I Love You Too

I Love You Too
Opon



"Papon, Baen nantuk." Balen menghampiri Kenan dan memeluk Papon, Kenan langsung mengangkat tubuh kecil putrinya kepangkuannya. Mereka baru saja selesai makan malam dan kembali duduk santai berkumpul diruang tengah saling bercerita satu sama lain, apalagi suasana bertambah ramai dengan kehadiran Baron dan Mita.


"Tidur dikamar saja sama Ncusss." kata Nona pada Balen.


"Ndak." jawab Balen tegas sambil memeluk erat Kenan. Posisi kesukaannya saat menjelang tidur ada di pangkuan Papon.


"Wulan saja sudah di kamar sama Ncusss." kata Nona lagi.


"Ndak Mamon." jawabnya tanpa melihat Nona, ia menyandarkan kepalanya didada Papon.


"Biarkan saja, mungkin masih mau berkumpul." sahut Baron yang dari tadi selalu senyum sendiri melihat cucunya. Nona pun tidak lagi mengganggu Balen.


"Papon, Aban ndak tayang Baen." adu Balen dengan mata terpejam.


"Sayang ah, kata siapa tidak sayang?" tanya Kenan sambil tertawa kecil, sementara Nanta mencibir pada adiknya sambil terkekeh. Tentu saja Balen tidak melihatnya.


"Itu mainna sama Ichi telus." adunya lagi masih dengan mata terpejam.


"Balen kan juga main sama Wulan. Tadi waktu Abang tanya Balen sayang Abang, Balen jawabnya sayang siapa?" tanya Kenan gemas mencium pucuk kepala putrinya.


"Tayang Aban Lemon." jawab Balen dengan suara mulai melemah.


"Cuma sayang Abang Raymond?" tanya Kenan sambil senyum melebar.


"Tayang temuanya Papon, tapi bilangna tayang Aban Lemon aja."


"Kenapa begitu?"


"Tan udah lama ndak temu Ban Lemon. Tasian Ban Lemon, ayahna sama Bundana di jatalta." Balen memberikan alasannya. Semua yang mendengarnya jadi tertawa.


"Terharu betul Ban Lemon nih Dek." kata Raymond tertawa geli.


"Jadi bobo sama Kak Roma dan Bang Raymond tidak?" tanya Roma tidak tahan mengganggu Balen yang sudah lima wat.


"Ndak, sama Papon aja."


"Kalau disini jangan bobo sama Papon dan Mamon." celutuk Baron menyeringai. Kenan membesarkan kedua bola matanya pada Baron, khawatir mengeluarkan kalimat yang ekstreem untuk anak dibawah umur.


"Emang iya? tanya Balen membuka bola matanya dan beralih memandang Opa Baron.


"Iya karena disini dingin, Papon kalau dingin harus peluk Mamon." jawab Baron membuat Kenan menggelengkan kepalanya.


"Peluk Baen tan bisa." kata Balen kembali memejamkan matanya. Tidak menanggapi ucapan Opanya. Kenan dan yang lainnya kembali tertawa.


"Sayang jangan lupa berdoa, ayo baca doa mau tidurnya." kata Kenan kemudian. Balen menganggukkan kepalanya kemudian mulutnya komat kamit.


"Papon, nanti janan lupa bobana pakai jatet bial ndak dinin." pesan Balen pada Papon sambil menguap, membuat Kenan kembali tertawa, semakin gemas untuk tidak menciumi Balen. Tidak lama sang bocah pun tertidur pulas.


"Pindahkan kekamarku saja, Om." kata Roma saat Kenan berdiri hendak memindahkan Balen.


"Balen tidurnya lasak, nanti perut kamu ketendang." kata Nona khawatir.


"Wah gawat kalau begitu, padahal aku kangen sama Balen." Roma jadi ragu dan tampak kecewa.


"Pindahkan ke kamar aku saja Pa, malam ini Balen bobonya sama Abang." kata Nanta berdiri dari duduknya.


"Takut betul Balen cuma sayang Ban Lemon." celutuk Raymond sambil terkekeh.


"Biar Balen tahu, Aban Nanta juga tayang Baen." jawab Nanta sambil ikut terkekeh.


"Nanti Wulan kecewa loh, Masanta tidur sama Balen saja." kata Tari pada Nanta.


"Wulan juga nanti pindahkan ke kamar aku." kata Nanta pada Mama, Tari terkekeh.


"Mama bercanda, mana mungkin Wulan mau pisah kamar sama Mama dan Papanya." kata Tari kemudian.


"Coba saja malam ini, pasti mau ada aku dan Balen." Nanta memandang Mama yakin.


"Ya sudah terserah kamu." Tari pun akhirnya pasrah.


"Ichi tidak sekalian tuh." kata Raymond pada Nanta.


"Duh Ichi tengah malam masih nyari Mamon, aku tidak bisa handel kalau Ichi terbangun, kalau Wulan dan Balen paling minta susu botol atau ke kamar mandi." jawab Nanta seperti sudah berpengalaman mengurus adiknya.


"Mas Bagus bagaimana bisnis kita?" tanya Nona setelah Balen dibawa masuk kekamar dan Nanta mengikuti.


"Lancar Non, Minggu ini kan kita undang Ice Skating dari New Zealand loh. Kamu kalau bisa hadir, saya sudah email kamu belum ada tanggapan." kata Bagus pada Nona.


"Iya aku tahu, tapi tidak yakin aku bisa hadir minggu depan." kata Nona menghela nafas.


"Datang lagi saja." kata Baron pada Nona.


"Iya anak-anak pasti senang menyaksikannya, ini kan tontonan untuk semua umur." timpal Bagus lagi tambah semangat saja.


"Apa sayang?" tanya Kenan segera duduk disebelah istrinya.


"Itu loh minggu depan Mas Bagus ada pertunjukan ice skating dari New Zealand, Kita diminta hadir." kata Nona menjelaskan pada suaminya.


"Disini?" tanya Kenan pada Bagus.


"Iya, pastinya akan kami fasilitasi untuk pemegang saham." kata Bagus terkekeh, Ia juga kini salah satu pemegang saham di EO tersebut, bukan hanya Nona dan Kevin.


"Saya lihat jadwal dulu ya." kata Kenan pada Nona memastikan apakah bisa jumat depan berangkat lagi ke Malang.


"Tidak usah pulang dulu Nona dan anak-anak. Kamu saja sama Nanta yang pulang ke Jakarta, minggu depan kalian ke Malang lagi, lebih praktis." kata Papa Dwi memberi ide.


"Waduh, satu minggu dong saya kesepian." Kenan tampak keberatan.


"Gaya kamu, dulu juga sendiri." kata Balon mentertawakan Kenan, Mita pun ikut terkikik.


"Belum pernah saya selama itu tanpa Nona dan anak-anak." kata Kenan serius.


"Iya, Balen juga biasanya kalau mau tidur cari Papon dulu." sahut Nona membela Kenan.


"Coba saja besok kasih pengertian, Opon juga bisa kok menidurkan Balen jika hanya begitu." kata Baron berusaha membujuk Nona agar mau tinggal lebih lama. Ia juga berharap Kenan mengijinkan.


"Apa itu Opon, ikut-ikutan saja." kata Kenan mentertawakan Baron.


"Opa Baron lah." kata Baron tersenyum bangga, yang lain pun terbahak, ada saja Baron selalu saja ingin sama dan tidak mau kalah dengan menantunya.


"Besok kita tanya Balen mau tidak tidur dengan Oponnn." kata Nona menirukan mimik Balen membuat yang lain kembali tertawa.


"Kalau Balen mau juga saya keberatan." kata Kenan tegas.


"Memangnya kenapa, sekali-kali anak cucu kumpul, dua hari mana cukup lepas kangennya." kata Baron yang mulai berkerut dahinya.


"Sudah kamu berkantor di Malang dulu saja seminggu ini. Biarkan Mahmud yang handel sementara di Jakarta." kata Papa Dwi menengahi, ia juga masih rindu sama anak, cucu dan menantunya.


"Senin ada tamu dari Canada, Pa." kata Kenan pada Papa.


"Biar Reza yang menemui." jawab Papa Dwi, Walaupun sudah tidak aktif dikantor, arahan owner pasti akan didengarkan.


"Coba Papa yang hubungi Abang. Papa loh yang tahan Kenan disini." kata Kenan tersenyum jahil. Kalau Kenan yang menghubungi abangnya, pasti Reza akan mengoceh terlebih dulu walaupun akhirnya mengiyakan.


Papa Dwi segera menghubungi putra sulungnya.


"Assalamualaikum, Pa." jawab Reza dari seberang.


"Waalaikumusalaam, kita semua lagi di Villa loh, mestinya kamu ikut kumpul, Papa kangen kalian." kata Papa Dwi pada Reza.


"Minggu ini tidak bisa, Pa. Aku temani Papa Ryan main golf." jawab Reza pada Papa.


"Oh iya salaam untuk Ryan. Ja, karena Papa masih kangen Kenan, Nona dan cucu Papa. Mereka Papa tahan satu minggu disini." kata Papa Dwi membuka pembicaraan.


"Iya, kantor bagaimana? Senin Kenan ada tamu dari Canada loh. Dia sudah rencana kembali minggu malam. Jadi aku saja yang menemui mereka senin." kata Reza sudah menebak arah pembicaraan Papa.


"Nah itu kamu pintar. Jumat kamu dan Kiki ke Malang ya, kita kumpul semua disini." kata Papa Dwi lagi.


"Rabu saja aku dan Kiki ke Malangnya, biar Papa juga lepas kangennya lebih lama." jawab Reza senang hati.


"Oke Papa tunggu ya." Papa Dwi tersenyum pada Kenan.


"Pa, Kenan suruh telepon aku, apa saja jadwalnya minggu depan, Kenan yang jelaskan jangan Mahmud." kata Reza pada Papanya.


"Bicara saja sekarang." jawab Papa Dwi. menyodorkan handphonenya pada Kenan.


"Bang Eja sayangku." Kenan terkekeh menyapa abangnya.


"Paling bisa menggunakan Papa untuk berlibur lebih lama." kata Reza mentertawakan Kenan.


"Enak saja, Papa yang menahan anak Istriku lebih lama disini, aku keberatan, jadi aku juga ikut ditahan." jawab Kenan terbahak.


"Iya-iya, Abang maklum kok kalian sudah dua tahun tidak ke Malang. Jadi senin hanya pertemuan dengan Mr. Harry ya. Selain itu ada lagi tidak?" tanya Reza pada Kenan.


"Tidak ada, kalaupun ada arahkan bertemu aku disini saja biar Abang tidak repot." kata Kenan pada Abangnya.


"Tidak apa, Senin Selasa masih bisa, Rabu baru kita arahkan bertemu di Malang." jawaban Reza melegakan Kenan.


"Ok Bang, nanti Mahmud kuminta hubungi Bang Eja, Bang Micko Senin sampai Rabu di Medan. Kamis jumat bisa juga Bang Micko yang handel." kata Kenan lagi.


"Ok Boss." jawab Reza menurut.


"Bossnya Pak Dwilewicz bukan aku." kata Kenan terbahak, Reza pun ikut terbahak. Bagaimanapun posisi mereka dikantor tetap saja harus mengikuti arahan owner pada akhirnya.