I Love You Too

I Love You Too
Manis



"Kamu bilang Mamon cantik waktu blonde mas?" tanya Dania begitu mereka sudah di kamar, hanya mereka berdua saat ini, tadi Nanta ijin mengantar Dania ke kamar meletakkan kopernya, sekaligus memberitahu Dania posisi kamar mereka. Balen masih sibuk bermain dengan Richi. Nanta menganggukkan kepalanya, memang menurutnya Nona terlihat cantik saat itu.


"Aku cat rambut seperti Mamon saja kalau begitu?" Dania meminta ijin Nanta.


"Jangan dong, nanti Papa lihat kamu sakit matanya." Nanta menggelengkan kepalanya.


"Kan aku bukan Mamon."


"Iya sih, tapi jangan deh. Pusing tahu dengar Papa selalu bahas rambut Mamon selama sebulan."


"Lagi pula kamu mau apa cat rambut begitu?"


"Aku kan mau terlihat cantik dimata Mas Nanta, nanti di Amerika Mas Nanta lihat banyak cewek Blonde." Nanta tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Memang kamu selalu terlihat cantik di mataku tahu." kata Nanta menangkup kedua tangannya di pipi Dania gemas. Dania jadi tertawa karena dirasa wajahnya jadi berbentuk tak karuan akibat kedua tangan suaminya.


"Ayo keluar lagi." ajak Nanta kemudian. Dania pun menuruti suaminya keluar kamar, kembali berkumpul bersama keluarga suaminya.


"Persiapan Training Camp sudah semua Boy?" tanya Kenan saat Nanta dan Dania sudah kembali bergabung.


"Sudah Pa, tinggal beli beras." Nanta tersenyum.


"Bawa Beras?" tanya Dania.


"Iya masing-masing kebagian bawa. Kita kan makan nasi bukan Kentang." Nanta terkekeh.


"Kalau Nanta Training Camp Papamu mau kamu tinggal dirumahnya Dan," Kenan menyampaikan pesan Micko tadi. Dania mengangguk menyimak ucapan Kenan.


"Kalau Papa senang saja kamu disini, Balen jadi tidak kesepian, Papa dan Mamon juga serasa ada yang mewakili Nanta." kata Kenan lagi.


"Iya Pa." jawab Dania.


"Sesekali menginap juga disini." kata Nona tersenyum pada Dania.


"In syaa Allah Mamon, kalau Lucky latihan juga aku pasti ikut kesini." jawab Dania tersenyum.


"Papa apa Papon sih panggilnya?" Nanta terkekeh.


"Papon hanya untuk Balen, Boy." Kenan tersenyum memandangi Balen yang fokus dengan boneka blondenya.


"Jadi Dania panggil Papa juga sama seperti kamu." pandangan Kenan beralih pada Nanta.


"Aku juga panggil Papa ya." Nona tersenyum jahil.


"Coba saja, nanti kalau di Mal saya panggil kamu Mamanya Balen." jawab Kenan tidak kalah jahil.


"Oh biar orang kira kamu bujangan ya, lihat tuh Ma, Pa." adu Nona pada Oma Nina dan Opa Dwi yang terkikik geli.


"Kamu panggil saya Papa biar orang kira Balen cucu saya?" Kenan mengernyitkan hidungnya.


"Tuh mulai lagi, selalu saja merasa dirinya tua." Omel Nanta pada Papanya.


"Memang sudah tua Boy, kamu saja sekarang sudah menikah."


"Ish tidak setua itu juga, keep rocking Papa." teriak Nanta menyemangati Papanya.


"Papon butan tua tauu." Balen mulai ikut berkomentar.


"Iya yang tua Balen bukan Papa." sahut Nona tertawa.


"Iih Mamon..."


"Iih apa?" Nona balas bergaya ala Balen.


"Tau ah, mawah nih Baen. Tayang Papa aja." dengusnya kesal.


"Mamon juga sayang Papa saja." balas Nona.


"Baen?"


"Hmmm... sebentar Mamon pikir dulu."


"Paponnnn... Mamon tuh ndak tayang Baen." kembali mengadu sama Papon, membuat semuanya tertawa.


"Mamon juga sayang Balen dong." Kenan menenangkan putrinya.


"Tau tuh Mamon, Baen itut Aban aja Amika." katanya bersungut.


"Hahaha memang itu maunya kamu bocah." Roma terbahak menghampiri Balen dan menciuminya.


"Ray, anak kita seperti ini tidak ya nanti." katanya pada Raymond.


"Bisa jadi." jawab Raymond terkekeh.


"Sudah ketahuan laki-laki apa perempuan?" tanya Kenan.


"Pa, nanti kalau urusan Basketku sudah beres, aku dan Dania tinggal dimana? boleh pindah?" tanya Nanta tiba-tiba.


"Mau pindah kemana Nanta, jangan macam-macam deh." protes Nona, yang lain tertawa melihat judesnya Nona.


"Biar mandiri, masa jadi anak manja terus." kata Nanta pada Nona.


"Nanti saja kita pikirkan. Masalah Dania masih kusut, belum bisa dalam waktu dekat." kata Kenan pada Nanta, yang lain menyimak, Nona mengangguk sambil menunjuk Kenan.


"Kalau semuanya sudah beres dan kalian sudah aman, tinggal saja dirumah Opa, kosong itu tidak ada yang menempati." kata Opa Dwi pada Nanta.


"Widih jadi tetangga tante Sheila dong kamu." Raymond terbahak.


"Kan sudah friend." jawab Nanta terkekeh.


"Iya nanti tinggal disitu saja. Tapi masih lama ya Boy, tidak dalam setahun ini." tegas Kenan pada Nanta.


"Kenapa harus pindah sih, seperti mau diganggu saja." gerutu Nona.


"Paling Balen yang ganggu." Roma terkikik.


"Balen tidak mengganggu kok." Nanta mencubiti pipi adiknya.


"Iya tan nanti bobo betida ya Aban." kata Balen menagih janji Abang.


"Iya dong." jawab Nanta tersenyum sekarang memainkan rambut Balen.


"Balen tidur sama Ichi lah." kata Nona pada Balen.


"Iih Mamon nih." kesal Balen pada Nona.


"Kasihan loh Ichi cuma sama Ncusss, nanti cari kakak Balen adiknya." Nona menjelaskan, ia tidak mau Nanta dan Dania terganggu.


"tapi tan tata Aban wabu bobo betida, senen ndan jadi." suara Balen naik satu oktaf.


"Iya bobo sama Abang." jawab Nanta tidak mau Balen menangis.


"Terganggu deh Abang tuh, katanya mau adek keriting." kata Raymond menggoda Balen.


"Tan ini udah ada dua." menunjuk Richi dan perut Roma.


"Ish anakku masih diperut dibilang keriting, Richi juga tidak keriting." Roma tertawa.


"Tata Yoma, yang titing tuh adek bayi aban." kata Balen pada Roma.


"Waduh kalau keluarnya lurus Bagaimana?" tanya Nanta terkekeh.


"talo wuwus yah dititing aja, tesaon aban." kata Balen serius.


"Balen yang temani adek ke salon?" tanya Oma senyum-senyum.


"Yah... boeh tan Papon?" minta ijin pada Papon.


"Memang punya uang?" tanya Kenan menggoda Balen.


"Dai Papon Wangna." Balen terkikik.


"Oh tetap dari Papon, oke deh." Kenan mengulurkan tangannya pada Balen, gemas ingin memeluk putrinya. Balen langsung berdiri menghampiri Kenan, sudah tahu maksud Papon apa, langsung saja ia masuk dalam pelukan Kenan.


"Sayang Papon betul dia, kalau Mamon terus saja diajak ribut." Roma menggelengkan kepalanya.


"Iya tuh padahal yang hamil sembilan bulan aku." Nona memonyongkan bibirnya.


"Mamon juga dipeluk dong nanti sedih Mamonnya." bisik Kenan pada Balen. Balen tersenyum mencium Papanya kemudian melepaskan diri dari Kenan dan berlari menghampiri Nona.


"Peuk don Mamon." katanya begitu mendekati Nona.


"Tumben." Nona tertawa senang dan memeluk Balen, ia merasa terharu Balen bersikap manis padanya.


"Suwuh Papon." jawab Balen apa adanya membuat semua terbahak.


"Tuh bukan keinginan dia sendiri." Nona ingin sekali menjitak kepala gadis kecilnya.


"Ish kamu juga sih selalu saja cari masalah." Kenan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Masalah apa Mas Kenanku?"


"Iya seperti barusan, tadi juga Balen peluk saya karena saya yang minta kan?" Kenan memandangi Nona dan Balen.


"Iya-iya Papon, jangan ngomel dong." Nona terkikik dan mulai menciumi Balen yang masih berada dalam pelukannya.


"Nah kalau begitu kan manis, enak dilihat." kata Kenan lagi. Oma dan Opa jadi nyengir lebar dibuatnya.