I Love You Too

I Love You Too
Makan malam



"Kalau tahu mau makan malam bersama tadi kita bareng saja, ya Kak." Kata Kiki pada Reza, karena tadi sebelumnya Reza, Mario dan Andi pulang dulu kerumah mereka, mandi dan berganti pakaian baru janjian ke rumah Erwin. Regina dan Kiki memang sengaja tak mereka ajak, karena ada beberapa hal yang mau dibahas dengan Erwin yang tadi tak datang ke Warung Elite.


"Memang tak ada rencana, kebetulan Pipit bawa lauk banyak, jadi kita bisa kumpul sekaligus mengawal calon pengantin." Enji mengerlingkan matanya pada Kiki.


Aku masak laksa singapura, sebentar kuminta neneng mengantar kesini. Kalian harus mencoba." kata Regina sambil menelpon kerumahnya.


"Apa bedanya dengan laksa betawi?" tanya Pipit membuat Regina tersenyum lebar hingga terlihat barisan gigi putihnya.


"Jangan ditanya Pit, makan saja nanti." jawab Mario sambil mengacak anak rambut istrinya.


"Oh Rere belum pernah makan laksa betawi ya." kata Kiki polos.


"Selain belum pernah makan, Rere juga belum pernah masak keduanya. Itu neneng yang masak." jawab Mario membuat Regina memukul mesra bahu suaminya.


"Honey, tapi aku tahu perbedaannya. Kalau laksa betawi pakai rebon, laksa singapura pakai udang dan bakso ikan." jawab Regina menjelaskan.


"Kamu mempelajarinya?" tanya Mario kagum.


"Tidak, aku mendengar Neneng mengoceh saat sedang membuatnya." kekeh Regina membuat Mario lagi-lagi gemas pada istrinya.


"Beginilah nasib kita ya, dapat istri satupun tak ada yang bisa masak." kata Erwin tertawa puas tanpa merasa tersiksa.


"Ya Alhamdulillah kita beruntung, punya suami pengusaha kuliner. Memang Allah sudah mengatur semuanya." jawab Enji tanpa merasa bersalah, membuat yang lain tertawa.


"Kamu dirumah masak apa sayang, mungkin bisa dibawa kesini." kata Reza pada istrinya.


"Sayur pucuk labu sama ayam goreng. Aku suruh Tini bawa kesini ya." Kiki segera mengeluarkan handphonenya.


"Ki, tak usah. Ini saja sudah lebih dari cukup. Bisa-bisa nanti sisanya kita bagi rata lagi seperti yang sudah-sudah." kata Enji menahan tangan Kiki yang siap menghubungi ART nya. Kiki pun memasukkan kembali handphone kesaku celananya.


"Sepertinya berat badan kita bertambah ya, Pipit siap-siaplah." kata Kiki memperingati Pipit.


"Pipit rajin olah raga sayang, kalau kalian bertiga kan hanya Sit dan Up saja." sahut Reza membuat riuh suara para istri, mereka saling berebut menjawab, entar suara siapa yang lebih nyaring, tetap tak terdengar karena mereka semua pada akhirnya tertawa riang.


Mumun ART Erwin dan Enji tampak sibuk menata meja makan, rumah yang biasanya sepi jadi ramai penuh gelak tawa. Neneng pun sudah sibuk membantu Mumun menata meja makan, merapikan Laksa Singapura hasil uji cobanya tadi, yang menurut Regina lezatnya melebihi restauran terkenal di negara asalnya. Tentu saja membuat hidung Neneng kembang kempis.


"Ayo makan." ajak Enji pada tamu kesayangannya, semenjak pindah rumah Erwin yang paling sering menjadi tempat mereka berkumpul. Mereka mulai mencari posisi duduk dan acak yang wanita berkumpul dengan para wanita, lelaki pun begitu, selalu saja begitu karena bahan obrolan mereka berbeda. Para lelaki pasti membahas otomotif dan seputar bisnis , sementara para wanita pembahasannya seputar fashion dan kecantikan.


"Ki, Media sosial lu sudah jarang update kata Rahma teman gue yang kita pernah ketemu dulu." Pipit menyampaikan apa yang dibahas Rahma tadi tentang Kiki.


"Iya sudah pensiun Pit, Kak Eja yang suruh berhenti." jawab Kiki apa adanya.


"Oh sudah gue duga, Bang Eja dari dulu tak suka tampil." Pipit tertawa kecil.


"Kenapa ini Kak Eja, Bang Eja?" tanya Andi yang terpecah konsentrasinya ingin tahu percakapan Pipit dan Kiki.


"Kiki pensiun endors dilarang bang Eja." jawab Pipit pada Andi.


"Nah Pit siap-siap Andi juga suka larang-larang loh." kata Erwin menakut-nakuti Adiknya.


"Bukannya Bang Erwin yang suka larang-larang. Kak Enji sudah dilarang apa saja?" tanya Pipit pada iparnya.


"Tidak ada, Erwin tak pernah melarang, bebas saja." kata Enji membela suaminya.


"Belum!!!" jawab Reza, Mario, Andi dan Pipit bersamaan.


"Wooww, kalian berempat kompak sekali." Regina takjub melihat kekompakan para sahabat dan Adik Erwin. Enji tertawa melihatnya.


"Kalaupun dilarang selama masuk akal, aku akan seperti Kiki, menurut pada suami." kata Enji bijaksana.


"Sepertinya ilmu kalian sama ya, membujuk istri dengan saldo rekening." kata Kiki masih tertawa.


"Tapi kamu suka kan sayang." tanya Reza sambil tersenyum manis pada istrinya.


"Tentuuu." jawab Kiki tanpa malu-malu, walaupun ATM yang Reza berikan sampai kini belum dipakainya karena saldo rekeningnya masih lebih dari cukup dan Reza tahu itu, ia pernah komplen pada Kiki karena belum pernah mendapat notifikasi dari bank.


"Pit, nanti mobilmu tinggalkan saja disini, biar Andi yang mengantar kamu pulang." kata Erwin pada adiknya.


"Iya." jawab Pipit tak membantah.


"Cepat sekali jawab iya." kata Erwin lagi.


"Ish, cari gara-gara terus dari tadi. Sayangnya mood gue lagi bagus. Jadi tak terpancing ya Bang." Pipit melewek pada abangnya. Andi yang tahu Pipit sering dibuat merepet oleh Erwin tertawa melihatnya.


"Sepertinya calon istri lu lagi mencari jati diri." kata Erwin pada Andi. Andi yang pembawaannya selalu santai tertawa mendengar ocehan Erwin.


"Schatz, kamu dari tadi selalu pancing Pipit supaya emosi ya. Jahil sekali." Enji memukul bahu Erwin sedikit kesal.


"Sepertinya lu salah sasaran, friend. Malah Enji yang terpancing." kata Mario mentertawakan Erwin. Yang lain ikut memtertawakan.


Makan malam telah usai, hari juga semakin larut, mengingat besok harus ke kantor dan ke kampus akhirnya para sahabat berpamitan pulang. Andi dan Pipit pun pamit pulang.


"Titip ya, friend." Goda Erwin pada sahabatnya saat Pipit sudah duduk manis di mobil Andi.


"Tak sabar menunggu dua minggu, ingin tahu kalau slow response tuh apa saja aktifitasnya." Andi balik menggoda Erwin. Enji dan Pipit yang tak mengerti hanya menyimak saja.


"Berenang, friend. Bisa dimana saja tak hanya dikolam renang." jawab Erwin terkekeh. Enji yang mulai mengerti langsung menutup wajahnya malu. Mengingat aktifitasnya dengan Erwin memang tak mengenal tempat, mereka pernah melakukannya didapur, diteras belakang bahkan saat dikolam renang.


"Hmm sepertinya ilmu yang bermanfaat." jawab Andi terkekeh, terlebih melihat reaksi Enji yang merah padam.


"Bahas apa sih?" tanya Pipit serius ingin tahu.


"Nanti saja kalau sudah halal," bisik Andi kemudian melambaikan tangannya pada Enji dan Erwin melajukan kendaraannya.


"Pada mesum ya tadi." tanya Pipit penasaran.


"Ih dibilang nanti saja kalau sudah halal. Kalau kamu tanya terus aku cium nih." kata Andi membuat Pipit menutup bibirnya.


"Siapa yang mau cium bibir kamu. Aku hanya mau ini." Andi segera mengecup pipi Pipit cepat, karena sedang menyetir dan kondisi masih didalam perumahan yang tak begitu ramai.


"Duh Bang Andi." Pipit memegang dadanya yang berdebar lebih kencang dari biasanya. Kecupan Andi barusan membuatnya serasa diawang-awang. Andi tersenyum menatap Pipit yang sedang mengatur nafasnya.


"Baru pipi sudah begitu, bagaimana yang lain ya. Aku juga debar-debar." Andi terkekeh mengacak rambut Pipit. Sepertinya harus buru-buru sampai dirumah Papa Permana sebelum angan lainnya menghantui dan menggiring Andi untuk melakukan lebih.


"Pit coba buka laci, semoga kamu suka." Andi menunjuk laci didashboard mobilnya. Laci itu tepat didepan Pipit. Pipit melihat kotak perhiasan didalamnya.


"Cantik sekali, Bang." Pipit menatap kagum pada satu set perhiasan yang baru saja dibukanya. Batunya tampak berkilau dengan pantulan cahaya.


"Itu buat kamu, maaf aku tak romantis. Sepertinya begini saja cukup. Tak harus ditaman dipenuhi balon-balon kan?" tanya Andi sambil fokus menyetir.


"Ini abang lagi melamar aku? biasanya kan yang ditaman ada kalimat will you.." kata Pipit setengah bertanya.


"Iya aku sudah tahu kamu pasti jawab yes I do. Jadi aku cuma mau bilang terima kasih my bunch sudah mau menjadi calon istriku. Semangat menuju dua minggu kedepan." kata Andi sambil menggenggam tangan Pipit lalu mencium punggung tangan Pipit dingan bibirnya. Membuat Pipit kembali berdebar seperti gendang bertalu-talu.


"Sama-sama bunch." jawab Pipit dengan suara bergetar.