I Love You Too

I Love You Too
Shakira Molero



Kenan dan Nanta tiba di rumah sakit Kota Malang, setelah sebelumnya mengantar Nona, Dania, Ncusss dan anak-anak terlebih dulu ke rumah. Tampak Raymond sedang duduk termenung di ruang tunggu.


"Bagaimana Roma?" tanya Kenan, Raymond gelengkan kepalanya, berdiri dan memeluk Kenan sambil menangis. Nanta mengusap bahu Abangnya perlahan, ia ikut bersedih jika Abangnya bersedih.


"Ray, tenanglah. Roma baik-baik saja." tegas Reza datang ikut menenangkan Raymond.


"Abang sudah lihat Roma?" tanya Kenan pada Reza.


"Kiki dan Monik yang temani di dalam, Ray bagaimana ini, istrimu melahirkan tapi kamu lebih lemah dari pada Roma." omel Reza pada Raymond yang hari ini terlihat cengeng.


"Melahirkan normal?" tanya Kenan yang mendengar jeritan Roma. Reza anggukan kepalanya.


"Kamu sudah makan, boy?" tanya Kenan pada Raymond.


"Bagaimana mau makan, dia seperti itu dari tadi, bisanya nangis saja. Bikin orang panik." sahut Reza kesal pada Raymond, belum sempat Raymond menjawab sudah Ayah Eja wakilkan saja.


"Temani makan abangmu, Boy." kata Kenan pada Nanta.


"Ayo Bang." ajak Nanta menarik tangan Abangnya. Raymond yang tidak keluar suara dari tadi mengikuti Nanta. Baru beberapa langkah,


"Oeee..." terdengar tangisan bayi dari ruangan bersalin. Raymond langsung balikkan badan tinggalkan Nanta dan berjalan menuju ruang bersalin, tapi hanya bisa berdiri di depan karena sudah tidak diperbolehkan masuk.


"Sudah lahir?" tanya Nanta pada Papa. Sementara Ayah Eja ikut Raymond dan sekarang keduanya berdiri di depan pintu berharap ada yang keluar dari ruangan itu. Kenan dan Nanta hanya pandangi Reza dan Raymond.


"Kita duduk disana dulu, boy." ajak Kenan pada putranya. Nanta ikuti Papa duduk di bangku yang tersedia di lorong. Tidak jauh dari ruangan bersalin.


Kiki dan Monik keluar dari ruang bersalin dengan wajah sumringah, senyum melengkung di bibir mereka. Tapi senyum Kiki langsung pudar saat melihat Raymond. Di jewernya telinga Raymond kesal.


"Bunda..." Raymond meringis berusaha melepaskan tangan Kiki dari telinganya.


"Sana masuk anak istrimu menunggu." ketus Kiki kesal.


"Galak." keluh Raymond, sementara Monik terkikik geli menepuk bahu menantunya. Raymond masuki ruangan bersalin, lagi-lagi tangisnya keluar saat mendekati Roma. Diambilnya tangan Roma dan diciuminya. Roma tersenyum lemah pada suaminya.


"Anaknya belum diadzani. Bapak yang pakai adzan atau tidak? karena ada yang tidak juga." kata dokternya pada Raymond.


"Adzan saja dokter, paling tidak anakku mendengar adzan pertama kali dari bapaknya." jawab Raymond dengan suara serak. Ia mulai adzankan anaknya setelah dokter serahkan sang bayi pada ayahnya. Sungguh Raymond kembali tak kuasa menahan tangisnya. Tangis ketakutan ya tadi sekarang berubah menjadi tangis bahagia.


"Bayinya perempuan." Raymond tersenyum senang saat Ayah, Om Kenan dan Nanta masuk ke ruang perawatan dimana Roma sudah dipindahkan disana, sementara Kiki dan Monik sudah menemani Roma lebih dulu.


"Cantik, mirip Balen." Nanta langsung tersenyum memandang Papanya.


"Masa sih?" Kenan terkekeh menatap wajah cucu pertama generasi berikut. Sebentar lagi menyusul cucu ke dua yang masih berada di perut Dania.


"Iya sih Om. Akhirnya punya juga yang seperti Balen." Roma tertawa senang.


"Siapa namanya?" tanya Nanta.


"Shakira Molero." jawab Roma tersenyum, Raymond anggukan kepalanya.


"Berasa orang latinkah?" Reza terbahak.


"Ada artinya Ayah." jawab Roma semangat.


"Apa?" tanya Monik penasaran.


"Sayangnya Kiki Reza Monik Alex Raymond Roma." jawab Roma senang.


"Eh buset dikira kita tidak sayang ya." Nanta mendengus.


"Ya kamu nanti bikin saja sayangnya Kenan Tari Nona Micko Lulu..." belum selesai Raymond bicara Nanta mengibaskan tangan sambil gelengkan kepala.


"Kepanjangan." katanya malas.


"Shakira kamu cantik sekali, panggil aku apa ya?" Nanta bingung.


"Pak cik." jawab Raymond.


"Oh cucu Om Kenan namanya Upin Ipin nanti ya." Raymond terbahak, sudah mulai jahil.


"Sekarang sudah bisa jahil, tadi seperti apa saja." Kenan gelengkan kepalanya. Raymond dan yang lain masih saja tertawa. Baby Shakira tidur saja tidak terganggu.


"Bang Alex mana Nik?" tanya Kenan pada Monik.


"Lihat Raymond nangis-nangis dia stress jadi ada dirumah Raymond." jawab Monik membuat semuanya terbahak.


"Iya aku sampai buru-buru dari Jakarta." Kenan gelengkan kepalanya.


"Kalau Om tidak datang tadi, aku marah." jawab Raymond yang rupanya sangat harapkan kehadiran Kenan.


"Hahaha jadi nangis-nangis supaya Om datang ya." Kenan terbahak.


"Iya." jawab Raymond beralasan.


"Tapi kita besok pulang loh, tidak apa kan? aku sudah kerja soalnya." Nanta terkesan sombong. Ayah tertawa mendengarnya.


"Tidak dikasih ijin memangnya?" tanya Raymond pada Ayah.


"Nanti istrinya melahirkan dia ijin lagi, belum lagi kalau harus keluar kota karena Basket. Sorry, harus professional." jawab Ayah menolak memberi ijin, membuat Raymond mencebik, Ayah saklek juga ya.


"Iya makanya aku minta pulang besok biar bisa langsung kerja." jawab Nanta tersenyum.


"Kak Nona mana Om?" tanya Roma lagi.


"Tadi kita antar pulang dulu takut anak-anak rusuh. Om kan tidak tahu kalau situasinya ternyata tidak mencekam juga. Om kira Roma kenapa-napa, kamunya saja rupanya yang cengeng." Kenan tertawakan Raymond.


"Istriku berjuang hidup dan mati loh Om." kata Raymond gelengkan kepalanya, tidak sanggup bayangkan kesakitan istrinya tadi, matanya kembali berkaca-kaca.


"Abang lihat Kak Roma kenapa sih memangnya?" tanya Nanta penasaran.


"Roma kesakitan, Abang tidak kuat." kata Raymond membuat Kenan bersiul menggoda Raymond.


"Ish Om Kenan." Roma jadi tertawakan Om Kenan yang keluar jahilnya.


"Bucin ternyata suami kamu." Kenan terbahak.


"Cinta pakai banget Om, tidak sanggup bayangkan tadi Roma harus pergi dariku. Aku belum siap." Raymond gelengkan kepalanya.


"Mikirnya yang aneh-aneh." sungut Roma.


"Tapi aku berdoa kok sayang." Raymond mengusap kepala istrinya.


"Terima kasih ya." kata Roma pada Raymond.


"Untuk apa?" tanya Raymond.


"Sudah sayang sama aku, sampai menangis begitu lihat aku kesakitan." Roma menatap suaminya mesra.


"Iya sayang, aku juga terima kasih karena kamu rela kesakitan demi anak kita." jawab Raymond. Mereka berdua tampak mesra dan penuh kasih sayang, yang lain diabaikan, keduanya tidak peduli ada banyak orang diruangan.


"Rela keenakan juga." bisik Roma nakal. Bikin Raymond meringis ingat pesan dokter saat kontrol terakhir setelah melahirkan jangan berhubungan dulu sampai masa nifas selesai. Setelah dicari tahu rupanya empat pulu hari. Puasa deh selama itu, pikir Raymond garukkan kepala. Sepertinya harus cari tutorial tips jitu menahan nafsu karena istri belum boleh disentuh.


"Melamun lagi." Roma menepuk bahu suaminya.


"Kamu sih jahil bisikkan itu, suamimu jadi berpikir keras deh." kata Monik pada putrinya.


"Mami dengar?" Roma jadi malu sendiri.


"Bukan Mami saja yang dengar, kita semua dengar." sahut Nanta membuat Roma ingin bersembunyi dibalik selimut, malu sekali sama keluarga suaminya, kalau Mami saja sih tidak masalah. Semua tertawakan Roma yang wajahnya sudah seperti kepiring rebus.


Alhamdulillah 2021 terlewati, hari ini tepat setahun aku nulis I Love you too, ga nyangka bisa sebanyak ini. Terima kasih kk sayangku, semangat di 2022 in syaa Allah kita semua sehat, bahagia, panjang umur, penuh berkah setiap langkah dan saling memberkahi. Terima kasih juga Novel Toon. I love You all and I Love you too pastinya.💕💕