I Love You Too

I Love You Too
Kutukan keluarga



"Balen cantik betul loh kamu di tv semalam." kata Daniel pada Balen saat mereka sudah mulai latihan berenang.


"Emanna ada Baen tipi?" tanya Balen.


"Ada tadi malam, iklannya sudah tayang." jawab Daniel.


"Yah Baen ndak iat." Balen bersungut.


"Nanti juga ada lagi." Nanta tenangkan adiknya. Sebenarnya Papi sudah beritahu Nanta kemarin, tapi Nanta juga lupa ingatkan keluarganya. Apalagi mereka jarang nonton tv.


"Aban sih tamalna ndak idup tipi." Balen salahkan Abangnya.


"Ya udah Baen, tamu bobona ama Ncusss aja, atu ama Baban." kata Richie ambil kesempatan. Nanta tertawakan siunyil eh si Kenan kecil ini.


"Si Tenan si Tenan." kata Nanta tertawakan Richie. Langsung saja dia tergelak mendengar komentar Abangnya.


"Baen ama Aban juda don tapi idup tipi." Balen tidak rela hanya Ichie saja yang tidur dikamar Abangnya.


"Nanti siang ada lagi kok, tenang saja." kata Nanta yang sudah diberitahu jadwalnya oleh Papi.


"Benen?"


"Iya benar." jawab Nanta.


"Balen nanti kalau besar jangan kemana-mana ya, Abang Daniel tek kamu." kata Daniel membuat Larry dan yang lainnya terbahak.


"Anak SMA gombali anak piyik." kata Larry pada Nanta, sudah pasti Daniel mendengarnya, tertawa saja dia.


"Baen umah aja?" tanya Balen polos. Semua terbahak mendengarnya. Balen tidak mengerti maksud Daniel.


"Bukan begitu maksudnya." Daniel tertawa bingung menjelaskan, Nanta dan Larry masih tertawakan Daniel. Salahnya sendiri Balita diajak bicara begitu.


"Seperti yang kuat saja menunggu Balen." kata Larry lagi menoyor kepala adiknya.


"Kalau gue kuat bagaimana?" tanya Daniel tantang Abangnya.


"Tidak mungkin, gue sudah bisa tebak." Larry terbahak.


"Meragukan gue lagi." Daniel gelengkan kepalanya.


"Aku juga ragu, Dan." Nanta mulai berhitung.


"Kenapa Abang ragu?" tanya Daniel.


"Balen masih empat tahun, kamu enam belas tahun ya?" Daniel anggukan kepalanya.


"Tiga belas tahun gue tunggu." kata Daniel menyeringai. Larry kibaskan tangannya tidak yakin. Nanta mencebik.


"Model elu mau menunggu tiga belas tahun, nanti di Ohio juga berubah pikiran." Larry terkekeh.


"Lagipula Balen lebih cocok sama Redi." kata Larry lagi.


"Lagipula adikku masih piyik dan kita tidak tahu kedepannya bagaimana." kata Nanta lagi terkekeh.


"Nomonin apa sih?" tanya Balen bingung mendengar percakapan tiga pria dihadapannya ini.


"Olan dedek eman suta bitin binun." jawab Richie sambil menyipratkan air pada Balen, keduanya jadi sibuk berdua sekarang.


"Kamu nanti besar mainnya mau sama Abang Daniel apa Abang Redi?" tanya Daniel.


"Aban Leyi." jawab Balen membuat Nanta dan Larry terbahak.


"Sudah tua dia nanti, mana bisa diajak main." kata Daniel lagi, kembali Larry menoyor kepala adiknya.


"Tita beenang aja tan ya Ban." kata Balen pada Larry, si Abang Leyi kesayangan Balen, iya saja lagi sambil tertawa.


"Jadi tidak mau main sama Abang Daniel?" tanya Daniel masih usaha.


"Itut aja beenangna, boeh tok." jawab Balen kembali semua tertawa, obrolan pagi ini tidak nyambung, Daniel maksudnya kemana Balen maksudnya beda lagi.


"Lucu juga ya kalau tidak nyambung begini." Daniel tertawa jadinya.


"Elu sih tidak jelas." Nanta terbahak.


"Masa gue perjelas mau bilang Lamar." kata Daniel lagi tertawa juga.


"Oke isapan jempol hari ini kita tutup, mulai kembali ke alam nyata." kata Larry lagi sambil menepuk tangannya. Daniel meringis dianggap isapan jempol.


"Balen sayang kita mulai, let's go." kata Larry, langsung saja Balen meluncur berenang ke arah Larry, sudah tahu harus bagaimana kalau Larry sudah berikan perintah.


"Atu dimana?" tanya Richie.


"Ichie sama Abang sini." Daniel ambil alih posisi Mike yang belum muncul sampai sekarang. Kedua adiknya sudah bersama Larry dan Daniel, Nanta pun mulai asik berenang sendirian, Dania memilih menonton dari kamar sambil teruskan Drama serienya yang tertunda semalam.


Nanta terkejut saat selesai berenang melihat Rumi dan Dania sudah duduk di kursi pinggiran kolam.


"Baru saja." jawab Rumi tersenyum.


"Sama siapa?" tanya Nanta mengambil handuknya.


"Sama Mami dan Papi." jawab Rumi matanya terus saja memandang Larry.


"Menunggu Larry?" tembak Nanta langsung.


"Tidak, kebetulan habis terapi, Papi ada urusan sama Pak Kenan." Rumi menjelaskan, Nanta anggukan kepalanya saja.


"Minum Rum." Dania persilahkan Rumi minum setelah asisten rumah tangga antarkan minuman dan cemilan untuk semua yang ada di sini, Nona selalu saja manjakan mereka dengan makanan enak setiap kali semua sibuk dikolam berenang.


Nanta kembali setelah selesai bersihkan diri, sementara kedua adiknya masih beraktifitas dikolam, Larry dan Daniel benar-benar perlakukan keduanya seperti professional.


"Itu siapa?" tunjuk Rumi pada Daniel.


"Adiknya Larry." jawab Nanta yang bergabung bersama Rumi dan istrinya.


"Pintar juga berenangnya ya." kata Rumi lagi.


"Iya, sekeluarga pintar berenang." jawab Nanta sesuai yang dia tahu.


"Oke, kita selesai." kata Larry pada Balen.


"Matasih Aban Leyi." selalu Balen tidak lupa ucapkan terimakasih karena Larry mau ajarkan Balen berenang.


"Kiss dulu." Larry tunjuk pipinya. Balen pun mencium kedua pipi Larry.


"Aban, beenang di pundun aban don." pintanya pada Larry, segera Larry ambil posisi ikuti kemauan kesayangannya, mereka pun berenang mendekat kearah Nanta.


"Loh kamu disini Rum?" Larry langsung saja terkejut setelah berada dipinggiran kolam dan dudukan Balen disana.


"Iya." Rumi terkekeh.


"Handuk Nan." pinta Larry pada Nanta. Nanta ambilkan handuk Larry dan Balen. Ncusss sudah standby menyambut Balen dan Membawa Balen ke kamar mandi untuk bersihkan diri.


"Gue mandi dulu." ijin Larry pada semuanya. Daniel masih asik melatih Richie, belum selesai, Richie pun senang saja tidak ada keluhan.


"Ban, atu beenangna udah pintel belum sih?" tanya Richie pada Daniel.


"Lumayan, harus konsentrasi ya, kamu tuh suka tidak fokus pikirkan apa sih?" tanya Daniel pada Richie.


"Pitilin lobot atu aja, tasian ndak bisa beenang." katanya pada Daniel.


"Kok kamu tahu?" tanya Daniel ladeni Richie.


"Atu ajat beenang tendelem." jawab Richie.


"Waduh kasihan." Daniel makin saja.


"Iya nanis dia." Richie menghela nafas, cocok sudah keduanya mulai halu.


"Ajak saja berenang sama kita." kata Daniel lagi.


"Nanti tendelem ladi, temalen aja Papa pandil olan belsiin tolam, ditulas ailna." Richie menjelaskan.


"Karena robot kamu tenggelam sampai kuras kolam?" tanya Daniel.


"Sekalian bersihkan kolam kali." sahut Nanta terkekeh.


"Hahaha kupikir demi robot. Eh Balen sama Abang mana?" tanya Daniel baru sadar hanya ia dan Richie saja yang masih di air.


"Sudah bersihkan diri. Kalian sudah selesai?" tanya Nanta.


"Belum." jawab Richie.


"Sudah Richie, sudah siang. Abang Daniel mau makan dulu." Dania ingatkan Richie.


"Matan abis itu beenang ladi ya." pinta Richie yang senang diajarkan Daniel.


"Sudah mulai panas loh." Nanta ingatkan Richie yang tak suka kepanasan.


"Oo nanti ailna panas juda, ayo Ban udahan aja." Richie akhirnya menyerah.


"Ayo." Daniel membantu Richie naik dan mereka terima ukuran handuk yang diberikan pengasuh pada Richie dan Daniel.


"Ini Rumi." Nanta kenalkan Daniel pada Rumi saat Daniel mendekat.


"Oh hai." Daniel lambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Lebih ganteng dari Abangnya." Rumi terkekeh.


"Kutukan keluarga memang begitu, makin ke bawah makin ganteng." jawab Daniel membuat mereka semua tertawa.