I Love You Too

I Love You Too
Cirebon



Keesokan paginya Nona baru bertemu Samuel yang sudah mendapat peringatan dari Deni agar memakai parfume yang dibawa Nanta jika ingin bertemu dengan Nona. Mood Nona sangat baik pagi ini, membantu Bibi membuatkan sarapan untuk yang lain.


"Kamu duduk saja, sayang." kata Kenan yang selalu mengawasi setiap pergerakan Nona.


"Cuma nasi goreng." kata Nona tak ingin dilarang.


"Terserah kamu saja, saya cuma tidak mau kamu kelelahan karena kita akan jalan jauh la-gi." Kenan menekankan kata lagi, mengingatkan Nona agar ia hemat energinya.


"Bi, lanjutkan ya." kata Nona akhirnya tidak mau Kenan menjadi kesal. Segera duduk dimeja makan dan langsung heboh melihat Samuel yang duduk disebelah Nanta.


"Samuel, punya pacar tidak lapor gue, mau dipecat jadi sahabat, saudara, abang?" kata Nona dengan suara cemprengnya jika sedang memarahi Samuel. Kenan dan Deni menggelengkan kepalanya, berdua selalu ribut kalau bertemu, ups bukan, Samuel tidak pernah memulai tapi Nona yang selalu mengajak Samuel ribut.


"Tadi malam sudah ditunggu mau kukenalkan, kalian datangnya kemalaman, Gendis pagi ini ada rapat wakilkan Deni." kata Samuel membela diri.


"Gendis nama pacar lu Sam? dokter juga?" tanya Nona menyelidik.


"Iya staffnya Deni." kata Samuel menunjuk Deni.


"Lu yang jodohin, Den?" tanya Nona menatap Deni. Tidak menjawab Deni hanya menaikkan alisnya.


"Lulus seleksi?" tanya Nona. Deni menganggukkan kepalanya.


"Bagus, jangan pacaran lama-lama Sam, langsung halalkan saja." pesan Nona seperti Ibu pada anaknya.


"Baru hamil satu bulan sudah seperti ibu-ibu mau mantu." kata Samuel terkekeh, sementara Nanta, Deni dan Kenan malah terbahak. Samuel langsung saja bengong karena sebenarnya tidak ingin melucu tapi selera humor mereka memang receh sekali, perkataan yang kalaupun lucu paling hanya sedikit, bisa jadi kesannya lucu sekali.


"Tuh Bu Nona, gue betul kan semalam?" tanya Deni pada Nona sok bijak.


"Mas ayo jalan sekarang saja, mereka menyebalkan." ajak Nona memberengut digoda Deni.


"Bawaan hamil, lebih cepat merajuk ya?" tanya Deni pada Kenan, Kenan menggelengkan kepalanya.


"Hanya sedikit pemarah." jawab Kenan kemudian sambil mengelus bahu Nona yang duduk disebelahnya.


"Adek sayang, kamu mau makan apa buat bekal dijalan?" tanya Deni membujuk Nona agar tidak merajuk.


"Mau tahu gejrot sama empal gentong, Den. Mau bawa yang banyak untuk Mama dan Kak Kiki." kata Nona pada Deni.


"Bukan pesan dari kemarin, Tunggu buka dulu baru bisa pesan." kata Deni sedikit berpikir.


"Ya sudah jangan tawari kalau begitu, bikin emosi saja." dengus Nona kesal.


"Bibi saja yang bikin Non, dikulkas ada bahannya, mau?" Bibi yang baru mengantarkan Nasi goreng menawarkan.


"Lama, Bi." kata Nona melirik jam dipergelangan tangannya.


"Paling satu jam, mau? Jam delapan dari sini tidak apa kan, Non?" bujuk Bibi lagi, ia sangat konsen dengan Nona yang diurusnya sedari kecil.


"Bagaimana Mas?" tanya Nona minta pendapat Kenan.


"Merepotkan sayang, di Jakarta juga ada yang jual." kata Kenan pada Nona.


"Setelah dimasak nanti tunggu dingin dulu baru bisa di bawa, repotlah Bi." kata Kenan membayangkan makanan berkuah akan membaui mobilnya.


"Nanti Nona dijalan bisa mual cium bau masakan." kata Kenan lagi memberikan alasannya.


"Ya sudah, tidak usah Bi. Betul Mas Kenan bilang, aku suka tidak tahan cium bau-bauan. Lain kali saja Bi, kalau Bibi ke Jakarta atau aku kesini." kata Nona pada Bibi Latifah.


"Oh ya sudah, nanti Nona kabarkan saja, saya ikut Nona kalau bayi sudah lahir ya." kata Bi Latifah pada Nona.


"Kenapa tidak dari sekarang saja." kata Deni pada Bibi Latifah.


"Kalau sekarang, terlalu mendadak. Lagi pula Mas Deni sama Mas Samuel, siapa yang urus? Kalau bayi sudah lahir kan, kemungkinan kalian sudah menikah." kata Bibi Latifah.


"Sudah pada besar, Bi. Masih khawatir siapa yang urus? mereka laki-laki Bi. Mending Bibi urus aku saja nih perempuan hamil pula."


"sedang hamil punya anak bujang lagi, harus ada yang bantu." celutuk Nanta membuat yang lain kembali tertawa.


"Iya, anak bujangku butuh Bibi Latifah juga tuh." kata Nona lagi, kemudian terdiam menyadari baru saja menyebut Nanta anak bujangku, walaupun memang iya tapi jadi canggung sendiri.


"Jadi bagaimana, Bibi kok jadi bingung sendiri?" kata Bibi Latifah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Nona jadi tertawa melihat Bibi yang kebingungan.


"Ya sudah nanti kalau Bibi sudah siap, Deni sama Samuel yang antar ke Jakarta." kata Deni pada Bibi Latifah, meskipun akan kerepotan jika Bibi ikut Nona, tapi Deni lebih senang karena ada yang membantu Nona di Jakarta. Nona pintar masak karena Bibi Latifah.


"Iya sekalian aku antar undangan Nlnanti. Tunggu aku selesai menikah dulu saja, Bi." kata Samuel pada Bibi.


"Oh kalian sudah mau menikah? kapan? Papa sudah tau?" Nona bertanya tanpa jeda.


"Sudah, lu yang belakangan tahu, karena lagi hamil. Bingung, memangnya kenapa kalau hamil, berita gue menikah bisa bikin mabok gitu?" cerocos Samuel.


"Maksud Papa jangan tambah-tambah beban pikiran gue kali Sam atau dikira Papa gue seperti dulu ya, selalu punya ide bikin kalian jomblo." kata Nona terkekeh.


"Itu dulu, sekarang tidak lagi, sudah ada yang meredam emosi kamu." kekeh Deni melirik Kenan yang hanya menyimak sesekali tersenyum dan tertawa.


"Kapan mau diajak ke Jakarta, calon kamu Sam?" tanya Kenan pada Samuel.


"Nanti saja setelah menikah, jangan bertemu Nona dululah. Calon gue agak takut sama nih bocah." kata Samuel menunjuk Nona.


"Memangnya kenal?" tanya Nona.


"Memangnya di rumah sakit staff dan dokter mana yang belum kamu semprot Non?" Deni terkekeh.


"Seperti itu?" tanya Kenan tidak percaya.


"Kalau menyebalkan saja, kalau mereka biasa saja juga tidak disemprot, masalahnya rata-rata crew disana menyebalkan."


"Oh iya, Nanti di Jakarta gue ketemu istrinya Chico deh, dulu sempat janjian belum kesampaian, biar pada ditraining seluruh staff dan management rumah sakit tuh. Jadi tahu melayani pasien dengan baik seperti apa. Jangan main bentak-bentak saja." Nona mengoceh panjang lebar, tapi membuat Deni terkesima, mungkin saja yang Nona alami juga di alami oleh pasien lain, sehingga banyak pasien yang mengeluh karena perawat dirasa kurang ramah.


"Boleh Non, nanti minta dia presentasi didepan gue juga boleh." kata Deni yang sudah pernah mendengar niatan Nona untuk memberikan training pelayanan kepada seluruh staff bagian keuangan tempatnya bekerja. Bagian keuangan pun tetap perlu di training mengenai pelayanan karena saat pembayaran pelanggan pasti akan bertemu mereka.


"Iya nanti setelah gue ngobrol sama Risa." kata Nona pada Deni. Setelah cukup lama bercakap-cakap, lepas kangen dan perut kenyang, Kenan pun berpamitan diikuti oleh Nanta dan Nona, sementara Pak Atang begitu selesai sarapan langsung menuju ke mobil menunggu bos nya selesai sarapan.