
"Aban mana aja sih, tok ndak bobo Oten?" Balen hampiri rombongan Abangnya setelah semua duduk manis menunggu makanan datang.
"Abang bobo rumah Om Deni." jawab Nanta.
"Aban Leyi juda?" tanya Balen pada Larry. Larry anggukan kepalanya tersenyum pada Balen.
"Abang juga Balen." Daniel ikut menjawab padahal Balen tidak tanya.
"Yah semuana bobo umah Om Deni, Baen juda don ninap situ." pinta Balen pada Abangnya.
"Bobo sama aku yuk." ajak Daniel.
"Enak saja, tidak boleh." jawab Nanta cepat.
"Dih." sungut Daniel.
"Bukan muhrim." jawab Nanta lagi. Semua tertawakan Abang yang sangat menjaga adiknya.
"Baen bobo ama Aban aja tao ndak ama Om Deni." bujuk Balen pada Abangnya.
"Ijin dulu sama Papa dan Mamon." kata Nanta pada adiknya.
"Waduh tidak jadi olah raga deh." celutuk Mike buat semuanya tertawa.
"Aban mo owah wada?" tanya Balen.
"Tidak kok." jawab Nanta mendelik pada Mike kemudian mengangkat Balen dan memangkunya.
"Kiss Abang." pintanya pada Balen, Balen ikuti perintah Abangnya, sekarang sudah pintar tidak basah lagi pipi Abang dibuatnya.
"Aban Baen itut Aban ya." bujuknya lagi.
"Iya kalau Mamon dan Papa ijinkan." kata Nanta lagi, tertawa peluki adiknya gemas.
"Aban tanen Baen tan." tebaknya tertawa walaupun agak pengap dipeluk erat Abangnya.
"Kangen dong, Balen sih jauh-jauh." kata Nanta pada Balen.
"Matana aban sih pedi pedi aja." salahkan Abang yang pergi-pergi saja. Semua tertawa dengar ocehan Balen, sementara Dania bersandar dibahu suaminya sambil ikut tertawakan Balen.
"Ini Tatak sapa?" tanya Balen tunjuk Femi.
"Kakak Femi." jawab Dania membenarkan posisi duduknya biar Balen bisa pandangi Femi.
"Yan di Ciebon itu ya, Yan nobol tepon Baen?" tanyanya lagi.
"Ingat ya?" Femi tersenyum.
"Inet, bisa beenang tan? Tapan Jatata?" sapanya seperti orang besar. Femi bingung Balen bilang apa.
"Kamu bisa berenang kan? kapan ke Jakarta?" Dania menterjemahkan.
"Oh hahaha iya betul, bulan depan mungkin ke Jakarta." jawab Femi tertawa.
"Beenang umah Baen don." ajaknya.
"Balen, Kakak Rumi tidak diajak berenang ih." protes Rumi.
"Abisna tata Yumi ndak pate baju beenang sih tadi." jawab Balen membuat Rumi tertawa.
"Nanti kalau Kak Femi ke Jakarta kita berenang sama-sama ya, tapi perempuan saja tidak sama laki-laki." kata Rumi pada Balen.
"Boeh aja, janan hai saptu ato mindu ya, Baen beenang ama Aban Leyi soanna." katanya tidak mau jadwal berenangnya bersama Larry diganggu.
"Ini aban sapa?" tanya Balen lagi tunjuk Fino.
"Ini dokter Fino loh, bisa suntik." Mike takuti Balen.
"Oh, Baen juda bisa syuntik." jawab Balen tidak mau kalah.
"Sok tahu ah, suntik apa memangnya?" tanya Mike.
"Boneta titing." jawabnya, memang mainan ala-ala dokternya suka dipakai untuk suntik wajah boneka keritingnya.
"Yang dia suntik wajahnya tuh boneka." kata Dania pada Rumi dan Femi.
"Kok suntik wajahnya Balen?" tanya Femi.
"Bian awet muda. Talo nonton tipi tan ada yan suta opasi muta bian catep." jawabnya, kembali semuanya tertawa.
"Balen mau jadi dokter ya, dokter Kecantikan." Fino tertawa.
"Ndak..." jawab Balen gelengkan kepalanya.
"Mau jadi apa dong?" tanya Fino.
"Jadi isti." jawabnya semua kembali tertawa.
"Apa sih isti?" tanya Fino bingung.
"Jadi istri." jawab Nanta terkekeh menoyor kepala Larry. Sudah pasti kalau ditanya Balen bilang mau jadi istri Abang Larry. Larry tertawa geli.
"Mau jadi istri siapa dia bang?" tanya Daniel bingung.
"Eh Balen jadi istri Bang Daniel saja ya?" tanya Daniel, dia sudah tek Balen kan tadi pagi.
"Sebenenna Baen biang Mamon ama Papon, Baen mo jadi isti Aban Leyi, teus ndak jadi deh." jawab Balen mengedikkan bahunya, sambil mainkan hidung Nanta. Mengoceh lancar, jahili Abangnya juga lancar. Semua nyengir lebar dibuatnya.
"Kenapa tidak jadi?" tanya Femi masih nyengir.
"Semuana ndak suju." jawab Balen, kembali semua terbahak.
"Kocak nih Balen." kata Fino takjub.
"Tidak setuju lah, kamu cocoknya sama Abang Daniel." kata Daniel percaya diri.
"Ndak, Baen udah tanain juda talo ama Aban Danil suju ndak, eeh ndak suju juda." jawab Balen.
"Eh lupa ya Abang sama Abang Larry bilang apa?" Larry mencubit pipi Balen gemas.
"Inet." jawabnya gantian balas mencubit pipi Larry. Larry jadi tertawa dicubit Balen.
"Ingat tapi kok bilang istri lagi?" tanya Nanta. Ia dan Larry sudah ingatkan Balen malam itu.
"Tan Baen cuma ceita aja. Tadi sih abanna tanain Baen mo jadi doten apa ndak." Balen tidak mau disalahkan.
"Gemas ah, Abang sekap nih." kata Nanta kembali peluk erat tubuh adiknya.
"Aban..." teriak Balen sambil tertawa geli berisik sekali.
"Bisik amat Baen, woi." teriak Richie dari meja seberang.
"Ichie sini lah, sombong betul." panggil Daniel.
"Atu jadain lobot atu nih." katanya mengangkat tangannya yang sedang pegangi robot.
"Baru beli ya?" tanya Daniel agak berteriak, karena lumayan ada jarak, lagi pula ia lihat kotak robot ditangan satunya
"Tasih Om Muel." jawabnya tunjuk Samuel yang sedang memangku anaknya.
"Keren, tapi tangannya mana tuh kok lepas?" tanya Daniel.
"Matana atu jadain, bian ndak satit." jawabnya membuat semua tertawa.
"Sini abang obati robotnya, ada dua dokter disini." kata Daniel supaya Richie mau bergabung.
"Ndak usah, sini ada doten juda." jawab Richie tunjuk Deni dan Samuel. Kembali semua tertawa. Sudah janji kalau dikasih robot tidak boleh rusuh lari kesana kemari.
"Semua mainan yang sudah dia bongkar tidak bisa dipasang lagi." Nanta jelaskan pada Daniel.
"Terima bongkar tidak terima pasang ya." Daniel tertawa.
"Iya selalu setiap dapat mainan baru dia bongkar, kalau dimarahi jawabnya nanti beli lagi." Nanta ceritakan adiknya.
"Lucu ya punya anak." Fino tertawa.
"Kan gue sudah bilang, pinang lah, bikin anak deh." kata Mike mengarahkan dagunya pada Rumi.
"Ehem pinang saya maksudnya?" Rumi berdehem.
"Ya iya lah siapa lagi Yumi." kata Larry membuat Rumi tertawa, selalu senang jika Larry panggil Yumi.
"Panggilan sayangnya ke aku tuh Yumi." kata Rumi jahil, semua tertawakan Larry.
"Tenang Fin, butuh info tentang Yumi hubungi Leyi." kata Mike tertawa.
"Iya boleh tanya gue, Rumi konfirm yang boleh diceritakan yang mana saja." kata Larry bercandai Rumi.
"Langsung tanya aku saja Fin, kalau tanya Leyi kurang lengkap, kamu harus tahu yang buruk-buruknya. Kalau Leyi pasti cerita yang bagus saja." Rumi membuat semua tertawa.
"Baen citain nih, Tata Yumi puna sawat baduuuus deh." Balen mulai mengoceh.
"Bukan punya Kak Rumi, Balen." Rumi meluruskan.
"Tapi tan Tata Yumi yan ajat Baen naik sawat badus, Papon ndak." katanya bandingkan pesawat Unagroup dengan pesawat komersil.
"Itu pesawat perusahaan, waktu kita syuting iklan." Rumi jelaskan pada Femi dan Fino. Keduanya menganggukkan kepalanya tertawa.
"Aku juga mau diajak naik pesawat bagus Yumi." Femi ikutan panggil Yumi.
"Hahaha kapan ya, nanti kalau Balen syuting di S'pore lagi ya." janji Rumi pada Femi.
"Bukannya Balen sisa syuting di Jakarta saja?" tanya Nanta pada Rumi.
"Iya, tapi kan bisa saja kalau Steve request." kata Rumi lagi, Nanta anggukan kepalanya.
"Balen kontrak eksklusif di Unagroup. Leyi ditawari tidak mau, cuma mau kalau sama Balen saja." kata Rumi lagi, Larry nyengir lebar.
"Jadi kalian tidak sangka kan, kalau saingan berat kalian untuk dapatkan Larry itu ternyata Balen." kata Mike menyimpulkan sambil pandangi Rumi, Femi dan Balen. Larry gelengkan kepalanya, lempar tissue yang dikepalnya pada Mike.
"Aban, buan sampa di tempatna don." Balen ingatkan Larry, semua tertawa. Mereka terlalu asik, tidak sadar makanan yang ditunggu lama sekali belum sampai juga.
*Khusus buat yang kangen Balen nih , Btw yang Komen soal Femi aku cuma bisa baca sambil ketawa, lucu-lucu komennya, tapi maaf karena komennya cuma bisa dibaca tapi tidak tampil jadi ga bisa dibalas.