
"Selamat Pagi." sapa Mario sambil tersenyum saat masuki ruangan Nanta. Sudah jauh lebih tenang dan tidak ada kemarahan diwajahnya.
"Semangat pagi Papi." jawab Nanta terkekeh. Mario ikut terkekeh sementara Rumi tampak tegang.
"Aku tinggal dulu." ijin Nanta pada keduanya. Rumi pandangi Nanta sambil gelengkan kepalanya. Mario juga melihat ekspresi Rumi yang keberatan Nanta keluar ruangan.
"Kamu mau Nanta ada disini, Rum?" tanya Mario pada Rumi. Rumi terkesiap mendengar pertanyaan Mario, ia tampak linglung pandangi Nanta dan Mario.
"Kamu disini saja Boy, jadi saksi pembicaraan kami." kata Mario pada Nanta.
"Iya Pi." Nanta menurut tidak jadi berdiri. Duduk dan diam bersiap mendengarkan.
Mario menghela nafas tersenyum pada Rumi sambil mengangkat alisnya.
"Bagaimana Rumi?" tanya Mario pada Rumi.
"Bagaimana apa?"
"Ada yang mau kamu ceritakan sama saya?" tanya Mario, Rumi gelengkan kepalanya, terlihat tidak nyaman. Sesekali menghela nafas, mungkin ingin buru-buru pergi dari hadapan Mario.
"Saya bingung kamu kok takut sekali dengan saya ya? Saya pernah bilang kamu waktu pertama kali datang ke Jakarta. Anggap saya seperti bapakmu sendiri. Tapi kamu malah menjaga jarak dengan saya." kata Mario panjang lebar.
"Masalah kamu apa sih?" tanya Mario pada Rumi.
"Tidak ada masalah." jawab Rumi tegang.
"Tidak ada masalah, yakin?" desak Mario. Rumi anggukan kepalanya.
"Baiklah Rumi, karena kamu di Jakarta, hanya saya keluarga kamu satu-satunya maka kamu tanggung jawab saya. Langsung saja pada pokok permasalahan, berapa banyak minuman keras yang kamu habiskan dalam sehari?" tanya Mario, Nanta hanya dengarkan saja.
"Seperti minum air putih saja, kalau haus saya minum ." jawab Rumi membuat Mario terbelalak. Bagaimana bisa kalau haus yang dicari minuman keras.
"Apa sebab?" tanya Mario.
"Kebiasaan saja dari S'pore. Hanya kebiasaan tidak ada masalah."
"Setiap hari?"
"Iya setiap hari seperti minum air putih."
"Sudah berapa lama?"
"Baru dua tahun belakangan, waktu saya mau kerja di S'pore, saya t... saya salah maafkan saya. Pukul saja tidak apa pukul saja." langsung saja Rumi meminta Mario memukulnya.
"Pukul pakai tangan saja, jangan kasih pisau saya mohon, jangan..." Rumi gelengkan kepalanya seperti orang ketakutan dan panik.
"Rumi..." panggil Mario.
"Saya salah Papa, jangan kasih pisau." kata Rumi lagi disela tangisnya. Nanta menarik nafas panjang, sepertinya dimata Rumi saat ini Mario adalah Papanya.
"Rumi, saya Mario. Saya Papi Mario bukan Papa kamu." Mario coba sadarkan Rumi. Rumi masih saja gelengkan kepalanya, kedua pergelangan tangannya seperti sedang melindungi wajahnya. Mario segera dekati Rumi.
"Jangan Papa." teriak Rumi histeris tambah menangis.
"Rumi sayang, saya Papi Mario, Nak. Dengar...?" Mario memeluk Rumi yang masih defence lindungi dirinya sendiri.
"Ya Allah, kenapa begini kamu Rum?" Mario jadi miris dan sedih sendiri. Selama ini tidak begitu perhatikan Rumi. Pikirnya Rumi baik-baik saja dan tidak nyaman jika dekat dengan Mario dan Regina. Hanya itu saja yang Mario pikirkan. Makanya Mario pernah bilang pada Nanta jika Rumi agak unik. Mario mengusap pelan bahu Rumi, sementara Nanta memberikan Rumi air hangat agar diminumnya.
"Rumi, dengar Papi. Kamu mau sembuh kan?" Rumi anggukan kepalanya dalam delapan Mario, masih menangis. Mario berikan gelas air hangat yang dibawa Nanta tadi pada Rumi.
"Papi akan ajak kamu ke psikolog ya. Kamu harus mau berhenti minum alkohol, Nak, Sebelum terlambat. Kamu masih muda, banyak yang masih bisa kamu raih."
"Kamu mau terapi dimana? Rencana Papi mau ajak kamu terapi di London sekalian kamu tugas belajar, mau?" Rumi gelengkan kepalanya.
"Masih mau bekerja di Unagroup sambil terapi di Jakarta?" tanya Mario lagi. Rumi anggukan kepalanya, tangisnya sudah mulai reda tapi masih terdengar isaknya sesekali.
"Mulai hari ini kamu tinggal dirumah Papi ya. Kamu punya keluarga ada Papi dan Mami yang sayangi kamu." kata Mario pada Rumi, akan lebih mudah diawasi jika tinggal satu rumah. Rumi tampak diam.
"Kalau mau sehat, kamu harus berada dilingkungan yang sehat." tegas Mario lagi.
"Kalau kamu tinggal sendiri, kamu akan merasa kesepian lalu kembali teringat minuman itu lagi. Papi memang tidak bisa memaksa kamu berhenti total, tapi Papi akan ajak kamu terapi sampai kamu tinggalkan minuman itu. Papi tidak mau kamu mati sia-sia." kata Mario kembali mengusap lembut bahu Rumi yang sudah mulai relaks.
"Papi akan urus semuanya." Mario lepaskan pelukannya karena Rumi sudah tenang. Kemudian tersenyum pada Rumi, entahlah apa ini akan berhasil tapi Mario sangat berharap Rumi bisa hidup normal. Ia segera hubungi istrinya dirumah untuk sampaikan pada asisten rumah tangga bereskan kamar tamu, mulai hari ini Rumi akan tinggal bersama mereka.
"Ada masalah, honey? tiba-tiba kamu ajak Rumi tinggal bersama kita?" tanya Regina pada Mario, tidak keberatan hanya bingung saja.
"Iya." jawab Mario singkat tidak mungkin ceritakan hal ini dihadapan Rumi.
"Oke honey, kamar sedang di bersihkan." kata Regina yang mengerti suaminya belum bisa cerita banyak. Mario mengakhiri sambungan teleponnya.
"Pesan makan, Nan." pintanya pada Nanta. Nanta pun memanggil pegawai restaurant untuk bawakan menu makanan keruangannya.
"Kalau punya masalah ceritakan, jangan dipendam sendiri." kata Mario pada Rumi.
"Iya." jawab Rumi pelan, sedikit malu karena menangis dan berlaku aneh dihadapan Nanta. Tapi memang tadi Rumi sendiri yang minta Nanta tidak keluar dari ruangannya.
"Rumi, kamu harus sembuh." kata Mario lagi.
"Iya."
"Minuman keras bisa kamu gantin infuse water." kata Nanta pada Rumi.
"Setiap kali ingin minum itu kamu minum jus murni saja." kata Mario lagi. Rumi tersenyum saja, agak ragu bisa lakukan itu.
"Semua harus dari diri kamu sendiri. Sekuat apapun Kami membantu kamu, tapi kamu tidak ada keinginan untuk tinggalkan minuman itu, percuma saja." kembali Mario menarik nafas.
"Menulis juga bisa bantu kamu untuk lupakan kebiasaan buruk kamu." kata Nanta pada Rumi.
"Apa yang kamu rasakan jika tidak minum itu?" tanya Mario.
"Mual, berkeringat dan gemetar." jawab Rumi jujur.
"Siasati dengan apa kalau lagi dikantor tiba-tiba muncul gejala seperti itu?" tanya Mario, Nanta sih sudah tahu.
"Ini." jawab Rumi membuka tasnya dan perlihatkan botol minuman silver seperti yang disita Larry.
"Loh kamu ambil lagi dari Larry?" tanya Nanta pada Rumi.
"Aku punya banyak." jawab Rumi tidak berani senyum, masih takut dengan Mario.
"Pakai saja botol itu tapi isi dengan infus water atau jus buah." kata Mario santai, hadapi Rumi bukan dengan kemarahan, nanti bisa menjauh dan tambah-tambah saja kebiasaan buruk ya.
"Iya." jawab Rumi, iya saja tidak tahu pelaksanaannya nanti.
"Kamu suka ya sama Larry?" tanya Mario pada keponakannya itu.
"Iya." jawab Rumi jujur.
"Mau dapat cowok baik-baik, harus pantaskan diri." Mario terkekeh menepuk bahu Rumi. Entahlah mereka akan berjodoh atau tidak, diotak Mario saat ini adalah Rumi kembali menjalani hidup normal, setelah itu baru pikirkan jodohnya.