. Doakan saja gue sama Nona dapat jodoh yang terbaik." kata Kenan berusaha mematahkan praduga sahabatnya.


"Iya kami doakan kalian berjodoh." jawab Anggi konyol. Kenan dan Nona saling tatap kemudian tersenyum lebar.


Mereka lalu memutuskan pulang dan berpisah saat menuju parkiran. Raymond kembali mendorong kursi roda Kenan.


"Lihat saja nanti ku balas." sungut Nona pada Raymond.


"Balas apa sih Tante?" tanya Nanta masih dalam rangka menggoda Nona.


"Tante lagi?" delik Nona pada Nanta. Pecahlah tawa Nanta dan Raymond. Puas sekali bisa mengerjai Nona hari ini.


Nona menghampiri Roma dan menjulurkan lidahnya pada Raymond dan Nanta.


"Ngambek lagi." bisik Nanta pada Raymond.


"Biarkan saja, nanti juga baik lagi. Tadi kan begitu?" Raymond balik berbisik dan terkekeh.


"Ray, kamu benar-benar jahil. Kasihan Nona, dia kan tamu Oma." tegur Kenan melihat Nona merasa terganggu.


"Nanta, coba kamu bujuk." perintah Raymond pada Nanta, sang adik segera menurut dan berjalan cepat menghampiri Nona.


"Kak Nona, beli es krim yuk." ajak Nanta menarik tangan Nona.


"Aku yang traktir." Nanta menunjukkan Kartu ATM yang Kenan kasih tadi. Dari kejauhan Kenan melihat Nona menepuk tangan Nanta, menyuruhnya memasukkan kembali kartu tersebut kedalam dompet.


"Tidak terima traktiran dari anak sekolah ya." dengus Nona mengeluarkan uang cash dari dompetnya.


"Ini ATM Papa, jadi Papa yang traktir sebenarnya." Kekeh Nanta kembali menyodorkan Kartu ATM langsung pada kasir.


"Ini saja Nanta." kata Nona lagi menepuk tangan Nanta.


"Biar Nanta saja yang bayar Non. Saya juga mau." Kenan yang sudah mendekat berkata pada Nona. Mau tidak mau Nona pun kembali memasukkan uangnya ke dompet.


"Mau rasa apa Mas?" tanya Nona pada Kenan, "Raymond kamu tidak usah." dengusnya pada Raymond, membuat Kenan terkekeh.


"Kasihan suamiku, Kak." Roma membujuk Nona, membuat Raymond dan Kenan semakin terkekeh.


"Mas rasa apa?" tanya Nona lagi.


"tambah Vanilla dua." sahut Nanta sekaligus memberi tahu kepada kasir pesanan tambahan untuk Kenan dan Raymond.


"Itu Nanta tahu." senyum Kenan pada Nona. Nona mengalihkan pandangannya dari Kenan. Sial nih Raymond, kenapa gue jadi salah tingkah lihat Mas Kenan senyum begitu, pikir Nona mengacak anak rambutnya.


"Om percaya Nona umur dua puluh sembilan tahun? masih bocah banget Om kelakuannya. Tadi ngambek-ngambekan sama Nanta, terus baikan mereka. Lucu deh." Raymond tertawa mengingat kelakuan Nona dan Nanta tadi.


"Eh ngomongin gue ya. Kedengeran tahu." Nona memajukan mulutnya beberapa senti. Lagi-lagi Kenan terkekeh melihat ekspresi Nona.


"Tuh benar kan aku Om?" kekeh Raymond meminta persetujuan Kenan.


"Kamu juga sama saja, untung saja istrimu Roma." Kenan senyam senyum menggelengkan kepalanya.


"Aku juga begini karena Om. Dulu aku seperti Ayah kan kalem." Raymond membela diri.


"Sekarang Om seperti Ayah." jawab Kenan.


"Iya Om kalem seperti Ayah karena keadaan." dengus Raymond.


"Hmm..." Nanta menyerahkan cup es krim pada Kenan dan Raymond. Dengan sudut mata Raymond kembali meminta Nanta membujuk Nona agar tidak ngambek.


"Kak Nona aku mau lihat sepatu." tarik Nanta saat melewati counter Nike. Nona menurut karena ia pun sedang mencari sepatu yang sedang diburu pencintanya.


"Yang type *** ada stock tidak?" tanya Nona langsung pada petugas di counter.


"Aku juga cari itu." Nanta tampak bersemangat.


"Kosong." jawab petugas cepat.


Wajah Nanta dan Nona tampak kecewa, lalu mereka mulai membahas koleksi sepatu apa saja yang mereka punya. Rupanya Nona dan Nanta mempunyai hobby yang sama. Seru sekali percakapan mereka, lalu kembali melangkah meninggalkan counter sepatu menuju parkiran sambil membahas hal yang hanya mereka berdua yang tahu. Roma yang merasa diabaikan menarik diri dan mendekat pada Raymond juga Kenan.


"Kenapa mundur, beda kelas ya?" Raymond terkekeh menggoda istrinya.


"Mereka asik sekali membahas merk sepatu yang mereka sama-sama punya. Akhirnya seru sendiri dan aku tidak mengerti apa yang mereka bahas." keluh Roma.


"Tuh Om, cocok tuh calon istri sama anak." kata Raymond pada Kenan.


"Bodo ah." jawab Kenan malas ia malah menikmati es krim yang belum juga habis. Sementara Raymond belum bisa menikmati karena harus mendorong Kenan.


"Aku suapi?" tanya Roma. Raymond mengangguk cepat, dan mulai menikmati suapan dari istrinya sambil berjalan pelan menyusul Nanta dan Nona yang sibuk masuk counter demi counter yang searah jalan menuju parkiran.


"Ray, kursi ini kan bisa jalan sendiri tinggal pencet tombol. Kenapa kamu dorong terus?" Kenan baru sadar ketika melihat tombol pada kursi rodanya.


"Iya bisa sih. Tapi kalau didorong lebih sweet dilihatnya Om." jawab Raymond membuat Kenan terkekeh dan menonjok pelan perut keponakannya itu.