I Love You Too

I Love You Too
Modus



"Kak Eja kenapa ketawa sendiri?" tanya Kiki yang baru saja selesai perawatan pada wajahnya.


"Si Erwin lucu." Jawab Reza masih tertawa.


"Mama mana dek?" tanyanya heran melihat Kiki muncul sendiri.


"Mama perawatan komplit, aku tadi cuma muka sama rambut aja." jawab Kiki.


"Kamu kenapa ga komplit juga?" tanya Reza sambil mencubit pipi Kiki gemas.


"Sakit kak." Kiki meringis mengusap pipinya.


"Mau disun biar cepat sembuh?"


"Modus.. !!!" Enji berdiri didepan pintu ruang tunggu, masih menggunakan masker dan kacamata hitamnya. Kiki mengernyitkan dahinya heran, merasa tak kenal dengan wanita yang baru saja berteriak modus. Reza tersenyum lebar.


"Cepat sekali, kenapa kesini lagi? tanya Reza pada Enji. Aih lagi? berarti tadi dia berdua sama Kak Eja, batin Kiki.


"Supirku ga bisa dihubungi, kesal sekali." Enji bersungut.


"Minta jemput Erwin aja." Reza memberi ide.


"Hmmm..." Enji tampak berfikir, sedikit ragu karena baru kemarin mengenal Erwin.


"Kenalkan calon istriku, ini calonnya Erwin dek."


"Oh, Kiki." Kiki mengulurkan tangannya tersenyum ramah.


"Aku Enji. Kamu Masih kecil sudah mau menikah. Hei mas Aku ga nyangka kamu suka abg." Kata Enji sembarangan. Padahal ia baru mengenal Reza, tapi bicara seperti pada orang yang sudah dikenal lama. Reza segera merangkul Kiki, tak ingin Kiki berfikir berlebihan karena ucapan Enji.


"Kami cuma beda empat tahun, Kurasa ga terlalu terpaut jauh. Ideal lah." kata Reza percaya diri, masih merangkul Kiki yang tersenyum memandang Enji. Kiki tak tersinggung dengan ucapan Enji. Ia tau Enji hanya bercanda.


"Ah, supirku asam lambungnya kumat, sekarang lagi muntah-muntah dibasement." keluh Enji setelah membaca pesan dihandphonenya.


"Aku hubungi Erwin ya, siapa tau kamu butuh bantuan." Reza menawarkan.


"Iya boleh tolong ya, kalau kulaporkan mama, nanti supirku diganti. Aku kebasement dulu." Enji segera bergegas menuju basement untuk melihat kondisi supirnya.


Reza segera menghubungi Erwin, memberitahukan bahwa Enji butuh bantuan. Awalnya Erwin tak percaya, tapi Reza berhasil meyakinkan Erwin. Dengan senang hati Erwin segera menyusul ke House of Kemang. Kebetulan tadi, ia dan Ranti sedang dicabang selatan yang jaraknya tak jauh . Ia ke cabang selatan untuk melihat apa saja yang harus dirombak dan memastikan Ranti supaya tak lemot lagi. Setelah berpamitan dengan Ranti, Erwin langsung menuju House of Charming dengan hati riang.


"Mana Enji?" tanya Erwin pada Reza. Cepat sekali tak sampai sepuluh menit sudah muncul.


"Masih dibasement, telepon dong."


"Ga aktif."


"Coba kirim pesan, tadi supirnya kirim pesan dari basement atau susul kebawah." Reza memberi saran. Erwin menuruti saran Reza langsung menuju basement, meski tak tau, Enji, Angela atau Angelina menggunakan mobil apa.


"Cantik juga calonnya Kak Erwin." kata Kiki setelah Erwin menghilang.


"Tau dari mana cantik, mukanya kan ga kelihatan." Protes Reza karena Enji menutupi wajahnya dengan masker dan kacamata hitam. Kiki tertawa mengingat ia memang belum melihat wajah Enji.


"Kalau ga cantik, Kak Erwin ga mungkin sesigap itu." gantian Reza yang tertawa. Memang cantik kalau dilihat dari cctv kemarin. Tapi Reza tak mau bilang kalau ia dan sahabatnya memantau keluarga pak Burhan melalui cctv saat di warung kemarin.


"Kalau aku kemarin itu sigap ga deketin kamu? Tanya Reza ingin tahu pendapat Kiki.


"Ga, kamu sibuk sama Sheila." Kata Kiki sambil menggelengkan kepalanya. Matanya menerawang mengingat kedekatan Reza dengan Sheila.


"Ih.. kok gitu."


"Memang begitu kan?"


"Bukan begitu, aku kan selalu ajak kamu pulang dan pergi bersama."


"Iya tapi selalu ada Sheila disamping Kak Eja. Jadi aku ga mau mengganggu hubungan kalian."


"Kamu sih ga peka, kalau Sheila pacar aku masa saat antar kamu pulang sehabis perform, Sheila kutitip ke Erwin. Cowok apaan tuh. Cium juga nih."


"Gue temani Enji dulu, supirnya ga bawa obat. Gue ga tau harus diapain. Mending bawa ke UGD." Kata Erwin saat Enji sibuk ke bagian pendaftaran hendak menitipkan kunci mobilnya yang akan nanti akan diambil oleh asisten ayahnya.


"Perlu bantuan ga friend?"


"Ga usah, ini juga udah tengkiu banget." jawab Erwin senyam senyum, bakal modus juga sepertinya.


"Supirnya sekarang mana?"


"Masih dibasement masih dipijitin sama temannya dibawah."


"Mas makasih ya, sudah bantu telepon Erwin, Jujur aku ga punya teman selain Erwin. Temanku habis diseleksi mama." Kata Enji yang sudah kembali keruang tunggu.


"Kamu kok panggil dia mas, panggil aku Erwin."


"Kamu kan temanku, Kiki juga sekarang temanku. Kalau dia, namanya aja aku ga tau, makanya kupanggil mas."


"Namanya Reza." kata Erwin


"Ooh oke. makasih mas Reza." hmm tetap panggil mas. Hahaha Kiki terbahak dibuatnya.


"Seneng banget kamu dek." Reza tersenyum melihat Kiki.


"Enji dari tadi kocak,"


"Aku bukan pelawak Ki."


Hahaha Kiki tambah tergelak. Receh sekali selera humor Kiki. Mau tak mau tawa Kiki pun menular ke yang lain. Lagi asik tertawa, Nina tampak sudah selesai dan berjalan menuju ruang tunggu.


"Tante." Erwin segera menyalami Nina dengan hormat.


"Loh kamu disini juga Win? ada urusan sama Reza?"


"Iya tante sekalian jemput teman aku, lagi perawatan disini juga. Kenalin tante."


Mata Nina tertuju pada gadis disebelah Reza. Kemudian tersenyum ramah menepuk pundak Enji.


"Ketemu lagi kita. Ternyata kamu temannya Erwin."


"Ah iya tante, akhirnya aku punya teman."


"Mama kamu mana, kok tumben sendiri?"


"Mama lagi di Boston tante, aku cuma ambil obat tadi. Eh supirku asam lambungnya kumat lagi."


"Ya ampun, sekarang gimana. Nih kasih obat lambung tante." Nina segera mengeluarkan obat dari dompet kecil didalam tasnya, memberikan pada Enji.


"Mulai sekarang, harus stok obat sama makanan kecil tuh supir kamu, Nji. Masa Kumat terus, repot kan kamu jadinya."


"Mama kenal?" tanya Kiki heran. Sementara yang lain terbengong karena Nina dan Enji ngobrol dengan akrabnya. Ternyata mereka sering bertemu saat perawatan. Jadi saling mengenal satu sama lain. Bahkan Nina juga sangat mengenal Bu Burhan. Sering ngobrol saat menunggu obat atau menunggu dokter datang.


"Gaul juga nih mama. Kalah kita." kata Reza menggoda mamanya. Nina hanya tertawa.


"Sini obatnya aku yang antar sekalian ambil mobil, kamu tunggu dilobby aja." Erwin mengambil obat yang diberikan Nina pada Enji tadi dan segera turun kebasement. Sebelumnya berpamitan dulu pada Nina, Reza dan Kiki.


"Ya sudah tante aku nunggu Erwin di lobby, makasih ya tante sampai ketemu lagi."


"Nji, jangan lupa jumat jam 10 pagi di aula hotel A ya."


"Oh iya tante, nanti aku minta ijin mama dulu."


"Nanti tante juga telepon mama deh. Kamu hati-hati ya."


"See you tante, Yuuk Mas, Ki see you soon. Jangan minta sun." Enji segera berlalu dengan senyum konyolnya karena habis menyindir Reza. Wajah Kiki bersemu merah sedang Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara Nina yang tak mengerti hanya tersenyum memandangi punggung Enji yang semakin menjauh.