
"Maaf Om aku tidak mampir lagi." Nanta sedang berbicara dengan Samuel yang menghubunginya via telepon.
"Tante sudah masak banyak loh, kalian malah pulang duluan." protes Samuel karena rencananya siang ini ia mengundang semua tamu makan dirumahnya.
"Yah, om tidak bilang sih semalam, aku pikir mau pulang cepat saja karena besok pagi Dania kuliah, dia harus istirahat." Nanta pikirkan istrinya yang sedang hamil.
"Semalam kamu terlalu asik jadi lupa, ya sudah lain kali ke Cirebon menginap di rumah Om juga ya, jangan di rumah Om Deni saja." kata Samuel memaklumi.
"Siap Om, anakku lahir ke Jakarta kan?" semua saja keluarganya Nanta suruh ke Jakarta saat anaknya lahir nanti.
"Penuh nanti rumah Papamu, keluarga di Malang juga mau datang kan. Nanti saja setelah keluarga di Malang selesai baru kita dari Cirebon hadir." Samuel terkekeh bayangkan rumah Kenan yang akan sangat penuh.
"Nanti aku kabari lagi ya, sepertinya keluarga di Malang akan pindah ke Jakarta. Harapanku sih Om, mereka sudah di Jakarta saat anakku lahir." Nanta langsung sumringah bayangkan Oma, Opa, Bang Ray dan Kak Roma kembali berkumpul di Jakarta, ditambah lagi kehadiran baby Shakira. Pasti akan tambah ramai kalau mereka berkumpul.
"Ya sudah om tunggu kabar ya, nih si Kembar rusuh sama Ichie." kata Samuel langsung matikan telepon begitu anaknya menangis.
"Kita lupa pamit sama Om Samuel." kata Nanta begitu telepon dimatikan.
"Marah?" tanya Mike yang fokus menyetir.
"Tidak, hanya kalau ke Cirebon lagi harus menginap di rumah Om Samuel." Nanta terkekeh.
"PR lu deh." Mike ikut terkekeh, Nanta menoleh ke belakang, para wanita sedang terlelap tak beraturan.
"Tidur." lapor Nanta pada Mike.
"Iya dari tadi." jawab Mike tertawa, ia sudah amati ketiganya melalui spion tadi.
"Berapa bulan lagi sih Dania melahirkan?" tanya Mike pada Nanta.
"Mau kasih ponakan Mobil?" tanya Nanta bercanda.
"Boleh tapi dia harus bilang sendiri, Om minta Mobil." jawab Mike konyol, tentu saja itu tidak mungkin terjadi, Nanta jadi terbahak dibuatnya.
"Paling owe owe." Nanta kembali terbahak.
"Tidak ada merk mobil owe owe. Jadi Papa tidak bisa ambil kesempatan." kata Mike lagi sambil tertawa, Nanta pun ikut tertawa.
"Seragam resepsi mana? samakan sajalah Larry dan Doni dengan seragam keluarga." pinta Nanta pada Mike, repot juga sementara ia harus pakai seragam keluarga, Mike juga mau berikan seragam khusus untuk mereka bertiga.
"Iya." jawab Mike menurut.
"Sebenarnya gue sudah order, nanti gue revisi." katanya lagi.
"Merepotkan tidak?" tanya Nanta.
"Dari dulu sudah sering merepotkan pakai tanya merepotkan apa tidak." jawab Mike membuat Nanta menoyor kepalanya. Mike tertawa tanpa beban.
"Lapar." Dania mendekatkan badannya pada Nanta, rupanya dia sudah terbangun.
"Mike..." Nanta terkekeh pandangi Mike.
"Siap tuan putri, stok makanan di belakang sudah habis kah?" tanya Mike.
"Habis." jawab Dania lesu.
"Sudah makan banyak masih lapar." Nanta gelengkan kepalanya.
"Yang makan Seiqa bukan aku." jawab Dania santai.
"Waduh..." Mike langsung terbahak.
"Qa, kamu lapar juga kah?" tanya Mike pada Seiqa yang terlihat sudah bangun.
"Iya." jawab Seiqa yang baru bangun tidur, Rumi tampak sedang mengucek matanya.
"Hamil juga kamu, ikutan lapar." tanya Mike konyol.
"Barusan makan lumpia, bisa hamil tidak?" tanya Seiqa sambil tertawa, lumpia jatah Dania tadi Seiqa yang habiskan.
"Bisa kalau sambil ehem..." jawab Mike, Nanta kembali menoyor kepalanya.
"Setir yang benar, main ehem ehem saja." Omel Nanta pada Mike.
"Gue Abang Ipar lu kan Nan, sopan dikitlah." omelnya pada Nanta. Nanta tertawa mengusap kepala Mike yang ditoyornya tadi.
"Abang Ipar maafkan aku, belok tuh nanti kelewatan." katanya ingatkan Mike begitu melihat rest area. Mike ikuti arahan Nanta sementara Larry mengikuti dari belakang.
"Mau makan apa adek sayang?" tanya Mike sambil terkekeh melirik Rumi. Ingat namanya yang di save di handphone Fino.
"Sok manis ah." kata Nanta tertawa.
"Abangku sayang lagi apa nih?" kembali Mike menggoda Rumi, abaikan Nanta.
"Dari tadi sindir gue ya?" tanya Rumi yang baru sadar maksud Mike. Mike tersenyum jahil melalui kaca spion. Semua bersiap keluar mobil.
"Harus ya? yang ada gue lapor Papi dan Mami sih dari tadi." jawab Rumi terkekeh.
"Biar saja Fino yang hubungi kamu duluan." kata Seiqa pada Rumi. Prinsipnya laki-laki yang harus memulai.
"Setuju." sahut Dania, ikuti suaminya.
"Leyi mana nih?" Nanta yang sudah turun mencari keberadaan sahabatnya.
"Tuh parkirnya jauh." tunjuk Nanta lagi, tanya sendiri jawab sendiri.
"Bang..." panggil Daniel yang sudah mendekat lebih dulu.
"Ya..." jawab Nanta tersenyum pada Daniel.
"Setuju mana adik iparnya nanti aku apa Redi?" tiba-tiba Daniel minta persetujuan Nanta.
"Yang mana saja bebas." jawab Nanta asal, ia tahu arahnya pada Balen siapa lagi.
"Eh aku serius." Daniel tidak puas dengan jawaban Nanta.
"Mau sama siapa sih Balen apa Richie?' tanya Mike tertawa, Daniel mereka jadikan bercandaan siang ini.
"Richie kayanya." jawab Nanta ikut tertawa.
"Ish bercanda saja sih, aku mau jadi suami Balen nanti." katanya membuat Nanta dan Mike terbahak.
"Kasihan ah Balen kamu suka tawuran." kata Mike lagi.
"Itu cuma sekali, diungkit terus. Nanti kan aku mapan dan membanggakan." kata Daniel yakin.
"Buktikan saja dulu, kalau sudah mapan dan membanggakan baru maju lagi." kata Mike wakili Nanta yang hanya cengengesan saja.
"Bang Mike ribet." keluh Daniel.
"Kamu yang ribet, masih sekolah sudah lamar anak orang, bocah lamar bocah piyik." kata Mike tengil.
"Sekolah dulu yang benar, itu nanti saja dipikirkan, ngomong saja belum lurus Balena. Siapa tahu nanti malah kamu sudah bertemu jodoh duluan." kata Nanta pada Daniel sesuai pemikirannya.
"Aku..." Larry datang menepuk bahu adiknya.
"Katanya mau ke toilet." Larry ingatkan Daniel.
"Aku ada urusan sama Bang Nanta sebentar." jawab Daniel. Leyi gelengkan kepalanya.
"Ke apotik dulu ya beli obat buat Daniel." kata Leyi terkekeh tinggalkan Daniel dan sahabatnya menuju apotik yang tersedia di rest area.
"Kesal ah, orang dewasa ribet." kata Daniel menghentakkan kakinya seperti anak kecil. Nanta tertawa dan merangkul Daniel seperti adiknya sendiri.
"Bantu Abang jaga Balen ya." katanya pada Daniel.
"Beneran?" Daniel langsung bersemangat.
"Iya dong, kita jaga sama-sama." kata Nanta tersenyum.
"Berarti Abang setuju kalau aku yang jadi suami Balen?" tanyanya senang.
"Seperti Bang Mike bilang, kamu buktikan dulu dong." jawab Nanta tetap merangkul Daniel.
"Aku janji tidak tawuran lagi." katanya pada Nanta.
"Oke."
"Aku janji kuliah yang benar." katanya lagi.
"Oke." Nanta terkekeh.
"Aku janji kalau ada yang dekati Balen aku hajar." lanjutnya
"Eh...!" Nanta mendelik menoleh pada Daniel, baru saja janji tidak tawuran lagi.
"Kan aku jaga Balen biar tidak didekati cowok lain." jawabnya memberi alasan.
"Kalau kamu dekat cewek lain aku yang hajar kamu." kata Doni, Nanta tertawa memandang Daniel. Mike mengiyakan setuju
"Bang Doni ikut campur." keluhnya.
"Balen keponakanku juga, kalau kamu macam-macam hadapi kami berempat." kata Doni mengangkat alisnya.
"Iya Balen adikku juga." Mike ikutan.
"Ah pada ribet." keluh Daniel tinggalkan semuanya menuju ke Toilet. Dasar Daniel.