
Kenan dan rombongan akhirnya tiba lebih dulu di Villa, sambil menunggu kedatangan Tari dan keluarganya juga Baron dan Mita, mereka memesan makanan untuk makan siang, tidak lupa snack sore dan juga makan malam yang minta diantar sesuai dengan waktunya, agar saat makan nanti masih terasa hangatnya.
Nanta mengajak Richi ke lapangan basket yang tersedia di Villa. Pengasuh pun seakan mengerti membawakan Richi bola basket mini nya.
"Ayo kejar bolanya, Dek." Nanta memegangi Richi yang berlari mengejar bola. Richi tergelak dengan langkah tertatih, mendrible bola dengan bantuan Nanta, lalu mengejar bola tersebut ketikaa lolos dari tangan mereka.
"Masanta..." teriakan gadis kecil mengganggu konsentrasi Nanta. Sementara Richi yang sedang asik main basket tak mau digendong, ia masih ingin bermain. Nanta tahu siapa yang memanggilnya begitu. Siapa lagi kalau bukan Wulan adiknya. Dilihatnya Wulan sedang digendong oleh Mama.
"Sini Dek." panggil Nanta pada Wulan, ia tidak bisa menghampiri karena Richi tidak mau diganggu keasikannya.
"Ncusss, gendong Wulan deh ajak sini." kata Nanta pada pengasuh Richi yang sedari tadi standby mengikuti Nanta dan Richi.
"Richi ayo ada Mama ayi tuh." Nanta memaksa Richi berhenti bermain basket. Tentu saja Bocah kecil itu berontak dan menangis saat digendong Nanta.
"Abang harus bertemu Mama dulu, nanti kita main lagi." bujuk Nanta pada Richi. Ncusss pun tidak berhasil membawa Wulan yang tidak mau pisah Mama.
Nanta meninggalkan Richi dilapangan bersama Ncusss, ia menghampiri Mama dan Wulan. Sementara Richi setia menunggu Nanta sambil memegang bolanya.
"Masanta pain?" tanya Wulan saat Nanta mendekat.
"Main basket sama Adek Ichi, mau ikut?" tanya Nanta sambil mengulurkan tangannya.
"Ndak, sama Mama aja." jawab Wulan menepis tangan Nanta.
"Sombong betul sih." Nanta menjawil pipi Wulan.
"Maunya cuma sama Mama dan Papanya, susah betul dekat sama yang lain." kata Tari pada Nanta.
"Mama dari tadi kah?" tanya Nanta pada Tari.
"Baru saja, ini Mama belum masuk karena lihat kamu dilapangan." jawab Tari terkekeh.
"Rindu ya sama aku." tanya Nanta menaikkan alisnya.
"Pasti lah mana mungkin tidak rindu. Iya kan Lan?" Tari mencium pipi Wulan gemas.
"windulah masanta." Wulan terkekeh mengikuti ucapan Mama.
"Apa sih windu?" tanya Nanta menggoda Wulan.
"Huh Mama." Wulan melengos meminta bantuan Mama, ia tahu Nanta sedang menggodanya.
"Ih Kamu ini baru bertemu sudah dibikin merajuk." Tari menepuk Nanta gemas.
"Gampang sekali merajuk?" tanya Nanta bingung.
"Adikmu ini sensitif loh, perasaannya halus." kata Tari terbahak.
"Waduh gawat, mana bisa begitu Wulan sayang, Balen saja Abang panggil Singkong Rebus, tidak merajuk tuh." kata Nanta kembali mencubit pipi Wulan.
"Mana Bayen?" tanya Wulan menoleh kesana kemari.
"Didalam, ayo kita masuk." Nanta mengajak Tari dan Wulan masuk kedalam Villa, baru saja melangkah beberapa langkah,
"Huaaaaa...." tiba-tiba saja Richi menjerit, menangis karena merasa ditinggal Nanta. Nanta langsung saja tertawa, ia baru melihat ternyata Richi dari tadi menunggu, dikira Nanta main bersama Ncusss. Pantas saja tidak terdengar suaranya.
"Gawat ini, aku harus bagaimana." Nanta bergumam menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tari terbahak melihatnya.
"Belum punya anak kamu sudah bingung begitu, bayangkan kalau kamu nanti punya anak tiga, semuanya mau sama kamu dengan keinginan yang berbeda." kata Tari lagi masih tertawa.
"Ish Mama seperti punya anak tiga saja." Nanta ikut tertawa.
"Mama hanya membayangkan kamu. Mama bersyukur punya anak hanya dua dan yang satu sudah bujang." kata Tari dengan sisa tawa dibibirnya.
"Ya sudah kamu main dulu sama Richi." Tari meninggalkan Nanta dilapangan.
"Masanta dadah." Wulan melambaikan tangannya, Nanta pun membalas sambil terkekeh. Untung saja Wulan tidak mau digendong Nanta tadi. Nanta kembali menghampiri Richi mengajaknya kembali bermain. Lumayan lama mereka bermain, selama itu pula Nanta membungkuk hingga pinggangnya terasa pegal.
Nanta mengajak Richi masuk ke dalam Villa, kali ini tidak ada penolakan, sambil menggendong bolanya ia berjalan digandeng Nanta. Merasa sudah besar tidak mau digendong, walau kadang badannya meleot karena mengikuti langkah Nanta.
"Kasih bolanya sama Ncusss, biar disimpan." kata Nanta pada Richi.
"Ehm..." Richi menggelengkan kepalanya. Ia memeluk erat bola ditangannya. Nanta terkekeh melihat Richi yang sepertinya merasa sudah besar.
"Nanti makan yang banyak biar kuat dan cepat besar, Ok?"
"Ote." jawab Richi membuat Nanta terbahak. Apalagi setelah mendekati pintu masuk Richi tidak lagi mau dipegang, ia berjalan cepat meninggalkan Nanta dan Ncusss.
"Hei, hati-hati jatuh nanti." teriak Oma panik saat melihat Richi berjalan ngebut dan sudah pasti oleng. Benar saja saat menginjak karpet Richi terjatuh. Tapi tidak menangis, ia berdiri lagi dan berjalan menghampiri Kenan sambil menyerahkan bola basket pada Papanya.
"Sudah mainnya?" tanya Kenan pada Richi.
"Huh..." jawab Richi sambil mengangguk.
"Sudah Papa, gitu jawabnya, masa huh huh." protes Nanta pada Richi.
"Papon, butan Papa." Balen menyahuti cepat, membenarkan perkataan Nanta.
"Yang panggil Papon tuh kamu saja, Singkoong." jawab Nanta terkekeh.
"Ichi Juda Aban." jawab Balen melembutkan suaranya dengan mata ikut dipejamkan.
"Ayo Ichi bilang Papa apa Papon?" tanya Nanta pada Richi.
"Pon." jawab Richi. Balen senang sekali mendengarnya.
"Abang ulang ya Balen. Ichi coba bilang Papon apa Papa?" tanya Nanta lagi.
"Pa." jawab Richi membuat semua terbahak.
"Ih Ichi dasal." sungut Balen kesal, bertambah tertawa saja semuanya.
"Sana Balen main sama Wulan. Biasanya kan cuma bicara di telepon." kata Kenan menyuruh Balen mendekati Wulan.
"Iya tuh pakai mainan yang tadi Opa kasih." kata Opa ikut mendorong Balen yang sedari tadi di pangkunya.
"Capek ya Pa, pangku terus." Kenan terbahak melihat Papa.
"Lumayan, sudah setengah hari mau dipangku Opa terus, bisa keram kaki Opa nih." jawab Opa ikut terbahak. Nona yang sudah menggelar karpet menyebar mainan Balen dan Richi disana.
"Ayo anak-anak main disini." kata Nona bertepuk tangan. Langsung saja Balen dan Wulan menghampiri Nona, mengambil posisi duduk di karpet. Richi yang sudah lelah membaringkan badannya di sofa dekat Kenan.
"Main sama Ncusss ya, Mamon mau ngobrol." kata Nona pada Balen dan Wulan.
"Yah." jawab Balen cepat.
"Mamonnnn." Wulan tersenyum memandang Nona dan mengulurkan tangannya, menyalami Nona dengan santun.
"Ih pintar sekali sih anak Mamon ini." Nona yang terharu langsung mencium pucuk kepala Wulan.
"Baen juda Mamon." Balen ikut-ikutan menciumi tangan Nona. Semua kembali tertawa melihat Balen membeo.
"Ini juga anak Mamon pintar." Nona pun mencium pucuk kepala Balen. Memang harus adil melakukan kedua bocah yang nyaris seumuran ini. Supaya tidak ada yang iri hati.
"Aman deh bisa ngobrol. Kangennya aku Mbak Tari." Nona menghampiri Tari dan memeluk tubuhnya, rupanya sedari tadi belum sempat menghampiri Tari.
"Ih Kamu lebih hot dari pada Nanta, dia acuh saja tadi bertemu aku dilapangan." kata Tari menepuk bahu Nona.
"Hahaha masa sih Nanta, kamu sama Mama kok begitu." protes Nona pada Nanta.
"Iya kan tadi Mama lagi gendong Wulan, aku susah peluknya." Nanta menghampiri Tari dan ikut memeluk Mamanya.
"Sama saja Mama sama Balen." kata Nanta membuat Tari menjitak kepala Bujangnya sambil tertawa.
"Hahaha Mama nih, begitu saja marah." Nanta kembali memeluk Tari sambil terkikik memandang Bagus yang sedang mentertawakan Nanta yang sedang membujuk Mamanya.