I Love You Too

I Love You Too
Cindy



Suasana riuh rendah tak henti-henti sedari habis makan malam tadi. Terlebih Papa Ryan menyanyikan lagu Midley dari the beatles yang membuat hampir semua peserta bergoyang. Yang sudah tua pun seperti lupa akan keluhan sakit pinggang dan sakit lututnya, mereka asik bergoyang menikmati suara papa Ryan yang enak terdengar. Meskipun yang dinyanyikan lagu jaman old, tapi yang muda pun tak mau kalah, ikut menikmati suasana yang ada.


Tiba-tiba papa Ryan memanggil Cindy dan Kiki untuk bergabung ke atas panggung kecil yang sudah disiapkan. Sambil bergoyang kedua gadis, ups Kiki sudah tak gadis lagi, berjalan menuju panggung. Mereka pun bertrio mengikuti papa Ryan dengan pecah suara, semakin terasa enak didengar. Semakin riuh ketika Kiki meminta lagu "I Will Survive" dan memberikan mic yang tadi terletak ditiang kepada Cindy.


🎵Oh no, not I, I will survive


Oh, as long as I know how to love, I know I'll stay alive


I've got all my life to live...


Semakin ramai teriakan, suitan dan tepuk tangan dari Reza dan teman-temannya. Semua menikmati suara Cindy, enak terdengar tak kalah dengan suara Kiki hanya beda karakter.


"Nah cocok ga nih Ndi." Bisik Erwin pada Andi.


"Banget." jawab Andi dengan mata tak lepas dari Cindy. Badannya tak ikut bergoyang tapi fokus mengamati Cindy seperti seorang juri pencari bakat dan mulai mengaguminya. Cita-citanya hampir tercapai mau dapat pasangan yang seperti Kiki, tak banyak gaya, bersuara merdu. Entah nanti kalau mengomel akan terdengar merdu juga kah?


"Ja, bantuin gue." katanya pada Reza.


"Usaha sendiri dong kan udah dikenalin." sahut Mario yang mengerti kemana Arah bicara Andi.


"Duh tapi jauh, LDR dong gue nanti." Kata Andi.


"KL dekatlah." kata Mario santai


"Kalau dia mau sama lu, Ndi." timpal Erwin. Andi melirik Erwin dengan senyum nakalnya.


"Lu ngeraguin sohib lu friend." katanya sedikit sombong.


"Gue bayangin Reza aja, kalau ga ada nyokapnya belum tentu bisa deketin Kiki. Mereka sulit friend, ga kaya cewe lain."


"Iya sih, ngandalin Allah aja lah gue."


"Nikahin dong jangan dipacarin. Ternyata pacaran setelah menikah enak bangeettt." sahut Reza sombong, karena baru dia yang sudah menikah diantara mereka. Andi mencebikan mulutnya. Erwin hanya menoyor kepala Reza merasa dipanasi. Enji yang ditunggunya tak kunjung menelpon. Padahal sudah sering kali ia mengintip ke layar Handphonenya.


Telepon lah, lu laki bukan sih." seakan tau Erwin sedang menunggu, Andi menoyor kepala Erwin.


"Ish.." Erwin tak bisa mengelak. Hanya bisa mengusap bekas toyoran Andi yang tak begitu kencang.


Aksi panggung Cindy sudah selesai tapi Kiki sudah berbisik duluan kepada Mc untuk menahan Cindy dan memanggil Andi ke atas panggung. Meminta mereka untuk berduet. Ah Kiki mulai bekerja dengan baik, niat sekali menjodohkan Andi dan Cindy. Kembali sorak sorai terdengar. Andi naik kepanggung dan mulai duduk didepan piano. Hari ini ia tak membawa saxophone.


"Lagu apa Cin?" tanyanya siap memainkan tuts pianonya. "A thousand Miles, Vanessa carlton mas." jawab Cindy. Andi pun langsung memainkan tuts piano dengan piawai. Andi memang menguasai beberapa alat musik, itu yang membuat fansnya semakin menggila. Andi semakin mengagumi Cindy. Terlihat cantik saat beratraksi didekatnya.


"Pengantin dong nyanyi masa kita aja." kata Andi memprovokasi peserta. Benar saja yang lain langsung rusuh menyebut nama Reza dan Kiki. Reza melambaikan tangannya sambil menggeleng. Mc pun menghampiri Reza.


"It's my day, jadi saatnya kita dihibur." jawabnya mengelak untuk beratraksi diatas panggung sambil menahan Kiki agar tak maju kedepan. Semua kembali bersorak dan Cindy pun menyerahkan mic kepada penyanyi ibukota yang sudah disewa Reza mengisi acaranya malam ini.


Saat papa mama dan saudara lainnya berpoco poco, Kenan memulai aksinya, mendekati penyanyi terkenal tersebut, mengajaknya ngobrol. Sheila tak tampak batang hidungnya, padahal sudah diajak untuk bergabung, tapi apa daya diabaikan bahkan sekarang diblokir. Reza senang saja melihat adiknya tak lagi galau seperti siang tadi.


Sementara Erwin mengikuti saran Andi, mulai menghubungi Enji.


"Ga jadi kesini?" tanya Erwin via telepon. Hari sudah pukul sembilan malam.


"Udah mau selesai ya acaranya, mama ga jawab telepon dari tadi. Mungkin lagi sibuk didapur."


"Ya sudah. Istirahatlah."


"Nanti kalau diijinkan, gue kesana deh."


"Kasih tau biar dijemput." kata Erwin bersemangat.


"Baiklah."


Erwin menutup teleponnya dengan senyum simpul. Dengar suara aja sudah happy begitu. Mulai bucin si Erwin.


"Re, bajunya bagus." Monik memuji tampilan Regina malam ini. minidress abu-abu berbahan satin. Makeupnya juga tampak beda tak berlebihan tapi terkesan mahal.


"Cindy yang pilihkan." Regina tersenyum senang. Tak sia-sia berbelanja ditemani Cindy. Monik kembali asik dengan kekasihnya, sementara Cindy mulai dari turun panggung tadi dipepet Andi tak dilepas. Bengong lagi deh Regina. Reza dan Kiki jangan ditanya, sudah sibuk kesana kemari sedari tadi, meladeni sapaan sanak saudaranya.


Regina mulai menguap, karena bengong sendiri tak ada teman, rasa ngantuk mulai mendera. Ingin menghampiri Mario rasanya sungkan, takut mengganggu kesenangannya bersama Erwin sahabatnya.


"Kasian Regina bengong tuh Yo." tunjuk Erwin dengan dagunya. Merasa iba melihat Regina yang mulai mengantuk. Mario menoleh kearah yang ditunjuk Erwin. Ah bagaimana bisa dari tadi ia melupakan Regina. Lupa kalau ada calon istri yang dititipi Mama kepadanya. Langsung saja Mario meninggalkan Erwin menghampiri Regina.


"Mengantuk?" tanyanya berdiri disebelah Regina. Dijawab dengan anggukan.


"Ini baju yang tadi kubeli pakai uangmu."


"Hmm.."


"Ini sisa uangnya." Regina bermaksud membuka tasnya. Tapi segera ditahan Mario.


"Itu untuk kamu."


"Aih aku belum jadi istrimu, sudah dinafkahi." Kata Regina polos membuat Mario teringat kata nafkah lahir dan nafkah batin. Lebih fokus ke bathin sih. Ups tunggu minggu depan, Yo. Teriaknya dalam hati lalu tersenyum tak habis fikir. Bagaimana virus Reza sekarang sudah menular pada dirinya.


"Yo, kapan kita ke semarang?" tanya Regina, kantuknya sudah mulai hilang.


"Paling cepat kamis."


Jawab Mario yang tak ingin berlama-lama didekat Papi yang banyak maunya dan tak bisa diberi masukan