
"Kenapa Daniel?" tanya Dania pada Nanta.
"Biasa bocah banyak gaya." jawab Nanta terkekeh.
"Kamu mau makan apa?" tanya Nanta pada Dania sambil melihat sekeliling kira-kira apa yang enak dimakannya.
"Ingat harus makanan sehat." tegas Nanta begitu melihat Dania hampir saja menunjuk outlet siap saji.
"Makan apa ya, bingung aku." jawab Dania karena keinginannya ditolak Nanta.
"Kalau mau itu nanti saja begitu di rumah minta Bibi bikinkan khusus untuk kamu. Mau aku telepon biar disiapkan jadi sampai di rumah nanti kamu tinggal makan?" tanya Nanta pada istrinya.
"Mau." Dania anggukan kepalanya sambil menggandeng kesayangannya itu.
"Ya sudah kamu pilih dulu deh mau makan apa, biar kita duduk baru aku telepon." kata Nanta berhenti berjalan agar tidak terlewati apa yang di mau istrinya.
"Kalian mau makan apa?" tanya Dania pada para wanita dibelakangnya.
"Es campur enak nih." jawab Dona melihat restaurant bergambar aneka macam es.
"Iya aku juga mau." jawab Dania cepat.
"Katanya lapar, malah minum es campur." Nanta gelengkan kepalanya, tapi ikuti langkah istrinya yang sekarang menggandeng Dona masuk ke restaurant lebih dulu, Seiqa ikuti Dania dan Dona.
"Bang..." Daniel kembali dekati Nanta dan menggandengnya.
"Kamu mau pesan apa Niel?" tanya Nanta pada Daniel, memilih bangku untuk duduk menunggu istrinya memesan es campur.
"Aku kenyang." jawabnya tersenyum, ikut duduk disebelah Nanta, Nanta kira Daniel akan merajuk karena tadi dibercandai, ternyata kembali cengengesan anaknya. Mike dan Doni ikut duduk, hanya ada empat bangku, Larry masih berdiri bersama Rumi disampingnya.
"Kalau kenyang pesan saja di bungkus nanti makan dalam perjalanan." kata Doni memberi saran, maksudnya biar tidak sering mampir, kalau pun mampir paling hanya ke toilet karena stok makanan sudah tersedia.
"Malas ah." jawab Daniel yang masih merasa kenyang.
"Awas saja kalau nanti teriak lapar " kata Larry pada adiknya.
"Iya nanti aku pesan, marah terus sih" sungut Daniel mengalah pada Abangnya, semua tertawakan kedua kakak beradik itu.
"Kak Rumi makan apa?" tanya Daniel memandang Rumi yang masih berdiri disebelah Larry.
"Bakso yuk." ajak Rumi ulurkan tangannya pada Daniel.
"Yuk." Daniel menyambut uluran tangan Rumi, tadi saja bilang kenyang, sekarang mau makan baso. Nanta tertawa melihat kelakuan Daniel yang sedang bergandengan tangan dengan Rumi ke counter bakso. Sepeninggalan Rumi dan Daniel barulah Larry duduk bersama sahabatnya.
"Dasar bocah." Larry terkekeh melihat gaya adiknya.
"Akur tuh berdua, cocok sudah kalau jadi ipar." kata Mike, membuat Larry menghela nafas memandang Mike.
"Kemarin bilang jangan dekat-dekat, sekarang cocok, apa sih mau lu?" tanya Larry memonyongkan bibirnya pada Mike yang labil.
"Femi fixed gagal kan?" Mike cengengesan dapat cerita dari Doni dan Dona tadi pagi.
"Belum tentu." jawab Larry terkekeh.
"Katanya rumit?" Mike memandang Larry.
"Iya memang rumit, bukan Rumi." jawab Larry tertawa, semua ikut tertawa.
"Maunya jodoh apa tidak?" tanya Nanta pada Larry.
"Sama Femi? tidak tahu ya." Larry mengedikkan bahunya.
"Harus tahu dong." kata Nanta menepuk bahu sahabatnya.
"Lihat nanti sajalah." jawab Larry malas.
"Bagaimana sih dia?" tanya Mike pada Nanta.
"Tidak konsen seperti yang dia bilang tadi." Nanta terkekeh.
"Dia seperti bingung sendiri. Tidak ada daya juang, kalau suka ya harus berjuang." kata Doni pada Larry.
"Ya, belum tahap kesana, mesti konsul sama bokap kalau mau diseriusi" jawab Larry tersenyum. Ketiga temannya menganggukkan kepalanya, paham.
"Sama Rumi suka?" tanya Mike lagi.
"Suka, buktinya dia ada diantara kita." jawab Larry terkekeh.
"Bukan itu maksud gue, kalau kalian berjodoh bagaimana? Dia suka elu." Mike bocorkan perasaan Rumi pada Larry.
"Sepertinya Rumi lebih cocok sama Fino deh, lebih mengayomi." jawab Larry mengangkat alisnya.
"Kan belum tahu Fino suka Rumi apa tidak." kata Mike lagi.
"Bokap lu bagaimana kalau elu mau seriusi Rumi?" tanya Mike mulai kepo.
"Lu tanya deh sama bokap gue." jawab Larry menoyor kepala Mike.
"Ayolah makan." ajak Larry malas di interogasi lebih lanjut
"Yuk mau pesan apa?" ajak Nanta pada sahabatnya.
"Leyi, ini makanan kamu." Rumi tunjuk Baki yang dibawa Daniel, tiga mangkok bakso. Mereka mulai mendekati Larry dan rombongan.
"Leyi saja yang dibelikan." protes Mike gelengkan kepalanya.
"Yang lain juga sudah dibelikan, sebentar aku ambil." kata Daniel semangat.
"Duh baik betul sih kalian berdua." Nanta tertawa.
"Iya dong." jawab Daniel bangga kemudian berbalik arah ke counter makanan sementara Rumi duduk di meja sebelah rombongan Nanta.
"Sana makan." Mike mengusir Larry.
"Nanti dong sama-sama." jawab Larry pada sahabatnya.
"Duluan saja nanti dingin." kata Nanta.
"Kasihan yang pesan dong, mereka masih di counter kita tinggal makan, masih ada yang perlu dibawakan, Rum?" tanya Larry pada Rumi.
"Masih tuh." tunjuk Rumi pada Daniel yang lagi bawa Baki kedua, masih ada baki ketiga menunggu, semangat sekali Daniel manjakan Abang-Abangnya. Larry segera beranjak menuju counter membantu Daniel agar lebih cepat.
"Apa tidak ada pegawai yang bawakan?" tanya Mike bingung.
"Tidak ada, cuma satu petugas jaga counter. Mungkin lagi ijin." jawab Daniel sok tahu.
"Mas Nanta..." panggil Dania di counter es campur, butuh bantuan rupanya. Nanta segera berdiri hampiri istrinya, banyak sekali makanan yang Dania pesan.
"Ini untuk kamu sendiri?" tanya Nanta.
"Berdua Mas Nanta." jawab Dania. Sementara Dona dan Seiqa pun pesankan untuk pasangannya masing-masing. Tapi mereka bawa sendiri bakinya tidak minta bantuan.
"Rumi juga belikan Bakso, duh banyak sekali." Nanta gelengkan kepalanya.
"Tenang saja pasti habis." jawab Dania yakin, sementara Nanta tidak yakin.
"Porsi double nih." kata Nanta pada sahabatnya tunjuk makanan yang baru saja tiba, meja langsung penuh seketika.
"Kalian pesan tidak koordinasi ya?" tanya Mike.
"Tadi kutanya pada bilang mau." jawab Rumi santai.
"Leyi sini." panggil Rumi menarik bangku disebelahnya, Larry segera hampiri Rumi yang duduk bersama Daniel, tidak mungkin juga tetap duduk disana karena Dania pasti mau duduk disebelah suaminya.
"Sini Mike tarik bangku untuk Seiqa, biar Dona duduk disana." kata Larry pada Mike.
"Qa kita disana saja ya." tunjuk Mike pada meja yang lain, malah mau berdua saja tidak mau diganggu, Seiqa malah anggukan kepalanya.
"Selamat makan." kata Daniel pada semuanya, lalu mulai nikmati bakso dan es campur dihadapannya.
"Kak Rumi deal ya yang tadi." katanya pada Rumi.
"Deal dong." jawab Rumi, keduanya saling toss.
"Apa sih?" tanya Larry ingin tahu.
"Ada deh." jawab Daniel cengengesan, tidak mau memberitahu.
"Soal Balen ya?" tanya Larry.
"Bisa jadi." jawab Daniel tengil sambil nikmati makanannya, sesekali menyapu keringat lahap sekali. Sementara Rumi cengengesan saja sambil makan santai.
"Soal apa?" tanya Larry pada Rumi.
"Kasih tahu tidak Niel?" tanya Rumi pada Daniel.
"Terserah Kak Rumi deh." katanya acuh tak acuh, lebih fokus pada makanannya.
"Soal apa?" tanya Larry lagi, ada deal-dealan apa antara mereka berdua.
"Soal kita." jawab Rumi menunjuk mereka bertiga dan satu bangku kosong.
"Kenapa kita?" tanya Larry.
"Ada deh." jawab Daniel lagi, Larry jadi nyengir sendiri lihat Daniel, makannya lahap betul padahal tadi bilang kenyang.