I Love You Too

I Love You Too
CLBK



Setelah sholat magrib di Mushola dan akhirnya memesan makanan karena ternyata mereka belum makan dari siang, terlalu asik ngobrol membuat mereka melupakan rasa laparnya. Kini mereka kembali ke rumah masing-masing, Monik sudah di wanti-wanti Alex, sebelum jam tujuh sudah harus sampai dirumah. Intan pun sudah dijemput oleh suaminya. Tinggal Kiki yang masih harus menunggu Reza menyelesaikan pekerjaannya.


"Belum selesai Kak?" tanya Kiki saat sudah berada dalam ruangan kerja Reza. Tak tampak sahabat Reza yang lain disitu, hanya Reza sendiri.


"Sebentar lagi sayang, ada beberapa bahan yang harus dibeli besok, aku masih periksa ulang laporan stok yang dikasih Bowo tadi."


"Tumben kamu sendiri, yang lain mana?"


"Andi sama Mario tadi ke cabang Barat, mungkin langsung pulang. Erwin lagi ada urusan sama Enji." Kata Reza sambil memeriksa laporannya. Sementara Kiki memilih duduk di Sofa sambil berselancar didunia maya.


"Ada cerita apa dek?" tanya Reza masih sambil bekerja.


"Kalau aku cerita nanti kerjanya tambah lama." jawab Kiki membuat Reza tertawa.


"Ga papa sudah selesai, aku makan dulu ya baru kita pulang. Kamu mau apa dek?" Kiki menggelengkan kepalanya, Reza pun meminta salah seorang pegawainya mengantarkan makanan dan minuman untuknya.


"Tadi kak Sheila kerumah." Kiki memberikan laporan pada suaminya.


"Oh iya tadi dia telepon aku, minta maaf dan ijin mau ketemu kamu."


"Tapi sama aku ga minta maaf aneh, padahal yang diserang aku. Ngapain minta maafnya sama kamu. Tadi kami ke kampus bareng." Kiki bersungut, rasa kesalnya pada Sheila belum juga hilang. Reza hanya mendengarkan.


"Tadi dia juga curhat cintanya bertepuk sebelah tangan, cowok yang dia suka dari SMP lebih memilih aku. Dia pikir itu cowok juga suka sama.. ah sudahlah aku kesal, kenapa dia cerita itu semua ke aku, maksudnya apa coba." Kiki menarik nafasnya panjang, dadanya terasa penuh. Reza menghampiri Kiki ikut duduk di sofa, disamping istrinya, mengusap bahunya. Kiki menyenderkan kepalanya didada Reza.


"Dia minta ijin supaya boleh hubungi kamu tiap hari, supaya kamu tetap jadi tempat keluh kesahnya. Aku bilang ga boleh. Aku ga mau ya kak, aku sudah bilangkan aku ga mau ada cerita tentang kalian yang menggangu rumah tangga kita."


"Iya sayang. Aku makan dulu tuh makananku sudah datang." Reza mengacak anak rambut Kiki lalu menunjuk pegawai yang terlihat dari kaca ruangan sedang menuju ke arah pintu. Kikipun membenarkan posisi duduknya, tak mau terlihat kusut dan cengeng didepan pegawai suaminya.


"Minggu aku shooting kak." lapornya lagi, Reza yang sedang menyambut makanannya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum pada pegawainya.


"Makasih wid, gimana hari ini lancar wid?"


"Lancar mas, tadi aja sempat mati lampu sebentar, toilet ga ada airnya."


"Wah kasian tamu Wid, Toren kurang besarkah? coba minta Ipang naik keatas Wid, mati lampu berapa lama sampai air habis begitu? Besok siang rapat ya, Supervisor kumpul semua staff yang tugas saat mati lampu perwakilan tiga orang."


"Mati lampu 15 menit aja mas. Siap mas nanti saya bilang ke Ipang dan yang lain." Widi meninggalkan ruangan, sebelumya menganggukkan kepala pada Kiki yang ikut menyimak pembicaraan mereka.


"Kak, persiapan wisuda sudah komplit, apa lagi yang kurang? Mama sudah ditelepon belum? mereka hadir ga?" Kiki memberondong pertanyaan pada suaminya.


"Telepon mama sayang." Kata Reza sambil menyuap makanannya. Kiki pun menekan tombol handphonenya menghubungi mama Nina via videocall.


"Assalamualaikum. Kalian masih dikantor, mama kira sudah dirumah." Suara mama terdengar nyaring seperti sedang didalam kamar.


"Tadi siang ke kantor papa ma, baru sore ini kekantor aku. Sebentar lagi pulang, aku makan dulu." jawab Reza sambil menunjukkan sendok ditangannya pada mama.


"Wisuda aku mama papa ga datang? kok anteng banget dimalang." kata Reza lagi.


"Ish mama kira kamu sudah ga butuh kita lagi, kan sudah ada Kiki." jawab Nina menggoda anaknya.


"Iya mama bercanda, besok habis Sholat jumat mama papa ke Jakarta. Sampai Jakarta Sore, bisa jemput mama?"


"Kiki sama pak Min besok yang jemput ma. Kak Eja besok kerja kan kak?" Kiki mengambil keputusan mengingat suaminya ada rapat membahas mati lampu dan toren air.


"Aku sama Kiki ma besok yang jemput." jawab Reza.


"Kamu kan mau rapat kak."


"Rapat sebentar, besok kamu ikut aku terus kita lanjut ke bandara."


"Iya siapa aja yang penting jemput mama sama papa ya. Besok di Halim jam empat sore."


"Oke ma."


Kiki mematikan sambungan teleponnya, memasukan handphone kedalam tas, Ikut berdiri meniru suaminya yang sedang beranjak dari bangku menuju wastafel.


"Yuk." ajak Reza yang sudah selesai membersihkan tangannya lalu menggandeng Kiki keluar ruangan.


"Pang, besok pagi periksa toren, nanti laporkan hasilnya di rapat siang kita ya." kata Reza pada Ipang yang berpapasan saat keluar ruangan.


"Iya mas."


Reza meminta OB membersihkan ruangan dan menguncinyanya.


"Sayang, soal Sheila kamu ga usah khawatir, aku tau batasannya." kata Reza dalam perjalanan. Mereka memutuskan tak jadi menginap di rumah mama Ririn karena Reza lebih dekat kekantor dari rumahnya.


"Aku ga mau kalian curhat-curhat." kata Kiki tegas.


"Iya ga pernah kok, tadi aja tiba-tiba dia hubungi aku, padahal sebelumnya nomor aku diblokir."


"Kok Kak Eja tau, kak Eja hubungi dia dong."


"Iya karena Kenan ga bisa hubungi Sheila, jadi dia minta aku yang hubungi. Ternyata sama aku juga di blokir."


"Aku ga mungkin blokir Sheila ya dek, bagaimanapun kami berteman dari kecil, tapi aku ga akan menghianati kamu. Bisa percaya aku ga?"


"Tergantung, kedekatan kalian seperti apa."


"Apa sih yang kamu khawatirkan?"


"CLBK!!! kamu kan dulu naksir Sheila, ternyata Sheila juga. Kasih tak sampai banget sih kalian. Kalau bikin ribet aku mending pergi deh dari kalian."


"Ih drama banget sih, jangan pernah mikir kaya gitu ya dek, aku ga suka!!!"


"Habis nyebelin Sheila nya, ngapain curhatin kamu ke aku, dia mikir ga sih curhat sama istri orang, yang dia bahas suami aku. Sheila tuh yang drama bukan aku."


"Iya sayang nanti aku bilangin kalau Sheila telepon dan kalau dia ngajak ketemu aku pasti ajak kamu. Sudah ya jangan ributin Sheila, Kalau mau nikah sama dia dari awal aku sudah tolak kamu dek, kan mama bilang kalau aku ga mau dijodohin, Kenan yang mau dikenalin sama kamu. Enak aja, calon istri aku mau dikasih ke Kenan." Reza menarik lengan istrinya dan mengecup punggung tangannya.