
"Siapa tadi yang menangis?" Nanta menarik Dania duduk dipangkuannya saat istrinya sudah berganti pakaian seperti permintaan Nanta. Baju yang awalnya untuk pergi terpaksa jadi baju tidur saja karena terlalu seksi menurut suaminya.
Dania tidak menjawab pertanyaan Nanta, ia hanya memonyongkan bibirnya kesal ingat tadi sore.
"Cantik." kata Nanta memandang istrinya, Dania tidak monyong lagi, ia malah tersenyum senang. Hal yang paling menyenangkan bagi Dania ketika dipuji oleh suaminya, kalau orang lain yang bilang Dania tidak akan ambil pusing.
"Tapi cengeng." lanjut Nanta lagi, membuat Dania memutarkan bola matanya, kemudian mulai meringis.
"Mas Nanta sih galak." sungut Dania.
"Galak bagaimana sih? aku ada alasannya kenapa begitu. Coba deh kamu berkaca, kelihatan tidak pakaian dalam kamu, mau kamu umbar gitu?" Nanta menunjuk dada Dania.
"Hehehe... tapi kan Mas Nanta bisa jelaskan, jangan langsung bilang ganti." Dania menirukan gaya Nanta tadi.
"Ce-ngeng." kata Nanta mencium pipi istrinya gemas. Dania memeluk Nanta dan merebahkan kepalanya dibahu suaminya.
"Aku tidak bisa digalaki, pasti langsung menangis, apalagi kalau aku tidak bisa melawan."
"Ish mau melawan lagi." Nanta terkekeh.
"Bukan, kalau tidak bisa melawan bawaannya langsung menangis saja." Dania menjelaskan.
"Jadi sebenarnya mau melawan ya, tapi tidak bisa?" tanya Nanta, Dania tertawa.
"Jangan putar-putar kalimatnya." kata Dania lagi tambah lentur saja badannya menempel pada Nanta.
"Baru bisa peluk begini enam minggu lagi."
"Kemungkinan tujuh minggu sayang." bisik Nanta sambil mengusap pelan rambut istrinya.
"Ah lebih lama lagi, tujuh minggu. Kangen." Dania terkekeh, Nanta pun ikut terkekeh.
"Belum berangkat sudah kangen." Nanta terbahak.
"Memang, kangen terus bawaannya. Hilang sebentar sudah kangen lagi. Bisa begitu ya." Dania tertawa, Nanta pun ikut tertawa.
"Terima kasih, sudah kangen aku terus." kata Nanta mencium bahu Dania.
"Mau begini terus sampai pagi?" tanya Nanta lagi.
"Iya." jawab Dania tidak mau beranjak dari posisi nyamannya saat ini. Apalagi wangi suaminya selalu membuatnya senang.
"Ingat ya, kamu tidak boleh pakai baju-baju seksi, apalagi kalau tidak ada aku. Kamu kenal aku pertama kali bagaimana, seperti itu saja penampilanmu. Jangan aneh-aneh."
"Ini yang pilihkan Kak Roma." Dania terkekeh.
"Padahal Bang Ray saja tidak suka Kak Roma pakai mini-mini." Nanta menggelengkan kepalanya.
"Mungkin pikir Kak Roma, Mas Nanta suka." Dania menyeringai jahil, mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah suaminya.
"Suka tapi dikamar saja." Nanta mengecup kening Dania, perlahan turun ke mata, hidung, pipi, bibir, kemudian tersenyum lagi menatap istrinya. Mata keduanya sudah mulai sayu, selain sudah malam ada sesuatu yang harus mereka selesaikan.
Nanta mulai beraksi, menciumi istrinya disetiap bagian, tangannya mulai menjelajah kesana kemari, Dania yang awalnya duduk menyamping mulai merubah posisi menghadap Nanta dengan rok sependek itu, ah sudahlah biarkan saja mereka saling melepas rindu setelah libur dua hari ini.
"Mamon, tidak ikut antar kah?" tanya Nanta pada Nona saat akan berangkat menuju titik kumpul di GBK.
"Antar sampai teras saja." Nona menepuk bahu Nanta.
"Sehat-sehat ya." katanya lagi pada Nanta.
"Iya, Nanti kalau ada sepatu edisi terbaru mau beli tidak?" Nanta menawarkan.
"Fotokan Nanta, aku mau kembaran sama Papamu, kamu kembaran juga dong sama Dania."
"Iya nanti kalau ada yang bagus." Nanta tersenyum mulai masuk ke Mobil dimana Kenan, Micko dan Dania sudah duduk didalamnya.
"Bicarakan apa sih?" tanya Kenan pada Nanta.
"Sepatu edisi terbaru." jawab Nanta.
"Bukannya sudah banyak yang kalian jual karena mubazir?" Kenan mengingatkan.
"Iya sih, tapi ini sudah sejak hamil Balen aku dan Mamon tidak beli sepatu loh, sekarang boleh lah satu. Mamon mau kembaran sama Papa." Nanta tertawa.
"Belikan sepatu gunung saja kalau sama Papamu." sahut Micko.
"Nanti aku foto deh kalau ada kesempatan ke Mal."
"Jangan boros-boros Boy, ingat siapa tahu begitu pulang sudah ada isi diperut Dania." Kenan mengingatkan.
"Iya." Nanta tersenyum, betul yang Papa bilang mesti pikirkan ke depan, belum lagi rencana mau beli rumah.
"Jika memang perlu dibeli, tapi kalau hanya untuk koleksi, sudahlah koleksi kamu dan Mamon sudah banyak sekali."
"Tuh kamu salah bahas dekat Papamu, bahas dekat Om, aman sudah mau berapa seri juga boleh." Micko tertawa.
"Iya Om, tapi betul juga. Aku harus pikirkan kedepan, mau beli rumah, biaya melahirkan istri, makan sehari-hari, jajan istri, mesti aku pikirkan."
"Kan sudah ada ATM Mas Nanta di aku." jawab Dania.
"Iya itu yang untuk kamu, ini post yang lain seperti Papa bilang kalau kamu hamil, kita harus kedokter dua minggu sekali."
"Makanya Papa bilang kamu jangan boros."
"Tidak boros sih." Nanta terkekeh.
"Tabungan Mas Nanta banyak kok Pa " Dania buka rahasia.
"Cukup untuk beli rumah?" tanya Micko.
"Rumah seperti Papa belum bisa." Nanta cengar-cengir.
"Gaya anak kita nih, masih kuliah gue tanya cukup beli rumah dia jawab begitu, berarti bisa dia beli rumah ya." Micko terkekeh menyolek Kenan.
"Kata Opa kalian tinggal dirumah Opa." Kenan mengingatkan.
"Iya paling sedikit renovasi karena sudah lama kosong, kan." kata Kenan lagi.
"Rubah model boleh tidak?" tanya Nanta.
"Wah jangan dong, itu banyak sejarahnya. Bukan untuk Opa saja tapi untuk kami boy." Micko ikut bersuara.
"Om Micko pernah tinggal disana?" tanya Nanta.
"Tidak, tapi dari kecil Om dan Oma Misha sering sekali kesana, sudah seperti rumah kedua." Micko bernostalgia.
"Lagipula waktu Papa kecelakaan kita pertama kali bicara dirumah itu, Boy." Kenan ikut saja bernostalgia.
"Ih Papa bahas yang sudah lewat." Kenan dan Micko terkekeh jadinya. Nanta senyum-senyum menaikkan alisnya pada Dania. Tangan mereka saling bergenggaman, tak lepas dari awal perjalanan.
"Tapi rumah Oma juga menyenangkan, hanya aku mau rubah bagian kamar saja. Sesuai keinginan Dania." kata Nanta memikirkan istrinya.
"Memang Dania mau model yang seperti apa?" tanya Micko pada putrinya.
"Seperti kamar Mas Nanta sekarang." jawab Dania tersenyum.
"Wah bisa tidak ya dengan layout seperti sekarang." Kenan jadi ikut berpikir.
"Bisa diatas Pa."
"Kalian tidur diatas, tidak dibawah saja?"
"Dibawah biar tetap jadi kamar Opa dan Oma kalau menginap." jawab Nanta, entah kapan Opa dan Oma akan kembali Ke Jakarta, tapi Nanta menunggu saat Opa dan Oma tinggal satu rumah dengan Nanta dan istrinya.
"Nanti kita pikirkan." jawab Kenan.
"Masih lama juga pindahnya." Micko terkekeh.
"Nan, sudah harus ganti panggilan deh, masa panggil Om terus, samakan saja dengan Dania." kata Micko membuat Nanta kaget, komplen juga akhirnya.
"Iya Pa." jawab Nanta cepat.
"Panggil Lulu apa?" tanya Kenan pada Micko.
"Samakan dengan Winner dan Lucky lah, kamu juga sayang, bisa kan panggil Tante Lulu jadi Mama Lulu?" tanya Micko pada anaknya.
"Bisa Pa." Dania tersenyum, langsung teringat dari semalam Dania dan Nanta belum berhasil menghubungi Maya. Semoga baik-baik saja.