I Love You Too

I Love You Too
Kantor



Pagi ini Kenan sudah bersiap dengan baju kerjanya, urusan Nanta sudah beres, rumah pun sudah hampir rampung, maka ia tidak jadi libur hingga minggu depan. Apalagi Reza sudah komplen saja karena ingin cepat serah terima pekerjaan.


"Kita berangkat ke kantor satu mobil saja." kata Reza pada adiknya saat di meja makan.


"Aku bawa mobil sendiri saja." elak Kenan, ia tahu kalau satu mobil dengan Reza maka ia akan diajak pulang malam.


"Satu mobil saja, aku janji tidak pulang malam." kata Reza seperti tahu apa yang ada di otak Kenan.


"Oke." jawab Kenan setelah Reza berjanji, tidak mau dikerjai Reza lagi.


"Tapi nanti pulang kantor, kita mampir ke Warung sebentar ya." kata Reza kemudian.


"Tidak pulang malam dari kantor, tapi pulang malam dari Warung, sama saja pulang malam." oceh Kenan seperti anak kecil.


"Tidak malu bilang begitu, kalau Nanta dengar bisa Komen apa lihat Papa seperti ini." oceh Reza membuat Kiki dan Nona terbahak.


"Aku mau ajak Nona ke dokter kandungan." kata Kenan membela diri.


"Memangnya ada keluhan? belum waktunya ke dokter bukan?" tanya Kiki, kemarin ia sudah menanyakan Nona kapan jadwal ke dokter kandungan.


"Minggu depan." jawab Nona cepat.


"Tuh cari saja alasan terus." dengus Reza ingin menjitak Kenan rasanya.


"Nona habis jalan jauh, aku ingin konsul saja." Kenan menatap perut Nona.


"Kalau begitu nanti sore Pak Atang dan Nona ke Warung Elite jemput kamu Ken, baru kalian ke dokter kandungan." Kiki memberikan solusi.


"Nona ke dokter kandungan sama kamu saja sayang, nanti aku dan Kenan menjemput kalian." Reza tersenyum pada istrinya, kemudian mengangkat alisnya memandang Kenan. Kali ini Kenan tidak lagi bisa mengelak.


"Mau ke dokter siapa? dokter Alfian saja ya." Kiki terkekeh memandang Reza dan Kenan. Ia teringat dulu senyum dokter Alfian membuat ia dan sahabatnya tidak lagi mual.


"dokter Alfian sudah pensiun." jawab Reza sok tahu.


"Oh, jadi ke dokter siapa ya? aku coba hubungi rumah sakit dulu. dokter Airin mungkin sudah pensiun juga ya." kata Kiki berasumsi sendiri.


"Dokter siapa saja, yang penting perempuan." jawab Kenan cepat.


"Aih kalau semua laki-laki seperti kamu dan Kak Eja, mahasiswa dokter kandungan sebaiknya ditiadakan, jurusan ini sebaiknya dikhususkan untuk dokter perempuan." kata Kiki mencebikkan bibirnya.


"Kamu mau dokter laki-laki sayang?" tanya Kenan dengan tatapan mengintimidasi. Nona menggelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Tuh, Nona saja maunya dokter perempuan." kata Kenan pada Kiki.


"Terang saja kamu bertanya dengan tatapan ingin menerkam." Kiki tertawa menggelengkan kepalanya. Reza dan Kenan ikut tertawa dibuatnya.


"Aku jalan dulu sayang." Reza mengecup kening Kiki dengan mesranya, merangkul istrinya berjalan menuju mobil. Nona terkagum-kagum melihatnya, usia pernikahan sudah puluhan tahun masih saja mesra.


Kenan mengulurkan tangannya pada Nona yang masih duduk dimeja makan memandang Reza dan Kiki yang sudah jalan terlebih dulu. Setelah Nona berdiri dipeluknya Nona dan dicium lembut bibirnya.


"Kalau ingin makan apa bilang saja ya, atau minta Pak Atang membelinya diluar kalau kamu tidak mau merepotkan Kiki." kata Kenan kemudian. Nona mengangguk memeluk suami.


"Saya pergi dulu." Kenan kembali mengecup bibir Nona singkat lalu menunduk mengecup perut Nona.


"Jangan lupa telepon Papa nanti siang." katanya pada sang baby didalam perut. Nona tertawa geli jadinya.


"Mau makan siang bersama baby?" tanya Nona sambil tertawa.


"Nanti saya lihat situasi kantor ya, kalau senggang kamu bisa datang kekantor menemani Saya makan siang." kata Kenan menggandeng Nona menyusul Reza yang sudah menunggu di mobil.


"Sepertinya Mas Kenan sibuk hari ini." kata Nona berasumsi.


"Kenapa begitu?"


"Saya sudah kenal semua, Nanti kamu saya kenalkan dengan Bang Micko wakilnya Bang Eja. Dia keturunan konglomerat, punya aset banyak tapi masih saja bekerja di kantor Kita dan asal kamu tahu mobil Bang Micko jauh lebih mewah dari mobil Bang Eja dan mobil saya." Kenan tertawa mengingat Micko cucu konglomerat terkenal di Indonesia yang juga akan menjadi wakilnya nanti.


"Bisa begitu, mau apa dia bekerja diperusahaan kalian?" tanya Nona heran.


"Mencari ketenangan hati, kalau dia bekerja meneruskan usaha kakeknya, akan terjadi pertumpahan darah antar keluarga. Mereka tidak suka Tante Misha mama Bang Micko anak dari istri kesekian satu-satunya yang punya keturunan laki-laki." Sebenarnya Kenan masih ingin bercerita dengan Nona tapi Reza sudah main klakson saja.


"Ish tidak sabaran." dengus Kenan pada Abangnya. Jika dekat Reza kembali seperti anak kecil.


"Kalian cerita apa seru sekali?" tanya Reza penasaran.


"Bang Micko, aku bilang pada Nona akan mengenalkannya dengan Bang Micko." jawab Kenan.


"Sayang, nanti makan siang ajak Nona ke kantor ya, biar Kenal sama semua management, bukan Micko saja." kata Reza pada Kiki.


"Aku bawa masakan ya?" tanya Kiki pada suaminya.


"Tidak usah, nanti pesan dari catering Warung saja." kata Reza, Kiki langsung mengangguk setuju, tidak perlu repot kalau begitu.


"Dandan yang cantik." bisik Kenan pada Nona sebelum masuk kedalam Mobil.


"Ish, mau pamer istri." dengus Reza pada Kenan membuat semuanya tertawa.


"Biar Bang Micko tidak semena-mena lagi sama aku." jawab Kenan membuat Reza terbahak. Tiga bulan kemarin Kenan habis menjadi bahan ledekan Micko. Reza ingat sekali ucapan Micko pada Kenan.


"Kasihan sekali nasib lu Ken, sudahlah kaki patah, tangan patah, hati juga patah."


Reza masih saja tertawa sambil melambaikan tangannya pada Nona dan Kiki.


"Kenapa tertawa terus?" tanya Kenan pada Reza.


"Pasti mau kenalkan Nona karena kaki patah, tangan patah, hati patah itu kan?" tanya Reza disela tawanya.


"Hu uh. Biar tidak asal nyanyi itu Mick Jegger." katanya ikut tertawa.


"Kenapa waktu kamu menikah tidak undang Micko?" tanya Reza pada adiknya.


"Tidak kepikiran, semua sudah Abang dan Mama yang urus." kata Kenan mencebik.


"Itu lah kalau terima beres." kata Reza terkekeh.


"Ish, persiapan menikah cuma empat hari, mana bisa mikir." dengus Kenan kesal.


"Menyesal menikah? kubilang Nona nih."


"Hahaha siapa yang menyesal. Raymond tuh sebenarnya jahil seperti Abang, bukannya seperti aku tahu? Malah mungkin aku juga seperti Abang." dengus Kenan kalau tidak mengingat Reza sedang menyetir ingin sekali memiting lehernya.


"Kita tuh keturunan Ibu Nina. Ya pasti ikutin jahilnya beliau lah." Reza terbahak mengingat Mamanya.


"Iya, apalagi Raymond selalu ikuti arahan Mama." lagi-lagi mereka terbahak.


"Apa kabar Mama, Bang?" tanya Kenan pada Reza, ia belum sempat menghubungi Mama setibanya di Jakarta.


"Sudah di Palembang, dua hari menginap disana, baru kembali Ke Jakarta." jawab Reza yang selalu update berita tentang Mama, Papa dan Mertuanya.


"Semoga sehat yang lagi travel." kata Kenan mendoakan Mama dan Papanya.


"Aamiin, semoga kita semua juga sehat." sahut Reza ikut mendoakan semuanya.


"Mama semalam tanya mau oleh-oleh apa." kata Reza kemudian.


"Pempek Palembang asli, Nona suka. Pesan saja biar orang kantor Palembang Kirim ke kantor kita." kata Kenan mengingat istrinya selalu senang dapat kiriman Pempek dari Tari saat masih di Malang.