I Love You Too

I Love You Too
Pempek



"Mas Kenan, ayo pulang." ajak Nona pada Kenan setelah mereka cukup lama ngobrol ngalor ngidul. Makan siang sudah selesai sedari tadi. Nanta tampak asik main game di handphonenya.


"Pulangnya sama gue dong, kan gue nginap dirumah kamu Non." kata Deni pada Nona.


"Lu kan masih mau ngobrol sama Papa. Kalau mau pulang sekarang saja yuk." ajak Nona pada Deni dan Samuel.


"Hmm..." Deni tampak berfikir, masih ada yang harus ia bahas dengan Papa Baron.


"Biarkan Nona pulang sama Kenan, nanti malam kalian menginap dirumah Nona kan, Nona juga harus merapikan kamar untuk kalian pastinya, iya kan Non?" kata Papa Baron yang sangat mengerti keinginan Nona yang belum nyaman berlama-lama dirumahnya.


"Iya betul, kamarnya belum ganti spre. Gue pulang duluan ya, gue tunggu dirumah." kata Nona dengan senyum melebar pada Deni dan Samuel.


"Merepotkan Mas Kenan saja." gerutu Samuel karena Nona tak mau menunggu. Atau jangan-jangan mau dekat dengan Mas Kenan terus nih bocah, Samuel tampak menyeringai.


"Saya tidak merasa direpotkan, memang harus melewati daerah rumah Nona juga nanti." kata Kenan pada Samuel.


"Lu memang maunya dekat-dekat Mas Kenan ya, dasar modus." bisik Samuel saat mengantar Nona, Nanta dan Kenan ke mobil.


"Fitnah!!!" cetus Nona dengan mata melirik tajam pada Samuel.


"I know you so well." kata Samuel terkekeh. Nona hanya memajukan mulutnya dan mengernyitkan hidungnya pada Samuel, ia tidak mau berbalas pantun dengan Samuel, bisa-bisa perasaannya pada Kenan semakin terbaca.


Mobil Kenan melaju cepat meninggalkan rumah Baron.


"Antar kakak Nona dulu ya, Nan." kata Kenan pada Nanta yang memilih duduk dibangku penumpang belakang. Kenan melihat ke arah Nanta melalui kaca spion tengah.


"Antar Nanta dulu saja ya Pa, Nanta ada PR." kata Nanta pada Papanya.


"Oh kamu tidak bilang, kalau tahu bisa dikerjakan dirumah Papa tadi, jadi sampai rumah bisa santai."


"Iya, Nanta juga baru ingat." kata Nanta dengan senyum sedikit menyeringai. Ia menuruti pesan Raymond agar minta diantarkan pulang sebelum Papa mengantar Nona, biar apa coba? dasar Raymond.


Kenan membelokkan kendaraannya ke arah rumah Tari. Bukan rumah yang dulu mereka tempati bersama. Setelah berpisah Tari langsung keluar dari rumah itu, terlalu banyak kenangan bersama Kenan yang tidak mau dia ingat. Cukup hadirnya Nanta saja yang mengingatkan Tari pada Kenan.


"Mama dan Om Bagus ada dirumah kah?" tanya Kenan pada Nanta.


"Ada. Barusan aku chat suruh sambut kita di teras." jawab Nanta terkekeh.


"Kenapa harus disambut?" tanya Nona heran.


"Kan ada Kak Nona. Kembaran sepatu aku." jawab Nanta membuat Nona dan Kenan terbahak. Lalu Nanta mendekatkan bibirnya ke telinga Nona.


"Dan calon istri Papa." bisik Nanta pada Nona.


"Nanta, jitak ya." Nona melotot tapi tak bisa menyembunyikan tawanya.


"Apa sih kalian bisik-bisik?" tanya Kenan ikut tersenyum, walau tidak tahu apa yang dikatakan Nanta pada Nona.


"Kasih tahu ya, Kak?"


"Nanta... musuhan." ancam Nona panik. Kalau dimobil seperti ini mana bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya, beda kalau dirumah.


"Iya-iya." Jawab Nanta terkekeh, Kenan ikut tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya. Seru juga menghadapi dua bocah, kekehnya dalam hati.


Benar saja saat tiba di rumah, tampak Tari dan Bagus sedang duduk diteras, menunggu kedatangan Nanta.


"Mama kira pulangnya malam." kata Tari menyambut Nanta. Lalu tersenyum jahil pada Kenan saat melihat Nona.


"Apa kabar, Nona. Masih ingat saya?" tanya Tari mengulurkan tangannya.


"Ingat Mbak. Tidak sangka ternyata Mbak Tari Mamanya Nanta." senyum Nona pada Tari.


"Tidak mirip sih memang." kekeh Tari.


"Ayo masuk Boss." ajak Bagus pada Kenan.


"Langsung saja ya? lain kali in syaa Allah mampir." pamit Nona pada Tari dan Bagus.


"Wah padahal kami sudah menyiapkan cemilan, Nanta pesan tadi minta tamunya dijamu." Tari tampak kecewa. Nona memandang Kenan minta persetujuan tapi Kenan malah mengangkat bahu dan mengarahkan tangannya pada Nona.


"Mampir dulu lima menit saja." paksa Tari pada Nona. Kenan terkekeh, Tari memang suka memaksakan kehendaknya dan itu sangat sulit ditolak.


"Memang menyiapkan apa? awas saja kalau tidak enak." ancam Kenan pada Tari sambil mendorong pelan badan Nona agar masuk kedalam. Hmm tapi kok itu bukan mendorong ya, tanpa sadar Kenan belum melepaskan kedua tangannya dibahu Nona, tentu saja Nona senang dan berdebar-debar tak karuan. Untungnya wajahnya yang merona tidak terlihat siapapun.


Tari dan Bagus sudah berjalan duluan mempersilahkan tamunya masuk. Nanta yang berjalan dibelakang Kenan dan Nona mengabadikan tangan Kenan yang dibahu Nona melalui handphonenya, lalu melaporkan pada Raymond. Sepertinya Raymond menuruni bakat Oma Nina untuk masalah perjodohan.


"Dijamin suka, ini Nanta yang pesan." kata Tari pada Nona dan Kenan.


"Apa sih?" tanya Nona penasaran, makanan masih tertutup tudung saji.


"Pempek Palembang." kekeh Nanta langsung mengambilkan mangkok untuk Papa Kenan dan Nona.


"Papa masih kenyang, Nak." kata Kenan pada Nanta.


"Wah masa aku makan sendiri." keluh Nona.


"Makan saja berdua, nanti Kak Nona suapi Papa seperti kemarin." celutuk Nanta dengan polosnya.


"Oh iya boleh, aku coba dulu ya, kalau enak aku suapi." jawab Nona tanpa beban.


"Wah sudah suap-suapan. Disegerakan saja." celutuk Tari dengan senyum hangat.


"Jangan terburu-buru, santai saja." jawab Nona, "Eh apa yang disegerakan?" tanyanya panik setelah sadar apa yang Tari maksud. Kenan terkekeh melihat ekspresi Nona yang selalu spontan dan apa adanya.


"Ya sudah saya makan juga lah." akhirnya Kenan mengambil mangkok dimeja lalu menyodorkan pada Nona minta diambilkan. Nona pun memberikan mangkok ditangannya yang sudah terisi pempek, kemudian mengambil mangkok yang diberikan Kenan. Setelah mangkok telah terisi diberikannya pada Nanta yang sedang ikut antri dengan mangkok kosong ditangannya.


"Terima kasih." jawab Nanta dengan wajah sumringah. Bagus dan Tari senang sekali melihat Nanta tampak Bahagia hari ini. Semakin dekat dengan Papanya, Bagus merasa lega karena tidak merasa punya hutang pada Kenan.


"Boss, benar kan kataku. Raymond is the best." bisik Bagus pada Kenan melihat keakraban Nanta dengan Kenan saat ini. Kenan mengangguk dan menepuk bahu Bagus.


"Kamu juga the best, Gus." Kenan mengacungkan jempolnya.


"Kenapa?" tanya Tari ingin tahu.


"Pempeknya enak." jawab Kenan disambut tawa Bagus dan anggukan kepalanya.


"Ini Mbak Tari bikin sendiri?" tanya Nona penasaran, jarang-jarang di Malang bisa makan Pempek seenak ini.


"Mas Bagus yang bikin." jawab Tari bangga.


"Oh ya, enak loh Mas. Hebat bisa bikin pempek." Nona tampak kagum mendengarnya.


"Iya lah, suami siapa dulu." kata Tari lagi tanpa bermaksud menyindir Kenan.


"Paling bisa, mau dibelikan apa?" tanya Bagus membuat Tari terbahak.


"Pempek lagi." sahut Nanta, membuat semuanya ikut terbahak.


"Om Bagus, Kak Nona juga pintar masak. Semalam bumbu barbeque enak sekali. Terus tadi pagi nasi goreng bikinan Kak Nona juga enak." celoteh Nanta sambil menikmati Pempek bikinan Bagus.


"Loh rumah Nona dekat Mas Kenan kah?" tanya Tari penasaran.


"Semalam aku menginap di rumah Mas Kenan, Mbak. Kemarin dijemput Ray sama Nanta." jawab Nona apa adanya. Tari dan Bagus menggangguk penuh arti. Sementara Tari melirik Kenan sambil senyum-senyum.


"Nona, kamu sudah bisa mengambil hati Nanta. Bisa-bisa sebentar lagi Papanya bertekuk lutut." Bisik Tari pada Nona saat mereka pamit untuk pulang.


"Eh..." Nona terbengong sebelum akhirnya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.