I Love You Too

I Love You Too
Party at home



Assalamualaikum, Ibu hamil, Kak Roma." sapa Nanta sepulang sekolah, ia dijemput Pak Atang tadi.


"Waalaikumusalaam, Nanta mandi dulu." teriak Roma ketika akan memeluk Nona.


"Hmmm, sebentar ya. Aku sudah pakai parfume seperti Bude Mita padahal, punya Mama aku minta demi Kak Nona." jawab Nanta segera menuju kekamarnya, membawa travel bag berisi seragam sekolah dan kebutuhan lainnya.


"Aku pakai baju apa? harus bergaya seperti Papa juga?" tanya Nanta polos, Kenan sudah memberi peringatan pada Nanta tadi malam agar mood Nona tetap baik.


"Hahaha bebas Nanta. Aku tidak selebay itu." kata Nona terbahak. Nanta tersenyum dan masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri seperti perintah Roma tadi.


"Aku lapar, makan yuk." ajak Nanta pada Nona dan Roma yang sedang menonton streaming drama Korea di ruang keluarga, setelah segar habis mandi dan sholat Dzuhur.


"Iya kita juga belum makan, ayo." ajak Roma beranjak dari sofa menarik tangan Nona.


"Kak Nona mau aku suapi?" tanya Nanta saat menyendokkan nasinya kepiring. Nona mengernyitkan dahinya, Manis sekali Nanta, pasti Mas Kenan yang suruh, batinnya.


"Papa pesan kalau Kak Nona malas makan, aku harus suapi. Untuk memastikan adikku mendapatkan nutrisi yang cukup." kata Nanta menjelaskan, tuh kan Mas Kenan, Nona terkikik dibuatnya.


"Aku makan sendiri saja. Nanta kamu ganteng sekali deh, perhatian lagi." Nona menatap Nanta kagum.


"Mau apa puji-puji aku? mau pesan pempek sama Om Bagus?" tanya Nanta curiga.


"Ish curiga saja. Memangnya Mas Bagus bikin pempek, kan sibuk kerja sama Kevin?" tanya Nona heran.


"Kalau weekend kan selalu bikin. Bibi dirumah sudah bisa. Masih ada sih dikulkas Mama kalau mau, tadi lupa bilang pak Atang jemput pempek dulu sebelum jemput aku. Kita pesan ojol saja, bagaimana?" tanya Nanta menyerahkan piring yang sudah berisi nasi dan lauk pauk pada Nona dan mulai menyendokkan Nasi untuk dirinya sendiri. Roma sudah mengambil lebih dulu dan mulai makan dengan lahapnya.


"Aku mau Nanta, kita ambil saja sebelum aku ke dokter kandungan." kata Roma memberi ide.


"Kak Roma hamil?" tanya Nanta tersenyum, kalau memang hamil berarti ia menjaga dua Ibu hamil saat ini.


"Belum, maunya aku sih iya." jawab Roma.


"Mau apa kedokter kandungan?"


"Konsultasi."


"Sebaiknya berdua Bang Ray. Jadi Bang Ray tahu juga apa yang boleh dan tidak boleh." kata Nanta sambil mengunyah makanannya, sesekali melirik pada piring Nona, ia menarik nafas lega saat dilihatnya makanan sudah tinggal setengah.


"Begitu ya?" tanya Roma ragu.


"Menurut aku sih begitu, Mama selalu ditemani Om Bagus kalau ke dokter kandungan. Jadi Om Bagus tahu pantangan Mama apa saja."


"Oh, ya sudah tidak jadi kalau begitu, sore ini kita mau kuliner kemana?" tanya Roma bingung.


"Dirumah saja, pesan dari Papa dan Bang Ray kalian tidak boleh kemana-mana. Kalau mau makanan yang tidak ada dirumah pesan online saja." kata Nanta terkekeh menggelengkan kepalanya.


"Nanta sebenarnya kamu menginap disini disuruh mengawasi kami ya?" tanya Roma yang sudah selesai makan, ia meminggirkan piring bekas makannya.


"Hu uh." jawab Nanta kembali terkekeh.


"Ray posesif sekali." dengus Roma kesal.


"Papa juga begitu, alasannya saja bilang karena Kak Nona hamil. Tapi ujungnya pesan jangan janjian sama Kak Kevin." Nanta memonyongkan bibirnya, saat ia bilang pada Kenan akan mengajak Nona bertemu Kevin karena ingin mengucapkan terima kasih, berkat menjalankan tips dari Kevin membuat Nanta lolos seleksi kemarin. Apalagi namanya sedang berkibar, hampir semua penggemar basket mengenalinya.


"Apa iya Mas Kenan pesan begitu?" tanya Nona tidak percaya.


"Tanya saja sendiri kalau Papa telepon nanti." kata Nanta membereskan piring bekas makannya, Nona dan juga Roma.


"Papa belum telepon sih, masih sibuk mungkin." kata Nona pada Nanta. Nanta mengangguk saja.


"Ya sudah karena tidak boleh kemana-mana, tidak ada alat musik juga kita lanjut nonton drama Korea." kata Nona pada Roma.


"Aku tidak suka drama Korea." kata Nanta bersungut.


"Kamu main PS saja." kata Roma pada Nanta.


"Sendiri? malas."


"Karaoke saja yuk." ajak Nona pada Roma dan Nanta.


"Kalian saja yang karaoke, aku mendengarkan." kata Nanta belum mood karaoke.


"Nanta di rumah baru nanti ada piano loh, kamu bisa main sama Kak Nona." kata Roma semangat, karena Kenan menyetujui usulannya membelikan Nona Piano. Ia mulai menyalakan player dan home theater, menyerahkan mic pada Nona.


"Aku belum sejago Kak Roma dan Kak Nona." jawab Nanta ikut melihat judul lagi yang ada.


"Sok merendah" kata Roma mencibir.


"Betul Kak, sudah sejak Papa pisah sama Mama aku tidak kursus piano lagi, aku fokus main basket, yang suka aku main musik kan Ayah sama Bunda, kalau Papa biasa saja." kata Nanta apa adanya.


"Basket." jawab Nanta, Nona mengacungkan jempolnya.


Drrrtttt... drrrtttt... handphone Nona berdering. Nona tersenyum, yang ditunggu dari tadi akhirnya menelepon juga.


"Lagi apa?" tanya Kenan saat Nona menjawab teleponnya.


"Baru mau karaoke." jawab Nona.


"Dimana?"


"Dirumah, memangnya mau dimana?"


"Saya kira di Mal, kan tadi katanya mau ajak Nonton Nanta."


"Kata Mas Kenan tidak boleh terlalu capek terus pesan sama Nanta juga tidak boleh bertemu Kevin? Apa iya?" tanya Nona memastikan.


"Karena kamu tidak boleh capek, ya berarti tidak boleh bertemu Kevin." jawab Kenan mencari alasan.


"Kalau Kevin datang kesini, boleh tidak?"


"Mana boleh terima tamu laki-laki kalau suami tidak dirumah, nanti terjadi fitnah." tegas Kenan pada Nona. Nona mencebikkan mulutnya.


"Bilang saja cemburu, kata Nanta, Papa itu posesif." dengus Nona pada Kenan.


"Ish Kak Nona." Nanta melotot pada Nona, tidak mau dikira mengadu.


"Masa kamu baru tahu kalau saya posesif?" diluar dugaan Kenan malah jawab begitu.


"Kan saya sudah bilang, saya cemburuan meskipun kamu lebih cemburuan Dari saya." Kenan terkekeh.


"Kamu sudah makan, sayang?" tanya Kenan kemudian.


"Sudah. Mas Kenan sudah selesai rapatnya?" tanya Nona.


"Istirahat dulu, nanti malam lanjut lagi."


"Raymond mana? Roma kangen nih." kata Nona menggoda Roma yang masih memilih lagu untuk ia nyanyikan.


"Raymond masih keliling sama klien."


"Mas Kenan tidak ikut?"


"Kliennya cabang Malang punya, jadi itu urusan Raymond nantinya. Saya urus yang Jakarta punya, tapi mereka baru sampai Nanti sore. Makanya bisa istirahat dulu." jawab Kenan menjelaskan.


"Mas apa iya kami tidak boleh kulineran diluar, aku ingin mengajak Roma ke Batu." tanya Nona meminta ijin suaminya.


"Nanti saja ya, tunggu kami pulang Dari semarang, sebelum ke Jakarta kita ke Batu dulu." kata Kenan menolak permintaan Nona secara halus.


"Papa, aku hari minggu sudah harus ke Jakarta." teriak Nanta pada Kenan yang masih bicara pada Nona.


"Tuh Papa dengar tidak?" tanya Nona pada Kenan.


"Iya dengar, mana Nanta?" Nona menyerahkan handphonenya npada Nanta.


"Iya Pa."


"Kamu duluan ke Jakarta, tidak sama-sama Papa dan Kak Nona?" tanya Kenan pada anak bujangnya.


"Memangnya Papa Kapan? kan masih minggu depan lagi." kata Nanta mengingat ia harus masuk asrama hari rabu depan.


"Setelah serah terima sama Bang Raymond, Papa sudah bisa ke Jakarta."


"Aku hari rabu sudah mulai karantina lagi. Sebenarnya cuma libur dua minggu, tapi kemarin diundur."


Ya sudah kita berangkat ke Jakarta senin malam saja ya. Senin pagi Papa serah terima sama Bang Raymond." kata Kenan memutuskan.


"Jadi Papa dan Kak Nona ke Jakarta lebih cepat dari rencana awal?"


"Hanya selisih beberapa hari." jawab Kenan tertawa. Tinggal Roma yang merengut karena waktu kebersamaannya dengan Nona dan Nanta tinggal menghitung hari.


"Sepilah aku." kata Roma menggerutu.


"Ada saudara kamu yang anak Gubernur itu kan?"


"Iya tapi kan lumayan berjarak, kalau kita kan tinggal jalan kaki." kata Roma agak sedih.


"Kita nikmati berapa hari ini, let's party at home." teriak Nanta menyalakan musik dan Roma pun mulai berjingkrakan dan menyanyikan lagi Rock and Roll yang sudah dipilihnya tadi.