
"Kenapa tertawa sendiri?" tanya Andi pada Nanta saat Nanta memasuki ruangan mereka.
"Benar mereka ajak foto bersama, lucunya aku tanya mereka pencinta basket apa bukan, jawabnya bukan. Tapi saat aku bilang nanti ada Atlet Basket Nasional, mereka langsung sebut julukan kami berempat." Nanta kembali tertawa.
"Jadi mereka pencinta basket apa bukan?" tanya Mario cengar-cengir.
"Tidak tahu, aku merasa dikerjai saja."
"Kenapa merasa begitu?" Andi jadi tertawa.
"Tidak suka basket tapi tahu aku dan sahabatku. Aneh saja rasanya." Nanta mengedikkan bahunya kemudian tersenyum. Mario dan Andi tertawa bersama seperti mengenang masa muda dulu. Dulu yang tidak suka jazz pun tahu Andi dan minta foto bersama, seakan penggemar jazz. Ikut-ikutan yang lain saja.
Sore hari tepat pukul empat sore Kuskus dan rombongannya tiba di Warung Elite Cabang Selatan. Nanta langsung keluar menyambut kehadiran mereka.
"Sudah hampir penuh." kata Kuskus pada Nanta. Sesekali Kuskus lambaikan tangannya pada orang-orang yang menyapanya, rupanya penggemar Antra as friend sudah banyak yang hadir. Nanta membawa Kuskus dan rombongannya keruang meeting yang di alih fungsikan menjadi ruang istirahat artis.
"Sore, Pak Nanta..." tampak Jonathan berdiri didepan pintu memanggil Nanta yang sedang asik ngobrol dengan Kuskus. Nanta kenal Kuskus dan rombongan saat mereka menjadi pengisi acara di salah satu pertandingan Basket yang Nanta ikuti beberapa tahun lalu.
"Sore Mas Jo, sini masuk."
"Pesan dari Bu Cyla, apa penggemarnya Pak Nanta tidak bisa ditenangkan dulu? mereka sibuk mengintip ke setiap ruangan mencari Bos Ganteng." kata Jonathan tertawa. Tim Antra as friend juga tertawakan Nanta.
"Waduh, Mas Jo. Saya juga bingung loh, perasaan penggemar saya tidak banyak. Saya juga pasif di media sosial." Nanta menjelaskan.
"Hehehe..." Jonathan cengengesan, ini kan ulah Jonathan dan Wari.
"Beberapa hari kemarin ramai hastag Pencinta Nanta, eh hari ini mereka sebut Bos Ganteng. Ada yang jahil gue rasa." kata Nanta pada Kuskus.
"Bukan jahil, Pak." jawab Jonathan cepat, sekaligus membela diri, ia dan Wari tidak bermaksud jahili Nanta.
"Baru tahu mereka Nanta Ganteng." Kuskus tertawa sementara Nanta meringis.
"Jadi bagaimana, Pak?" tanya Jonathan pada Nanta.
"Saya harus bagaimana dong?" Nanta malah balik bertanya. Tim Antra as friend kembali terbahak melihat Nanta kebingungan.
"Mereka hanya mau foto dan sedikit ngobrol sama Pak Nanta sih menurut saya." kata Jonathan nyengir lebar.
"Jo, kamu bayangkan deh. Kerjaan saya selama berapa hari ini hanya ngobrol dan foto sama pengunjung." keluh Nanta pada Jonathan.
"Iya sih, tapi kan pekerjaan Bapak yang lain kan sudah dihandel sama kami, Pak." Jonathan tersenyum manis penuh arti. Pikirnya kalau jualan lancar pasti bonus akhir tahu bertambah.
"Sudah sana layani dulu." kata Kuskus pada Nanta.
"Kita duduk diluar saja yuk, Kus." ajak Nanta pada Kuskus.
"Yuk, barang-barang tinggal sini dulu tidak apa kan?" tanya Kuskus pada Jonathan.
"Tidak apa, Mas." jawab Jonathan menarik nafas lega.
"Mas Jo, panggil Kuskus, Mas. Kenapa panggil saya, Bapak?" protes Nanta pada Jonathan.
"Hehehe kalau Bos Ganteng kan beda." jawab Jonathan konyol.
"Gue sih tahu ya siapa yang kasih julukan Bos Ganteng dan Pencinta Nanta." Kata Widi pemain bas Antra as Friend sambil cengar-cengir memandang Jonathan.
"Hehehe..." Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mas Jo ya?" tembak Nanta lagi.
"Ampun deh Mas Jo, bilang-bilang dong jadi saya ada persiapan." protes Nanta sambil tertawa, mana bisa marah sih Nanta.
"Memang mau persiapan apa, Bos Ganteng?" tanya Kuskus menggoda Nanta.
"Ya gue kan bisa ngeblow rambut dulu atau keriting bulu mata gitu." kata Nanta bercanda, kembali semua terbahak, sambil Jonathan mengarahkan Nanta dan Kuskus masuk ke ruang VIP.
"Fans Mas Nanta sama Antra nanti saya arahkan kesini saja ya, biar rapi mereka fotonya bergantian." kata Jonathan seperti sudah mengatur semuanya dari awal.
"Nah itu bisa panggil gue Mas." kata Nanta sambil menepuk bahu Jonathan.
"Hehehe..." Jonathan kembali cengar-cengir.
"Jo, teman saya yang Tim Basket nanti suruh kesini ya." kata Nanta pada Jonathan.
"Siap Bos Ganteng." jawab Jonathan.
"Please deh." Nanta langsung saja meringis, risih juga dipanggil ganteng.
"Gue berasa dijual nih sama Jonathan." kata Nanta begitu Jonathan menghilang dari pandangan mereka.
"Cocok jadi manager artist tuh si Jonathan, kita rekrut saja kah?" kata Kuskus pada Timnya, Nanta langsung terbahak mendengarnya.
"Boleh kan Nan?" tanya Bimo pemain keyboard.
"Kalau memang baik untuk Jonathan kenapa tidak." jawab Nanta tersenyum.
"Paling manager lu tuh nangis." Kuskus terkekeh.
"Cyla?" tanya Nanta.
"Iya lah, siapa lagi."
"Mungkin, gue baru berapa hari disini." kata Nanta terkekeh.
"Assalamualaikum..." tampak ketiga sahabat Nanta muncul sambil cengengesan.
"Waalaikumusalaam... Pas bener lu." Sambut Nanta senang.
Sementara itu diluar terdengar Wari memberi aba-aba kepada pengunjung, speaker seluruh ruangan menyala.
"Selamat sore, untuk sesi foto bersama kami berikan waktu satu jam ya, karena Antra as Friend mau setting alat musik dan Bos Ganteng juga masih banyak pekerjaan." Nanta mengangkat alisnya mendengar aba-aba itu. Yang lain juga kepo mau tahu.
"Foto berdasarkan nomor urut, Yang warna merah foto sama Bos Ganteng juga geng kwartet, yang warna biru foto sama Antra as friend. Ingat karena tidak boleh berkerumun dan tidak boleh desak-desakan dan kita juga tidak boleh menghalangi orang yang mau lewat, maka dari itu sebaiknya semuanya duduk saja di bangku masing-masing. Boleh sambil makan atau sambil dandan. Jangan Khawatir sekali lagi semua dipanggil berdasarkan nomor urut. Sudah pada pegang nomor urutnya kan?" tegas Wari membuat Nanta mengintip ingin tahu Wari memberikan arahan pada siapa.
"Sudaaaah!!!" jawab seluruh pengunjung, menurut saja lagi.
"Eh buset Wari." Nanta gelengkan kepalanya karena Wari bicara menggunakan microphone di panggung sementara pengunjung duduk dimeja masing-masing. Semua terkekeh ikut mengintip.
"Selain foto pakai photographer yang telah kami sediakan, kalian boleh minta tolong photokan pakai handphone kalian. Ingat maksimal hanya boleh tiga kali jepret untuk menyingkat waktu. Mengerti ya?" lanjut Wari. Tampak Mario dan Andi keluar dari ruangan, sementara Cyla sudah ikut berdiri di samping panggung.
Tidak lama Jonathan memasuki ruangan dengan headset dan camera SLR di lehernya, sambil tersenyum pada Nanta dan yang lainnya.
"Benar kan, gue berasa dijual Jonathan." kata Nanta membuat semuanya terbahak.
"Minta waktunya satu jam saja ya Mas-Mas semua." Jonathan terkikik geli, idenya diterima oleh Cyla tanpa hambatan. Malah Cyla fasilitasi mereka dengan headset dan Walkie talkie agar bisa koordinasi satu sama lain. Karena di ruang VIP sudah lengkap, Jonathan mulai koordinasi dengan Wari agar memanggil pengunjung dengan nomor urut satu pada lembar merah dan biru bersamaan, ia sudah dibantu oleh satu orang lagi dengan camera SLR juga.