
"Kamu mau sarapan apa Ja?" tanya Nina saat melihat Reza bersiap akan jogging keliling komplek. Sudah kebiasaan Reza seminggu dua kali, setiap hari rabu dan sabtu melakukan aktifitas olah raga sekitar empat puluh lima menit.
"Aku pagi ini bikinin jus murni aja ma. Kiki belum bangun ma?" tanya Reza karena tak melihat Kiki di dapur.
"Sudah tadi, tapi mama suruh masuk kamar lagi bersiap karena kuliah pagi kan hari ini.
"Ya sudah aku jalan dulu ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumusalaam.. hati-hati nak."
Nina langsung mengecek stok buah dikulkas, karena tak ada Kenan, kemarin Nina tak membeli buah. Hanya Kenan yang rutin setiap sarapan pagi minum jus buah tanpa embel embel. Yang lain sama seperti Reza, makan berat. Masih ada stok buah jeruk dan apel sisa Kenan kemarin. Cukuplah untuk dibikin tiga gelas. Untuk Reza, Kiki dan Nina. Karena Reza hanya ingin sarapan buah, Nina jadi malas memasak pagi ini.
"Mama bikin apa?" tanya Kiki yang tampak sudah rapi dengan celana jeans dan atasan babby doll ungu motif polkadot dengan bentuk bola yang tak seukuran.
"Mama bikin jus apel jeruk. Pagi ini kita sarapan buah aja ya. Cantik sekali kamu Ki, seperti melihat Ririn muda." Nina terpesona dengan tampilan Kiki pagi ini. Memorinya kembali ke masa muda. Ingat masa-masa kuliahnya bersama Ririn.
"Iya ma, aku jadi ingat papa, suka suruh sarapan buah biar ga ngantuk dikelas katanya."
"Yang benar ya Papa kamu sama Kenan itu, pagi hari sarapan buah, Kita nih yang masih makan berat harusnya berubah. Tapi gimana dong, nasi lebih menggoda hihi." Nina tertawa sendiri, Kiki jadi ikut tertawa dan menghampiri Nina yang baru selesai membersihkan buah.
"Kiki aja yang bikin ma." katanya mengambil alih buah yang ditangan Nina. Walaupun dirumah tak pernah memasak, tapi Kiki sering membuatkan jus untuk papanya.
"Pakai extrajuice aja ya Ki, jangan diblender."
"Iya ma. Semua ma buahnya?"
"Iya semua aja, habiskan untuk kita bertiga."
Kiki tersenyum dan memulai aktifitasnya dengan atribut lengkap, tas terslempang di bahunya.
"Tasnya ga bisa dilepas dulu dek, banyak duitnya ya, takut hilang." Kiki tersenyum mendengar celutukan Reza, tangannya masih sibuk memasukan buah kedalam extrajuice jadi tak sempat meletakkan tas di meja. Reza yang melihatpun inisiatif mengambil tas dari bahu Kiki dan meletakkannya diatas sofa berdekatan dengan buku dan alat tulis perlengkapan kuliah Kiki yang sudah Kiki letakkan terlebih dulu.
"Loh Ja, kok cepat joggingnya. Ga jadi?" tanya Nina heran melihat Reza yang baru sekitar lima belas menit sudah selesai jogging.
"Mendung ma, aku lihat awannya hitam, daripada kehujanan mending aku pulang."
Kiki sudah selesai menuangkan jus kedalam tiga gelas yang sudah disiapkan Nina. Diletakkannya jus dimeja makan. Tanpa disuruh Reza segera mengambil satu gelas dan duduk dimeja makan, mulai menikmati jus yang dibuat Kiki. Enak, bukan karena Kiki yang bikin, kalau mama yang bikin pun pasti rasanya sama. Pilihan buahnya yang bagus. Nina dan Kiki juga sudah menghabiskan segelas jus tak bersisa, dilanjut minum air hangat.
"Kamu berangkat jam berapa dek?"
"Sebentar lagi, pak Min belum sampai."
"Nanti aku sama mama yang jemput ya, sekalian antar kamu perawatan. Kamu bawa payung dek, mau hujan." Reza mengingatkan Kiki yang mengangguk dengan mata berbinar, senang hati mendengar Reza akan menemaninya perawatan.
"Payung ada dimobil, nanti aku bawa turun."
"Pak nanti sore jangan lupa ambil kebaya di Kemang ya."
"Siap." jawab pak Min yang hanya mengeluarkan suara jika diajak ngomong. Itu yang membuat pak Min bisa menahun kerja bersama Ryan. Tak banyak bicara, banyak bekerja, loyal juga gesit.
"Aku nikahnya dipercepat." Kiki seperti curhat dengan orang tuanya sendiri.
"Lebih cepat lebih baik kan, jadi ga banyak dosa berlama-lama berduaan." jawab pak Min. Iya juga sih pikir Kiki. Baru berapa hari bersama Reza aja udah ada aksi pegangan tangan, cium tangan dan cium bahu. Kiki kembali memukul kepalanya. Tapi sekali saja tak banyak-banyak seperti kemarin.
"Nanti undang anak istri pak min ya." kata Kiki kemudian.
"iya." suasana kembali hening, Kikipun mulai merekam video endorsnya. Kali ini Kiki merekam accessories, payung, pelembab, lipstik dan dompet yang dipakainya.
"Nanti ga usah dijemput Pak Min, aku dijemput Reza. Handphone standby ya pak. Nanti kalau butuh sesuatu aku kabari." Kata Kiki saat akan turun mobil karena mereka sudah sampai di kampus Kiki.
"Siap boss." jawab pak Min sambil tersenyum. Kiki berjalan riang menuju kampusnya. Ups Kiki lupa membawa turun payung padahal tadi sudah ada didepan mata. Gerimis mulai turun, Kiki pun berlari menuju kelasnya menghindari kebasahan air hujan.
Setiba dilobby sambil mengatur nafasnya yang sedikit tersengal Kiki mengelap tangan dan bajunya yang basah dengan tissue dikantong celananya. Bahan apa baju ini kok bagus ya air tak membuat bajunya basah, batinnya. Saat dilap langsung kering seketika. Sangat recomended pikir Kiki dan segera menuju kelas mencari kedua sahabatnya. Kalau mereka sudah datang Kiki berniat meminta divideokan karena akan membuat endors baju yang dipakainya. Terlebih pengalaman saat kehujanan membuat nilai atasan yang dipakainya semakin bertambah.
"Kikiiii." Hmm suara Intan nyaring terdengar. Kiki menoleh mencari asal suara. Akhirnya ia menemukan Intan dan Monik yang sedang melambaikan tangannya. Mereka sedang berdiri didepan pintu kelas.
"Kehujanan?" tanya Monik
"Kok tau?"
"Itu rambut lu ada air gumpal gumpal lucu deh, sebentar." cekrek monik memoto Kiki dengan fokus gumpalan air dikepalanya. Lalu menunjukkan pada Kiki dan Intan, mereka pun tertawa bersama. Kiki segera mengambil tissue dan mengelap rambutnya. Dasar monik foto itu diuploadnya di medsos dan di tag ke medsos Reza tanpa sepengetahuan Kiki.
"Jadi jumat jam berapa?" tanya Monik yang sudah mendengar cerita Kiki semalam via telepon bersama mereka bertiga.
"Belum tahu, nanti gue kabarin. Semua diatur nyokap."
"Baru ini pengantin nyantai ya, yang sibuk nyokap." kata Intan tertawa.
"Pasrah gue, semua ngikutin rencana mereka. Proaktif banget deh."
"Bersyukurlah, banyak yang jungkir balik pas mau nikah, lu malah enak aja ga ngapa-ngapain." Monik mengingatkan
"Iya Alhamdulillah banget. Videoin gue dong ini baju endors enak banget, kena air ga basah."
"Wah keren, gue mau dong." kata Intan sambil mengeluarkan handphonenya siap membuat video untuk Kiki.
"Nanti gantian, gue videoin." kata Kiki setulus hati.
"Ga usaaah, monik aja yang videoin." jawab Intan cepat menolak niat baik Kiki sambil tertawa, mengingat hasil video Kiki terkadang suka tak bagus hasilnya. Kiki memajukan bibirnya beberapa centi, kemudian mulai bergaya didepan kamera handphone Intan. Tak perduli beberapa mata memperhatikan aktifitas mereka yang sudah memilih tempat dipojok kelas.