
Hari ini sesuai rencana Reza mengajak Kiki ke studio. Ketiga sahabatnya sudah menunggu disana. Mereka akan take vocal. Harapannya hari ini selesai dengan sempurna, sehingga besok saat akad Nikah tak ada beban.
Bagaimanapun pekerjaan Kiki akhir-akhir ini menjadi pikiran Reza, entah kenapa Reza tak mau Kiki menjadi terlalu sibuk, apalagi mama membuat keputusan seperti orang mau kepasar, walaupun mereka sang calon pengantin tak dilibatkan, tetap saja Reza jadi kepikiran mengenai pekerjaan yang belum terselesaikan. Kemarin sepulang dari mal Reza membantu Kiki membuat Video endorsnya. Masalah Komplain dari Burhan company sudah di handel tante Misha. Nanti jika dibutuhkan baru Reza diberitahu.
"Widih, calon pengantin masih cari duit aja." Andi langsung saja menggoda Reza dan Kiki yang baru saja tiba distudio.
"Dikejar duit ini sih, bukan cari duit." Erwin ikut menggoda.
Kiki hanya tersenyum tak berkomentar, sedikit nervous karena ini baru pertama kalinya Kiki masuk studio. Walaupun sering ke Warung Elite, Kiki tak menyangka diruang kerja ada ruangan lagi berupa studio dengan alat yang super canggih.
"Untuk apa alat seperti ini, kan kalian ga mau jadi artis." tanya Kiki heran.
Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal. Bingung mau jawab apa. Ia hanya mengikuti keinginan Andi dan Mario yang sangat hobby bermusik.
"Buat bantuin lu Ki, nih kaya sekarang." jawab Andi konyol.
"Ish, alat ini pasti sudah ada dari sebelum kenal aku kak."
"Tapi kita seperti tau akan datang seorang gadis mungil yang bersuara amazing, yang akan meminta bantuan membuatkan jingle, ya kan Ja." Andi masih saja membohongi Kiki, minta dukungan Reza lagi. Reza memajukan mulutnya beberapa centi, tak mau terlibat.
"Wisnu mana nih?" tanya Mario sambil melihat jam dipergelangan tangannya. "Telepon Win." katanya sambil memainkan peralatannya. Erwin pun menurut langsung saja menghubungi Wisnu.
"Sudah diparkiran, sudah gue bilang minta bowo antar kesini." Erwin memberi info.
"Kamu nervous dek? minum dulu nih." Reza menyerahkan segelas air putih hangat pada Kiki. Entah kapan diambilnya tak ada yang tau.
"Gue juga nervous kali, bukan Kiki aja." protes Andi, ingin diambilkan minum juga. Kebetulan Bowo dan Wisnu datang, langsung saja Reza memesan minuman untuk mereka semua.
"Kamu mau minum apa kak Andi?" tanya Reza sok dilembut-lembutkan.
"Ish sebel amat dengernya, jadi pengen cari pacar." jawab Andi sambil tertawa dan menyebutkan minuman yang diinginkannya pada Bowo.
"Bawain yang enak-enak wo. Kita juga pada lapar nih." kata Erwin yang belum sarapan dari rumah. Setelah mencatat semua pesanan bowo segera menghilang dari balik pintu.
"Masih nervous? santai aja kan yang nonton cuma dikit, kalau salah bisa diulang." Reza menenangkan Kiki sambil mengalungkan tangannya di leher Kiki dari belakang sambil melewek kepada teman-temannya yang memandang iri ingin menimpuk Reza merasa dipanasi, terutama Erwin. Hanya Mario yang tampak santai dan tertawa melihat kekonyolan Reza. Ups Reza tambah saja Kiki berdebar-debar salah tingkah.
"Kak Eja.." Kiki menoleh kebelakang sambil berusaha melepas tangan Reza. Pipinya bersemu merah.
"Nervous mana Ki? dipeluk Reza begitu atau berdiri didepan mic didalam?" tanya Mario sambil tertawa. Kiki hanya tertawa salah tingkah, sambil memukul pelan tangan Reza.
"Ya udah sana masuklah" Reza melepaskan tangannya, mengusap kepala Kiki, tak perduli dengan tatapan Erwin dengan mulut sedikit ternganga. Kiki masuk kedalam studio rekaman dan memulai aksinya. Tiga hingga empat jam Kiki menyelesaikan tugasnya. Semua tampak puas.
"Cakep ya suaranya." komentar wisnu yang baru pertama kali mendengar Kiki bernyanyi. Reza tersenyum bangga. Sementara Kiki masih didalam ruangan.
"Bisa dipinang label nih Ja." kata wisnu lagi.
"Ga boleh." jawab Reza cepat. Ia tak ingin Kiki menjadi artis terkenal.
"Posesif lu."
"Iya sih, tapi dia juga ga mau. Sudah pernah kita ditawari Alex. Jangan deh ntar banyak yang naksir lagi. Ga mau." Reza tampak gusar, membuat Wisnu tertawa menendang bokongnya pelan.
"Gue aja naksir Ja, sayang aja lawannya nyokap, kalau ga sih bersaing kita." celutuk Andi entah jujur entah bercanda. Reza mendelikkan matanya tak percaya.
"Bener Ja, kalau ada lagi yang kaya gini gue mau." Kata Andi jujur.
"Ada gue kenal, mau Ndi gue kenalin." sahut Mario cepat.
"Beneran lu. Becanda aja."
"Ah ga mau, dia sih suaranya ga kaya Kiki."
"Lu mau cari cewe apa mau cari vokalis sih." Mario mulai kesal.
"Gue naksir Kiki karena suaranya, bukan karena mungilnya. Kalau lagi mau ngomel kan tinggal gue suruh nyanyi biar merdu" sungut Andi.
"Enak aja. Ngomel mana ada yang merdu sih." protes Reza teringat mama kalau lagi ngomel bikin tak enak makan. Semua terbahak dibuatnya.
"Ngomongin aku ya?" tanya Kiki saat keluar ruangan berdiri disamping Reza. Langsung saja dirangkul Reza.
"Andi mau cari cewe yang suaranya kaya kamu dek, biar kalau ngomel merdu." Kiki tertawa mendengarnya.
"Aku ga bisa ngomel kak Andi."
"Bisanya nangis dia Ndi." sahut Reza membuat Kiki mencubit perutnya.
"Sakit sayang, harus dicium perut aku nih biar cepat sembuh." bisik Reza sambil mengusap perutnya. Kiki bersemu merah tak mau menanggapi.
"Berarti sudah selesai ya kak?" tanya Kiki pada Mario yang masih sibuk mengutak atik. Mario hanya mengacungkan jempolnya seakan tak ingin diganggu.
"Besok pagi kan Ja, jam sembilan gue udah dilokasi deh, Mending lu balik sekarang, Istirahat." Kata Andi mengingatkan. Hari menjelang pukul tiga sore.
"Yuuk balik." ajak Reza pada sahabatnya.
"Lu aja, kita sih masih mau disini." Jawab Erwin iseng.
"Ntar malam pada nginap di hotel ya, gue bukain kamar." Reza menawarkan.
"Gue ga bisa Ja, Lu tau Regina ama nyokap lagi diapartement gue." jawab Mario.
"Siapa Regina?" tanya Wisnu ingin tau.
"Calon istri yang tak diinginkan." jawab Andi spontan.
"Lu udah ketemu, Yo?" tanya Wisnu lagi.
"Sekilas aja, belum pernah ngobrol."
"Ya udah lu baliklah, kasian nyokap." kata Reza.
"Iya sebentar lagi gue balik. Besok gue bareng nyokap ke acara lu." kata Mario
"Berarti Regina ikut?" mata Erwin berbinar
"Sorry ya Ndi, gue ada Enji, Mario ada Regina.Lu ama wisnu aja besok gandengannya." Erwin langsung menyombongkan diri.
"Rese." kata Andi dan Wisnu bersamaan. Belagu sekali Erwin sejak dikenalkan dengan Angela, percaya dirinya langsung meningkat.
"Awas adik lu ntar yang gue gandeng." ancam Andi. Hahaha Erwin tertawa puas. Dia tau Andi hanya bercanda, karena Pipit bukan type Andi banget. Pipit cenderung barbar dan slengean.
"Pipit tuh cocoknya sama Wisnu, nah lu mending pacarin adiknya Wisnu tuh." Erwin mulai sok tahu mengatur perjodohan sahabatnya. Spontan Wisnu langsung menjewer kuping Erwin sambil tertawa. "Andi pacaran sama gue aja." katanya membuat Andi bergidik ngeri.
"Boleh juga tuh Wis, nama adiklu siapa? besok ajak ya kakak ipar." kata Andi menggoda menggoda Wisnu.
"Sudah punya tunangan." jawab Wisnu. Duh kasian Andi.
"Besok aku kenalin sama temanku cindy kak, Pipit juga kenal. Kalau suara, kak Andi test deh besok, lulus ga." kata Kiki sambil tersenyum. Jiaah Andi langsung tersenyum lebar.