
"wah sudah pada kumpul." sapa Ranti saat sudah berada diantara Reza dan sahabatnya.
"Apa kabar mbak Ranti." sapa Mario menyalaminya, yang lain pun mengikuti tak terkecuali Reza.
"Kabar seperti biasa mas, eh ini yang katanya istri mas Reza?" tanya Ranti sambil menatap Kiki dari atas kebawah.
"Oh iya kenalin mbak Ranti, Istri saya." Reza menepuk bahu Kiki yang masih memeluknya. Kiki pun melepaskan tangannya dari pinggang Reza dan menyalami Ranti, namun uluran tangannya tak berbalas.
"Ok ya saya kesana dulu." kata Ranti kemudian berjalan meninggalkan Reza dan rombongannya. Reza mengelus pundak Kiki yang tampak terperangah dengan kelakuan Ranti yang menurutnya sok cantik.
"Aneh." gumam Regina pelan namun terdengar oleh yang lain. Mario tersenyum menepuk pelan bahu Regina.
"Dapat dari mana sih orang kaya gitu, besok jangan dipakai lagi lah perusahaannya." Reza mendengus kesal, disambut tawa yang lain.
"Iya friend, siap." jawab Andi sambil tertawa.
Tak lama iringan pengantin pun datang dengan iringan musik daerah, suara gendang bertalu-talu, terdengar indah ditelinga, membuat para tamu undangan membentuk barisan menyambut datangnya iringan pengantin, tak lupa mereka mengarahkan handphone pada mode video mengikuti barisan pengantin. "Cantik banget sih." teriak Kiki saat Monik dan Alex melewatinya, membuat Monik tertawa senang meniupkan tangan yang sudah ditempelnya dibibir kearah sahabatnya, Kiki pun membalas mengecup jari tangannya dan mengarahkan pada Monik, Kemudian disusul pasangan Intan dan Anto. Intan pun tak kalah cantiknya, lagi-lagi Kiki berteriak sambil bergoyang mengikuti irama gendang, "cantik, cantik, cantik." Dasar Intan tak bisa diam, ikut bergoyang sambil menggerakkan tangan tangan kanannya sambil berdendang " 🎵 Eh kok kamu baru tahu." yang lain tergelak dibuatnya. Dasar Intan tak ada kalem-kalemnya meskipun hari ini sedang menjadi Ratu.
Tarian daerah yang menyambut kedua pasang pengantin pun tak kalah menarik. Para Undangan benar-benar menikmati tarian tersebut. Hingga berakhir barulah undangan kembali menyebar ada yang makan, ada yang langsung berbaris untuk bersalaman dengan mempelai.
"Kita mau langsung salam apa makan dulu?" tanya Reza pada rombongannya. "Salam dulu aja friend, nanti tambah ramai." jawab Mario. Merekapun langsung turut berbaris dibagian VIP yang tak begitu antri. Memang Kiki dan sahabat suaminya mendapatkan undangan VIP dari Monik dan Intan.
"Jangan naik ke kamar duluan ya, mesti hadir sampai selesai." kata Monik pada Kiki ketika Reza dan rombongannya sudah berada diatas panggung.
"Iya jangan kaya tadi, tinggalin Kita lagi Prescon, padahal mau ajak makan bareng wartawan." Alex ikut bersuara.
"Hahaha sorry mas, Monik ga bilang sih." jawab Kiki tergelak.
"Langsung duduk di ruang VIP aja, nanti kita kesana kalau sudah beres." kata Monik lagi. Merekapun berselfie ria walaupun sudah ada photographer yang siap membidik kamera.
"Sohib apaan lu, teman dandan ga ditungguin." sambut Intan dengan omelan saat Kiki mendekat.
"Ish lu ga bilang minta ditemani."
"Peka dong Peka, tulalit nih istri lu kak Eja." sungut Intan. Anto menepuk tangan Intan yang berbicara sembarangan.
"Nanti malam pertamanya aja gue tungguin, mau?" jawab Kiki tak kalah sembarangan.
"Ga usah Kiii." jawab Anto terbahak, yang lain ikut terbahak. Reza mengacak anak rambut istrinya, gemas.
"Jangan kekamar duluan loh kalian, nanti gue ngambek." ancam Intan.
"Iyaa." jawab mereka berbarengan seperti paduan suara dan kembali tertawa bersama.
Setelah lama dipanggung dan membuat antrian bertambah panjang, Reza dan rombongan menuju ruang VIP, memilih meja bundar dipojokan agar lebih leluasa yang tak banyak dilewati orang. Hanya pegawai hotel yang hilir mudik mengantarkan makanan ke meja sesuai urutan sajian.
"Senin berangkat jam berapa?" tanya Andi disela makannya.
"Belum tau, Monik yang urus semua, Kak Rio, Regina kirim data ya, buat tiket." kata Kiki.
"Sebut jam sama pesawatnya aja Ki, nanti gue urus sendiri, hotelnya juga dimana kasih tahu aja."
"Loh nanti bangkunya ga sama."
"Itu gampang sayang, tenang aja." Reza mewakili Mario. Urusan data tentu tak bisa sembarang kasih, Mario selalu urus semuanya sendiri. Sebenarnya bisa saja naik private jet papi, tapi Mario lebih memilih kebersamaan.
"Mas Alex nawarin naik Private Jet, tapi Monik ga mau, karena kan mau bikin video mulai naik pesawat dan lainnya. Kita mau ngiklanin travelnya kan." kata Kiki menjelaskan.
"Hmmm.. kalian bertiga aja yang naik pesawat umum, yang lain naik private jet." sahut Erwin.
"Pocecip amat sih." ledek Andi, Reza hanya cengengesan.
"Gue ikutin yang lain aja lah, mau naik apa. Bawa mobil juga boleh jalur darat." kata Mario, mengambil tissue dan mengelap mulutnya, khawatir ada makanan yang tersisa.
"Seru juga tuh Yo, tapi bolos kerja lu tambah lama. Lagian sabtu kita wisuda." Andi mengingatkan.
"Bokap nyokap lu datang ga lu wisuda Yo?" tanya Reza. Mario menggeleng.
"Regina aja cukup." jawabnya santai.
"Lu gimana?" Mario balik bertanya.
"Belum tahu ya, gue belum tanya, kasihan juga sih bolak balik, capek juga."
"Tapi tanya dulu, siapa tahu mau datang."
"Iya nanti gue telepon." jawab Reza sambil menggeser gelas untuk istrinya yang sedari tadi belum minum dilihatnya. Kiki pun meneguk beberapa kali dan melanjutkan makannya.
"Itu pak Burhan Win." tunjuk Andi melihat Pak Burhan dan anak istrinya menuju ruang VIP. Erwin dengan sigap langsung berdiri menghampiri calon mertua impiannya. Sudah tak mengejar Sheila lagi, setelah diblokir dan melihat kelakuan ibu Sheila, Erwin mengundurkan diri. Tak kuat mental rupanya.
"Malam pak Burhan apa kabar?" sambut Erwin saat pak Burhan masuk kedalam ruangan.
"Loh Win kamu juga disini sama siapa?"
"Sama teman-teman pak." Erwin menunjuk sahabatnya yang menganggukan kepala tersenyum pada Pak Burhan.
"Wah kebetulan ketemu kalian disini, boleh bergabung?" tanya pak Burhan menghampiri Rombongan Reza.
"Boleh pak." jawab Reza menggeser bangku menyiapkan untuk pak Burhan, Bu burhan dan Angela.
"Bertiga aja pak? yang lain ga ikut?" tanya Erwin, fokus pada pak Burhan belum menyapa bu Burhan dan Angela.
"Iyalah, yang lain ada acara. Enji ayo kenalan ini boleh kamu jadikan teman. Mereka anak-anak baik." kata Bu Burhan setelah menyalami semuanya.
"Aku sudah kenal ma." jawab Angela.
"Kapan?"
"Loh mama lupa, ini Reza anak tante Nina, minggu lalu aku datang ke pernikahannya, yang ini istrinya Kiki. Yang lain aku kenal saat acara."
"Wah mama ketinggalan info. Kalau ada acara ajak-ajaklah Enji biar ga dirumah terus. Win Ibu titip Enji nih kalau Ibu lagi di Boston."
"Wah dengan senang hati bu." Erwin bersorak dalam hati, harapannya terkabul.
"Kapan main ke kantor Win, Senin ya saya tunggu."
"Jam Berapa pak?"
"Jam 11 deh ya, sekalian makan siang saja lah, kita ngobrol santai."
"Siap pak. Mau dibawain menu Warung Elite pak?" Erwin tambah bersemangat.
"Boleh win. Jangan kamu yang bawa. Nanti suruh pegawaimu antar sebelum jam 12. Bawakan untuk 6 orang ya Win."
" Iya pak." Erwin tersenyum bahagia. Sahabatnya pun ikut bahagia.