I Love You Too

I Love You Too
Curahan hati



Sepulang liburan dari Bali, pagi ini Kiki menghabiskan waktunya di tempat tidur. Kemarin sore setibanya dirumah, Kiki diminta Reza untuk beristirahat. Istirahat apanya yang ada Reza memanfaatkan kebersamaan mereka ditempat tidur, yang sudah pasti Kiki pun ikut terbuai tak bisa menolak.


Tadi pagi selesai sarapan Reza langsung berangkat ke Kantor papa Dwi, seperti yang sudah dikatakan Micko hari ini jadwal Reza full dikantor, Reza sudah bilang pada Kiki bahwa ia akan lembur dan pulang malam. Jika Kiki takut di rumah karena Bi Par yang sore hari sudah kembali kerumahnya, Kiki bisa pulang ke rumah Mama Ririn karena disana ada Pak Min dan istrinya yang sudah lama bekerja dengan keluarga Kiki


"Nanti malam aku jemput di sana dek, atau mau menginap juga boleh, nanti bawakan baju gantiku." pesan Reza tadi pagi. Rencananya sepulang dari kampus sore nanti, Kiki akan pulang kerumahnya, tempat ia dibesarkan, tentu saja minta jemput Pak Min karena Reza hari ini pulang malam.


Kiki jadi rindu mama papa dan kakaknya. Tapi badannya terlalu lelah untuk menghubungi mereka. Lumayan masih ada waktu dua jam lagi untuk Kiki beristirahat, karena hari ini jadwal kuliah Kiki jam 12.45. Hanya ada satu mata kuliah dan Kiki sudah janjian dengan Monik dan Intan, mereka akan datang tepat waktu, tidak lebih cepat karena mereka pun merasa lelah sama seperti Kiki.


"Jangan lupa pakai baju yang mesti di endors, biar hutang kerjaan segera lunas." Intan mengingatkan.


"Hari minggu kita shooting iklan ya." Monik pun mengingatkan jadwal shooting mereka. Iklan pertama dan mungkin juga iklan terakhir yang Kiki dan Intan terima, setelah mereka memutuskan untuk menjadi Nyonya boss, fokus menyelesaikan kuliah mereka. Akhirnya Kiki pun tertidur pulas. Bik Par sudah dipesannya untuk membangunkan Kiki pukul 11 kurang 15 menit. Setengah jam untuk mandi dan bersiap dan setengah jam lagi untuk perjalanan dari rumah Reza menuju kampus. Perhitungan Kiki mantap kalau soal waktu.


Tepat pukul 11 kurang 15 menit bi Par membangunkan Kiki. Kamarnya sengaja tidak dikunci supaya Bi Par leluasa membersihkan dan kemudian membangunkannya.


"Mbak Kiki bangun, itu dibawah ada Mbak Sheila." Bi Par membangunkan Kiki karena Sheila datang, bukan karena pesan Kiki tadi.


"Mau ketemu aku atau Kak Eja?" tanya Kiki


"Ketemu mbak Kiki. Mbak Sheila sudah tau Bang Eja ke kantor. Tadi kalau ga salah mereka teleponan." Bi Par menceritakan apa yang ia dengar. Dengan muka bantal Kiki pun beranjak dari kasur dan menuju ke ruang tamu, dimana Sheila menunggu.


"Kak Sheila, tumben." sambut Kiki begitu melihat wajah Sheila yang sudah duduk manis di ruang tamu.


"Hai Ki, maaf ganggu. Mau ke kampus kan. Bareng ya, tadi Bang Eja bilang kamu kuliah berangkat jam 11an."


"Boleh, aku mandi dulu ya. Kak Sheila ketemu bang Eja tadi?" tanya Kiki pura-pura tidak tau bahwa mereka teleponan.


"Ga, aku telepon Bang Eja." jawab Sheila apa adanya.


"Oh, ada cerita apa kak?" tanya Kiki ingin tau lebih banyak.


"Ga ada, aku cuma minta maaf atas perlakuan mama ke kamu di mal minggu lalu."


"Hmm.. aku mandi dulu." Kiki meninggalkan Sheila, sementara otaknya berpikir, aku yang diserang minta maafnya sama Kak Eja. Bingung kan, harusnya Kak Sheila minta maaf sama aku , Kiki bermain dengan alam pikirannya. Agak kesal, Sheila menghubungi suaminya, tapi sudahlah kalau mereka macam-macam mereka yang rugi sendiri. Kiki mencoba untuk tak ambil pusing.


"Nanti pulang bisa nebeng lagi ga Ki?" tanya Sheila dalam perjalanan menuju kampus.


"Rencana mau menginap dirumahku kak, karena kak Eja hari ini lembur." jawab Kiki tak enak hati, tak mau Sheila merasa Kiki tak suka ditebengi.


"Ok ga papa, nanti aku minta jemput Farhan aja." jawab Sheila tersenyum.


"Pacar kak Sheila?" tanya Kiki ingin tau. Sheila menggelengkan kepalanya. Kiki tak bertanya lebih lanjut, karena Sheila juga tak mau bercerita.


"Aku cuma suka satu orang dari SMP sampai sekarang. Ga tau bisa ga aku terima cowok selain dia untuk jadi pasangan hidupku. Cintaku bertepuk sebelah tangan, dia lebih memilih kamu daripada aku."


Deg jantung Kiki berdebar keras mendengarnya, Sheila sedang mencurahkan isi hatinya pada Kiki. Terang-terangan Sheila menceritakan apa yang ia rasakan.


"Kak Sheila suka kak Eja? kalian pernah pacaran?" tanya Kiki. Sheila menganggukkan kepalanya.


"Meskipun kami ga pacaran, tapi perhatiannya sangat besar. Rasanya ga salah kalau aku sempat mengira dia juga menyukaiku. Tapi harapanku pupus saat dia dengan bahagianya bilang kalau habis dikenalkan dengan calon istrinya. Rupanya kalian dijodohkan, aku bisa apa. Mau ga mau aku pasrah dengan keadaan."


"Kak Eja tau apa yang Kak Sheila rasakan?"


"Aku ga pernah bilang, tapi harusnya dia tau. Bukannya kami selalu bersama kemanapun. Kami menghabiskan waktu bersama, semua dikampuspun berpikir kami sepasang kekasih. Sekarang kalian menikah, kamu tau kan Ki apa yang aku rasakan?"


"Kak Eja suamiku sekarang dan aku ga ada urusan dengan cerita masa lalu kalian. Dari sebelum menikah aku sudah bilang kak Eja bahwa aku ga mau ada cerita tentang mantan atau tentang kalian menghiasi rumah tangga kami. Maaf kak Sheila, sebaiknya kak Sheila lepaskan bayang-bayang kak Eja, mulailah buka hati untuk pria lain. Jangan mengharapkan Kak Eja lagi, karena aku pasti akan mempertahankan rumah tanggaku, kecuali Kak Eja memang memilih kamu." Jawab Kiki tegas sedikit menahan emosinya.


"Iya aku tau, aku cuma menceritakan apa yang aku rasakan."


"Sekarang aku sudah tau, dan apa yang kak Sheila harapkan dari cerita ini? Aku meminta kak eja untuk memilih kamu dan melepaskan aku?" ketus Kiki.


"Ijinkan aku untuk terus menghubungi bang Eja. Biarkan Bang Eja menjadi tempat keluh kesahku seperti dulu."


"Buat apa? aku ga akan mengijinkan. Maaf kak sheila, semakin sering kamu menghubungi suamiku, perasaanmu pada kak Eja akan semakin dalam. Aku bukan takut kamu merebut Kak Eja dari aku, tapi aku kasihan karena Kak Sheila pasti akan terus dibawah bayangan kak Eja, kalau sudah begitu kamu susah untuk menerima laki-laki lain menjadi pasanganmu. Kak Eja sudah menikah, lupakan dia kak. Aku bicara sebagai teman kak Sheila bukan sebagai istri kak Eja. Lupakan dia kak, cari kebahagiaanmu. Kenan mencintaimu kak, Farhan juga kudengar dari Kenan menyukaimu. Ada yang lain mengharapkan Kak Sheila jadi pasangan, kenapa Kak Sheila mengharapkan yang sudah menjadi milik orang lain." Kiki berusaha untuk tenang meskipun hatinya ingin menangis. Suaminya banyak juga yang menyukai, membuat energi Kiki sedikit terkuras. Ah Kiki rasanya ingin mencubit pinggang suaminya, kesal