I Love You Too

I Love You Too
Rembulan Ayu



Rombongan keluarga Kenan pagi ini sudah tiba di rumah sakit tempat Tari dirawat. Karena datangnya bergerombol mereka harus bergantian masuk supaya ruangan tidak pengap akibat terlalu banyak yang menjenguk. Nanta yang sudah melihat Mama dan Adik bayi terlebih dulu memilih mengalah untuk menunggu diluar ruangan. Raymond dan Roma pun menemani Nanta diluar. Sementara Oma, Opa, Kenan dan Nona sedari tadi didalam ruangan asik bergantian menggendong bayi.


"Mirip betul sama Mbak Tari." Nona terkekeh saat menggendong baby.


"Nanti juga mirip papanya, Mamon." kata Bagus tak mau kalah.


"Biasanya begitu ya, mukanya berubah-ubah." jawab Nona lagi, sesekali mengajak baby bicara.


"Non jangan lama-lama gendong baby." kata Tari mengkhawatirkan perut Nona. Nona segera meletakkan Baby ke dalam box.


"Namanya siapa, Gus?" tanya Kenan pada Bagus.


"Karena Mamanya Mentari, anaknya jadi Rembulan. Rembulan Ayu Pradana." jawab Bagus tersenyum lebar.


"Cantik betul namanya, ide siapa tuh." celutuk Mama Nina.


"Papanya dong Ma." jawab Bagus bangga. Semua tertawa mendengarnya.


"Kalian sudah menyiapkan nama?" tanya Papa Dwi pada Kenan dan Nona.


"Sedang kami diskusikan." jawab Kenan terkekeh.


"Tunggu lahir dulu saja." jawab Nona lagi terkikik, mereka belum ada ide untuk baby yang akan lahir nanti.


"Selintas mirip Nanta juga ya." komentar Nona lagi memandangi Rembulan yang sudah diletakkannya di box bayi.


"Masa sih? Nanta tuh wajahnya Mas Kenan semua." kata Tari tertawa.


"Auranya mungkin seperti Nanta." sahut Bagus ikut mengomentari.


"Namanya saja kakak beradik." Kenan ikut menimpali. Mereka asik bicara mengomentari Baby yang baru berusia beberapa hari.


"Kamu kapan keluar dari rumah sakit, Tari?" tanya Mama Nina pada Tari.


"Senin Ma."


"Wah berarti Nanta tidak bisa menginap dirumahmu, Nanta besok sudah kembali Ke Jakarta." kata Mama Nina lagi.


"Iya, kecuali Nanta mau menginap disini." kata Bagus pada Mama Nina.


"Terus kamunya pulang Mas?" tanya Tari pada Bagus.


"Tidak sayang, ruangan ini cukup lega untuk kita berempat." jawab Bagus yang tahu Tari tidak mau ditinggalnya, Kenan menyimak saja. Bagaimanapun keputusan akan diserahkan pada Nanta.


Sementara itu Nanta sedang asik bercanda dengan Raymond dan Roma diluar, sampai matanya tidak sengaja melihat orang yang sangat dikenalnya sedang melamun di taman.


"Bang, itu Mak lampir Sheila." tunjuk Nanta pada Wanita yang duduk di kursi roda. Het masih saja sebut Sheila Mak Lampir.


"Masa sih?" Raymond jadi memperhatikan lebih jelas.


"Coba Abang perhatikan." kata Nanta semangat, ia ingin memanggil Papanya karena tahu Sheila sedang dicari keluarganya.


"Betul, Ray. Itu Tante Sheila." kata Roma pada suaminya.


"Aku panggil Papa dulu." kata Nanta bergegas masuk keruangan.


"Aih, Nanta cari ribut saja." gerutu Raymond yang belum tahu cerita terbaru.


Nanta masuk kedalam ruangan sambil tersenyum pada semuanya.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Tari pada bujangnya.


"Aku pinjam Papa dulu sebentar." kata Nanta menarik tangan Kenan.


"Mau minta dibelikan apa kali." Kata Mama Nina menduga-duga. Nona tertawa saja enggan mengikuti.


"Ada Sheila diluar." bisik Nanta pada Nona. Nona mengangguk saja, Walaupun heran kenapa ada Sheila disini, biar saja Nanta yang menemani Kenan, toh ada Raymond dan Roma juga. Nanti Kenan harus menjelaskan padanya.


"Apa sih Boy?" tanya Kenan penasaran.


"Urusan penting ini, sayembara." jawab Nanta terkekeh. Kenan jadi tertawa meraih kepala Nanta saat merangkulnya.


"Itu sahabat Papa. Cepat panggil keluarganya." kata Nanta menunjuk Sheila yang masih di posisi semula.


"Ih kenapa dia? Papa bicara dulu sama Sheila ya, ayo kamu ikut." ajak Kenan menarik tangan Nanta. Sebenarnya Nanta malas harus bertemu muka dengan Sheila, tapi teringat niat Papa, Nanta jadi mengikuti.


"Shei..." panggil Kenan yang berjalan disamping Nanta.


"Hai kalian." sapa Sheila setelah dapat mengatur wajahnya yang terkejut melihat Kenan dan Nanta.


"Kamu sakit?" tanya Kenan pada Sheila.


"Terjatuh saat berolah raga kemarin, hanya sedikit cidera." jawab Sheila menunjuk lututnya.


"Tari melahirkan. Nanta punya adik." jawab Kenan tersenyum.


"Oh..." Sheila mengangguk saja. Suasana tampak canggung, Sheila tidak pernah berharap bertemu Kenan dalam kondisi seperti ini, apalagi bersama Nanta.


"Tante tinggal di Malang?" tanya Nanta mecahkan kekakuan yang ada.


"Sudah beberapa bulan ini." jawab Sheila tidak percaya Nanta mau mengajaknya bicara.


"Mana suami dan anak Tante? aku mau kenalan." kata Nanta lagi, membuat Sheila termenung, entah apa yang dipikirkannya.


"Nanti setelah di Jakarta, kita main kerumah Tante Sheila, Nan. Anak Tante Sheila seumuran kamu juga." kata Kenan pada Nanta.


"Oh bisa berteman denganku nanti." kata Nanta tersenyum.


"Kamu mau berteman dengan anak Tante?" tanya Sheila tidak percaya.


"Kenapa tidak?" jawab Nanta tersenyum ramah.


"Baiklah nanti akan Tante kenalkan." jawab Sheila ikut tersenyum, tidak lagi canggung.


"Kenalkan juga sama Om." kata Nanta lagi. Sheila tersenyum miris.


"Aku lihat Mama dulu, Pa." Nanta memberikan kesempatan untuk Papanya bicara pada Sheila.


"Ok, Papa sebentar lagi menyusul." kata Kenan dijawab acungan jempol oleh Nanta, kemudian menganggukkan kepalanya pada Sheila.


"Anak kamu menyenangkan sekali, Ken." kata Sheila sepeninggalan Nanta.


"Seperti Papanya." jawab Kenan terkekeh. Sheila mengangguk ikut terkekeh, memang Kenan sangat menyenangkan, sayang bukan jodohnya.


"Istri saya lagi hamil besar loh Shei." kata Kenan kemudian teringat Nona.


"Oh ya? mana dia tidak ikut melihat Tari?" tanya Sheila ingin tahu.


"Ada diruangan bersama Tari dan suaminya." jawab Kenan menunjuk ruangan tempat Tari dirawat.


"Salaam ya. Sebentar lagi tambah anak kamu Ken." Sheila benar-benar merindukan suasana seperti ini, bisa ngobrol santai dengan Kenan.


"Nanti saya bikin akrab kalian. Kamu sama siapa disini?"


"Sendiri." Sheila menghela nafas.


"Shei, setelah sembuh nanti, kembalilah sama keluargamu. Mereka menunggu, Tante Retno saat ini sakit terbaring saja dirumah."


"Kamu kata siapa?" tanya Sheila terkejut.


"Farhan kekantor saya."


"Dia cari kamu sampai kesini?" Bola mata Sheila membesar.


"Farhan yang cari kamu sampai kesini beberapa kali." jawab Kenan apa adanya.


Sheila menghela nafas, Kenan tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Sheila saat ini.


"Siapa yang rawat Mama?" guman Sheila sambil menangis.


"Anak dan suami kamu yang mengurus Tante Retno. Apa yang kamu cari disini, Shei. Suami dan anakmu masih menunggu kamu. Pulanglah."


"Aku malu, Ken. Rasanya sudah tidak punya muka untuk kembali bersama mereka. Dulu aku terlalu emosi."


"Selesaikan masalah kalian. Jangan lari tapi hadapi. Farhan sangat mencintai kamu. Jangan sampai menyesal karena kesempatan tidak akan datang kedua kali." Kenan mengingatkan.


Sheila masih saja menangis. Tapi sekarang tidak lagi memeluk Kenan, Sheila cukup tahu diri, hati Kenan sudah bukan untuknya lagi.


"Kamu dirawat diruang apa? Nanti saya ajak Nona membesuk kamu." tanya Kenan pada Sheila. Sheila menyebutkan ruangan tempatnya dirawat.


"Mau kembali keruangan?" tanya Kenan pada Sheila.


"Nanti aku telepon perawat dulu untuk menjemputku." kata Sheila mengeluarkan handphonenya.


"Tidak usah, itu ada Nanta dan Ray yang bisa mendorong kamu." Kenan menepuk tangannya memanggil Nanta dan Raymond. Keduanya berlarian menghampiri Kenan.


"Antar Tante Sheila keruangannya ya." kata Kenan pada keduanya. Langsung saja mereka mendorong kursi roda Sheila.


"Eh bukan ke kanan tapi ke Kiri." teriak Sheila yang lupa menyebutkan dimana ruangannya pada Nanta dan Raymond.


"Nanti saya ajak Nona besuk kamu ya. Semangat sehat Shei." kata Kenan melambaikan tangan pada Sheila.


"Aamiin." jawab Sheila membalas lambaian tangan Kenan. Sepeninggalan Sheila, Kenan segera menghubungi Farhan sambil berjalan menuju kamar rawat Tari.