I Love You Too

I Love You Too
Padeh



Kenan mencibirkan bibirnya pada Baron dengan senyum tipisnya, sembarangan sekali kalau bicara. Pikirannya kemana selalu menawarkan anak gadisnya, seperti tidak ada yang mau saja.


"Ayo semua pada makan." ajak Mita tak enak hati karena suasana seketika hening, terlebih Nona hanya memainkan sendok saja sambil menunduk.


"Nanta ayo, Nak. Bude ambilkan ya?" Mita kembali memecahkan keheningan yang ada.


"Biar Nanta ambil sendiri Bude." jawab Nanta dan mulai membalikkan piringnya.


"Kak Nona, ayo." ajak Nanta pada Nona.


"Ini siapa yang masak?" tanya Nona tanpa melihat kearah Mita.


"Saya, coba deh Non. Semua bilang masakan saya enak, dulu Kenan suka pesan buat dirumahnya." kata Mita mencoba mengakrabkan diri pada Nona.


"Oh iya, masih bisa pesan kah setelah jadi Nyonya Baron?" tanya Kenan serius.


"Tidak bisa." jawab Baron cepat. Kenan menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana Ken?" Baron memainkan sudut matanya pada Nona yang masih sibuk menyendok makanan. Kenan segera mengarahkan ujung garpu yang dipegangnya pada Baron dengan mata melotot. Baron terkekeh, ia tahu Kenan terganggu, tapi senang saja menggoda Kenan, terlebih Nona selalu terlihat Salah tingkah dan sedikit berbeda jika didekat Kenan. Mita menepuk bahu suaminya, ia tidak mau suasana menjadi kaku karena Baron terus saja menggoda Kenan dan Nona. Kalau pun serius ingin menjodohkan Nona dan Kenan, menurut Mita tidak secara gamblang seperti ini.


"Sampai kapan di Malang, Den?" tanya Kenan pada Deni.


"Rabu. Kebetulan ada seminar kesehatan, aku dan Samuel yang menjadi Narasumbernya." Deni menjelaskan tanpa diminta.


"Untung kan gue ada di Malang, coba kalau gue masih di Cirebon, sementara kalian ke Malang tiga hari." cerocos Nona.


"Kalau kamu di Cirebon, pasti salah satu dari kita tetap tinggal temani kamu, Non." kata Deni pada Nona.


"Nah itu jadi beban kan?"


"Tidak tuh, kata siapa beban?" sahut Samuel. Nona terkekeh senang mendengar jawaban Samuel.


"Sam, gue ada koleksi baru loh, sekarang kembaran gue Nanta, punya saingan lu." katanya pada Samuel.


"Wah Nanta, kamu menggeser posisi Om Samuel ya?" kata Samuel pada Nanta. Nanta terkekeh, ia tahu yang Nona maksud koleksi sepatu.


"Widih PD betul sebut Om." celutuk Nona mencibir.


"Habis apa? masa Kakak."


"Opa, lu kan sudah tua." kata Nona terkekeh. Samuel menoyor kepala Nona kesal.


"Pa, Nona tidak disuruh tinggal disini saja, dia sendiri di rumah aku khawatir." kata Samuel pada Baron.


"Mau Non? kamar kamu sudah Papa siapkan loh." kata Baron pada Nona. Nona langsung menggelengkan kepalanya.


"Memang kenapa kalau sendiri? gue sudah besar kan." kata Nona pada Samuel.


"Iya tinggal disini saja, Nona. Kalau kamu tidak suka kamarnya, kamu bisa tinggal di paviliun, nanti Tante siapkan." kata Mita menawarkan.


"Tidak usah, aku sudah cukup nyaman dirumahku." kata Nona tersenyum tipis, kemudian menghela nafas panjang. Kenan hanya mengamati dan menganalisa sendiri, sepertinya Nona juga tidak suka tinggal sendiri, ia terlihat memaksakan diri.


"Makanya Papa pikir kamu sebaiknya segera menikah Non." kata Baron, mulai lagi. Kenan mulai menghela nafas, malas sekali kalau Baron bergaya tembak langsung, Kenan tidak mau Nona atau Nanta terganggu. Walaupun tadi malam Nanta sudah mengijinkan Kenan boleh menikah jika mau sama Nona. Kenan tersenyum tipis mengingat percakapannya dengan Nanta semalam.


"Nanti juga menikah kalau sudah tiba waktunya." jawab Nona tersenyum pada Papa.


"Iya semua ada waktunya." timpal Deni.


"Jadi bagaimana cara Papa menjaga kamu, Non. Kalau kamu saja tidak mau tinggal sama Papa. Walaupun Papa sudah titip kamu sama Kenan, tapi tetap saja Kenan tidak bisa dua puluh empat jam bersama kamu, kecuali kalian menikah." gubrak, Kenan rasanya mau pingsan. Baron ini bagaimana sih, mesti diredam sepertinya biar tidak terus-terusan membuat kuping panas, pikir Kenan.


"Bang Baron..." semua melihat kearah Kenan, tegang sekali muka mereka, pikir Kenan. Hanya Nanta yang terlihat santai dan cengengesan. Kenan menggaruk kepalanya, sebenarnya bingung mau bicara apa.


"Mau bilang apa sih, lama sekali." Baron mengernyitkan dahinya, rasanya tidak sabar mendengar apa yang akan Kenan bicarakan.


"Saya ini pernah gagal, kamu tahu kan. Saya juga punya anak usia remaja. Sementara Nona belum pernah menikah, Cantik, wanita karir. Banyak yang lebih dari saya siap jadi suami Nona. Sebaiknya Abang menjodohkan Nona sama yang pantas dengan Nona, yang masih single dan usia tidak terlalu jauh. Bukan saya menolak Nona, Nona terlalu sempurna dimata saya dan saya berfikir logis. Kasihan sekali Nona kalau harus menghabiskan sisa umurnya bersama saya." kata Kenan, menarik nafas dan tersenyum pada semua yang ada. Nona hanya bisa memandang Kenan dengan perasaan yang ia tidak mengerti.


"Lagi pula saya rasa Nona bisa mencari pasangan sendiri tidak perlu dijodohkan. Tapi Abang jangan khawatir, bagaimanapun sesuai amanat Abang, saya akan menjaga Nona semaksimal mungkin, sesuai kemampuan saya." kata Kenan lagi. Ia berharap Baron dapat mengerti dan Nona juga tidak tersinggung dengan apa yang Kenan sampaikan.


Deni dan Samuel tersenyum saling memandang, mereka berdua punya pemikiran sendiri dan pada dasarnya mereka setuju jika Kenan menjadi suami Nona. Kenan memang pernah gagal, tapi hanya Kenan yang bisa membuat Nona tenang dengan emosi terkontrol. Kalau tidak ada Kenan mungkin Nona sudah terus menyerang Mita dengan kalimat-kalimat yang menusuk hati. Deni dan Samuel sangat mengenal Nona. Tapi tadi saat Mita mengajak Nona bicara, Nona menjawab dengan cukup sopan.


"Kalau memang jodoh tidak kemana." kata Samuel tersenyum pada Kenan.


"Mau menghindar seperti apapun kalau memang jodoh pasti bertemu." sahut Deni lagi. Kenan menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang dikatakan Samuel dan Deni.


"Papa masih terlihat muda loh, teman Nanta suka tidak percaya kalau Nanta itu anak Papa." tiba-tiba saja Nanta mengeluarkan suaranya.


"Oh ya?" timpal Baron seperti mendapatkan peluang.


"Iya Om, waktu itu Papa pernah kesekolah Nanta, teman Nanta bilang dicari abangmu tuh Nan." kekeh Nanta mengingat saat ia bersembunyi ketika Kenan datang kesekolahnya.


"Pantas saja kamu tidak mau bertemu Papa ya waktu itu. Pasti kamu bingung Abang kamu itu siapa, kalau dibilang dicari Papa kan kamu tidak akan menghindar." kekeh Nona menggoda Nanta.


"Dih Kak Nona, menyebalkan." sungut Nanta merasa tersindir. Kenan terkekeh dibuatnya.


"Nanta kamu jangan panggil saya Om, panggil Opa, karena kamu kan panggil Deni dan Samuel itu Om." kata Baron pada Nanta.


"Ok Opa." jawab Nanta santai.


"Tapi lucu juga panggil Opa sama Bude, bagaimana tuh?" tanya Nanta bingung sendiri.


"Kamu panggil Padeh saja, Opa deh." sahut Nona mentertawakan Papanya. Baron ikut tertawa, ia senang melihat keakraban Nanta dengan Nona, yang lain jadi cengar-cengir sendiri.