
Makan malam bersama berjalan dengan penuh keakraban. Rombongan Basket makan dalam satu ruangan sengaja terpisah dengan rombongan keluarga. Pasti ada hal yang akan dibahas oleh mereka terkait pertandingan persahabatan esok hari. Mereka akan bertanding di stadion remaja Kota Semarang, dihadiri oleh pelajar sekolah se Kota Semarang dan juga pejabat setempat.
"Besok bukan soal memang atau kalah, tapi bagaimana kalian semua menampilkan permainan terbaik, agar menarik minat olah raga bagi generasi muda Indonesia." kata Pimpinan Club pada para pemain. Nanta dan sahabatnya menyimak dengar serius, kadang tertawa memandang keluar karena Balen mondar-mandir mengintip keberadaan Abangnya.
"Singkong Rebus tidak bisa diam." Mike terkekeh.
"Sudah kenyang dari tadi." Nanta pun ikut terkekeh melihat adiknya yang melambaikan tangan begitu Nanta dan yang ketiga sahabatnya sedang memperhatikannya. Dania dan Dona tampak awasi Balen dari belakang. Dania jelas sudah kenyang, tapi Dona kenapa juga tidak makan, Doni jadi kepikiran.
"Dona kenapa tidak makan ya?" tanyanya bingung.
"Hmm... kuartet kalian badannya disini, pikirannya dimana?" tanya Pak Wira pimpinan Club dimana Doni berada, sontak seisi ruangan tertawa, julukan kuartet rupanya sudah melekat untuk mereka. Langsung saja keempatnya cengengesan dan kembali fokus mendengarkan apa yang disampaikan Pak Wira dan Pak Irwan pimpinan Club Nanta dan Mike.
"Mungkin Nanta ada yang mau disampaikan?" tanya Pak Irwan.
"Tidak ada Pak." Nanta cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mike?" tanyanya lagi.
"Tidak ada juga Coach." jawab Mike setengah berteriak, semuanya tertawa padahal tidak ada yang lucu, karena Mike saja gayanya kadang terlihat lucu jadi bicara apapun dianggap sedang melawak.
"Larry?" tanya Pak Wira.
"Lapar." jawab Larry asal, langsung riuh yang lainpun ikut bilang lapar.
"Hahaha baiklah ayo kita makan." Pak Wira tertawa menyadari opening mereka barusan terlalu lama sementara ini sudah melewati jam makan malam. Setelah berdoa bersama mereka mulai menikmati makan malam bersama, kecuali Doni ia memilih keluar untuk tanyakan istrinya kenapa tidak makan.
"Nanti saja makan bersama Balen dan Dania." jawab Dona pada Doni.
"Mereka sudah makan, kamu kan belum." kata Doni pada Dona, Dania anggukan kepalanya.
"Aban Doni, nanti tita mo matan ladi tok." jawab Balen mendekati Doni.
"Makan saja sekarang, nanti sudah pada selesai makan pasti langsung pulang." kata Doni pada Balen.
"Sekaang Baen masih tenyan." jawab Balen dengan wajah lucu. Doni jadi tertawa.
"Kalau begitu temani Kak Dona makan ya, kasihan adek diperut kelaparan." kata Doni pada Balen.
"Oh ada adekna juda." Balen anggukan kepalanya.
"Ayo Tadona tita matan." ajak Balen langsung joget-joget jalan lebih dulu, senang karena ada adek bayi lagi. Doni terbahak melihat Balen yang banyak gaya. Nanta, Mike dan Larry pun ikut tertawa dari dalam. Sambil makan mereka terus perhatikan Balen dari dalam.
"Kenapa Balen joget-joget?" tanya Nanta pada Doni yang sudah kembali bergabung.
"Dona mau makannya tunggu Balen sama Dania, tapi mereka kan sudah makan. Gue suruh Balen temani Dona makan karena kasihan adek diperut kelaparan. Langsung dia ajak Dona makan sambil joget-joget." Doni jelaskan detail sambil tertawa.
"Memangnya Dona hamil?" tanya Mike pada Doni.
"Ya berdoa saja siapa tahu hamil." Doni terkekeh.
"Doa musafir itu dikabulkan Allah." jawab Larry.
"Aamiin, lu kurang berdoa Leyi, padahal sering jadi musafir. Sampai sekarang belum dapat jodoh." komentar Mike membuat Larry memiting lehernya.
"Elu sendiri bagaimana Ma'ik?" kata Larry sambil terus menjepit leher Mike yang sedang berusaha menyelamatkan diri. Doni dan Nanta terbahak dibuatnya.
"Gaya dia sudah main kerumah Seiqa." Doni tertawakan Mike.
"Tapi nundul terus dia Don. Pertama kali bertemu tidak begitu." lapor Mike pada Doni. Doni kembali terbahak.
"Mual lihat muka lu tuh di Seiqa." sahut Larry membuat mereka berempat kembali terbahak.
"Benar juga ya, rese juga saudara lu Don." Mike masih saja terbahak karena ucapan Larry.
"Tapi dia mau terima elu dirumahnya ya?" tanya Doni, Mike anggukan kepalanya.
"Jadi kalian bicara apa saja?" tanya Doni ingin tahu.
"Karena dia menunduk terus gue jadi tidak lama-lama disana. Coba lu cari tahu Don, betul dia menjaga pandangan atau seperti yang Larry bilang mual lihat muka gue." Semuanya kembali tertawakan Mike.
"Sudah sering jadi musafir lu doa apa saja Ma'ik. Sampai sekarang belum ada cewek yang nyangkut." Larry kembali menggoda Mike.
"Haha rese, iya juga ya. Ayolah balik hotel." ajak Mike yang sudah selesai makan.
"Mau apa buru-buru?" tanya Doni tertawa.
"Mau khusu berdoa gue rasa." sahut Larry tertawakan Mike. Mike menganggukkan kepalanya sambil terbahak, pasrah saja habis dia digoda sahabatnya malam ini.
Doni mengambil teleponnya dan menghubungi seseorang melalui teleponnya. Terdengar suara gadis yang Mike kenal siapa lagi kalau bukan Seiqa, langsung saja Mike senyum-senyum sendiri.
"Lagi dimana, Qa?" tanya Doni pada Seiqa.
"Dirumah, kenapa Don?" tanya Seiqa lagi.
"Ada yang titip salam nih." Doni melirik Mike yang cengengesan.
"Mike ya?" tebak Seiqa tertawa.
"Iya. Kerumah lu ya dia?" tanya Doni pada Seiqa seakan tidak ada Mike disana suara di loudspeaker dengan volume terkecil hingga Mike dan yang lain harus konsentrasi agar dapat mendengarnya.
"Iya." jawab Seiqa jujur.
"Jadi bagaimana, sudah sedekat apa kalian?" pancing Doni.
"Baru bertemu dua kali, Don. Yang kedua kalipun hanya sebentar tidak sampai Lima menit. Baru duduk sudah mau pulang saja itu teman kamu." jawab Seiqa membuat Doni menoyor kepala Mike.
"Habis lu nunduk terus kata Mike." Seiqa tertawa mendengarnya.
"Gue lagi sakit mata takut Mike salah sangka, karena harus kedip-kedipkan supaya tidak sakit, seperti ada yang ganjal." jawab Seiqa.
"Gue kira lu jadi sholeha, jaga pandangan mata." Doni tertawakan sepupu jauhnya itu.
"Belum sehebat itu, doakan saja." Seiqa tertawa.
"Sudah ke Dokter?" tanya Doni lagi.
"Senin kalau Mama bisa temani ke Jakarta Eye Center." jawab Seiqa.
"Mike bisa kok temani." Jawab Doni menatap Mike sambil naikan alisnya, Mike langsung acungkan jempol.
"Jangan, Don. Gue sungkan."
"Mike senang. Tenang saja." kata Doni, kemudian akhiri teleponnya dengan Seiqa. Langsung saja Doni dapat hadiah ciuman dipipinya Dari Mike.
"Rese ya, bini gue nanti salah sangka, Maik." kembali Doni menoyor kepala sahabatnya itu. Semua tertawa jadinya, bukan hanya mereka berempat tapi seisi ruangan tertawa melihat Mike mencium Doni dan Doni menoyor kepala Mike sambil mengusap pipinya.
"Matatih Aban Doni." kata Mike senyum-senyum dibantu Doni dekati Seiqa.
"Banyak berdoa lu Leyi, sebentar lagi jomblo sendirian lu." katanya sombong, gantian Larry yang menoyor kepala Mike.
"Ayo pulang." ajak Pak Irwan pada semuanya, perlahan mereka tinggalkan ruangan satu persatu.
"Foto dulu." ajak Pak Wira pada semuanya. Mulailah semua berbaris rapi, pertamanya saja yang rapi setelah itu mulai bergaya tidak karuan difoto, berisik lagi membuat perhatian sebagian pengunjung tersita.
"Pak Kenan, Pak Micko terima kasih untuk jamuannya malam ini." kata Pak Wira pada Kenan saat mereka akan menuju ke parkiran.
"Sama-sama Pak Wira." jawab Kenan sambil menggendong Richie yang sudah tertidur, sementara Balen masih bergerak lincah kembali berjalan sambil joget-joget bikin semuanya gemas.
"Adek namanya siapa?" sapa Salah seorang teman Nanta.
"Baen." jawabnya tersenyum ramah, Larry langsung saja posesif, hampiri Balen dan menggendongnya.
"Aban Leyi..." teriaknya terkejut karena badannya serasa melayang.
"Joget terus sih, bikin orang gemas tau." kata Larry sambil meniru nada bicara Balen.
"Teman Aban tanain nama Baen tuh." tunjuknya pada pria yang berjalan disebelah Larry sambil tersenyum pada Balen.
"Cakep mana Aban sama Aban ini?" tanya Larry pada Balen.
"Aban Leyilah." jawab Balen membuat Larry terbahak. Temannya pun tertawa mendengarnya.
"Kalah ganteng gue sama Larry." katanya pada yang lain.
"Digombalin bocah saja sudah senang si Leyi." celutuk Mike membuat semuanya terbahak.