I Love You Too

I Love You Too
Bungkus Pempek



"Ada apa sih tadi pada kasak kusuk?" tanya Dania ketika mereka sudah dimobil.


"Kasak kusuk apa?" tanya Nanta menatap Dania melalui kaca spion, ia yang menggantikan posisi Pak Timbul saat ini. Pak Timbul dibebas tugaskan karena hari ini hari libur.


"Itu keluarga Mas Nanta sama Papaku." Dania duduk dibangku penumpang tengah bersama Wilma. Balen sedang duduk manis di apit oleh Winner dan Lucky. Sementara Ando duduk dibangku penumpang depan. Mereka menuju rumah Mama Tari saat ini.


"Mungkin mereka ada urusan." jawab Nanta tidak ingin memperpanjang.


"Mungkin kalian mau dijodohkan." celutuk Wilma terkekeh, sudah biasa kalau keluarga kasak-kusuk apa lagi yang akan dibahas kalau bukan, bisnis, hutang piutang dan perjodohan, ada lagi yang lebih parah gosip hahaha untungnya keluarga mereka tidak suka bergosip. Nanta tersenyum saja menanggapi ucapan Wilma, ia malas menanggapi.


"Tidak mungkin, aku baru bertemu Papa, masa langsung dijodohkan." kata Dania terkekeh.


"Mungkin saja, Kak." celutuk Lucky dari belakang.


"Memang sih kemungkinan selalu ada, tapi yang ini tidak mungkin." jawab Dania menoleh pada Lucky yang sedang makan kentang goreng bersama Balen.


"Aban juda jodohin tadi ya." Balen berbicara lantang, tetap fokus pada kentangnya. Aduh, lupa ada Balen, anak kecil jujur amat ya, pikir Nanta.


"Abang Ando iya dijodohin sama Kakak Wilma." jawab Ando terkekeh melihat muka pucat Nanta.


"Butan." jawab Balen santai. Nanta mati gaya, ia sedang menyetir tidak bisa membungkam mulut Balen.


"Abang siapa?" tanya Winner terkekeh, ia sudah tahu siapa yang dimaksud Balen.


"Balen mau ke toko buku tidak?" Nanta menawarkan, berusaha mengalihkan perhatian Balen.


"Yah." jawab Balen langsung melepas kentangnya dan melompat ingin minta pindah kedepan. Ando terkekeh, Nanta terselamatkan.


Mereka tiba dirumah Mama Tari yang kebetulan sudah sampai dirumah lebih dulu, saking sibuk melayani teman-temannya, Nanta sampai tidak berjumpa dengan Kevin.


"Ayo masuk." ajak Mama Tari pada anak-anak muda ditambah seorang anak Balita.


"Mama Ayi, ulan mana?" tanya Balen saat melihat Mama Tari tidak menggendong Wulan.


"Bobo sayang, Wulan capek dari kemarin berenang terus di hotel." kata Mama Tari pada Wulan.


Berbagai jenis pempek sudah tersedia dimeja makan. Tari langsung mengarahkan anak-anak untuk menikmatinya. Dipikir-pikir lucu juga ya, liburan ke Malang tapi malah makan makanan khas Palembang, tapi itulah yang terjadi.


"Enak betul Tante." Wilma mengerjabkan matanya menikmati Pempek dipiringnya.


"Kamu sudah coba belum?" tanya Nanta pada Dania.


"Ini baru mau coba." Dania menunjuk piringnya, mulai menikmati Pempek resep turun temurun keluarga Om Bagus.


"Hmm..." Dania tidak sanggup berkata apapun kecuali berdehem dan mengacungkan jempol, kemudian menganggukkan kepalanya. Dania tersenyum puas, Nanta tidak berbohong.


"Tante yang untuk dibawa pulang bagaimana?" tanya Wilma polos, membuat Tari terkekeh.


"Sudah ready pempek yang mau dibawa, Bi?" tanya Tari pada Bibi.


"Ready, empat Mika besar kan bu? masing-masing 100pcs?" tanya Bibi memastikan. Tari menganggukkan kepalanya.


"Kalian mau bawa pulang?" tanya Tari pada Winner dan Lucky.


"Mau." jawab keduanya.


"Masih ada tidak, Bi?" Tari memandang kearah dapur, Bibi yang sedari tadi mondar mandir menganggukkan kepalanya.


"Ada." jawab Bibi, segera menyiapkan satu mika lagi. Tari seperti sedang menerima orderan pempek saat ini.


"Order sis." celutuk Nanta menggoda Mamanya, membuat Tari terkekeh.


"Kalau di Jakarta suka kangen Pempek disini." kata Nanta pada Mama.


"Padahal kamu dua minggu sekali pulang, masih saja seperti belum kebagian.".


"Kata Papa kamu tadi marah karena mau dijodohkan?" bisik Tari ingin tahu. Nanta menganggukkan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Tari lagi dengan suara pelan.


"Banyak hal yang harus dipikirkan, aku rasa Om Micko lupa itu." jawab Nanta juga dengan suara pelan.


"Apa?"


"Pertama, Om Micko baru bertemu dengan Dania, baru berapa jam tapi sudah ingin mengatur kehidupan Dania, walaupun Om Micko berhak tapi bagaimana ya? aneh saja menurutku." Tari menganggukkan kepalanya setuju.


"Lalu?"


"Kedua, Bagaimana dengan Mama Dania di London? keberadaan Dania saja masih disembunyikan oleh Mama Dania, dia masih bilang sama Om Micko kalau Dania ada di London, hubungan mereka masih kusut." Nanta menghela nafas dan menaikkan alisnya sambil tersenyum.


"Hanya itu?"


"Keempat?" Nanta membercandai Mama sambil tertawa.


"Hahaha kelima." jawab Mama ikut bercanda tapi sewot, Tari berpikir dalam hati bahwa pemikiran Nanta saat ini sangat dewasa, yah Nanta bukanlah anak-anak lagi.


"Hahaha iya-iya ketiga aku dan Dania baru satu minggu kenal. Itu sudah kusampaikan pada semuanya."


"Keempat, saat ini aku tidak mau dijodohkan, aku mau kerja dulu baru menikah. Aku sudah bilang Papa dulu kalau dijodohkan seperti aku ingin pernikahan dini." kata Nanta lagi ingat saat usianya tujuh belas tahun dulu.


"Dan yang kelima, Persatuan Indonesia, hahaha." Nanta kembali terbahak, senang sekali menggoda Mamanya, Tari pun ikut terbahak dibuatnya.


"Ada apa sih?" tanya Bagus yang sudah berganti pakaian, sepertinya hendak pergi lagi.


"Mau kemana Om?" tanya Nanta pada Bagus.


"Kembali Ke hotel, masih ada pekerjaan yang tersisa." jawab Om Bagus menepuk bahu Nanta.


"Om, tadi keren loh. Sukses, selamat ya Om." Nanta menyelamati Bagus, acaranya sukses.


"Hahaha terima kasih Nanta, ikuti terus setiap event yang Om dan Kevin buat ya." katanya pada Nanta, karena ini pertama kalinya Nanta menghadiri acara yang Bagus selenggarakan.


"In syaa Allah Om, tadi aku tidak bertemu Mas Kevin." Nanta jadi sedih sendiri, ia ingin sekali bertemu Kevin.


"Nanti malam ikut saja acara pembubaran Panitia, kami ada disana." Bagus menawarkan.


"Tidak usah Om, pasti sibuk sekali. Lain kali saja."


"Om jalan dulu ya, maaf loh tidak menemani kalian." kata Bagus lagi, kemudian menghampiri Tari mengecup dahi dan kedua pipinya, baru kemudian bibirnya. Tidak malu lagi didepan Nanta.


"Nanti dijemput supir." katanya pada Tari.


"Loh Mama kenapa tidak ikut sekalian?" tanya Nanta.


"Kalian kan mau makan Pempek." jawab Tari.


"Ya ampun Mama, kan bisa besok juga. Ya sudah sekalian saja. Biarkan saja teman-temanku." kata Nanta pada Tari.


"Tidak usah, santai saja. Wulan juga masih tidur. Nanti saja Mama menyusul." jawab Tari terkekeh, Bagus pun begitu. Mereka mengantarkan Bagus hingga ke mobil.


"Papadus, mau mana?" tanya Balen yang sedari tadi menempel pada Lucky.


"Kerja dulu ya." kata Bagus mencium Balen.


"Yah, bye papadus, ati-ati ya." Balen melambaikan tangannya dan Kissbye pada Bagus.


"Ayo semua, om jalan dulu." pamit Bagus.


"Hati-hati Om Bagus, terima kasih." kata Ando mewakili teman-temannya. Bagus menganggukkan kepalanya tersenyum manis pada semuanya. Senang sekali melihat mereka ikut senang menyaksikan acara yang baru saja berlangsung tadi siang, ada kepuasan tersendiri di hati Bagus.