I Love You Too

I Love You Too
Tamu Agung



"Bagaimana kondisi temannya Nanta?" tanya Nona pada Kenan.


"Ada masalah di otot, kemarin setelah orang tuanya datang, kami pulang." jawab Kenan, Nona mengangguk saja.


Setelah menikmati jus dan buah potong, mereka segera menuju ke kantor.


"Besok-besok kalau kamu lagi galau, dilarang menyetir, mengerti?" tegas Kenan ketika mereka sudah di mobil.


"Hmm..." jawab Nona menaikkan alisnya.


"Setelah menurunkan saya di loby, kamu diantar staff kantor saya, ya. Ganteng loh siapa tahu jodoh." kata Kenan terkekeh. Nona hanya melirik Kenan kesal.


"Masih single? namanya siapa? umur berapa?" tanya Nona iseng, ingin tahu reaksi Kenan. Kenan terbahak mengacak anak rambut Nona tanpa menjawab pertanyaan Nona.


Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu, sampai mereka tiba di wilayah perkantoran. Kenan membelokkan kendaraannya di kantor Nona, membuat Nona mengernyitkan dahinya.


"Parkir dimana?" tanya Kenan pada Nona.


"Tidak jadi antar Mas Kenan dulu?" tanya Nona heran.


"Nanti kamu terlambat." kata Kenan tersenyum pada Nona.


"Bawa saja mobilnya, Nanti sore Mas Kenan jemput aku kan." kata Nona menawarkan dan juga mengharapkan hehehe.


"Begitu? telepon saja kalau nanti siang kamu mau pakai Mobil, staff saya yang akan antar ." jawab Kenan, Nona menganggukkan kepalanya,


"Yang ganteng itu?" tanya Nona konyol. Kenan hanya menatap Nona sesaat.


"Turunlah, nanti terlambat." kata Kenan tegas mengabaikan pertanyaan Nona.


setelah Nona turun Kenan pun melajukan kendaraan menuju kantornya. Nona menghela nafas panjang, "labil." dengusnya kesal.


Sesampainya di kantor, "Sibuk Tari?" tanya Kenan melongok dari pintu ke ruangan Tari.


"Telat tiga puluh menit, bukan contoh yang baik." dengus Tari tanpa menjawab pertanyaan membuat Kenan terkekeh.


"Apa jadwalku hari ini?" tanya Kenan


"Menyambut tamu agung dari pusat."


"Bang Eja?" tanya Kenan membelalak, tak ada info Reza akan kunjungan ke kantor. Tari menganggukkan kepalanya. Kenan segera masuk ke dalam ruangannya dan langsung terkekeh melihat abangnya sudah duduk di meja Kenan.


"Tamu tak diundang." dengus Kenan pada Abangnya.


"Tidak suka? pindah saja ke Papua." ketus Reza tanpa menoleh, ia masih berkutat dengan laptopnya. Kenan duduk manis di depan Abangnya karena bangkunya disabotase Reza.


"Kenapa tidak pakai ruang Papa?" keluh Kenan.


"Tidak mau menjelaskan sesuatu, kenapa kamarku disabotase Nona?"


"Hehehe Abang kan bisa menginap di rumah Raymond atau di rumahku. Lagi pula Nona anak Bang Baron, aku harus menjaganya."


"Halalkan saja jadi bisa kamu bawa ke rumahmu, kata Raymond calon istri? sudah suap-suapan juga."


"Ish anakmu itu ya, meniru siapa bisa begitu, heran." Kenan menggelengkan kepalanya.


"Jadi bagaimana? siap menikah lagi?"


"Menurut Abang bagaimana? perlu dipertimbangkan tidak tawaran Bang Baron? Kasihan Nona kalau menikah denganku." Kenan lalu menceritakan percakapannya dengan Baron saat dimeja makan minggu lalu.


"Kamu yang lebih tahu, dia pantas menjadi pasanganmu apa tidak." Reza menatap Kenan yang sedang termenung.


"Anak orang jangan dikasih harapan." ketus Reza.


"Ih mana pernah." sangkal Kenan.


Reza meraih handphonenya dan memperlihatkan video yang dikirim Raymond.


"Ini apa? kami saja yang menonton jadi berharap."


"Ya ampun, Raymond kita pindahkan saja ke Papua." dengus Kenan kesal, Reza terkekeh melihat ekspresi Kenan. Bagaimana bisa semua kegiatan Raymond rekam, bahkan Nanta menjadi mata-mata Raymond sekarang, Kenan menggelengkan kepalanya.


"Hei, kembalikan kamarku dalam waktu dekat." teriak Reza sebelum Kenan menghilang, Kenan terbahak, ia tahu Reza hanya menggodanya.


"Sabar ya, aku carikan tempat untuk Nona dulu." kata Kenan sebelum menutup pintu.


"Makanya halalkan jadi bisa dipindahkan ke kamarmu."


"Ish bawelnya kalian ini pusing aku." kekeh Kenan langsung keluar meninggalkan Reza diruangannya.


Sore harinya Kenan belum juga bisa menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu. Reza membutuhkan banyak berkas dan pertanyaan, seperti audit saja. Pikiran Kenan tentu saja jadi bercabang, karena Mobil Nona masih dikantor Kenan, membiarkan Nona pulang lebih dulu, Kenan belum yakin Nona bisa menyetir dengan baik.


"Non, sudah mau pulang? sepertinya saya pulang malam." kata Kenan via telepon.


"Jadi aku pulang sendiri?" tanya Nona kecewa. Hayalannya ingin pulang bersama Kenan pupus sudah.


"Saya Kirim mobil sama supir ya?"


"Aku bisa pulang sendiri, mobilnya saja antar." dengus Nona kesal.


"Tidak-tidak, nanti kamu melamun lagi. Tunggu lima menit saya cari supir." kata Kenan tidak rela.


"Tidak jadi Kirim staff ganteng?" tanya Nona mengingat percakapan tadi pagi.


"Buat kamu jadikan pacar? belum ada yang lolos seleksi saya."


"Kenapa jadi seperti Deni sih?" rengek Nona manja. Kenan tersenyum sendiri mendengarnya.


"Disini kan kamu tanggung jawab saya." kekeh Kenan puas.


Segera saja Kenan menghubungi Tari agar memanggil supir kantor agar mengantar Nona pulang.


"Hmm calon istri dijaga betul ya." goda Tari pada Kenan, setelah menghubungi supir untuk menemui Kenan.


"Bukan begitu, Mobil Nona tadi saya bawa dan sekarang saya harus pulang malam karena meladeni bos besar kan." Kenan menjelaskan detail.


"Oh sudah tukar Mobil, sebentar lagi tukar cincin yes." Tari tersenyum jahil.


"Kamu sama saja seperti Raymond dan Nanta. Bahkan Bang Eja juga ikut rewel, pusing saya." keluh Kenan dengan wajah memelas.


"Menikahlah, jadi kamu ada yang urus mas. Kemarin kasihan sekali saat kamu dirawat. Saya kira Nona yang merawat kamu. Ternyata kalian sesama pasien." kata Tari tertawa, ia juga baru tahu dari Reza tadi.


"Kamu sih tinggalkan saya, jadi saya tidak ada yang merawat." kekeh Kenan menggoda Tari. Langsung saja Tari memonyongkan mulutnya.


"Jangan drama, ada sebab akibat. Pelajaran tuh buat kamu." dengus Tari kesal mengingat masa lalu.


"Iya-iya, lagi pula kamu pantas bahagia. Saya ikut senang. Tapi tolong jangan mengasihani saya." Tari terkekeh, senang sekali melihat Kenan tak berdaya.


Tak lama supir yang diminta pun datang menemui Kenan, setelah memberikan perintah dan menyerahkan kunci Mobil, Kenan segera kembali ke ruangan menemui Reza.


Sementara dikantornya Nona bersiap menuju lobby karena Kenan sudah memberi kabar bahwa supir sudah di jalan.


"Sebenarnya aku mau pulangnya sama Mas Kenan." gumam Nona saat akan beranjak dari mejanya. Ia membanting tasnya kesal.


"Memang Kenapa tidak pulang sama Kenan?" tanya Baron yang tiba-tiba muncul dibelakang Nona.


"Papa kenapa disini?" tanya Nona heran bercampur malu.


"Kebetulan lewat, lagi pula sudah lama anak gadis Papa tidak telepon. Mentang-mentang punya keluarga baru." goda Baron lagi.


"Aku takut mengganggu Papa dengan istri Papa." sindir Nona pada Baron.


"Mana ada begitu."


"Ya siapa tahu begitu, aku turun ya Pa. Supirnya Mas Kenan sudah di lobby."


"Pulang sama Papa saja, biarkan supir yang mengantar Mobil ke tempatmu."


"Aku telepon Mas Kenan dulu." jawab Nona nyengir.