
Menjelang sore sehabis sholat ashar di mal, ketiga sahabat segera memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Intan berbaik hati mengantarkan Kiki ke warung elite, hanya sampai parkiran sesuai perjanjian, intan tak ikut masuk, setelah berpisah dengan Monik yang menunggu supirnya di lobby, Intan dan Kiki segera menuju ke gedung parkir. Mereka pun menggunakan lift. Saat menunggu pintu lift terbuka tanpa sengaja Kiki melihat seorang wanita paruh baya, seakan pernah melihatnya dimana tapi Kiki lupa.
Saat mereka beradu mata Kiki mengumbar senyumnya akan tetapi dibalas dengan tatapan sinis oleh sang wanita paruh baya tersebut. Kiki tak ambil pusing, mungkin memang tak kenal.
"Heh kamu...!!!" Wanita tersebut menyapa Kiki dengan judesnya.
"Saya bu?" tanya Kiki tak percaya, tadi disenyumin melotot sekarang menyapa bertambah-tambah seakan biji mata akan melompat.
"Ya kamu siapa lagi perempuan kegatelan."
"Astaghfirullah." Kiki langsung beristighfar tak menyangka kalimat tersebut akan keluar dari seorang ibu.
"Eh enak aja bilang teman saya kegatelan, Sudah tua mulut ga pernah disekolahin ya." Intan tersulut emosi.
"Kamu jangan ikut campur." desisnya
"Gila." Intan segera meletakkan telunjuk kedahinya.
"Eh kurang ajar kamu ya bilang saya gila." wanita tersebut langsung berteriak emosi. Segera menjambak rambut Kiki yang ada didekatnya. Kiki terkejut bukan main berusaha menyelamatkan diri.
"Eh pak satpam toloong ada orang gila nih." Teriak Intan memanggil security disalah satu toko dan berusaha menyelamatkan Kiki dari wanita tersebut. satpam dan orang disekitar segera menghampiri Kiki dan berusaha melepaskan tangan wanita tersebut dari rambut Kiki. Wanita tersebut berhasil diamankan dan dibawa kekantor management mal tersebut, Kiki pun ikut dibawa. Intan segera menghubungi Reza melaporkan kejadian, langsung saja Reza dan kedua sahabatnya menyusul Kiki ke Mal.
"Duh kasian istri gue diserang orang gila." Reza tampak panik memikirkan keadaan Kiki.
"Tenang friend, ada-ada aja sih." kaya Erwin menggelengkan kepalanya.
Sementara dikantor management, Kiki menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya.
"Dia memang perempuan kegatelan!!" teriak wanita tersebut, tangannya sengaja diikat supaya tidak lagi menyerang Kiki.
"Saya tuh ga kenal Ibu loh, saya bingung dibilang kegatelan. Saya ga ganggu suami Ibu kan."
"Kamu ganggu anak saya!!!"
"Saya sudah punya suami bu, ngapain saya ganggu anak ibu." jawab Kiki membela diri mengira anak ibu tersebut laki-laki.
"Emang ga waras Ki, lu jangan sahutin deh, pengen gue dorong rasanya tuh bangku, sayang aja dia udah tua." Intan berbisik pada Kiki.
"Eh kamu dari tadi bilang saya gila, saya tampar kamu ya. Lepaskan tangan saya!!!" teriak si ibu histeris.
"Ibu tolong tenang dulu!!!" Bentar kepala security yang ikut geregetan dengan kelakuan si Ibu. Akhirnya si ibu pun terdiam.
"Setelah kami lihat di cctv, keterangan nona Kiki benar, ibu yang menyerang nona Kiki, kenapa ibu lakukan itu"
"Dia sudah merebut kekasih anak saya."
"Ibu kayanya halu ya." Intan mulai emosi. Kiki memberi kode lewat tangannya agar Intan diam.
"Anak ibu siapa? Ibu kenal suami saya?"tanya Kiki ingin tahu.
"Sayang kamu ga papa?" Reza datang dengan nafas tak beraturan. Kiki segera memeluk Reza, ingin menangis tapi ditahannya.
"Kak Eja, kamu kenal nih Ibu, berasa calon mertua ga jadi dia." kata Intan sambil menunjuk wanita yang tangannya terikat. Karena dari belakang Reza segera melongokkan kepalanya untuk mengintip wajah Ibu tersebut.
"Ya Allah tante Retno!!!" teriak Reza tak percaya.
"Kamu meninggalkan Sheila karena perempuan kegatelan ini!!!"
"Tante, jangan bicara sembarangan tentang istri saya dan saya ga pernah pacaran sama Sheila. Tolong tante jangan bikin cerita yang ga benar. Kami hanya berteman dan Sheila tahu itu."
"Kenapa setiap hari kamu antar dan jemput anak saya. Kalau perempuan ini ga ada kamu pasti menikah sama Sheila."
Reza tak menyangka kebaikannya memberikan Sheila tumpangan dianggap berbeda.
"Harusnya tante bersyukur dong anak tante ga keluar ongkos lagi, sudah bagus ada yang mau tebengin." Intan masih saja nyolot, sementara Kiki sibuk beristighfar dalam hatinya yang terasa penuh.
"Kamu kasih harapan untuk anak saya. Kamu rusak kebahagiaannya." teriak retno tanpa tahu malu.
"Astaghfirullah mama!!!!" Sheila yang baru saja datang. Ia menerima pesan dari Andi yang begitu tahu itu mamanya Sheila langsung memberinya kabar.
"Mama jangan bikin malu Sheila dong. Kami ga pernah pacaran." Sheila menjelaskan sambil menangis. Malu sekali Ibunya membuat ulah seakan Kiki merebut kekasihnya.
"Diam kamu Sheila, Seharusnya kamu yang menikah kemarin bukan dia." Sheila tak menjawab ocehan ibunya.
"Ki gue minta maaf ya, nanti gue kasih pengertian nyokap pelan-pelan. Sekarang masih begini susah dibilangin. Maafin gue bang Eja." Sheila menghampiri Kiki dan Reza berharap kasus ini tidak diperpanjang.
"Kak, nyokap lu serem amat. Mending lu ajak berobat." Intan kembali bersuara, tidak bermaksud meledek, ia benar berfikir ibunya Sheila perlu diobati.
"Iya makasih ya tan."
Setelah berbicara sedikit dengan manajemen mal, mereka meninggalkan ruangan tersebut. Kiki yang masih sedikit shock hanya terdiam sambil memegang dadanya. Kaget sekali diserang secara tiba-tiba.
Mereka terpisah diparkiran, sebelum menaiki mobilnya Intan memeluk Kiki menenangkan, tanpa berkata kata. Intan tahu Kiki masih perlu menenangkan diri. Andi dan Erwin yang akhirnya diantar Intan ke Warung Elite karena tadi mereka memggunakan mobil Reza.
"Makasih ya tan, titip cowok cowok perjaka ting ting" kata Reza lalu masuk kedalam Mobilnya. Reza segera memberikan Kiki air mineral, supaya Kiki lebih tenang.
"Hmmm.." Erwin memasang gaya sedang memoles kepala reza.
Didalam mobil, Kiki mulai menangis, sedari tadi ia menahan tangisnya karena malu dilihat orang.
"maafin aku ya, gara-gara aku kamu jadi begini." Reza memeluk Kiki mengusap kepalanya.
"Untung ada Intan tadi kak, kalau aku sendiri gimana itu." Kiki bergidik ngeri.
"Kamu jangan jalan sendiri ya, si tante emang rada aneh, sama mama juga pernah ribut."
"Hiks aku malu kak, dijambakin. Takut ada yang videoin trus kesebar." Kiki mulai khawatir.
"Jangan takut, nanti kita redam. Kamu tenang aja ya. Kalau tante berulah lagi, kita lapor polisi."
Kiki menganggukan kepalanya dan Reza pun mulai melajukan kendaraannya. Kasian sekali Kiki bertemu Retno yang rada-rada.
"Kasian Sheila ya kak, punya nyokap begitu." kata Kiki kemudian. Sudah mulai tenang dan tidak menangis lagi. Reza hanya mengangguk tak berkomentar, sungguh malas membahas Retno, menambah dosa aja pikirnya.
"Kamu percaya aku kan dek, jangan terprovokasi sama si tante ya."
"Iya aku tau dia halu kak. Kasian Sheila nyokapnya halu." sungut Kiki.