I Love You Too

I Love You Too
Ga bakalan



🎸🎷🎺🎹


putih cantik berseri🎶


bersinar sepanjang hari🎶


oo sungguh bahagia hati ini🎶


kuterlihat indah dipandang🎶


wajah yang cantik rupawan🎶🎼🎵


kan selalu ada dihatimu🎶🎼🎵


tak akan pernah terganti🎼🎶🎵


kau akan selalu mencintai🎶


sampai akhir nanti🎶


🎸🎷🎺🎹


"Gimana friend ? menurut gue sudah Ok , gue sih suka, simple." kata Mario, setelah beberapa kali mereka merevisi beberapa lyric dan nada musik yang mereka mainkan.


"Nadanya gini aja cukup ya." tanya Reza sambil memainkan gitarnya.


"Iya cukup, cocok nih sama suara Kiki." sahut Andi lalu kembali memainkan saxophonenya


"Ya udah yuk samain nada lagi nih, tadi masih agak lari." ajak Erwin semangat. Walaupun tak berminat menjadi artis tapi mereka selalu serius dalam setiap pekerjaan, apalagi musik adalah hobby mereka. Dikantor, mereka juga menyediakan ruangan tersendiri untuk dijadikan studio dengan peralatan lengkap, untuk berlatih ataupun melakukan perkerjaan seperti sekarang.


Empat pengusaha kuliner itu kembali memainkan alat musik menyatukan suara agar seirama.


"Kapan Kiki test vocal nih Ja?" tanya Andi pada Reza.


"Tadi gue ga ajak, gue ga nyangka kita selesai cepat, samain musik dulu aja ya, kalau sudah kompak baru Kiki masuk." Jawab Reza dengan gitar di tangannya.


"Ok, Yuk mulai lagi, sementara mario dulu isi vocal." kata Andi.


"Yess, Gue rekam ya, nanti kirim ke Wisnu dan kirim juga ke Kiki, biar berlatih sendiri sementara." Kata Reza. Mereka kembali bermain dengan vocal diisi Mario. Terus diulang sampai terdengar enak ditelinga mereka.


"Ok cukup deh hari ini, gue udah capek." Erwin mengelap keringatnya dengan handuk , bajunya sudah basah, seperti habis olah raga saja.


"Iya, sudah bagus kok," kata Andi yang tak kalah basah dengan keringat.


"Yuuk balik, besok pagi jam 9, kita mampir kecabang selatan dulu Ja, crosscheck laporan pihak ketiga." Andi mengingatkan sambil membersihkan alat musiknya.


"Ok. Ga jadi sampai malam hari ini?" tanya Reza melihat kepergelangan tangan kanannya, baru jam lima sore.


"Sudah beres kan, ga ada lagi yang mau dibahas." kata Mario yang sudah berganti pakaian. Melihat Mario sudah rapi tanpa keringat Reza pun segera bergegas ke ruang ganti, meninggalkan Erwin dan Andi yang masih beberes.


Sepuluh menit kemudian, "Sudah pada mandi ya? tanya Andi saat melihat Mario dan Reza sudah berganti pakaian. Terlihat fresh.


"Sudah lah, lu kelamaan beberesnya." Jawab Mario


"Wiiin, yuuk mandi." ajak Andi pada erwin yang masih duduk santai.


"Gue ga mandi ah, ntar aja dirumah."


"Jorok lu, pantas aja Sheila pilih Kenan." gerutu Andi. Seketika Erwin langsung melempar handuk bekas keringatnya kebadan Andi.


"keringat gue tuh menghasilkan uang tau ga, Sheila aja ga sadar." jawab Erwin sambil menangkap handuk yang dilempar Andi balik kearahnya.


Mario dan Reza cengengesan melihat kedua sahabatnya.


"Bang, aku lupa jemput Kiki nih. Tadi jam empat pas aku jemput Sheila, aku langsung jalan. Sekarang aku di rumah. Tolong tanya Kiki pulang jam berapa. Nanti aku jemput, aku chat blm dibalas sampai sekarang. Duh mama bisa marah nih sama aku."


"Iya nanti aku yang jemput. Ga usah bilang mama."


Reza membalas pesan Kenan dan segera mengambil kunci mobil dilaci mejanya.


"Gue duluan ya, mau jemput Kiki." Katanya pada Mario dan Erwin, lalu segera bergegas tanpa menunggu jawaban sahabatnya.


"Buciiiin..." teriak Erwin melihat Reza terburu buru. Sudah pasti Reza tak meladeni karena mengejar waktu mengingat setengah jam lagi Kiki keluar kelas. Butuh waktu 30 menit menuju kampus dari Warung Elite, itu kalau tidak macet. Ah kenan, untung kerjaan selesai jauh lebih cepat, batin Reza.


"Ntar juga ngerasain lu." celutuk Mario


"Ah ke Sheila aja gue ga gitu." Erwin membela diri.


"Memang Sheila siapanya situ pak?" sahut Andi yang baru selesai mandi. Sudah harum dan berganti pakaian.


"Rese.." Erwin cengengesan mengikuti gaya Reza saat diledek sahabatnya.


"Ya udah yuk balik." Ajak Mario yang sedari tadi menunggu. Segera kedua sahabatnya mengambil tas lalu mereka bertiga menuju parkiran. Sebelumnya memberikan pesan pada pegawainya apa saja yang harus dilakukan malam ini sampai Warung tutup jam sepuluh.


"Win, adiknya wisnu kemarin cantik juga tuh, dekatin dia aja." Mario memberi Ide saat menuju parkiran.


"Kenapa bukan lu aja? tanya Erwin


"Hmmm gue sih bakalan kaya Reza, mau pacaran sama siapa ujungnya juga dijodohin." Mario tersenyum miris.


"Ya beda, bokap lu mikirnya bisnis, kalau Reza korban perjanjian persahabatan." kata Erwin


"Reza ga korban sih, malah happy. Semoga lu juga gitu Yo." Andi menenangkan dan mendoakan Mario.


"Semoga ya friend, terakhir balik ke s'pore sih ribut gue sama bokap, karena gue nolak." Mario tertawa kecil


"Memang lu sudah ketemu calon dari bokap lu?" tanya Andi, Mario menggeleng.


"Kenapa ga lu cari tau friend, siapa tau lu bucin kaya temen lu tuh." Erwin sok menasehati, hmm padahal erwin yang sangat berharap dijodohin, malah dilepas bebas memilih oleh orangtuanya.


"Gue yakin lu bakal lebih bucin kalau sudah ketemu yang pas." Kata Mario


"Ga bakalan."


"Kita sama sama lihat Yo, gue juga yakin." Kata Andi. Erwin mencibirkan bibirnya lalu mereka pun berpencar menuju mobil, berpisah dengan saling menyalakan klakson pelan.


Sementara dikampus saat diparkiran Kiki celingak celinguk mencari Kenan, Handphone lowbat lupa bawa charger. Kiki menarik nafas lega melihat mobil Reza parkir ditempat biasa. Hmm Kenan pakai mobil bang Eja nih, batinnya. Langsung saja Kiki membuka pintu belakang dan langsung duduk, karena pasti Sheila yang duduk disamping pengemudi, didepan.


"Dikira aku supir ya, duduk dibelakang." terdengar suara berat yang lumayan dirindukannya.


"Loh kak Eja, aku kira Kenan." Seketika Kiki langsung tertawa dan segera pindah ke bangku depan.


"Mobil aku sama Kenan kan beda, kamu ga lihat aku dari tadi? Ga perhatian, aku telepon dari tadi ga bisa." Reza sedikit kesal judesnya mulai keluar.


"Handphone aku lowbat kak, ga bawa charger ternyata, terus diotak aku kak Eja pulang malam. Tadi bilangnya kan gitu, jadi aku pikir Kenan pakai mobil kak Eja." Kiki menjelaskan dengan sedetail mungkin, berharap Reza tak lagi jutek.


"Kirain kamu lupa sama aku, ga ada kabarnya. Jadi nonton tadi? Siapa saja yang nonton?" tanya Reza yang mulai lumer.


"Jadi, berempat aja, Selesai Nonton kekampus lagi, ga pakai makan. Sekarang aku lapar." Kiki meringis memegang perutnya.


"Terus nanti nginap dirumah Kak Eja ga bawa baju ganti, ga bawa charger. Besok ke kampus gimana? Mama dadakan gitu idenya." Keluh Kiki


"Mau makan dimana? Charger nanti dirumah banyak. Baju ganti sudah diantar pak Min tadi kerumah, sekoper loh kata Kenan, kaya orang pindah."


Beneran Kak?" Kiki tak percaya


"Aku belum lihat, baru dengar laporan Kenan pas telepon." Reza tertawa membayangkan. Hmmm apalagi nih ide mama. Kiki menghela nafas mempersiapkan mental.