
"Papon, Baen ninap umah Om Deni don." Balen bujuki Kenan saat makanannya sudah datang dan sekarang ia kembali bergabung bersama rombongan awal. Kenan hanya pandangi Balen tanpa menjawab. Kembali fokus ngobrol sama Abang dan yang lainnya.
"Papon mah ditu." bersungut karena diabaikan, tapi tidak berani menangis karena keinginannya ke Cirebon diikuti dan tadi janji tidak akan rewel.
"Napa tamu Baen?" tanya Richie yang lihat Kakaknya resah.
"Baen mo ninap umah Om Deni." kata Balen pada Richie.
"Ninap Oten aja Baen, Umah Om Deni penuh tau ada temen Aban." Richie jelaskan pada Balen.
"Baen bobona sama Aban."
"Sempit tau tasulna tecil. Tamu ndak bisa bobo nanti, emanna tamal Baban." malah mengerti dan berusaha redam keinginan Balen.
"Tan bisa bobo tamal Om Deni." masih berusaha kasih pengertian pada Richie.
"Sempit Juda Baen, tamu janan nepotin olan deh." sok tua marahi Kakaknya.
"Cewet nih Ichie taya ibu-ibu." kesal karena tidak didukung.
"Eh disini banyak ibu-ibu loh, enak saja bilang ibu-ibu cerewet." Nona tegur Balen sambil berbisik.
"Ibu-ibuna Mamon tok butan yan lain." Balen membela diri, semua langsung terbahak, meskipun sibuk ngobrol tetap saja percakapan Balen dan Richie jadi perhatian mereka semua.
"Ayo makan, jangan rewel Balen." kata Kenan datar, tidak marah tapi tidak ramah juga, kalau sudah begitu ekspresi Papon, Balen tidak bisa memaksakan kehendak. Bikin Papon marah sama saja cari gara-gara. Sudah jelas tadi Papon mau istirahat dirumah, karena Balen malah jadi ikut ke Cirebon.
Balen mulai nikmati makanannya, tidak lagi memaksa untuk menginap dirumah Om Deni, Deni senyum saja melihat ekspresi keponakannya itu. Mau tawarkan Balen menginap tapi karena lihat Kenan seperti keberatan, Deni tidak mau memprovokasi Balen juga.
"Mereka aman di rumahmu Den?" tanya Reza pada Deni.
"In syaa Allah aman Bang Eja." jawab Deni terkekeh.
"Titip Rumi keponakanku, Den." kata Mario pada Deni.
"Oh Rumi lagi mau kita kenalkan dengan Fino tuh yang kacamata, dokter juga." kata Deni beritahu Mario.
"Siapa Fino?" tanya Mario.
"Staff aku Bang di rumah sakit, calon dokter bedah." jawab Deni nyengir.
"Pintar anaknya." Dini acungkan jempol.
"Bagus deh kenalkan saja." Mario terkekeh.
"Tidak jadi Larry nih?" tanya Andi.
"Bokapnya sulit lah, gue agak ragu." jawab Mario.
"Yah siapapun Nanti jodohnya, biarkan saja mereka berteman dulu." kata Reza pada sahabatnya.
"Iya makanya gue bilang kenalkan saja, kumpul sama orang-orang positif, jadi ikutan positif kan anak gue." kata Mario tersenyum senang lihat Rumi senyumnya mengembang, bahkan tertawa riang bersama yang lain.
"Dapat teman baru juga tuh Rumi, tadi sudah tukaran telepon sama Femi." kata Dini ikutan bercerita.
"Oh siapa Femi?" tanya Mario lagi.
"Sepupunya Fino, dokter juga. Femi kita kenalkan sama Larry dan Mike kemarin itu, tapi tidak tahu berjodoh apa tidak." kata Deni lagi.
"Giat sekali jodohkan orang." Kenan terkekeh.
"Itu kan idenya Nanta, tadi bilang aku kalau ada dokter single kenalkan sama Rumi, kebetulan Fino lagi ada urusan dirumah." Deni menjelaskan, semua tertawa jadinya.
Makan malam seru selesai sudah, saatnya semua kembali untuk beristirahat. Balen dan Richie masih lincah saja, mereka saling bercanda, melupakan keinginan Balen untuk menginap di rumah Om Deni. Saat sudah diparkiran dan Salam cium pipi Kiri kanan, Balen hampiri Deni.
"Maapin Baen ya ndak ninap umah Om Deni." katanya melirik Papon, Deni jadi tertawa geli.
"Lain kali kalau ke Cirebon lagi menginap rumah Om saja." kata Deni pada ponakannya.
"Iya, Baen juda mona ditu, tapi Papon ninap Oten sih." katanya jelaskan pada Deni.
"Kan Balen beda rombongan." Mario ingatkan Balen.
"Iya, Baen inet tok, Baen temenin Papi Ciebon." katanya seakan sedang menemani Mario ke Cirebon.
"Makanya kita menginapnya di Hotel, karena ada Papi, Popo sama Papa tuh." Kenan tunjuk ketiga sahabat Abangnya.
"Ada Ayah juda." jawab Balen.
"Apa kita tukaran saja, Abang Dan temannya yang menginap di hotel, kita dirumah Om Deni?" tanya Nona menggoda anak gadisnya.
"Ndak usah." jawab Balen sok bijaksana, padahal lihat Papon tidak berubah pikiran.
"Balen jadi bobo sama Abang?" tanya Nanta hampiri Papa dan adiknya.
"Hmm..." Kenan berdehem.
"Menginap di hotel saja lah." kata Nanta tahu Papon tidak berkenan.
"Iya Baen temenin Papi duu ya." kata Balen pada Abangnya.
"Iya." Nanta terkekeh.
"Sedikit saja boleh?" tanya Nanta menggoda singkong rebusnya.
"Janan." katanya goyangkan telunjuk kanannya.
"Es krim sudab dibawa?" Nanta mengingatkan.
"Tuh." tunjuknya pada plastik yang dipegang Mamon.
"Masukkan kulkas dulu biar tidak lumer." Nanta ingatkan Balen.
"Enak tau talo lumel." sahut Richie sok tahu.
"Tidak enak, jadi bukan es krim dong." Nanta mengacak anak rambut Richie.
"Baban..." protesnya mengelak Dan membenarkan rambutnya supaya tidak berantakan.
"Kenapa?" tanya Nanta.
"Bantakan lambut atu." keluhnya.
"Biar saja. Sudah malam juga." Nanta terkekeh.
"Ndak bole ditu, halus lapi don, nanti Papana malu, anakna bantakan." katanya dengan dahi berkerut.
"Oh iya Papanya Kenan sih ya, kan rapi terus." Reza ikutan nimbrung.
"Ayahna juda malu tan talo anakna ndak catep?" tanya Richie masih rapikan rambutnya.
"Iya dong anaknya harus baik, cakep, rapi, rajin ibadah, rajin belajar, menurut sama orang tua." Bunda Kiki langsung saja menyambar.
"Banak benen halusna." Richie mengeluh.
"Makanmu saja banyak, mainanmu juga banyak." oceh Nona.
"Mamon janan naik otaf." pesan Richie pada Nona, semua kembali terbahak.
"Memang Mamon suka naik oktaf?" tanya Deni tertawa, Nona dapat lawan setimpal sekarang. Dulu Baron, Deni dan Samuel yang jadi korbannya.
"Tana sendili deh." kata Richie pada Om Deni.
"Anaknya harus sabar kalau Mamon naik oktaf." Samuel tertawa memandang Nona.
"Atu sih sabal, Mamonna ajah ndak sabalan." curhat pada kedua om nya.
"Mamon tinggal di Cirebon nih kamu bilang Mamon tidak sabar." kata Nona pada Richie.
"Tuh denel sendili tan? talo sabal pasti ndak malahin atu." katanya pada Deni dan Samuel lalu menggandeng tangan Nona.
"Jangan baik-baikin deh." kata Nona lagi.
"Sabal don Mamon, atu tan anak sayanan Mamon." kata Richie selembut mungkin.
"Kata siapa anak kesayangan, Abang tuh yang anak kesayangan Mamon." kata Nona pada Richie.
"Ya deh atu aja yan sabal talo ditu." jawab Richie tinggalkan Nona lalu segera dekati Mario yang sudah membuka pintu mobilnya, tidak mau berdebat dengan Mamon lagi, bisa naik oktaf lagi pikirnya
"Ichie mau ikut Ayah?" tanya Reza tawarkan Richie.
"Ya udah." segera Richie berlari menyusul Ayah dan melompat dalam gendongan Reza, lupa pamitan sama Papa dan Mamon.
"Abang ke Mobil ya. Assalamualaikum..." Nanta salami semuanya lalu segera menuju Mobil dimana Mike dan lainnya sudah menunggu Nanta.
"Waalaikumusalaam..." jawab yang lain merekapun segera ke Mobil masing-masing.
"Richie merajuk ya?" Nona jadi khawatir, Deni tertawakan adiknya.
"Bujuk deh, kaya gue bujuk kamu dulu." kata Deni yang mobilnya diparkir sebelah Mobil Mario.
"Yah gue kan biasa dibujuk." jawab Nona terkekeh.
"Elu sudah jadi Ibu Non, harus lebih sabar." Samuel ingatkan Nona.
"Iya sih, masih suka lupa biasa dibujuk. Dapat suami juga gitu, makasih ya sayang." Nona mengusap bahu Kenan.
"Papon, Baen tan ndak ninap umah Om Deni, tapi Paponna janan cembeutin Baen don." kata Balen yang dari tadi belum dapat senyum Paponnya. Kenan terkekeh segera menggendong Balen dan mencium pipinya.
"Kalau anaknya menurut, Paponnya jadi senang." kata Kenan kembali mencium pipi gadis kecilnya. Lalu perlahan masukkan Balen ke Mobil, disusul Nona, baru kemudian Kenan yang masuk.
"Besok kita kemana?" tanya Deni, siap temani tamunya.
"Sarapan bersama ya." ajak Mario.
"Mau sarapan dimana?" tanya Deni.
"Carikan saja tempat yang enak, bosan makanan hotel." jawab Mario.
"Oke, besok jam tujuh sudah di restaurant biasa Non, sarapan." kata Deni pada adiknya.
"Oke." jawab Nona lambaikan tangan pada Abangnya karena Mobil mulai melaju perlahan.