
Sudah pukul dua belas malam Balen belum juga tidur, walaupun sudah didalam kamar bersama Nanta, kantuknya belum juga datang, ia sibuk mewarnai, menikmati buku mewarnai yang di kasih Ando.
"Balen, tidur sudah malam. Besok lagi mewarnainya." kata Nanta pada Balen.
"Bental ladi ya." jawabnya sambil mewarnai gambar, seperti yg rapi saja hasilnya, berantakan malah iya, awut-awutan.
"Abang tidur duluan ah." kata Nanta pada adiknya, walaupun belum ngantuk tapi Nanta tidak mau Balen begadang.
"Janan." jawabnya konyol.
"Abang ngantuk." kata Nanta pura-pura menguap.
"Baen juda." ikut pula menguap Balen.
"Ya sudah, ayo tidur kan Balen ngantuk."
"Beum." jawab Balen membuat Nanta tertawa.
"Tadi bilang juga, bagaimana sih Singkong Rebus." Nanta mengacak anak rambut Balen.
"Matih banak dambalna, Aban." Balen menunjukkan bukunya pada Nanta. Matanya sudah terlihat merah menahan kantuk.
"Tidak harus selesaikan semuanya malam ini juga, besok lanjut lagi sama Wulan." Nanta terkekeh mencium adiknya antara kesal dan gemas.
"Mana tusyuna." kata Balen akhirnya meletakkan pinsil warna kekotaknya.
"Tusyu??? susu kali." kata Nanta menggoda Balen. Balen memonyongkan bibirnya karena merasa diejek. Nanta segera beranjak menyiapkan botol susu Balen dan mengisi dengan susu kotak yang biasa Balen minum, kebutuhan Balen untuk malam ini sudah lengkap dikamar Nanta.
"Ayo tidur, ini minumnya." Nanta menyerahkan botol yang sudah terisi susu pada Balen, langsung saja Balen mengambil posisi, merebahkan badan dikasur dan meletakkan kepalanya dibantal.
"Aban, butu Baen." tunjuknya sambil menyedot susu dibotol.
"Kenapa bukunya?" tanya Nanta.
"Janan diyobek ya butu Baen." pesannya pada Nanta, seperti Nanta selalu memberi pesan kepadanya.
"Iya." jawab Nanta tertawa, kemudian ikut merebahkan badannya disebelah Balen dan kepalanya menggunakan bantal yang sama dengan Balen.
"Eh Singkong, biasanya juga kamu yang robek buku Abang." Nanta terkekeh ingin mencubit Balen tapi malah akhirnya mengusap-usap kepala Balen dengan lembut. Bisa-bisanya Balen memperingati Abang agar tidak merobek bukunya, Nanta lagi-lagi terkekeh, Balen pun terkekeh meniru Abang dan matanya tampak mulai kriep-kriep.
Tidak sampai sepuluh menit, Balen akhirnya tertidur pulas, Melihat singkong rebusnya sudah tertidur, Nanta beranjak membereskan buku adiknya, karena khawatir akan robek atau kusut karena tertimpa badan mereka saat tertidur nanti, bisa rusuh besok kalau bukunya rusak.
"Belum tidur?" tiba-tiba Kenan melongok dari balik pintu. Awalnya hanya ingin mengintip kedua kesayangannya, ternyata Nanta masih terlihat sibuk.
"Balen baru saja tidur, Pa. Papa kok belum tidur?" tanya Nanta tersenyum pada Papa.
"Kangen Balen ya?" tebak Nanta terkekeh.
"Kangen kalian berdua lah." jawab Kenan dengan manisnya. Ia pun masuk ke kamar Nanta, ikut tidur disebelah Balen.
"Ih Papa nanti ketiduran, di cari Mamon lagi." Nanta tertawa melihat Papanya tidur memeluk Balen.
"Papa tadi ijin intip kalian. Kalau lama, pasti mencari Papa disini." Kenan ikut tertawa.
Nanta ikut membaringkan tubuhnya disisi Balen, sekarang gadis kecil itu sudah diapit Papa dan Abangnya, tidak terpengaruh mendengar suara Papon dan Abangnya berbicara di dekatnya.
"Mana foto Dania coba Papa lihat." kata Kenan tiba-tiba.
"Ih Papa kenapa jadi Dania." Nanta mengernyitkan dahinya.
"Penasaran Papa, Dania besarnya seperti apa." jawab Kenan.
"Memangnya Papa pernah lihat Dania kecil?" tanya Nanta.
"Ya, setelah Papa tanya Om Micko tadi, Papa baru ingat pernah lihat Om Micko ajak dia kekantor dulu saat Dania masih seusia Balen."
"Betul ya berarti Om Micko pernah menikah sebelum dengan Tante Lulu."
"Hu uh."
"Kenapa Om Micko tidak pernah menemui Dania?" tanya Nanta penasaran, karena Kenan saja dulu beberapa kali selalu berusaha menemui Nanta walaupun Nanta menghindar.
"Besok kamu tanya saja langsung sama Om Micko." Kenan terkekeh.
"Iya memang sudah direncanakan setelah dari Medan langsung ke Malang, Om Micko dan Tante Lulu juga mau mengajak anak-anak melihat pertunjukan ice skating hari sabtu."
"Ada Tante Lulu masa aku bahas Dania." Nanta menggelengkan kepalanya, tidak mau ada yang tersinggung karenanya. Kenan tertawa jadinya.
"Mana fotonya?" tanya Kenan lagi.
"Aku tidak punya, Pa." Nanta tertawa, mana mungkin punya foto Dania, baru juga kenal tiga hari.
"Maksud Papa kamu kan bisa lihat media sosialnya.".
"Ih Papa minta aku stalking." Nanta tertawa pelan takut Balen bangun.
"Om Micko yang minta. Kalau sudah dapat Kirim ke Papa atau Om Micko langsung."
"Aku minta saja pada Dania, kenapa harus stalking."
"Karena Om Micko tidak mau Dania tahu."
"Aneh, beda sekali sama Papa. Dulu Papa cari aku terus, Om Micko malah intip-intip, tidak langsung saja menemui Dania." Nanta jadi kesal sendiri sama Micko.
"Tiap orang masalahnya berbeda, Boy. Kita tidak tahu apa masalah Om Micko."
"Iya sih. Aku tidak tahu media sosial mana, aku juga tidak tahu nama lengkapnya. Jadi besok aku minta langsung saja." kata Nanta pada Kenan.
"Terserah kamu saja, kalau Papa lebih senang kamu ajak Dania kekantor dari pada lihat foto."
"Aku undang saja nonton ice skating. Suruh Om Micko belikan ticket dan penginapan untuk Dania." Nanta memberi saran.
"Boleh juga begitu. Besok Papa sampaikan pada Micko." jawab Kenan.
"Oh Iya, Wilma juga kemarin minta diajak ke Malang, Pa." Nanta jadi teringat Wilma.
"Kenapa jadi ingat Wilma." Kenan mentertawakan Nanta.
"Aku pikir, yang minta diajak ke Malang Wilma, malah aku undang Dania." Nanta Terkekeh.
"Takut Wilma marah ya?" Kenan terbahak.
"Ih Papa, memangnya Wilma siapa, kenapa harus marah."
"Ya marah karena kamu ajak gadis lain ke Malang."
"Hahaha suruh saja mereka berangkat berdua." Nanta tertawa pelan, lagi-lagi takut adiknya terbangun.
"Mereka kenal?"
"Tidak, tapi Ando kenal mereka berdua."
"Semua gadismu kamu kenalkan sama Ando."
"Apa sih Pa, Gadisku hahaha." kali ini Nanta lupa memelankan suaranya.
"Psssttt..." Kenan mengingatkan Nanta.
"Maaf." Nanta mencium Balen.
Obrolan mereka terhenti karena tiba-tiba Nona masuk sambil menggendong Ichi.
"Ikut bobo sini ya." katanya sambil menidurkan Richi di sofa yang bisa dijadikan tempat tidur, dikamar Nanta. Nona pun mengambil posisi tidur disebelah Babynya.
"Semua pada tidur di kamarku?" tanya Nanta tertawa, memang kamarnya sangat luas dan mampu menampung mereka berlima, bahkan kalau Oma dan Opa mau ikut tidur disini pun masih bisa.
"Iya." jawab Nona.
"Kalian lanjut saja ngobrol, aku dan Ichi mendengarkan sampai ketiduran." kata Nona kemudian.
"Kamu tidak apa kan Boy kita semua kumpul dikamarmu." tanya Kenan pada Nanta.
"Tidak masalah, seru malah." kata Nanta memandang wajah Richi gemas ingin gigit.
Jadilah mereka berlima berkumpul tidur bersama seperti sedang liburan dan hanya menyewa satu kamar, Nanta jadi tertawa sendiri dan kemudian lanjut bicara dengan Papa, sementara Mamon dan Ichi rupanya hanya numpang lewat seperti iklan, karena setelahnya Nona langsung tertidur pulas.