I Love You Too

I Love You Too
Makan sehat



Setelah mandi dan sholat magrib, Nanta pun hampiri Balen yang sudah rapi menunggu Aban yang akan membawanya makan fried chicken. Seperti yang suka saja, sekarang itu bukan masalah, tujuannya makan fried chicken supaya lancar bicaranya.


"Kamu yakin makan fried chicken?" tanya Nanta pada Balen. Mereka hanya berdua saja ke Mal, Dania tidak mau ikut, rencananya Nanta hanya mau drive thru, itu juga jika Balen tidak keberatan.


"Yatin." jawabnya.


"Memangnya suka?" tanya Nanta.


"Suta, yan ndak pate tulan." pintanya pada Nanta.


"Pesan bawa pulang saja ya?" Nanta minta persetujuan Balen.


"Matan sana aja." tolak Balen, maunya makan disana.


"Tidak usah di Mal ya, langsung ke outletnya saja. Yang penting makan fried chicken kan?"


"Iya, tapi janan buntus." syarat dari Balen.


"Iya, kita makan disana." kata Nanta pada adiknya. Nanta kembali fokus kendarai mobilnya, outlet di sekitaran komplek perumahan saja kalau begitu.


Setibanya disana, Nanta parkirkan kendaraannya.


"Baen janan dendong ya." kata Balen pada Nanta saat Abangnya ulurkan tangan bersiap menggendong Balen.


"Iya, Abang bantu turun." Nanta terkekeh.


"Talo budel ada yang tecil ndak?" tanya Balen saat ia dan Abangnya bergandengan tangan masuki resto makanan siap saji yang terdekat dari rumahnya.


"Tidak ada, Balen mau?"


"Talo tedean ndak abis."


"Nanti di potong kecil-kecil saja. Kalau tidak habis Abang bantu habiskan." kata Nanta pada Balen.


"Tan butan matanan sehat?" Balen mendongak pandangi Abangnya.


"Nah sudah tahu begitu kenapa ajak makan disini?" tanya Nanta.


"Soanna di tipi, temenna nomonna ancal." jawab Balen, Nanta tertawa geli.


"Bukan karena makan fried chicken itu." Nanta masih saja tertawa.


"Abisna tana apa?"


"Dia rajin minum jus dan makan sayur juga makanan sehat lainnya." jawab Nanta tidak tahu benar apa tidak.


"Emanna ditu?" Balen memastikan, hentikan langkahnya sebelum mendekati antrian.


"Sepertinya begitu." Nanta anggukan kepalanya.


"Ndak usah matan sini deh." kata Balen pada Nanta.


"Loh kenapa? kita sudah disini."


"Ndak jadi, matan sana aja." tunjuk Balen pada restaurant padang diseberang. Nanta kembali tertawa.


"Disana makan pakai cabe, mau?" tanya Nanta.


"Ndak, matan dadin item aja." jawab Balen pada Abangnya.


"Rendang?" Nanta memastikan.


"Yah." jawab Balen yakin. Mereka kemudian kembali menuju parkiran, masuki Mobil dan keluar area menuju area seberang.


"Tidak berubah pikiran lagi ya?" Nanti pastikan lagi saat Mobil sudah terparkir rapi di restaurant padang terkenal itu.


"Yah."


"Abang telepon ke rumah dulu, tanyakan yang lain siapa tahu minta dibungkusi." kata Nanta pada Balen. Ia segera hubungi Papon.


"Aku sama Balen akhirnya ke restaurant padang. Papa dan yang lain mau dibungkusi?" tanya Nanta setelah sambungan teleponnya dijawab Papa.


"Ini Papa lagi makan." jawab Kenan.


"Mamon, Dania ada yang mau pesan Nanta dan Balen lagi di restaurant padang?" tanya Kenan pada Nona dan Dania.


"Aku mau ayam bakar." kata Nona langsung saja.


"Aku ayam pop." jawab Dania.


"Kamu dengar boy? pesan agak banyak untuk Richie Dan Balen sarapan pagi Boy." kata Kenan pada Nanta.


"Oke." Nanta matikan sambungan teleponnya. Baru kemudian ajak Balen turun dan mulai pesan menu yang Balen inginkan, tidak minta hidangkan menu di meja karena pikirnya hanya ia dan Balen saja.


"Tok ndak ada banak di sini?" tanya Balen sedikit protes, rupanya minta semua menu terhidang di meja.


"Balen kan hanya mau rendang." Nanta menjelaskan.


"Tapi tan talo mo nambah dimana?"


"Nanti pesan lagi." kata Nanta tertawa.


"Mau Abang suapi?" tanya Nanta.


"Ndak usah, talo suapin ndak ancal nomonna." kata Balen membuat Nanta terbahak. Mereka mulai nikmati makanan yang sudah tersaji piring masing-masing.


"Itu namanya daun singkong. Ambil sedikit-sedikit saja. Tapi dimakan, jangan dibuang." pesan Nanta pada adiknya, Balen ikuti arahan Abangnya, makan dengan sayur dan rendang sedikit demi sedikit.


"Enak kan?"


"Yah." jawabnya setelah beberapa kali suapan dan terbiasa dengan rasa daun singkong rebus. Kalau dulu pasti Balen buang, sejak ngobrol sama Wulan semua jenis sayur Balen hajar saja. Fokusnya lancar berbicara, supaya tidak diremehkan Redi adik Larry.


"Ahamduiah (Alhamdulillah)." Balen mengusap perutnya setelah makanan dipiringnya ludes tak bersisa.


"Ih pintar betul singkong rebus Abang nih." Nanta langsung ciumi Balen gemas.


"Aban tok beum abis matanna?" tanya Balen karena piring Nanta masih tersisa setengah.


"Abang lihat Balen dulu, makannya pintar apa tidak." jawab Nanta, memang sengaja makan perlahan khawatir Balen butuh bantuan.


"Juawa Baen, Aban taah." katanya tertawakan Nanta. Nanta jadi tertawa geli.


"Habiskan nih, Abang kenyang." Nanta menggoda Balen.


"Baen udah tenyan banet nih." katanya tunjuk perutnya.


"Yah, bagaimana dong?"


"Matan pean-pean, janan buan." gantian Balen yang peringati Abangnya. Nanta kembali tertawa.


"Abang makan pakai tangan ya, Balen sudah tidak mau diambilkan apapun kan?" tanya Nanta pastikan adiknya tidak butuh bantuan ditengah makannya nanti.


"Ndak." jawab Balen yakin. Nanta pun mencuci tangannya dan mulai nikmati makannya. Tidak sampai lima menit makanan di piring Nanta pun ludes tak bersisa.


"Pinten aban Baen." Balen acungkan jempolnya, Nanta tertawa dekatkan hidungnya ke pipi Balen.


"Cuci duu muutna, janan cium Baen." teriak Balen.


"Iya tidak kena kok." Kata Nanta segera menuju wastafel mencuci tangan Dan mulutnya sambil awasi adiknya melalui cermin dihadapannya.


"Ayo." ajak Nanta pada Balen setelah semua urusan selesai, pesanan untuk dirumah juga sudah ditangannya.


"Matan sehat udah seing, Tapan bisa nomonna ini." Balen bicara sendiri.


"Mau Abang ajari?" tanya Nanta.


"Yah." jawabnya semangat.


"Ya sudah nanti di Mobil ya."


"Sekaang aja." Balen tidak sabar, kembali menggandeng tangan Abangnya berjalan menuju Mobil.


"Kita mau naik mobil, bunyinya ikuti Abang ya."


"Yah." Balen anggukan kepalanya.


"Ngeng-ngeeeng..."


"Ih masa bunyi mobin Taya ditu." malah protes.


"Ikuti saja bilang ngeng." perintah Nanta.


"Nen-neeeennnnn." menarik nafas panjang karena bunyinya beda dengan yang Abang ucapkan tadi.


"Ng."


"En." gantian Nanta yang menghela nafas, masih belum berhasil, jadi bingung.


"Nanti latihan sendiri deh." kata Nanta akhirnya.


"En, En, En." tetap berusaha, Nanta menahan tawa melihat usaha adiknya. Mereka sudah dimobil kini.


"Kalau habis sholat jangan lupa berdoa." kata Nanta pada adiknya.


"Bilan apa?" tanya Balen.


"Bilang sama Allah Balen mau bicaranya lancar." jawab Nanta.


"Ote." jawabnya kemudian lanjut berlatih lagi sebut kata ngeng, walaupun masih saja gagal.


"Ulan pinten benen ya nomonna." katanya lagi kagumi Ulan.


"Balen juga pintar kok." jawab Nanta, memang Balen pintar Nanta tidak bohong.


"Pinten apaan, nomonna taya dini." keluh Balen dengan wajah kecewa.


"Lama-lama juga bisa, kan latihan terus, seperti berenang saja." kata Nanta semangati Balen.


"Nen-neeeennnnn." abaikan Abangnya kembali berlatih.


"Ngeng!!!" Nanta membenarkan, menghilangkan pikiran kotornya.


"Beum bisa Baen." katanya kesal.


"Nanti latihan kalau lagi sendiri saja. Biasanya lebih cepat bisa kalau tidak ada yang dengar." kata Nanta pada Balen.


"Ditu ya? Ote." jawab Balen menurut saja.