I Love You Too

I Love You Too
Balena Putri Kenan



Sebulan berlalu, Kenan dengan sabarnya menunggui Nona yang sedang kesakitan didalam ruangan bersalin.


"Siap-siap dicakar ya Mas." kata Vina terkekeh karena belum apa-apa Nona sudah menggenggam berat tangan Kenan. Sementara sebelah lagi tangan Kenan sibuk membelai rambut Nona.


"Kenapa tidak operasi saja?" tanya Kenan pada Vina.


"Masih bisa normal kenapa harus operasi." Vina menepuk bahu Kenan yang tampak tegang. Ia dan Tim sudah siap membantu proses persalinan Nona.


"Ayo ambil nafas..." Nona mengikuti perintah Vina sementara Kenan terus membelai Nona sesekali menciumi dahinya.


"Oke, ambil nafas lagi." lagi-lagi Nona menuruti, sakit yang dirasakannya tidak terkira, tapi bisikan zikir dari Kenan membuat Nona jadi tenang.


"Alhamdulillah." teriak Vina setelah beberapa menit berlalu dan baby berhasil dikeluarkan berikut tangisannya nyaring terdengar. Kenan ikut mengucapkan rasa syukur, proses lahiran Nona cukup singkat, mudah dan lancar. Allah memudahkan semuanya, Kenan bahagia sekali, tak peduli tangannya yang sekarang terasa sakit seperti mau patah akibat dipelintir oleh Nona tadi.


"Mau peluk." Nona menangis perasaannya campur aduk. Kenan kembali menciumi Nona.


"Sabar ya." bisik Kenan karena dokter dan tim masih sibuk dengan baby dan aktifitas lainnya, hingga pada akhirnya Vina meletakkan Baby di dada Nona. Nona semakin terisak antara haru dan bahagia. Kenan jadi ikut menitikkan air matanya. Dulu saat Nanta lahir ia tidak ikut menemani Tari didalam karena lagi di luar kota saat itu.


"Perempuan, Mas Kenan. Selamat ya, sepasang deh akhirnya." kata Vina ikut merasakan kebahagiaan Kenan dan Nona.


"Alhamdulillah. Thank you Vin." Kenan tersenyum bahagia ikut menyentuh babynya yang baru saja hadir menemani mereka.


Kenan segera keluar ruangan mengabari keluarga besarnya yang sudah menunggu sedari tadi.


"Perempuan." katanya tersenyum, Mama Nina langsung saja memeluk Kenan sambil menangis.


"Alhamdulillah, punya cucu perempuan juga Mama." katanya terisak.


"Siapa namanya?" tanya Mama Nina tidak sabar ingin tahu. Sementara Nanta, Reza, Kiki dan Papa Dwi menunggu antrian mendekati Kenan karena Mama Nina terus saja memeluk bungsunya.


"Balena Putri Kenan." jawab Kenan tersenyum lega, karena ada campuran nama Papa Baron, Mama Nina dan Papa Dwi didalam nama Balena. Papa Dwi bernama asli Dwilewicz Syahputra, karena orang dulu susah menulisnya jadi selama ini di ktp dan ijazah hanya tertulis Dwi Syahputra saja.


"Tidak pakai Syahputra, Pa?" protes Nanta.


"Itu khusus laki-laki." jawab Opa cepat.


"Harusnya aku Nanta Putra Kenan." kata Nanta terkekeh.


"Kamu itu penerus Syahputra, jangan protes." tegus Opa membuat semua tertawa.


"Balena itu artinya apa?" tanya Reza lagi.


"Tidak pakai arti, itu kumpulkan nama Opa-Opa dan Oma-Omanya." jawab Kenan terkekeh. Semua jadi ikut terkekeh, demi menyenangkan hati Baron, lagi-lagi Kenan tidak kreatif.


"Tidak kreatif tapi lumayan lah aku suka Putri Kenan, harusnya aku Putra Kenan." komentar Nanta membuat semuanya terbahak.


............


Enam bulan berlalu, kehadiran Balen membuat kehidupan Kenan, Nona dan Nanta begitu berwarna. Ada saja aktifitas lucunya yang membuat semua tertawa. Seperti sore ini saat Nanta sedang asik menonton TV, Nona menitipkan Balen di sofa sementara Nanta duduk dibawah, entah bagaimana caranya Balen sudah bersandar manja dibahu Nanta.


pinjem fotonya ya anak siapa ini bikin gemes.



Nanta tertawa dan dengan iseng menaik turunkan bahunya, sehingga kepala Balen bergoyang-goyang dan Balen malah tertawa-tawa geli menikmati permainan Nanta, betul-betul menggemaskan. Kenan yang sedang menerima staff dari kantornya jadi ikut tertawa melihatnya, meskipun kembali sibuk membahas pekerjaan dan pergerakan saham perusahaan.



Nona menyiapkan makanan kecil dan minuman untuk suami dan tamunya, kemudian kembali bergabung bersama Nanta dan Balen.


Tidak berapa lama setelah tamunya pulang, asisten rumah tangga kembali memberi tahu jika Kenan dan Nona ada tamunya.


"Siapa?" tanya Kenan ingin tahu mengingat ia tidak punya janji temu dengan siapapun lagi.


"Oh Tante Sheila sama Om Farhan mau bertemu Balen. Tadi sudah chat, aku lupa." kata Nanta pada Papa dan Mamon. Sejak pertemuan di rumah sakit Sheila jadi sering bertukar kabar dengan Nanta, bukan dengan Kenan lagi.


"Suruh masuk saja, Bi." kata Nona ikut berdiri menuju keruang tamu.


"Suruh kesini saja, jangan diruang tamu. Mereka mau lihat Balen kan." kata Kenan pada Nona.


"Iya." Nona berjalan menyambut Sheila dan Farhan sementara Nanta dan Kenan bermain bersama Balen.


"Assalamualaikum..." sapa Farhan yang sudah berjalan menuju ruang keluarga. Sheila dan Nona berjalan dibelakang Farhan.


"Ya ampun Balen, lincahnya." Sheila langsung saja menyapa Balen yang sedang dipangkuan Nanta.


"Tidak bisa diam." kata Nona terkekeh ikut mengomentari Balen.


"Jadi pengen punya baby lihat kamu." kata Sheila ingin sekali mencubit Balen saking gemasnya.


"Bikinlah." kata Kenan santai sementara Farhan terkekeh dibuatnya.


"Dua anak cukup." kata Farhan lagi.


"Mana anak-anak tidak diajak?" tanya Kenan pada Sheila dan Farhan. Ia senang sekali karena Sheila sudah kembali pada keluarganya.


"Ada Sherina tadi lagi parkir." kata Sheila sambil melihat ke ruang tamu, tapi anaknya belum juga muncul.


"Jemput Nan, takutnya pintu terkunci." kata Nona pada Nanta. Nanta pun menyerahkan Balen pada Papa yang duduk disebelahnya menuju ke ruang tamu. Ia belum sempat berkenalan dengan anak Tante Sheila.


Begitu membuka pintu, Nanta melihat gadis cantik yang sedang membuka sepatu sandalnya.


"Pakai saja." kata Nanta tersenyum ramah.


"Eh Kak Nanta." gadis itu mengangguk sopan pada Nanta.


"Kamu kenal aku?" tanya Nanta yang lupa kalau ia atlet basket yang cukup terkenal saat ini.


"Kamu Sherina kan?" tanya Nanta lagi.


"Kakak kenal aku?" tanya Sherina tidak percaya. Nanta terkekeh.


"Tadi Mamamu bilang Sherina lagi parkir Mobil." jawab Nanta tertawa geli.


"Oh kupikir Kak Nanta pernah melihat aku disekolah."


"Kita disekolah yang sama?" tanya Nanta heran.


"Aku kelas delapan, didepan kelas Kak Nanta persis." jawab Sherina membuat Nanta mengangguk.


"Maaf tidak perhatikan." kata Nanta jujur. Sherina maklum saja mengingat Nanta tergolong acuh tak acuh dengan lingkungan sekitarnya tapi tidak sombong. Selalu menjawab jika ada yang menyapanya.


"Ayo masuk." kata Nanta lagi menyadari cukup lama membuat Sherina menunggu didepan pintu. Sherina mengikuti Nanta berjalan menuju ruang keluarga.


"Ini Sherina yang nomor dua ya?" tanya Nona pada Sheila.


"Iya, Kakaknya tadi diajak tidak mau." jawab Sheila lagi, Balen sedang asik bermain dengan mainan musik yang dibawakan Sheila dan Farhan.


"Ternyata satu sekolah sama aku." kata Nanta pada Papa dan Mamon.


"Oh ya? kalian sudah saling kenal sebelumnya?" tanya Kenan penasaran.


"Tidak aku baru tahu tadi." jawab Nanta jujur.


"Aku sudah kenal Kak Nanta." jawab Sherina, membuat Kenan dan Nona tertawa sudah tidak heran lagi.


"Sherin salaam dulu sama Om dan Tante." tegur Farhan pada Putri bungsunya. Sherina mengikuti menyalami Nona dan Kenan dengan santunnya. Cukup lama Sheila, Farhan dan Sherina dirumah Kenan, bahkan mereka sempat ikut makan sore menjelang malam, hingga akhirnya mereka pamit setelah sholat magrib bersama.


"Terima kasih sayang." kata Kenan ketika sudah berada dikamar bersama Nona, sementara Balen sudah tertidur di box bayi.


"Terima kasih apa?" tanya Nona menghampiri Kenan dan memeluk suaminya.


"Sudah menjadi Mamon yang asik untuk Nanta dan Balen, juga membantu Sheila kembali bersama keluarganya."


"Itu karena Allah membuat aku cinta suamiku." kata Nona menciumi Kenan bertubi-tubi.


"I love you." bisik Kenan mulai ******* bibir Nona dengan lembut.


"Meskipun badanku masih sedikit melebar?" tanya Nona setelah Kenan melepaskan ciumannya. Kenan tertawa dan menganggukkan kepalanya.


"I love you too, I love you too, I love you too." jawab Nona mencium kening, pipi kiri dan kanan Kenan, kemudian kembali menyerang bibir Kenan sambil mendorong suaminya berjalan mundur ke ranjang mereka. Bahagia dan bersyukur sekali dengan kehidupannya saat ini. Itu pun yang Kenan rasakan. Hingga akhirnya mereka sibuk beraktifitas mengejar target yang kedua.


Kisah Kenan dan Nona sampai disini saja ya. Sambil menunggu Nanta sedikit besar aku lanjutkan kisah cinta putra putri Andi, Mario dan Anto dulu di Novel terbaruku Never Say Never. Terima kasih sudah membaca, memberi like, berkomentar, memberi hadiah dan juga vote. Semua membuat aku bahagia. I love you all 💕