
"Jadi mau makan apa?" tanya Reza menoleh kekiri sebentar dan kembali fokus menyetir.
"Apa aja, yang searah pulang."
"Itu mau?" Reza menunjuk salah satu restaurant siap saji yang terlihat dari jarak 500 meter.
"Jangan junkfood."
Reza tertawa kecil mendengar jawaban Kiki. "apa aja yang jangan?" tanya Reza dengan senyum mengembang, membuat Kiki nyengir sendiri.
"Apa aja kecuali junkfood." Masih belum jelas maunya apa. Pada akhirnya Reza memarkirkan kendaraannya di halaman sebuah mesjid.
"Kita Sholat magrib dulu, setelah itu kita kesana." Reza menunjuk ke seberang jalan yang di sepanjang trotoarnya berjejer macam-macam tenda penjual makanan. Mereka pun berpisah mengambil wudhu menunaikan Sholat
"Disini ada seafood, sate ayam, sate padang, pecel ayam, syomay, dimsum, ayam taliwang, sop kambing, kamu pilih lah mau makan apa." Kata Reza seusai sholat. Wajahnya terlihat semakin enak dipandang.
Mendengar semua yang Reza sebut, Kiki jadi bingung karena sepertinya enak semua. Setelah berpikir beberapa saat Kiki pun memutuskan untuk masuk ke tenda Ayam Taliwang.
"Enak ga kak?" tanya Kiki pelan takut terdengar pelayan dan pemilik warung. Reza mengangguk.
Kiki memilih duduk di kursi yang tak terlalu dekat dengan kipas angin, Reza duduk dihadapannya, pelayan yang melihat tamu sudah duduk dimeja langsung menghampiri dan memberikan buku menu, Kiki mengambilnya dan mulai membuka buku menu membaca dengan detail setiap tulisan pada gambar, Berbeda dengan Reza, tanpa melihat menu, Reza langsung memesan makanan yang diinginkan untuknya dan Kiki.
"Karena kamu belum makan dari siang, aku pesankan menu andalan disini, biar cepat, nanti tambahannya apa kamu pesan aja lagi." Reza langsung menjelaskan begitu melihat ekspresi Kiki yang seakan ingin protes.
"Itu aja cukup. Aku cuma mau lihat menu apa aja yang ada disini." Kiki masih membolak balik buku menu. Tak perlu menunggu lama menu yang Reza pesan pun tiba, Kiki langsung meletakkan buku menu ke pinggir meja, kemudian berdiri menuju wastafel yang tak jauh dari bangkunya.
Saat selesai mencuci tangannya,
"Kiki...!" sapa seorang gadis seumuran Kiki yang sedang antri diwastafel. Kiki tertegun sejenak, mengingat siapa yang menyapanya. ternyata Pipit teman akrabnya sewaktu kelas satu SMA.
"Hai pit, apa kabar?" sapa Kiki ramah
"Baik, Sama siapa Ki? tanya Pipit yang merasa senang bertemu temannya yang kini terlihat aktif di medsos. Kiki menunjuk Reza yang sedang melihat kearahnya.
"Itu bang Reza bukan sih?" tanya Pipit memastikan, Kiki mengangguk. Pipit pun melambaikan tangannya ke arah Reza, dibalas Reza dengan senyum lebar.
"Lu kenal?" tanya Kiki bingung.
"Teman abang gue."
"Oo. yuk pit gue makan dulu." Kiki pun pamit tak bertanya siapa abang Pipit, karena perutnya sudah sangat lapar. Lagi pula Ia sudah tak begitu dekat lagi dengan Pipit, jadi bingung mau ngobrol apa.
"Kamu kenal Pipit?" tanya Reza begitu Kiki duduk dihadapannya.
"Teman SMA aku waktu kelas satu. Kak Ayo makan." Kiki sudah tak sabar.
"Iya aku cuci tangan dulu." Reza segera beranjak dan sempat tertahan beberapa menit karena ngobrol dulu dengan Pipit. Entah apa yang dibahas. Kiki menunggu sambil menahan lapar.
"Pipit tuh adiknya Erwin." Reza menjelaskan pada Kiki, yang sedari tadi tak mengeluarkan suara. Ia langsung saja makan begitu Reza kembali. Reza khawatir Kiki salah sangka, pasti cemburu pikirnya, padahal....???? belum tau juga Reza hanya menebak hehe. Kiki hanya mengangguk menanggapi penjelasan Reza, Ia terus saja melanjutkan makannya.
"Bang Reza, Kiki, gue duluan yaa." Pipit yang memang harus melewati meja Reza dan Kiki pun pamit karena sudah selesai lebih dulu.
"Oh iya, hati-hati Pit." jawab Kiki menghentikan makannya sejenak. Terlihat Pipit tak sendiri, dia bersama seorang temannya yang Kiki tak kenal. Tampak teman Pipit membisikan sesuatu ketelinga Pipit.
Kemudian, "Kenalin Ki, teman kuliah gue nih, dia follower lu." Kata pipit sambil menunjuk teman disampingnya. Kiki mengulurkan tangannya sambil tersenyum, setelah saling menyebutkan nama. " Rahma, terima kasih ya sudah follow." kata Kiki tulus. Rahma mengangguk senang.
"Ki foto bareng yuk." Kata Pipit sambil mengarahkan Handphonenya ingin selfie. Tapi susah tak bisa bergaya.
"Sini aku yang foto kalian, tapi cuci tangan dulu ya" tawar Reza yang sudah selesai makannya dan segera beranjak menuju wastafel. Tak lama merekapun beraksi cekrak cekrek.
"Jangan lupa undangannya Ki." Kata Pipit lagi setelah foto bersama, membuat Kiki tergagap. Sempat sempatnya Reza membahas rencana pernikahan mereka tadi, batin Kiki. Eh belum tentu Kak Eja, siapa tau kak Erwin, pikirnya lagi.
"Nanti dititip lewat Erwin." jawab Reza cepat mewakili Kiki.
"Sip deh." Pipit mengacungkan jempolnya sambil tersenyum dan segera berlalu dari pandangan Reza dan Kiki.
"Ga satu frekuensi berarti."
"Mungkin ya. Akunya juga dulu kaku banget sedangkan mereka jumpalitan, jadi ya gitu." Kiki mentertawakan pertemanannya.
"Sekarang juga kan suka kaku." kata Reza santai.
"Masa sih kak, bukan bawel ya?"
"Bawel juga."
"Nyebelin dong ya. Kamu suka yang mana? Kaku apa bawel?"
"Apa adanya aja, Nanti aku malah bingung kalau kamu berubah." Kata Reza. Hehe Kiki tersenyum senang.
"Yuuk." ajak Reza karena mereka sudah selesai makan.
"Bayar dulu." Kiki memutar kepalanya mencari pelayan.
"Tadi sudah. Yuk." Reza berdiri sambil menarik tangan Kiki. Sementara Kiki bingung kapan Reza kekasir. Mungkin tadi saat Kiki terlalu asik makan tak menggubris Reza. Tangannya masih digandeng Reza sampai mereka tiba di halaman mesjid.
"Sholat Isha dulu ya." ajak Reza melewati mobilnya yang terparkir manis. Mereka terpisah sesaat dan Kiki pun menuju area wudhu.
Setelah selesai sholat mereka melanjutkan perjalanan kembali ke rumah Reza. Mama Nina sedari tadi sudah menelpon Reza menanyakan posisi anak dan calon mantunya.
"Kalian sudah makan ya, padahal mama sudah masak banyak." Kata Nina begitu Kiki dan Reza sudah tiba dirumah.
"Mama masak apa? nanti juga aku makan lagi." Jawab Reza sambil membuka tudung saji dimeja makan.
"Dek, makanan kesukaan aku nih, lihat deh. Nanti kamu belajar masak sama mama ya."
Kiki berjalan menuju meja makan menghampiri Reza. Cah buncis, ikan nila goreng, sambel terasi, cumi saos padang ala restaurant.
"Nanti kamu makan lagi ya." Mama Nina sudah berdiri disamping Kiki sambil merangkulnya.
"Kuat dek makan lagi?" tanya Reza memastikan karena dimobil Kiki sempat berkata kenyang sekali.
"Sekarang masih kenyang, paling nanti sayurnya aja." jawab Kiki.
"Yuk mama antar ke kamar, Koper kamu sudah dikamar." Nina mengajak Kiki ke kamar tamu. Kiki masih tak mengerti kenapa mamanya membiarkan Kiki menginap dirumah calon mertuanya. Benar yang Reza bilang, mama membawakan Koper besar dan Kiki belum tau apa saja isinya.
"Kamu disini seminggu ya Ki, Mama Papa kamu sore tadi mendadak harus ke S'pore menemani Wina, karena Herman ngidam parah. Kamu dari tadi diteleponin ga bisa." Nina menjelaskan melihat ekspresi Kiki yang tampak kaget saat melihat koper besar milik keluarganya. Kiki baru sadar kalau handphonenya mati sedari dibioskop tadi siang.
"Ga papa kan sayang?" tanya Nina lagi karena Kiki melamun.
"Ga papa ma, maaf jadi merepotkan mama. kata Kiki sungkan, disambut tepukan dibahunya oleh Nina.
"Sama mama ga boleh sungkan begitu, kamu istirahat ya, nanti kalau butuh apa ketok kamar mama aja." Nina menunjuk pintu kamar tepat didepan kamar tamu yang Kiki tempati.
"Makasih ma." kata Kiki tulus. Nina tersenyum kembali merangkul Kiki sambil menepuk bahunya.
"Mama kekamar dulu ya, kamu istirahat lah." Nina berlalu meninggalkan Kiki.
Ketika Kiki hendak menutup pintu kamarnya, "Cas hape kamu dek." Reza datang menyerahkan charger pada Kiki berdiri didepan pintu.
"Kamar aku diatas. Nanti kalau aku mau makan aku telepon." katanya lagi.
"Biasa kak Eja makan lagi jam berapa?"
"Jam 10an."
"Kok ga gendut?" tanya Kiki polos. Reza tertawa sambil mengacak anak rambut Kiki.
"Ya sudah aku kekamar dulu." Reza segera berlalu meninggalkan Kiki kekamarnya. Gawat kalau lama lama berduaan dengan Kiki, pengen peluk kalau polosnya keluar begitu.