I Love You Too

I Love You Too
Tanpa kabar



Sudah hampir seminggu Nona pindah ke paviliun, tapi belum pernah sekalipun bertemu Kenan di rumah Mama Nina. Menurut info dari asisten rumah tangga, Kenan memang jarang berkunjung kesana, hanya sesekali jika di panggil oleh Papa Dwi atau Mama Nina.


Hari minggu pertama Nona di rumah Mama Nina, mereka bertiga makan siang bersama, seperti layaknya Ayah, Ibu dan Anak. Nona yang memasak siang ini, menu khusus yang diminta oleh Mama Nina, sapi lada hitam.


"Tante suka nih Non, enak sekali." kata Mama Nina menikmati makanannya.


"Itu pedes loh, Tante. Aku tidak terlalu suka karena pakai lada." kekeh Nona memilih makanan yang lain.


"Kalau tidak suka, kenapa bikin ini Non?" protes Papa Dwi pada Nona.


"Tidak apa Om, aku bisa makan yang lain kok." Nona nyengir saja jadinya.


"Telepon Kenan deh Pa, suruh kesini. Ada makanan kesukaannya nih." kata Mama Nina pada Papa Dwi. Langsung saja Nona berharap-harap cemas.


"Kenan sama Ray lagi keluar, jalan sama Nanta kalau tidak salah." sontak jawaban Papa Dwi membuat Nona kecewa. Kenapa jalan sama Nanta, tidak ajak-ajak sih, keluhnya. Ups wake up Non, memangnya situ siapa???


"Oh ya sudah kalau begitu. Bukan rejeki Kenan, nanti mama habiskan saja." kata Mama Nina santai.


"Nanti saja Ma, kalau Kenan mau kan Nona bisa masak untuk Kenan, iya kan Non?"


"Iya Om." jawab Nona tersenyum tipis.


Nona agak kecewa pada Kenan, bukannya Mas Kenan mau jaga gue ya? ini malah tidak ada kabar sama sekali. Memang sih gue aman dan nyaman disini, tapi dia tidak pernah muncul, kesal sekali rasanya, batin Nona.


"Non, Om baru tahu dari Kenan kalau kamu itu anaknya Baron." kata Papa Dwi setelah mereka berdiam diri.


"Om kenal Papa juga?"


"Iya kenal, kami kan beberapa kali kerja sama. Bahkan Kenan itu saat masih magang, Baron yang ajari. Om titip Kenan pada Baron waktu itu, sekarang gantian Baron yang titip kamu pada Kenan." Papa Dwi terkekeh, Nona ikut tersenyum dibuatnya.


"Sekarang kamu ditempat yang aman, jangan lupa jika terjadi sesuatu hubungi Om atau Kenan, boleh juga hubungi Ray." kata Papa Dwi lagi.


"Iya Om." jawab Nona lagi, tetap kurang semangat karena tidak ada Kenan disekitarnya.


"Kamu hari minggu tidak jalan, Non?" tanya Mama Nina.


"Malas Tante, enak dirumah saja." jawab Nona.


"Kamu anak rumahan ya ternyata."


"Tidak juga sih Tante, kalau lagi mau jalan ya jalan, mau dirumah ya dirumah, tidak harus jalan terus kan ya?" kata Nona pada Mama Nina


"Iya, Tante juga begitu." jawab Mama Nina.


"Coba saja kamu ajak Tante ke Mal, Non. Pingsan kamu nanti." kekeh Papa Dwi menggoda istrinya.


"Ih Papa, itu kan dulu, sekarang sudah tua, sudah tidak sanggup."


"Hahha kenapa Tante, semua toko diborong ya?"


"Tidak juga, tapi tiap toko harus di pantau, ada barang baru apa tidak." jawab Mama Nina menepuk dahinya.


"Bisa dari buka Mal sampai tutup baru keluar itu sih Tante."


Hingga malam hari sosok Kenan tidak muncul juga, padahal Nona berharap menjelang sore atau malam hari Kenan mampir menanyakan kabar Nona. Apa ini tanggung jawabnya orang yang dititipi, malah menitipi aku sama orang tuanya, dianya malah senang-senang sendiri. Jangan-jangan dia lagi jalan sama cewek ya, terus sedang dikenalkan pada Nanta. Duh pikiran Nona sudah kemana-mana.


Memangnya kalau dia dekat sama cewek lain kenapa? kok jadi gue kesal sendiri ya, dengus Nona. Mau semprot Kenan via telepon mana mungkin, kalau Deni atau Samuel pasti sudah gue teror nih, Nona sibuk merutuki Kenan dalam hatinya. Hingga akhirnya Nona ketiduran hingga menjelang shubuh.


Pagi ini Nona berangkat kantor tanpa semangat, tanpa sarapan ia pamit Pada Mama Nina dan Papa Dwi.


"Sarapan dulu sayang." kata Mama Nina saat Nona menyalaminya.


"Nona buru-buru Tante, nanti saja sarapan di kantor." katanya mencoba tersenyum.


"Kamu ada masalah, Non? tidak bersemangat pagi ini apa lagi kurang enak badan?" tanya Papa Dwi khawatir.


"Tidak Om, mungkin karena masih Pagi. Nona sehat kok." kata Nona lagi.


Percuma rumahnya dekat, tapi tidak pernah muncul, dengus Nona dalam hati. Saat mengendarai mobilnya, Nona sengaja melewati rumah Kenan, Walaupun ada jalan lain yang lebih cepat menuju pintu gerbang perumahan. Tampak Kenan sedang menaiki mobilnya, rupanya Raymond sudah datang menjemputnya. Duh cakep sekali sih, ya Allah tolong ini jangan biarkan terus begini, Nona berdoa dalam hati. Berarti gue jatuh cinta ya? membayangkan Mas Kenan jalan sama cewek lain rasanya sedih sekali, Nona menangisi nasibnya, jatuh cinta pada Kenan, sementara Kenan sepertinya tidak ya. Malah acuh saja, tidak pernah menghubungi sama sekali. Terakhir Nona Chat saat memberi tahu akan pindah ke paviliun hanya bilang Oke, seharusnya Mas Kenan datang memastikan aku nyaman apa tidak.


Nona terpaksa menginjak rem mendadak setelah mendengar klakson berkali-kali dari belakang mobilnya. Segera Nona sadar dari lamunannya, hampir saja ia menabrak pos satpam. Kaca mobil Nona diketuk dari samping.


Deg!!!


"Mas Kenan." sapa Nona pucat saat membuka jendela mobilnya.


"Bahaya sekali kamu menyetir seperti ini. Kenapa? tidak enak badan?" tanya Kenan khawatir menyentuh dahi Nona dengan punggung tangan kanannya. Nona menggelengkan kepalanya, tapi shock juga melihat ujung Mobil sudah menyentuh trotoar pos satpam.


"Pindah, biar saya yang menyetir." perintah Kenan pada Nona. Nona menurutinya, ia pun pindah ke bangku penumpang sebelah pengemudi.


"Saya kan sudah bilang kalau ada apa-apa telepon, kalau tidak enak badan begini biar saya jemput atau kamu tidak usah kekantor sama sekali. Istirahat saja dirumah." Kenan mengoceh sambil memberi kabar pada Ray untuk mundur.


"Kamu langsung ke kantor saja Ray." perintahnya saat Ray melewati mereka. Ray mengacungkan jempolnya dan meninggalkan mereka berangkat lebih dulu ke kantor.


"Mau pulang apa tetap ke kantor?" tanya Kenan pada Nona sebelum memajukan kendaraannya.


"Ke kantor." jawab Nona dengan senyum terpaksa. Malu sekali kalau Kenan tahu kenapa Nona tidak konsen menyetir.


"Kuat? sudah sarapan belum?" tanya Kenan lagi. Nona menggelengkan kepalanya.


"Kita cari sarapan dulu baru ke kantor." katanya pada Nona, Kenan mulai melajukan kendaraannya dan tak lama membelokkannya ke ruko-ruko perumahan yang banyak menjual aneka macam sarapan. Setelah turun dari Mobil, Kenan menggandeng Nona hingga mereka memasuki sebuah toko sarapan dengan berbagai macam pilihan. Kenan memesankan dua Jus buah Naga dan juga aneka buah potong.


"Sarapan buah, biar fikiran lebih fresh." katanya pada Nona kemudian tersenyum dengan manisnya.


"Kamu teledor sekali ternyata, kata Chico dan Ray kemarin itu mobil kamu bensinnya kosong, sekarang kamu menyetir hampir menabrak pos satpam. Apa yang kamu fikirkan? kalau ada masalah cerita saja jangan dipendam sendiri." kata Kenan memandang Nona tajam.


"Tidak ada." jawab Nona resah.


Mas Kenan, masa gue mesti bilang kalau gue tuh mikirin elu sih, teriak Nona dalam hati. Biar saja Kenan juga tidak mendengar ini.


"Jangan-jangan kamu memikirkan saya?" bisik Kenan pada Nona kemudian tersenyum jahil. Langsung saja wajah Nona memerah, Kok dia tahu sih. Malu sekali rasanya, ini sepertinya sudah tidak bisa disembunyikan karena dari tadi Kenan terus saja memandang Nona.


"Saya sibuk, kemarin seharian urus teman Nanta masuk rumah sakit, mereka lagi main basket tiba-tiba temannya jatuh." Kenan menjelaskan tanpa diminta.