I Love You Too

I Love You Too
Setir sendiri



"Loh, kamu ada disini, Boy?" Kenan tampak terkejut melihat Nanta sedang asik bermain PS bersama Raymond.


"Aku menginap disini sampai Papa menikah." jawabnya tersenyum lalu berdiri menghampiri Kenan dan segera menyalaminya.


"Papa baru mau hubungi kamu besok, tadi sama siapa kesini?" tanya Kenan senang sekali melihat Nanta.


"Diantar Mama dan Om Bagus." Kata Nanta masih dengan senyum mengembang.


"Cepat sekali tahu kalau Papa mau menikah, kamu punya informan rupanya." kekeh Kenan sambil mendorong bahu Raymond saat melewatinya.


"Dari pada Om bingung bagaimana menjelaskannya pada Nanta, jadi aku permudah." jawab Raymond terkekeh.


"Papa mandi dulu, kalian mau main sampai jam berapa? Nanta besok sekolah dan kamu juga kerja Ray." Kenan mengingatkan keduanya karena besok bukan weekend.


"Jam dua belas ya Pa." Nanta minta persetujuan Kenan.


"Terserah saja, yang penting besok tidak kesiangan." jawab Kenan segera masuk kekamarnya.


Nanta dan Raymond kembali bermain, tak lama handphone Raymond berdering, Roma menghubunginya.


"Ya sayang."


"Jangan begadang!"


"Iya, sampai jam dua belas saja."


Roma mematikan sambungan teleponnya tanpa berkata apapun.


"Pulang sana, Bang. Kak Roma nanti marah." kata Nanta pada Raymond.


Mereka memutuskan menghentikan permainan walaupun masih jam sebelas malam. Kenan muncul dari kamarnya setelah mandi dan berganti pakaian rumahan.


"Aku pulang Om." pamit Raymond pada Kenan.


"Belum jam dua belas." Kenan melihat pada jam dinding.


"Kak Roma menunggu." kata Nanta pada Papanya. Kenan menganggukkan kepala sambil tersenyum jahil pada Raymond.


"Om juga nanti begitu." kekeh Raymond tak kalah jahilnya.


"Om sih tidak usah disuruh pulang, pasti jam segini sudah di dekat istri." kata Kenan tak mau kalah.


"Pengalaman tidak membuktikan."


"Eh itu masa lalu, lihat saja nanti."


"Kamu catat, Nan." kata Raymond pada adiknya.


"Iya." jawab Nanta menurut sekali pada Raymond.


"Bang Ray sudah tidak bikin komik ya?" tiba-tiba saja Nanta mengingatkan hobby dan pekerjaan lama Raymond.


"Istirahat dulu, kalau mulai bisa begadang terus, Roma dan Papamu bisa ngamuk." jawab Raymond terkekeh.


"Begitu ya kalau punya istri, hobby bisa ditinggal, aku juga kalau Istriku nanti tidak suka basket berarti tidak main basket." kata Nanta jadi memikirkan yang tidak-tidak.


"Sekolah dulu yang benar." kata Raymond sambil mentertawakan Nanta. Kenan mengacak anak rambut bujangnya ikut tertawa mendengarnya.


"Pa, nanti kalau Papa sudah menikah dengan Kak Nona, aku panggil Kak Nona apa?" tanya Nanta bingung karena Nona tidak mau dipanggil Tante. Raymond dan Kenan lagi-lagi tertawa.


"Yang membuat kamu nyaman saja." jawab Kenan merangkul Nanta dengan senyum masih melengkung dibibirnya.


"Tidak usah bingung dek, Kak Nona itu nanti sudah jadi Nyonya saja pasti tetap dipanggil Nona." kekeh Raymond sambil menutup pagar rumah Kenan dan masih tertawa saja sambil berjalan kerumahnya. Kenan ikut tertawa. Ia dan Nanta masuk setelah Raymond menghilang dari pandangan.


"Apa Papa bahagia?" tanya Nanta begitu masuk kedalam rumah sambil menunggu Kenan mengunci pintunya.


"Hu uh."


"Syukurlah, aku juga bahagia mendengar Papa segera menikah dengan Kak Nona."


"Kenapa begitu?"


"Entah, aku khawatir saja wanita itu masih berkeliaran di sekitar Papa dan Papa menikah dengan dia. Jika itu terjadi, pasti aku tidak akan pernah bertemu Papa lagi sampai kapan pun. Yang membuat aku lega ternyata mimpi buruk itu tidak terjadi." Kenan tertegun mendengar ucapan Nanta.


"Maafkan Papa pernah membuat kamu dan Mamamu tidak nyaman, Maafkan juga sudah merusak kebahagiaan kita dulu." Kenan memeluk Nanta sambil menepuk bahunya.


"Sudah lewat, yang penting sekarang kita sudah pada happy." jawab Nanta tersenyum, walau masih ada luka pada sorot matanya.


"Papa sudah memblokir nomor Sheila dan tadi saat menemani Pak Atang makan, tidak sengaja bertemu lagi, tapi Papa sudah bilang pada Sheila kalau Papa akan menikah jumat. Kamu tidak perlu khawatir soal Sheila."


"Bukan usir, hanya tidak mengijinkan untuk bergabung dimeja Papa. Papa ceritakan ini supaya kedepannya kita tidak ada salah paham."


"Iya."


"Ayo tidur, sudah malam. Kamu tidur di kamar Papa?"


"Tidak."


"Besok kalau sudah ada Nona, sudah tidak bisa tidur dengan Papa loh."


"Tiga malam ini masih bisa, ya sudah aku tidur sama Papa." Nanta berjalan lebih dulu ke kamar Papanya, mengikuti keinginan Kenan, meski sebenarnya Nanta lebih senang tidur dikamarnya sendiri.


Sudah tidur?


Kenan mengirimkan pesan pada Nona.


Belum, masih ngobrol sama Deni dan Samuel.


Besok dijemput supir jam berapa?


Tidak usah jemput, mengandalkan Deni atau Samuel saja berapa hari ini.


Ok.


Kenan langsung mengirim pesan pada Pak Atang kalau besok tugasnya mengantar dan menjemput Nanta ke sekolah. Lalu meletakkan handphone di nakas.


"Kamu besok pulang dan pergi sekolah sama Pak Atang, ya." katanya pada Nanta yang sudah berbaring disebelahnya.


"Hu uh." mata Nanta sepertinya sudah mulai lima watt. Kenan tersenyum memandangi Nanta yang sudah memejamkan mata, dengan gaya tidur sambil bersedekap, betapa Kenan bersyukur dengan keadaan saat ini, meskipun harus melewati proses yang cukup sulit bagi mereka bertiga.


"Pa, aku mau setir sendiri kalau boleh." kata Nanta kembali membuka matanya.


"Kamu belum punya SIM." tegas Kenan.


"Aku sudah sering bawa mobil temanku padahal. Mereka juga tidak punya SIM tapi diijinkan sama Ayah Bundanya."


"Besok kamu yang setir, tapi Pak Atang tetap mendampingi." Nanta mengerucutkan mulutnya.


"Aku sudah lancar setir mobilnya. Tidak perlu didampingi." mencoba bernegosiasi.


"Jangan dulu ya, Boy. Papa tidak mau melanggar aturan, ingat kamu calon atlet loh. Masa masuk headline berita nasional bukan karena prestasi tapi mengendarai Mobil tanpa SIM." disebut calon atlet sudah pasti tidak akan mendesak.


"Ah Papa lebay, Nanta tidur dulu. Good Nite Papa."


"Good Nite Boy."


Sepertinya butuh Mobil baru untuk Nanta saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun beberapa bulan kedepan, pikir Kenan sambil tersenyum. Malam ini Kenan tidur dengan senyum diwajahnya. Bahagia akan segera menikah beberapa hari ke depan, meskipun ia sempat berpikir tidak akan menikah dalam waktu dekat ini, tapi kenyataannya berbeda.


Selalu saja ada hikmah, kecelakaan yang dialaminya beberapa bulan lalu, ternyata membuat hubungannya dengan Nanta membaik, Satu kamar dengan gadis cantik yang cerewet, berisik dan pemarah yang ternyata empat hari kedepan akan menjadi istrinya. Siapa sangka juga ternyata Bang Baron pun akan menjadi mertuanya. Kenan bersyukur untuk semua keadaan.


Pagi hari menjelang shubuh Kenan sudah mandi dan bersiap untuk sholat shubuh di mesjid. Sebentar lagi Bang Eja dan Raymond akan datang menjemputnya. Ia segera membangunkan Nanta agar bersiap juga. Biasanya Nanta selalu ikut. Tidak susah membangunkan putranya, ia langsung bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi.


Bi Wasti sudah menyiapkan air putih hangat dan air lemon untuk Kenan.


"Siapkan sarapan untuk Nanta, Bi. Bikinkan jus dulu nanti setelah sholat shubuh." pesan Kenan pada Bi Wasti saat akan berangkat ke mesjid.


"Aku sarapan Buah saja, Bi. Tapi siapkan bekal makan siang untuk disekolah ya Bi. Hari ini aku pulang agak sore." kata Nanta pada Bi Wasti.


"Acara apa sampai sore?" tanya Kenan.


"Ada pertemuan dengan club basket pulang sekolah. Tidak sempat ke kantin, jadi makan di Mobil saja nanti."


"Pengumuman yang Kevin bilang?"


"Belum tahu juga."


"Gaya betul, pulang sekolah pertemuan dengan club Basket. Seperti orang sibuk saja." sahut Raymond yang sudah menunggu di depan pagar bersama Reza.


"Abang baru tahu kalau adiknya sibuk?" kekeh Nanta menyombongkan diri, tak lupa menyalami Ayah Eja.


"Yang aku tahu adikku cengeng dan suka ngambek." kata Raymond sambil merangkul Nanta.


"Enak saja, itu dulu waktu aku kecil."


Perjalanan menuju mesjid Kenan dan Reza hanya bisa tersenyum menyimak candaan Raymond dan Nanta. Lagi-lagi Kenan bersyukur Allah memberi kesempatan untuk Kenan kembali bahagia bersama keluarganya.