
"Di setrap Kakek kah?" Mike sambut Nanta sambil tertawa.
"Disuruh tinggal dirumah Kakek." jawab Nanta apa adanya.
"Turuti sudah, kasihan tinggal sendiri cuma sama pegawai saja." kata Mike pada Nanta.
"Kenapa bukan elu yang tinggal sama Kakek?" tanya Doni pada Mike.
"Yang diajak Nanta bukan gue." kata Mike tertawa.
"Senang betul." Nanta mendorong bahu Mike yang sedang didandani.
"Heh pakai lipstick kah?" komplen Nanta saat Mike dipakaikan lipstick.
"Sedikit saja biar difoto Bagus."
"Ish." Larry bergidik melihatnya. Mike malah tertawa saja melihat Nanta dan Larry yang merasa aneh melihat Mike dipakaikan lipstick.
"Mike, bagaimana rasanya deg-degan?" Larry ingin tahu apa yang Mike rasakan.
"Iyalah." jawab Mike kembali tertawa.
"Deg-degan tapi tertawa terus." Doni terkekeh menepuk bahu Mike.
"Kata nyokap gue biar rileks tertawa saja." jawab Mike, Larry anggukan kepalanya.
"Oh begitu." Nanta pun anggukan kepalanya.
"Lapar..." Larry menepuk perutnya.
"Dania punya kue pasar." Nanta langsung ingat box kue Dania, tadi belikan lumayan banyak, sudah pasti tidak habis, Dania hanya sanggup makan tiga jenis.
"Mau." Larry tampak semangat.
"Disebelah, sana ambil."
"Yang benar saja ada Kakek lu."
"Iya ada Oma juga. Kakek cuma mau arem-arem. Gue telepon Dania." Nanta ambil handphonenya hubungi Dania.
"Ada makanan kok di luar, sana ambil." kata Mike pada Larry.
"Acara belum mulai, mana enak." Larry menolak.
Tidak lama Dania datang bawakan box kuenya tadi serahkan pada Nanta yang sudah menunggu di depan pintu.
"Mau masuk?" Nanta tawarkan Dania
"Aku ke Seiqa saja." jawab Dania gelengkan kepalanya.
"Ada Dona juga sama Kak Dini disana." teriak Doni dari dalam.
"Oke." jawab Dania kemudian tinggalkan suaminya bersama para sahabatnya.
"Cantik sekali." Dania langsung saja terpana melihat Seiqa yang tampak lebih cantik dari biasanya.
"Pangling kan?" Kak Dini tertawa senang melihat Kecantikan sepupu rasa sahabat ini.
"Iya pangling. Kak Dini menginap dari semalam? Om Deni mana?" tanya Dania pada Dini.
"Iya, nanti malam juga menginap lagi. Mas Deni lagi sama Papa." jawab Dini kemudian kembali fokus pada Seiqa. Sambil menemani Seiqa di dandani, Dania pun berdandan sendiri.
"Ah kalau tau gue juga dandan sendiri." keluh Dona benarkan make up nya yang agak tebal.
"Hehehe aku memang tidak suka didandani." jawab Dania terkekeh lanjutkan aktifitasnya.
"Kamu belajar dandan dimana?" tanya Dini sekarang fokus pada Dania.
"Dulu aku pernah kursus, sebenarnya hanya kursus kepribadian tapi sekaligus diajarkan cara berpakaian, berdandan dan table manner." jawab Dania ceritakan kursus singkatnya saat liburan di Jakarta. Setiap ke Jakarta selalu ia isi dengan travel dan kursus singkat, bahkan Dania pernah kursus membatik dan juga memahat. Pernah juga ikut kursus bikin keramik.
"Nanti siapa yang antarkan pengantin wanita pada pengantin pria?" tanya salah seorang dari wedding organizer.
"Kita berdua." Dini tunjuk dirinya dan Dona.
"Salah satu minta dari pihak laki-laki ya. Jangan pihak perempuan keduanya." tegas crew tersebut.
"Oh aku ganti Dania saja." kata Dona undurkan diri.
"Kamu saja sama Dania." Dini ikut undurkan diri.
"Kak Dini saja." kata Dona pada Dini.
"Ya sudah aku saja." Dini akhirnya mengalah. Seiqa menarik nafas lega.
"Oke siap-siap ya sebentar lagi ijab kabul." crew sampaikan pada seisi ruangan.
"Jangan pada keluar." Seiqa minta ditemani.
"Iya. Kita temani." kata Dini mengusap bahu Seiqa yang sudah tampak seperti bidadari, tinggal menunggu Mike bacakan ijab kabul.
"Duh kok tegang." Dania terkekeh pandangi Seiqa yang tidak santai. Dona dan Dini malah asik bercanda. Lantunan ayat suci mulai terdengar, semua dengarkan dengan khusu. Seiqa sesekali menghela nafas atasi keterangannya.
"Ananda Mike Suryadi, saya... dibayar tunai." tangis Seiqa pecah saat dengarkan suara ayahnya mengucapkan kalimat tersebut, ketiganya jadi ikut menangis haru bukannya menenangkan Seiqa.
"Saya terima... dibayar tunai." lancar dan tenang sekali Mike ucapkan ijab kabul dalam satu tarikan nafas.
Saat terdengar kata "Sah." langsung saja keempatnya berpelukan, agak drama mungkin tapi memang itu yang mereka rasakan, haru bahagia jadi satu tapi air mata tak bisa dibendung.
Crew serahkan tissue pada empat nyonya,
"Bersiap ya." ingatkan sekali lagi.
"Duh make up nya luntur tidak?" mulai ingat benarkan make up karena tadi terkena air mata.
"Seiqa touch up dulu nih." salah seorang petugas benarkan make up Seiqa.
"Nyonya Mike." Dania bercandai Seiqa dengan sesekali bersihkan hidungnya dari aliran ingus efek dari menangis.
"Duh beruntung betul Mike dapat sepupu aku." Dini banggakan Seiqa.
"Seiqa juga beruntung dapat abangku." Dania tidak mau kalah.
"Kamu beruntung dapat keponakanku." Dini menggoda Dania.
"Hahaha apa sih ini berdua, kita semua beruntung." Dona terbahak diikuti ketiganya.
"Tadi menangis, sekarang tertawa." crew tertawakan mereka berempat.
"Drama queen ya Mas." tanya Dona.
"Oh tidak dong, ini wajar." jawabnya terkekeh.
"Oke next." dengarkan MC instruksikan agar pengantin wanita keluar dari persembunyian, diiringi rabana. Duh Dania kok rasanya mau menangis lagi, ini acara betul-betul menyentuh, rasanya saat menikah dulu tidak sedih ini. Mungkin karena seluruh anggota keluarga dari Papanya berkumpul tanpa berselisih lagi.
"My baby kenapa menangis?" tanya Nanta sambut Dania yang sudah jalankan tugasnya. Bukannya menjawab malah mewek di pelukan suaminya. Nanta tersenyum dan usap mesra bahu istrinya, ia tahu Dania terbawa suasana, jangankan Dania, Nanta dan sahabatnya saja tadi juga ikut menangis saat Mike ijab kabul.
"Anak Papa kenapa?" Micko datangi Dania dan Nanta.
"Terharu." jawab Dania mengusap air matanya.
"Sini peluk Papa masa Nanta saja yang peluki kamu." Micko ambil alih sudah beberapa minggu tidak bertemu sulungnya.
"Papa aku diminta tinggal dirumah Kakek Suryadi." lapor Dania dalam pelukan Papanya.
"Iya, tadi Kakek bilang Papa." jawab Micko enggan lepaskan pelukannya pada Dania, biarkan saja orang lain melihat aneh, Micko tidak peduli.
"Menurut Papa bagaimana?" tanya Dania.
"Kalau kamu dan Nanta tidak terganggu, temani saja. Kakek kesepian."
"Kasihan Balen dan Richie." Dania pikirkan keduanya, sebenarnya pikirkan Richie sih, sejak hamil ia ingin dekat Richie saja.
"Oh iya kamu malas kerumah Papa karena mau makan masakan Nona dan juga dekat Richie ya." Micko tertawa mengusap bahu sulungnya.
"Iya aku bingung, tidak dengar celotehan mereka nanti."
"Bisa video call kan sekarang." Micko ingatkan Dania.
"Iya sih, boleh tidak ya sama Papa Kenan." sekarang pikirkan Papa Kenan.
"Kamu masih setengah hati ya?" Micko kembali tertawa. Dania anggukan kepalanya.
"Pikirkan ibadahnya saja, merawat Kakek dapat pahala toh, walaupun bukan kamu yang kerjakan, tapi kamu menghibur Kakek." kata Micko.
"Harusnya Papa ajak Kakek tinggal dirumah Papa sih, itu lebih menyenangkan buat Kakek." kata Dania pandangi Papa.
"Oh iya betul juga, dekat dengan Oma Misha, Winner dan Lucky juga. Kamu juga pasti jadi menginap dirumah Papa kan." Micko langsung saja setuju, nanti akan sampaikan pada Kakek Suryadi agar tinggal bersama keluarganya.