I Love You Too

I Love You Too
Tukar Anak



Kenan baru saja merebahkan badannya dikasur, ketika handphonenya berdering.


"Sayang, coba lihat siapa yang telephone." Kenan malas sekali beranjak dari posisi nyamannya. Nona segera melihat pada layar handphone suaminya segera tersenyum dan menekan tombol hijau.


"Belum tidur?" tanya Nona begitu mendengar suara Nanta anak sambung yang selalu dirindukannya.


"Tidak bisa tidur." jawab Nanta dari seberang.


"Rindu aku ya?" Nona terkekeh menggoda Nanta.


"Iya, kapan Kak Nona ke Jakarta? minggu depan aku bertanding loh." kata Nanta ingin sekali keluarga menonton pertandingannya.


"Nanti aku tanya Papamu ya." Nona segera merebahkan badannya disebelah Kenan, langsung saja disambut dengan pelukan dari suaminya.


"Kak Nona, apa Papa setuju aku pindah ke Jakarta?" tanya Nanta dengan suara berharap.


"Ah, aku belum bahas itu? Nanta... kamu yakin mau sekolah diJakarta. Aku kesepian tidak ada kamu." kata Nona sambil menahan geli karena Kenan menciumi lehernya dengan tangan yang menyusup kedalam baju Nona.


"Aku direkrut club basket ternama di Jakarta. Kalau Papa setuju aku pindah, aku bisa bergabung di club B. Kak Nona tolong bujuk Papa." pinta Nanta pada Nona. Sementara Kenan menguping dengan aktifitas mesumnya.


"Nanta, aku loudspeaker ya. Bicara saja langsung." Nona memukul pelan tangan Kenan sambil menunjuk handphone agar Kenan fokus bicara pada Nanta.


"Iya, Assalamualaikum Papa."


"Waalaikumusalaam, sehat Boy?" tanya Kenan masih memeluk Nona, tangannya tidak lagi berjalan kesana kemari.


"Sehat, aku mulai besok dikarantina. Minggu depan babak penyisihan. Papa dan Kak Nona ke Jakarta kan?" Nanta bertanya penuh harap, Tari sudah menyampaikan tidak bisa hadir karena kondisi kehamilannya yang masih belum boleh capek.


"Hari apa Nak? biar Papa atur jadwal kerja Papa." Kenan mulai berpikir mengatur jadwal, Walaupun hari kerja ia ingin mendampingi Nanta bertanding mengingat Tari kemungkinan tidak bisa datang.


"Sabtu. Jumat saja Papa berangkat." kata Nanta bersemangat.


"Oke Anakku." Kenan menyetujui keinginan Nanta.


"Papa..." kata Nanta kemudian, Kenan tahu pasti Nanta ingin menanyakan kepindahannya ke Jakarta.


"Ya." jawab Kenan menunggu.


"Aku direkrut Club B, Papa tahu kan itu Club nomor satu di Indonesia. Kalau Papa ijinkan aku pindah sekolah, aku bisa bergabung di club itu." kata Nanta menyampaikan kabar terbarunya, sekaligus meminta persetujuan Papa.


"Papa maunya Nanta kuliahnya saja di Jakarta, sekolahnya selesaikan dulu di Malang." jawab Kenan seperti yang ia sampaikan pada Tari minggu lalu.


"Tapi peluang aku besar sekali kalau bisa bergabung di club ini, Pa." bujuk Nanta pada Papa.


"Hmm... Nanta shalat istikharah dulu ya Nak, Papa juga. Nanta tahukan Mama lagi hamil? tidak mau mendampingi Mama menyambut adik baru?" tanya Kenan menyampaikan kondisi Tari.


"Iya tahu, tapi Mama mengijinkan. Sekarang tinggal Papa deh. Kalau Papa menolak, kata Mama jangan pindah." jawab Nanta apa adanya, tapi ia ingin sekali serius dengan aktifitas basketnya.


"Iya sholat dulu ya. Papa masih berat hati, Nak. Tapi akan Papa pikirkan, kamu fokus ke pertandingan ini dulu saja ya."


"Iya Papa. Aku bisa dapat beasiswa saat kuliah nanti kalau aku berprestasi di Basket ini. Ayah Eja juga senang kalau aku tinggal di Jakarta. Kata Ayah tukar anak nih, Papa urus Bang Raymond, Ayah urus aku." Nanta terkekeh tetap membujuk Papa agar diijinkan pindah ke Jakarta.


"Hahaha nanti Papa telepon Ayah." Kenan ikut terkekeh, ia yang masih setengah hati mulai bimbang antara mengijinkan apa tidak. Tapi alasan Nanta masuk akal juga, bukan karena punya teman wanita baru.


Sambungan telepon berakhir, Kenan mencium pipi Nona yang sedari tadi mendengarkan percakapannya dengan Nanta. Ia segera beranjak dari tidurnya, sekarang dengan posisi duduk dikasur dan segera menghubungi Reza.


"Assalamualaikum..." jawab Reza dari seberang, suaranya terdengar lelah.


"Waalaikumusalaam, sehat Bang? sudah tidur?" tanya Kenan pada Abangnya.


"Alhamdulillah sehat, ini masih dijalan habis meeting Warung Elite rencana pembukaan cabang ke enam puluh." jawab Reza mulai bersemangat.


"Buka di Malang juga, Bang. Ada Raymond dan Roma kan bisa bantu pantau." kata Kenan memegangi tangan Nona yang sekarang gantian memeluknya.


"Nantilah dibicarakan sama Raymond, khawatir akan sibuk juga, dia diminta membantu mengurus bisnisnya Alex di Malang."


"Oh iya minggu lalu makan siang sama Gubernur dia, diminta Bang Alex, tapi aku tidak tahu urusan bisnis apa bukan saat itu."


"Oh bukan, itu murni makan siang. Kamu kenapa telepon?" tanya Reza setelah ngobrol ngalor ngidul.


"Bang, Nanta minta pindah sekolah di Jakarta, katanya Ayah Eja yang punya ide."


"Iya, boleh kan? Anakku sama kamu, anakmu biar sama aku." Reza terkekeh dibuatnya.


"Ah Abang ini, aku sudah melewati tumbuh kembang Nanta waktu itu. Sekarang aku ingin menikmati kebersamaan saat Nanta remaja sampai seterusnya, jadi aku setengah hati melepasnya." kata Kenan dengan dahi berkerut.


"Ya kamu ikut pindah saja ke Jakarta." santai sekali Reza memberi saran.


"Sembarangan sekali kalau bicara, kasihan Raymond, Bang."


"Raymond sama Oma dan Opa kan? lagipula Raymond sudah bisa ditinggal juga Ken, aku butuh bantuan kamu di Jakarta. Warung Elite butuh perhatianku juga. Kalau kamu di Jakarta aku fokus ke Warung Elite saja, kamu pegang perusahaan Papa." jawab Reza menyampaikan keinginannya.


"Oh aku tahu sekarang, Abang sengaja bujuk Nanta pindah ke Jakarta supaya aku juga ikut pindah ya?" tanya Kenan yakin dengan dugaannya.


"Terbaca ya, padahal aku mau main halus." Reza terdengar menahan tawa.


"Jumat pagi aku ke Jakarta, Bang. Nanta bertanding sabtu. Nanti kita bicarakan, aku akan ajak Raymond juga jumat. Kita rapat ya, ini bukan perkara main-main. Enak saja punya rencana tidak bahas ke aku dulu. Malah jadikan anakku tumbal." Kenan mulai mengomel, sementara Reza tertawa puas sekali.


"Ini demi kenyamanan bersama, Ken. Aku bukan mau lepas tanggung jawab dari perusahaan Papa. Tapi sudah ada kamu dan Raymond, perusahaan tetap bisa jalan tanpa aku."


"Masalahnya aku harus bicarakan dulu sama Nona dan mertuaku. Abang kan tahu Nona juga sedang merintis event organizer, sekarang dipegang Bagus."


"Iya Tari sudah bilang, kan sudah jalan usahanya, kenapa pusing? kamu bisa pantau dari Jakarta. Warung Elite butuh aku karena Mario fokus di Unagroup sampai Steve bisa dilepas. Anak-anak kami tidak ada yang bisa bantu Warung Elite kecuali Chico."


"Atur saja lah Bang, kamu bos nya." kata Kenan pasrah.


"Jadi kamu setuju ya Ken, biar senang semua, aku senang dan Nanta senang."


"Iya dan aku bingung, harus mondar-mandir Jakarta-Malang kalau begini."


"Yah Jakarta-Malang dekat cuma satu jam, bisa balik hari." kata Reza santai.


"Gampang semua kalau sama Abang ya." ketus Kenan dan Reza kembali terbahak dibuatnya.