
"Kenapa muka asem banget Nyo." sapa Intan saat melihat Kiki berdiri didepan kelas, melamun tanpa senyum. Kiki langsung memeluk Intan.
"Ujian rumah tangga gue gini amat sih Nyo." jawab Kiki merengek dalam pelukan Intan. Panggilan sayang antar mereka sekarang berubah menjadi "Nyo" singkatan dari Nyonya, agak norak tapi biarlah, itu panggilan khusus untuk mereka berempat yang kemarin ikut ke Bali.
"Kenapa? Ada lagi cewek lain?"
"Huhu lu ngomong begitu seakan laki gue selingkuh. Kak Eja ga begitu." sungut Kiki membela suaminya.
"Iya gue tau, maksud gue ada cewek lain yang ganggu lu lagi karena lu nikah sama Kak Eja? Kaya nyokapnya Sheila atau Ranti." Intan menjelaskan maksud ucapannya.
"Tadi Sheila bareng gue ke kampus terus dia curhat bla..... bla..... bla.... bla......, ah pokoknya gue sebel." tampak keresahan di wajah Kiki.
"Emang nyebelin sih, sok polos banget sih dia curhat begitu. Gue jadi ga respek" Intan ikut kesal mendengar cerita Kiki.
"Hai..hai pengantin baru, kalian menikah apa terima endors sih bisa kompak begitu." pembicaraan mereka terhenti saat Rino datang ,tampak menggandeng Farida.
"Wow sudah jadian ya kalian." Kiki terpana dengan pemandangan yang ada didepannya saat ini. Tak menggubris sapaan Rino, Kiki tersenyum menggoda, sementara Farida tampak malu-malu.
"Kenapa kemarin ga datang." Kata Intan ada Rino dan Farida.
"Emang lu ngundang?" tanya Rino kesal. Merasa tak dianggap oleh Kiki, Monik dan Intan.
"Memang khusus keluarga sih Rin, doain aja ya semoga kita bahagia, dan kalian segera menyusul." jawab Kiki sok bijaksana.
"Masih lama Ki, selesai kuliah dulu kita baru mikir kesana." jawab Farida yang sudah tak malu lagi.
"Mending kaya kita, ga pakai mikir tau tau ijab kabul." jawab Intan asal jeplak membuat Rino tertawa memdengarnya.
"Lu sih ga usah mikir, laki lu pada punya usaha, kalau gue kan mesti cari kerja dulu, mau dikasih makan apa anak orang."
"Iya juga sih, kalau dia ga kerja lu jangan mau dilamar far, makan cinta mana kenyang." lagi-lagi Intan asal jeplak. Hmm tak semua seberuntung kalian kan.
"Monik mana kok belum keliatan?" tanya Kiki pada Intan.
"Dia kenotaris dulu, sebentar lagi juga sampai. Dapat hadiah rumah dari omanya Alex tapi atas nama Monik." Intan menjelaskan sambil berbisik takut didengar yang lain.
Tak lama Monik pun datang, sudah cengar-cengir tanpa beban dari jauh. Tapi mereka tak sempat ngobrol karena Pak Dosen sudah berjalan dibelakang Monik, para mahasiswa segera masuk ke Kelas dan duduk dibangku pilihan mereka.
Sungguh perlu konsentrasi tinggi bagi Intan mendengarkan penjelasan dosen tampan incaran mahasiswi sefakultas angkatan mereka. Karena suaminya jauh lebih tampan, Intan tak ikut nimbrung saat teman-temannya menggoda dosen tersebut. Intan, Monik dan Kiki hanya tertawa mendengar ocehan temannya menggoda pak dosen.
"Kalian harus cepat menikah, lihat teman kalian yang tiga sudah menikah tak ikut menggoda saya." kata sang dosen pada mahasiswinya.
"Nikahin kita dong pak." Celutuk salah satu mahasiswi membuat yang lain terbahak. Pak Dosen hanya menggelengkan kepalanya saja.
Kelas sudah berakhir dengan lancar, tak terasa mengantuk karena selain tampan, pak dosen menjelaskan materi dengan baik, penuh humor dan mudah dimengerti.
"Mau nongkrong dulu ga habis ini? Kita belum ngobrol." Monik mengajak sahabatnya untuk ngobrol sambil nongkrong.
"Ijin dulu sama suami." Kiki mengingatkan sahabatnya. Ia juga ingat syarat yang diberikan Mario pada Regina, sepertinya mewakili keinginan para suami.
"Sudah, nanti Anto jemput gue di tempat kita nongkrong. Kita mau kemana sih?" tanya Intan pada Monik.
Mereka pun memutuskan untuk ngobrol diwarung Elite, selain ditengah dekat arah pulang, Reza yang pekerjaannya selesai lebih cepat akan lanjut menyelesaikan pekerjaannya di Warung Elite sehingga Kiki bisa pulang bersama suaminya. Setelah menghubungi Pak Min agar langsung pulang, Kiki pun naik ke mobil Monik yang dikendarai oleh supirnya.
Monik mulai membahas persiapan shooting hari minggu, apa saja yang harus mereka pakai, ada properti ada pula yang harus mereka bawa sendiri. Selesai membahas pekerjaan, Monik menceritakan pengalamannya di Notaris dan kemungkinan Monik dan Alex akan pindah rumah dua minggu kedepan.
Obrolan dimobil berlanjut di Warung Elite, setelah memilih duduk dipojokan agar tak terganggu orang hilir mudik, mereka mulai membahas kisah Kiki dengan Sheila. Monik tak berkomentar banyak hanya mendengarkan dan mentertawakan Kiki saja yang menurutnya sangat Lucu. Reza itu tak ada centil-centilnya dan juga bukan type cowok yang suka tebar pesona, seperti itu saja sudah membuat Kiki kewalahan menghadapi cewek-cewek penggemar Reza.
"Sabar ya Nyo, ujian lu emang ada aja ya. Nyokapnya Sheila, Ranti eh sekarang malah Sheilanya sendiri." kata Monik menenangkan tapi juga memprovokasi.
"Yang gue ga ngerti maksudnya dia apa gitu sok polos curhat sama Kiki. Yang dicurhatin suaminya Kiki lagi. Minta digampar ga sih." Intan masih saja emosi.
"Mungkin dia berasa kehilangan, bayangin aja tiga atau empat tahun gitu bareng terus sama Kak Eja, pisahnya karena gue nikah sama Kak Eja kan." Kiki berusaha untuk netral walaupun hatinya menangis.
"Ya kalau begitu mestinya mikir, atau kalau mau dari awal perjuangin dong kalau memang merasa Reza suka sama dia." tambah berkobar emosi Intan mengingat Sheila.
"Lagian lihat dia lendotan sama Kenan waktu itu manja bener ya. Kita kira dia selingkuh dari Reza loh." Monik mengingatkan saat mereka melihat Kenan dan Sheila berjalan di mal.
"Oh iya katanya lagi mabok parfume waktu itu." Kiki menjelaskan berdasarkan percakapan Kenan dan Sheila saat menjemputnya di rumah.
"Ah itu sih kaya mabok cinta gue lihat. Orang mesra bener, kalah mesra deh Monik sama mas Alex" Intan tak terima alasan itu.
"Kenapa gue sama mas Alex yang jadi contoh sih." Monik mendengus kesal. Intan tertawa diikuti Kiki. Mereka tertawa bersama.
"Lu udah lapor Kak Eja kita sudah disini?" tanya Monik pada Kiki.
"Lupa, keasikan ngobrol." jawab Kiki sambil terkekeh.
Baru akan menghubungi suaminya, Bowo datang membawa makanan kecil dan tiga gelas jus, padahal mereka tak pernah pesan, tadi saat datang langsung duduk dan ngobrol sampai lupa semuanya.
"Dari Mas Reza." kata Bowo saat menata makanan dimeja. Hmm sepertinya Reza sudah diruangan dan mengamati aktifitas istrinya.
"Kak Eja sudah datang ya mas Bowo. Duh kenapa mas bowo yang antar bukan staff lain." Kiki tak enak hati karena Bowo supervisor cabang tersebut.
"Sudah dari tadi sebelum mbak Kiki datang. Ga papa mbak kebetulan saya juga lagi santai." jawab Bowo yang kemudian pamit melanjutkan aktifitasnya.
"Laki lu ngerti banget ya istrinya pelit, sampai kering tenggorokan ga dipesanin minum dan makanan." cerocos Intan sambil memakan cemilan yang ada dimeja.
"Lu belum haus kan. Kenapa ngomel sih." sungut Kiki tak terima.
"Tau dari mana gue belum haus Nyo?" tanya Intan mencebikkan mulutnya.
"Kalau haus yang lu pegang gelas jus bukan cemilan Nyo." kata Monik sambil memiting leher Intan.
"Gelooo keselek gue." teriak Intan berusaha menyelamatkan diri, sementara Kiki tertawa melihat kedua sahabatnya. Reza yang memandang dari bangku kerjanya hanya menggelengkan kepala, benar-benar belatung nangka, masih saja belum berubah mereka kalau kumpul bertiga.