I Love You Too

I Love You Too
Reschedule



Dania berjalan menemui pihak travel yang akan membawanya ke Turki, awalnya ia ingin membatalkan rencana travelnya, mengingat kondisinya saat ini yang sejak bertemu Papa sudah dua kali kambuh, padahal sebelumnya ia sudah bisa mengatasi rasa paniknya.


Tapi pikiran Dania tiba-tiba saja berubah saat Nanta bilang mereka tidak mungkin menikah dalam waktu dekat. Dania kecewa? entahlah, apa boleh kecewa, sepertinya sudah cukup dengan membebani Nanta untuk mau menikah dengannya. Kasihan juga pikir Dania, Dania rasa sudah lebih dari pengorbanan Nanta untuk mau menikah dengan perempuan yang baru dikenalnya kurang dari sebulan. Mereka belum saling cinta tapi setidaknya sudah merasa nyaman satu sama lain.


Sementara untuk serangan panik yang saat ini Dania derita, setelah Dania pelajari itu hanya muncul untuk semua hal yang berhubungan dengan Papanya, selain itu Dania yakin tidak akan muncul. Terbukti saat ia ke Malang sebelumnya, aman saja meskipun melakukan perjalanan dini hari dengan hanya ditemani pihak travel yang membawanya ke Bromo. Kenapa juga sekarang jadi terlihat lemah, lima tahun terakhir aman saja saat menjadi solo travelers. Di London pernah di terapi pun karena rasa rindu terpendam Dania pada Papa.


Urusan Dania hari ini cukup banyak, Pagi tadi Dania sudah menemui dokter psikiater yang disarankan oleh Papanya, tadi juga telah dilakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk membedakan serangan panik yang dialaminya dengan adanya penyakit lain didalam tubuh Dania. Untuk hasilnya akan dikabarkan pada Papa nanti.


Serangkaian test telah Dania lakukan mulai ambil darah untuk pemeriksaan tiroid dan resiko terhadap penyakit lain, juga dilakukan EKG untuk mengetahui kondisi jantung Dania. Yang Dania tahu saat berbicang dengan dokter tadi, salah satu efek dari serangan panik juga membuat seseorang tidak mau bersosialisasi, seperti yang Dania alami sebelum berteman dengan Nanta. Itu cara Dania membentengi dirinya dari segala hal yang bisa membuatnya tertekan.


Bingung kenapa bisa tertekan? tentu saja bisa, perceraian Papa dan Mama tidak begitu berefek saat mereka masih tinggal di Puri, walaupun Papa tidak lagi tinggal bersama Dania dan Mamanya, tapi Papa selalu datang setiap sore untuk Dania, hingga Dania tidak merasakan kehilangan, sampai suatu ketika Mama memutuskan untuk menikah lagi dengan Jack suaminya sekarang.


Awalnya perhatian Jack dapat sedikit menggantikan rasa rindu Dania pada Papa, sampai ketika Dania ikut acara keluarga Jack, Dania seperti tersadarkan kalau dia tetaplah orang lain, jika biasanya ia bisa bermanja-manja pada Jack seperti halnya Dania bermanja-manja dengan Papa, di rumah keluarga Jack justru Jack mengabaikan Dania, Jack tidak melakukan kekerasan memang, tapi Jack selalu menolak permintaan Dania dengan melengos seakan tidak melihat Dania setiap kali ada dihadapan orang tuanya. Dan itu bukan sekali dua kali, sampai akhirnya Dania tahu diri, dia bukanlah siapa-siapa, bagaimanapun Dania berusaha keras agar bisa menjadi bagian dari keluarga Jack, tetap saja Dania orang lain.


Rasa sedih yang dipendam selama beberapa tahun membuat Dania tertekan, hingga akhirnya semua meledak, Dania sudah tidak tahan lagi dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta, dengan harapan bisa bertemu Papa ia sengaja memilih tinggal bersama Nek Pur. Siapa tahu Papa mengunjungi Nek Pur sehingga mereka bisa bertemu. Siapa sangka kunci pertemuan Dania dengan Papa justru karena perkenalannya dengan Nanta, malah Dania juga bisa bertemu dengan Ando. Dania jadi senyum sendiri, ingat pertemuan awalnya dengan Nanta.


"Kapan berangkatnya ya?" tanya Dania pada pihak travel, ia sudah berada di perusahaan Travel saat ini.


"Jadi berangkat atau batal nih, Mbak Dania. Sayang loh uang tiketnya hangus, untuk hotel masih bisa dikembalikan karena kebetulan kami baru booking saja. Berangkatnya akhir bulan depan kok, masih ada waktu untuk mempersiapkan." jawab pihak Travel.


"Iya sih sayang juga ya uang tiket hangus, Kapan ya batas akhir untuk konfirmasi? kemungkinan besar saya tetap berangkat, just in case saja kalau tiba-tiba ternyata saya berhalangan." kata Dania setelah menimbang-nimbang.


"Bisa kabari saya akhir bulan ini ya, tiket tetap hangus loh ya kalau batal berangkat, kami hanya bisa kembalikan uang hotelnya." pihak Travel mengingatkan Dania.


"Oke, nanti saya kabari ya, terima kasih."


Selesai urusan dengan pihak travel, Dania rencananya memesan taxi online menuju tempat pertemuan dengan Papa dan yang lainnya. Semua urusannya berjalan tepat waktu. Banyak pesan dari Papa yang belum dibacanya.


"Dimana sayang?" tanya Papa saat Dania menghubunginya.


"Di Travel, ini baru mau pesan taxi online. Papa sudah jalan sama Tante Lulu?" tanya Dania.


"Sudah, Papa jemput ya. Sebentar lagi sampai travel. Tunggu saja di lobby. Sudah kamu batalkan?" tanya Micko yang sudah tahu kenapa Dania harus ke travel setelah dari rumah sakit.


"Belum, masih diberi waktu sampai akhir bulan ini." jawab Dania.


"Kenapa tidak langsung dibatalkan saja?"


"Pikir-pikir sayang betul uang tiketku hangus."


Dania yang bersandar pada Pilar gedung travel memajukan dirinya agar terlihat oleh Micko. Hari ini Papa pakai Mobil BMW sport seri terbaru, warna orens lagi, Dania jadi senyum sendiri, ternyata Papa hanya sendiri.


"Mana Tante Lulu?" tanya Dania pada Papa saat memasuki mobil Papanya. Dengan Mobil yang hanya dua penumpang, pantas saja Papa mau menjemput Dania, kalau ada Tante Lulu pasti Dania tidak dijemput Papa.


"Tadi jemput Nona dulu, mereka dari rumah kan, Papa dan Om Kenan dari kantor." kata Micko pada putrinya.


"Biar saja uang tiket hangus, atau reschedule tanggal, Papa mau kamu sehat dulu." kata Micko pada Dania, menyambung percakapan via telepon tadi.


"Berangkatnya masih akhir bulan depan, Masih banyak waktu untuk berobat. Aku sehat sih Pa, sebenarnya."


"Akhir bulan depan kamu kan sudah menikah."


"Belum Pa, Mas Nanta itu jadwalnya padat sekali, dua minggu lagi sudah mulai Training Camp disini lanjut terus sampai ke Amerika, setelah dari Amerika akan ada pertandingan di Uni Emirat Arab." Dania menjelaskan jadwal Nanta


"Pa, Papa mau mas Nanta menjaga aku kan?"


"Iya."


"Tapi kalau jadwalnya sepadat ini mana bisa menjaga aku." Dania menghela nafas.


"Kamu tidak mengerti ya maksud Papa? kalian menikah saja dulu, dengan status kamu sebagai istri Nanta atau siapapun itu, Mamamu sudah tidak berhak memindahkan kamu kemanapun dia mau sayang. Karena kamu sudah menjadi tanggung jawab suamimu, terlepas kalian sedang berhubungan jarak jauh atau tidak." Micko menjelaskan sekali lagi alasannya kenapa ingin putrinya cepat menikah.


"Tapi Mama juga belum merestui sih, Mas Nanta harus membuktikan dengan rumah tinggal yang layak."


"Jelaskan saja kamu tinggal di rumah Mertua karena aktifitas Nanta sangat padat. Dania kamu beruntung jika menikah dengan Nanta, bukan karena materi, Papa bisa penuhi itu. Tapi Papa lihat Nanta orang yang tepat untuk kamu."


"Aku maunya Papa dan Mama berbaikan seperti Papon dan Tante Tari. Apa tidak bisa begitu?"


"Bisa saja kalau Mamamu tidak bekerja sama dengan Peter." jawab Micko.


"Aku pernah bertemu Om Peter sih waktu pertama kali kami pindah ke London. Hanya sekali itu saja."


"Oh ya? Peter bisa bertemu kamu, kenapa Papa tidak bisa? Bisa mengerti sejauh ini apa yang Papa alami?" Dania menganggukkan kepalanya tersenyum pada Papanya yang sedang fokus menyetir.


"Tapi Pa, aku tidak mau menjadi beban Mas Nanta, walau dua minggu ini belum Trading Camp tapi Mas Nanta sibuk mengurusi administrasi keberangkatannya. Belum lagi semua kebutuhan yang harus dibawanya. Menurutku tidak apa menikah setelah jadwal Mas Nanta tidak sepadat sekarang."


"Ck, Kenan kan bisa suruh orang untuk hal seperti itu, kenapa jadi dibikin rumit sih." keluh Micko dan memarkirkan kendaraannya di basement dekat pintu masuk restaurant yang dipilihnya, ia langsung merangkul putrinya saat memasuki restaurant menuju ruangan yang sudah dipesannya.