I Love You Too

I Love You Too
Tutorial



Dania dan Nek Pur dijemput Pak Atang menuju rumah Micko, perjalanan dari Puri ke daerah Menteng cukup memakan waktu karena macet. Tapi menguntungkan karena Micko sudah lebih dulu sampai dirumahnya.


"Jam berapa Dania sampai?" tanya Misha, mama Micko.


"Sudah dalam perjalanan, jangan nangis terus dong, mau bertemu cucu." Micko mengingatkan mamanya, karena sedari tadi air mata Misha tidak berhenti mengalir. Ia baru tahu kalau Micko sudah bertemu anak yang selama ini dicarinya minggu lalu. Tapi tidak berani mendatangi Dania karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Iya." jawab Misha menghapus air matanya, ikut bahagia karena Micko bisa menikahkan anaknya, apalagi ia akan berbesan dengan keluarga Suryaputra, yang selama ini cukup berjasa untuk Misha dan Micko.


Misha hanya beberapa kali bertemu dengan Dania, itupun saat Dania baru lahir, usia satu tahun dan saat ultahnya yang ketiga tahun, setelah itu Micko dan Maya berpisah. Saat menikah dengan Maya, hubungan Misha dengan Maya saat itu tidak begitu hangat, hanya sekedarnya saja dan Maya tidak mau tinggal dirumah Misha saat itu. Sangat dimaklumi jika Dania tidak mengingat Misha. Apalagi dulu Misha sibuk dengan urusan kantornya.


Kendaraan Pak Atang tiba dirumah Micko menjelang makan malam. Tentu saja semua sudah ditunggu dengan hidangan yang disiapkan Misha khusus untuk cucu perempuan satu-satunya.


"Dania, ini Oma Misha." kata Micko pada putrinya saat sudah memasuki ruang keluarga, dimana Misha tidak ikut menyambut Dania di lobby.


"Seperti Oma muda kan." kata Lucky membercandai Oma yang menangis begitu melihat cucunya, ia langsung saja memeluk Dania dengan isak tangisnya, Dania dan Nek Pur jadi ikut menangis.


"Maafkan Oma." bisik Misha pada Dania.


"Oma kenapa minta maaf, tidak ada yang salah." jawab Dania menghapus air mata dipipi Oma Misha, padahal airmatanya sendiri masih jadi mengalir.


"Kamu cantik." kata Misha gantian menghapus air mata Dania.


"Kan aku bilang seperti Oma waktu muda." jawab Lucky berusaha mencairkan suasana dengan melucu. Berharap acara tangis-tangisan itu segera berakhir.


"Terima kasih ya, Bu. Sudah menampung Dania dirumah Ibu." kata Misha pada Nek Pur.


"Dania sudah seperti cucu saya juga, bu." jawab Nek Pur tersenyum menggelap hidungnya yang meler dengan tissue.


"Keluarga kami agak rumit, itu yang bikin kami tidak bebas bergerak. Harapan saya setelah menikah Dania hidup bahagia, saya kenal baik keluarga calon suami Dania." kata Misha pada Nek Pur.


"Mata Mama bengkak tuh, dari tadi menangis terus. Sekarang sudah bahagia bertemu cucu kan." kata Lulu pada Misha.


"Hihi iya, Seperti mimpi bisa bertemu Dania dan bisa menyaksikan Dania menikah, Alhamdulillah." kata Misha tersenyum bahagia.


Tiga hari kemudian, waktu yang mendebarkan dan yang ditunggu pun tiba, segala urusan administrasi sudah diurus Micko, tinggal menunggu penghulu dan Keluarga mempelai pria datang kerumahnya. Dania dan semua seiisi rumah sudah berdandan cantik sedari shubuh.


"Aban." Balen masuk ke kamar Nanta, sambil mengibaskan baju princess yang dipakainya.


"Cantik." kata Nanta yang sedang dipasangkan songket sumatera di pinggangnya, Balen tersenyum sambil mengedikkan bahunya, centil sekali.


"Ayo." ajaknya saat melihat Nanta sudah rapi, ia tidak sabar untuk segera naik mobil dan pergi ketempat tujuan.


"Mau kemana?" tanya Opa yang sedari tadi menemani Nanta bersama Kenan, senyum-senyum menggoda cucunya.n


"Kumah Om Mito." jawab Balen dengan senyum yang masih menempel diwajahnya, hari ini Balen sangat murah senyum, Kenan terkekeh melihatnya.


"Mau apa kerumah Om Micko?" tanya Nanta ikut menggoda Balen.


"Mo manten, tan. Upa ya." katanya tertawa geli menunjuk Nanta. Ando yang berada dikamar Nanta ikut tertawa geli melihat Balen.


"Wilma mana?" tanya Nanta saat mereka akan keluar kamar.


"Bersama Kak Roma." jawab Ando, senang sekali bisa menghadiri pernikahan sahabatnya.


Setelah semuanya rapi, mereka semua naik ke dalam minibus yang sudah disewa Kenan menuju rumah Micko. Supaya lebih praktis dan semua berkumpul dalam satu mobil.


"Jangan tegang, Nanta." kata Bagus menggoda anak sambungnya.


"Dek, sudah lihat tutorial yang Abang Kirim." bisik Raymond yang duduk disebelah Nanta.


"Tutorial apa?" tanya Nanta bingung.


"Malam pertama, Abang Kirim ke email kamu." Raymond tertawa geli. Nanta jadi terbahak, bukan basket saja pakai buku petunjuk, malam pertama juga rupanya pikir Nanta.


"Boy, jangan rusak otak adikmu." Reza mendorong bahu putranya yang duduk didepannya.


"Hahaha Ayah, itu Om Micko yang suruh." Raymond terbahak mendengar komplen ayahnya.


"Micko ini rusuh sekali dari berapa hari lalu." kata Reza ikut terbahak.


"Ayah, memangnya harus baca tutorial?" tanya Nanta pada Reza, Kenan dan Reza langsung saja terbahak.


"Ijab Kabul dulu saja, Boy." kata Kenan mengusap lembut bahu Nanta.


"Nanti kalau sudah Ijab Kabul bagaimana?" tanya Nanta.


"Hahaha tunggu sepi dulu, masuk kamar baru hajar." kata Raymond terbahak. Reza dan Kenan ikut terbahak, bangku mereka rusuh sendiri, membuat Opa dan Om Bagus berdiri dan ikut nimbrung karena keseruan yang ada.


"Ada apa?" tanya Opa.


"Bang Ray kasih aku tutorial malam pertama, Opa." jawab Nanta polos. Opa dan Om Bagus jadi ikut tertawa.


"Begitu saja tidak perlu pakai tutorial." kata Opa pada Nanta.


"Pa, fokus Ijab Kabul dulu sih." kata Kenan geli sendiri karena semua pada sibuk mengurusi malam pertama Nanta.


"Memangnya harus pakai tutorial ya?" tanya Nanta heran.


"Hahaha tidak tahu, kalau Opa sih tidak." jawab Opa tertawa geli.


"Gara-gara Oma nih, adikku jadi polos begini." kata Raymond merangkul Nanta.


"Kalau kamu dulu tidak polos memangnya?" tanya Ayah pada Raymond.


"Sedikit lebih pintar, teman-temanku sedikit lebih vulgar dari teman-temannya Nanta rupanya." kata Raymond tertawa geli. Semua tertawa, sementara Oma mencari tahu apa yang mereka bahas karena Raymond menyebut dirinya.


"Ada apa sih?" tanya Oma dengan suara nyaring.


"Urusan laki-laki, Ma." jawab Opa kembali semua terbahak.


"Mencurigakan." kata Oma terkekeh, sudah menduga arah pembicaraan mereka.


"Mau sama Aban." kata Balen pada Mamon. Ia duduk disebelah Nona dari tadi.


"Disini saja, Abang lagi sibuk tuh lihat." Nona menunjuk bangku Nanta yang terlihat penuh karena Opa dan Bagus berdiri.


"Mamon... mau pantu aban, don." katanya lagi rusuh membujuk Mamon.


"Lihat Wulan saja tidak minta dipangku Abang." bisik Nona menunjuk Wulan yang sedang asik ngobrol dengan Tari.


"Ah Mamon mah ditu." kesal Balen dengan kerutan didahinya dan tangannya langsung melipat didadanya, ia merajuk tapi Nona tidak menanggapinya, dibiarkannya saja Balen uring-uringan yang penting Balen tidak menangis.