I Love You Too

I Love You Too
Cinta



Esok harinya Nanta bersiap menuju ke club, hari ini ia libur jadi tidak ke kampus. Nanta juga sudah menyiapkan list kebutuhan yang akan dibawa ke Amerika nanti, tentu saja setelah saling koordinasi dengan teman-teman satu tim di groupchat basketnya.


Siang ini Nanta sudah menghubungi Pak Jaya pembina basket, minta waktu sebentar untuk membahas rencana pernikahannya.


"Kamu benar mau menikah?" tanya Pak Jaya ketika Nanta sudah berada diruangannya. Nanta menganggukkan kepalanya pasti.


"Tidak pernah lihat jalan sama cewek, langsung menikah saja. Hamilin anak orang, ya?" sembarangan sekali Pak Jaya bicara, bikin Nanta terbahak.


"Memangnya aku ada tampang seperti itu." Nanta memonyongkan bibir.


"Mana bisa dilihat dari tampang kalau begitu." Kekeh Pak Jaya.


"Boleh tidak Pak?" tanya Nanta pada Pak Jaya.


"Boleh saja, yang mau menikah kan kamu. Kalau saya itu tidak boleh, bisa ngamuk istri saya." Kembali Pak Jaya terbahak. Senang sekali bercandai Nanta.


"Kapan kamu menikahnya?" tanya Pak Jaya kemudian.


"Sebelum ke Amerika." jawab Nanta membuat Pak Jaya membelalakkan matanya.


"Mendadak sekali, benar tidak hamil duluan kan?" Pak Jaya memastikan.


"Tidak dong." jawab Nanta bangga.


"Ya sudah jangan lupa undang kita nih Tim Basket." pesan Pak Jaya pada Nanta


"Masalahnya itu, kami cuma akad nikah jadi hanya keluarga saja." jawab Nanta apa adanya. Pak Jaya memicingkan matanya.


"Betul, memang keinginan keluarga begitu, bukan karena hamil duluan. Bapak tanya Papa saya deh kalau tidak percaya." Nanta berusaha meyakinkan karena Pak Jaya tampak curiga, kebetulan Papa sudah pernah berkenalan dengan Pak Jaya.


"Iya-iya, kalau hamil duluan juga nanti ketahuan." kata Pak Jaya menyeringai.


Nanta boleh menarik nafas lega karena langkah pertama berjalan lancar, tinggal menghubungi Papa agar memberitahukan pada Om Micko.


"Papa dikantor atau tidak?" tanya Nanta pada Papanya.


"Dikantor, Boy. Kamu mau kesini?" tanya Kenan pada putranya.


"Tidak, sampaikan saja pada Om Micko dan keluarga besar kita, kalau dari club Basket tidak masalah jika aku menikah dalam waktu dekat." kata Nanta pada Papa, ia ingin langsung pulang saja, rasanya ingin mulai menyortir barang-barang yang akan dibawa, biar tidak terburu-buru.


"Oh siap-siap saja kamu diminta menemui Om Micko." Kenan tertawa sudah bisa menebak karakter Micko yang kadang tidak puas jika hanya berbicara via telepon.


"Hahaha jangan hari ini, Pa. Aku mau mulai shortir barang yang akan aku bawa, nanti, jadi tinggal beli kekurangannya." kata Nanta pada Papa.


"Ya sudah Papa sampaikan, selanjutnya nanti Papa kabari." kata Kenan ikut tertawa.


"Iya, Pa. Aku langsung pulang saja manfaatkan waktu yang ada, kalau sudah tahu apa yang harus dibeli lebih enak, karena aku weekend depan sudah ke Malang." kata Nanta pada Papa.


"Iya, Hati-hati, Boy. Kalau tidak sempat biarkan Mamon dan Papa nanti yang belanja, kamu bisa mengurus yang lain." kata Kenan pada anak sulungnya ini.


"Iya Pa." Nanta menutup sambungan. teleponnya. Ia tiba dirumah menjelang ashar, lumayan ada waktu dua jam bisa digunakan untuk meletakkan barang yang ada di dalam koper, biarkan dulu masuk secara asal, nanti kalau sudah lengkap baru disusun rapi.


Padahal berangkat masih bulan depan, tapi Nanta tidak mau ada yang tertinggal, selama masih bisa dibawa dari sini bawa saja, karena Nanta belum tahu, saat di Amerika nanti apa ada waktu luang untuk berbelanja. Kalaupun ada waktu luang pasti harus pelajari rute disana dulu, karena jujur, ini perdana Nanta ikut Pelatihan di luar negeri, biasanya hanya jalan-jalan saja itu pun tidak lama.


Nanta membaca lagi lembaran tahapan pembinaan atlet yang tadi diterimanya dari Pak Jaya, rupanya sebelum training camp di Amerika, mereka juga akan training camp di Indonesia dulu selama dua minggu di arena GBK. Mepet sekali jika harus menikah sebelum ke Amerika.


"Papa, ternyata aku tuh sebelum TC ke Amerika, TC dulu di Indonesia selama dua minggu, sepertinya tidak memungkinkan aku menikah sebelum TC." kata Nanta pada Papa saat makan malam.


"Oh ya, jadi kamu setelah TC di Indonesia langsung ke Amerika, Boy?" tanya Kenan sedikit berpikir.


"Iya, jangan rindu ya." Kekeh Nanta pada Kenan dan Nona.


"Pasti rindu lah, duh sepi deh kita." keluh Nona memandang Kenan.


"Hmmm... apa boleh dikunjungi, nanti malah mengganggu konsentrasi kamu."


"Intip-intip kurasa boleh." kata Kenan pada istrinya.


"Kan sudah kubilang, menikah saja setelah lulus." Nona tertawa.


"Kamu ini, sepertinya berat sekali melepas Nanta menikah." Kenan terkekeh menggelengkan kepalanya. Nona langsung terkikik mendengar komentar suaminya.


"Aku belum kasih tahu Dania, jangan kasih tahu Om Micko dulu, Pa." kata Nanta pada Kenan.


"Micko ajak kamu makan siang tuh besok." kata Kenan baru ingat pesan Micko tadi.


"Sama Papa juga ya?" tanya Nanta.


"Iya, kamu juga ikut sayang karena Lulu juga ikut." kata Kenan pada Nona.


"Ish ini seperti rapat internal menjelang pernikahan, bukan sih?" Nona langsung saja merengut.


"Sepertinya begitu Mamon." Nanta terkekeh, ia tahu Nona berat hati, Nanta menikah dalam waktu dekat.


"Aku langsung dari kampus ya besok, Mamon sama Pak Atang saja ya." kata Nanta pada Nona.


"Iya nanti biar Pak Atang yang jemput." kata Kenan pada Nanta, dipandangnya saja Nanta, seperti mimpi tahu-tahu sudah mau menikah.


"Papa lihat aku sampai begitu." kata Nanta yang sadar sedang di pandangi Nanta.


"Sebenarnya Papa kamu juga sama seperti Mamon tuh, hanya karena Opa dan Oma saja dia jadi tidak bisa bertindak. Iya kan hayo mengaku." tembak Nona pada suaminya.


"Aih, kalau saya kan tergantung Nanta saja." kata Kenan terkekeh.


"Iya sih, kamunya juga mau sih Nanta, ya kita bisa apa." kata Nona kemudian.


"Hehehe Mamon, aku kan menyempurnakan separuh ibadahku dengan menikah." Nanta terkekeh.


"Iya-iya, selain itu kamunya juga sudah jatuh cinta sama Dania kan, makanya mau. Kalau tidak mau pasti seperti sama Wilma ada saja cara kamu mengelak." kata Nona mencibir.


"Sama Wilma memang aku belum tergerak hati untuk menikah sih, kalau sama Dania juga baru terpikir setelah kita pulang dari Malang." Nanta menjelaskan.


"Karena cinta kan?" tembak Nona.


"Tidak tahu." Nanta mengedikkan bahunya.


"Masa tidak tahu cinta apa tidak." Nona menyeringai.


"Ish aku kan belum pernah jatuh cinta, mana aku tahu ini cinta apa bukan." jujur Nanta pada Nona.


"Jadi apa yang kamu rasa sekarang terhadap Dania?"


"Ya aku senang saja kalau lihat Dania senang." jawab Nanta tersenyum.


"Itu namanya cinta Nanta." teriak Nona sambil terbahak.


"Mamon bicik." teriak Balen yang duduk disebelah Nanta, ia dari tadi mendengarkan saja pembahasan orang dewasa.


"Iya-iya Bu Balen, maap." kata Nona menggoda Balen.


"Mamon bobo dih, temenin Ichi." katanya lagi merasa diatas angin dipanggil Ibu.


Nanta terkekeh dan menciumi adiknya gemas sekali.


"Sok tua." katanya kembali mencium Balen. Balen tergelak senang, entah kenapa kalau Abang menciumnya ia selalu saja tertawa, tidak sesenang dicium Mamon atau Paponnya.