
"Sibuk?" tanya Baron melongok dari pintu kedalam ruang kerja Kenan. Kenan dan Nona sudah masuk kantor senin kemarin, mereka belum ada yang mengambil cuti.
"Tumben, tidak ajak bertemu diluar." Kenan tersenyum lebar menyambut kedatangan mertuanya.
"Sidak, keruang kerja menantu." jawab Baron terkekeh. Masuk kedalam ruangan Kenan dan langsung duduk di sofa tanpa dipersilahkan. Tari tadi yang mempersilahkan Baron untuk langsung masuk saja tanpa memberi tahu Kenan, mertua sendiri toh yang datang jadi bebas, terlebih Kenan juga sedang tidak menerima tamu.
"Ada apa, Pa? aih kenapa tidak enak sekali rasanya memanggil Abang Papa." Kenan tertawa sambil menggelengkan kepalanya menyusul Baron duduk di sofa.
"Sudah panggil Abang saja. Saya juga jadi risih mendengarnya." Baron menaikkan bahunya kemudian tertawa geli sendiri.
"Ken, Nona suruh berhenti bekerja saja. Saya dengar dia mau kerja sama dengan Kevin, saya tidak setuju."
"Loh kenapa? Bagus loh rencana mereka."
"Tidak usah, pikiran kamu kemana sih? Kevin itu mantan pacar Nona. Kalau jadi kerja sama akan sering bertemu. Kamu harus jaga itu."
"Mereka sahabat kan?"
"Mana ada sahabat pria dan wanita. Pokoknya saya tidak setuju. Memangnya kamu tidak cemburu?"
"Awalnya sih iya. Tapi saya lihat tidak mencurigakan, jadi santai saja."
"Sebaiknya kita jaga, supaya tidak menyesal nanti. Calon mertua Kevin juga tidak setuju."
"Ok nanti saya sampaikan pada Nona. Padahal saya sudah bilang setuju loh, jadi harus saya ralat ya. Pasti Nona pikir saya plinplan."
"Bilang saja saya meminta Nona untuk urus kamu dan anak-anak. Sampaikan Papa sudah tua ingin menimang cucu."
"Hahaha padahal kalau Abang opening begitu pasti Nona langsung menurut. Kenapa tidak bilang langsung."
"Tidak, saya tidak tega lihat wajahnya." Kekeh Baron mengingat ekspresi Nona saat ia meminta Nona segera menikah waktu itu.
Kenan tidak langsung menyampaikan keinginan Papa Baron pada Nona, Kenan mencari waktu yang tepat. Beberapa hari ini Nona fokus memenuhi kebutuhan Nanta untuk dibawa ke Jakarta. Dengan kompak Ia dan Tari sibuk bolak balik ke Mal, dengan alasan Nanta tapi entah apa yang mereka beli untuk diri sendiri.
Hingga tibalah hari yang ditungu-tunggu, Tari yang belum pernah melepas Nanta untuk masuk asrama, tiba-tiba mellow tak mau mengantar sampai Bandara. Ia dan Bagus hanya mengantar Nanta kerumah Kenan pada hari sabtu. Untuk menghibur diri, kalau di antar ke rumah Kenan pikirannya hanya Nanta sedang bersama Papanya.
"Turun dulu Mbak Tari, Mas Bagus." ajak Nona yang menyambut didepan pintu, sementara Kenan masih jogging bersama Raymond.
"Langsung saja Non, ini membayangkan tiga bulan tanpa Nanta kok ya nangis terus." kata Tari sambil menurunkan makanan yang dibawanya untuk Nona.
"Lah nangis saja masih bisa bawa oleh-oleh."
"Itu pempek bikinan Mas Bagus Untuk disini. Yang untuk Kak Kiki sudah di kirim pakai kurir." kata Tari kembali naik ke mobil.
"Sempat-sempatnya Mas Bagus bikin."
"Aku cuma takarannya, sisanya Bibi dirumah yang kerjakan." kata Bagus tertawa.
"Mama, nanti video call kalau rindu." kata Nanta pada Mamanya.
"Rindunya tiap saat bagaimana, boleh video call terus?" Tari menggoda Nanta.
"Boleh kalau lagi tidak sibuk." Nanta tertawa melihat Mama.
"Kamu menginap dimana di Jakarta?"
"Tergantung Opa sama Oma. Aku sih maunya di rumah Ayah Eja, banyak mainan Bang Raymond. Tapi kalau lagi dikarantina aku tidak tahu dimana."
"Ya sudah hati-hati, jangan lupa sholat lima waktu tepat waktu." pesan Tari pada Nanta.
"Iya Ma. Kata Bang Raymond begitu aku pulang dari Jakarta, Mama, Kak Nona dan Kak Roma perutnya sudah blendung." kata Nanta polos. Langsung saja Tari, Bagus dan Nona terbahak mendengarnya.
"Tidak apa, kalau besar kan jadi seperti Papa dan Kak Nona, keren juga kan."
"Hahaha kamu berarti lihat aku sama Papamu keren dong." kata Nona bangga.
"Iya. Mama Sama Om Bagus juga keren, tapi kan tadi lagi bahas adik. Aku mau adikku perempuan kalau bisa, tapi kalau Allah kasih laki-laki ya boleh juga."
"Kita lihat saja nanti, ucapan Raymond terkabul apa tidak." kata Nona semangat.
"Hu uh."
"Ya sudah kami pamit ya, Nanta jangan lupa telepon Mama."
"Iya, Om Bagus aku titip Mama." kata Nanta pada Bagus dijawab dengan acungan jempol dan senyum melebar.
...***...
"Sayang sepertinya kamu harus berpikir ulang untuk bisnis barumu dengan Kevin." kata Kenan dalam perjalanan pulang mengantar Mama, Papa dan Nanta ke Bandara keesokan harinya.
"Kata Mas Kenan jalani saja dulu, sekarang kenapa berubah?" tanya Nona.
"Papa kamu mau kamu berhenti bekerja. Fokus urus saya dan anak-anak kita nanti." kata Kenan mengingat pertemuannya dengan Baron kemarin.
"Papa tidak bilang begitu sama aku."
"Papa ke kantor saya, hari rabu kemarin. Terus bilang Papa sudah tua ingin menimang cucu, Nona berhenti bekerja saja." Kenan mengulang sesuai arahan Baron.
"Huhu aku paling sedih kalau Papa sudah bilang begitu. Bagaimana menurut Mas Kenan?"
"Saya kan menantu yang baik, saya akan ikuti kemauan mertua kalau memang itu baik untuk kita." Kenan tidak membahas masalah Baron dan calon mertua Kevin yang keberatan Nona dan Kevin bekerja sama.
"Ya sudah nanti aku bilang sama Kevin, aku bilang apa ya?"
"Bilang saja kamu lagi program hamil, kan memang kita sedang usaha bikin anak terus." kekeh Kenan mengusap pelan perut Nona, padahal belum tahu hamil apa tidak, mereka saja baru sepuluh hari menikah.
"Mas, kata Nanta dia mau adik perempuan." Nona menceritakan saat Nanta membahas hamil bertiga, Kenan tertawa dibuatnya, Raymond memang konyol suka sekali mengerjai adiknya.
"Bisa jadi hamil bersamaan, asal kamu tahu Kak Kiki, Kak Enji, Kak Regina dan dua sahabat mereka hamil bersamaan. Lucu sekali melihat mereka berlima kemana-mana bersama."
"Hihi seru juga kalau begitu. Aku mau punya anak, Mas." rengek Nona pada Kenan.
"Ya sudah berarti berhenti bekerja ya."
"Hu uh." Nona mengangguk setuju. Aih gampang sekali, kalau tahu begini tidak perlu tunggu tiga hari untuk membahas ini, Kenan tertawa dalam hati.
"Kamu senang ya aku berhenti, kamu senyum-senyum sendiri." kata Nona ikut tersenyum pada Kenan.
"Senang, kalau saya keluar kota kamu bisa ikut, seperti Bang Eja dan Kak Kiki."
"Betul ya, ajak aku terus kalau keluar kota."
"Iya, bahkan kalau baby sudah lahir pun tetap kalian saya ajak." kata Kenan mulai menghayal.
"Kalau sudah ada baby, lihat situasi dulu, tapi selama belum ada baby, aku ikut kemanapun Mas Kenan pergi."
"Iya sayang, kemanapun saya pergi kamu akan saya ajak. Tapi kalau saya meeting kamu tinggal dihotel sendiri tidak apa-apa?"
"Paling aku jalan-jalan sendiri, boleh kan?" kata Nona penuh ide.
"Lihat situasi." jawab Kenan fokus memandang kedepan.