
Setelah mendapatkan laporan dari orang suruhannya senin sore, Mario menghubungi Nanta.
"Kita tidak jadi ke Brunei, Boy." kata Mario via telepon.
"Aman disana ya Pi." Nanta menarik nafas lega, tidak jadi tinggalkan istrinya temani Papi Mario ke Brunei.
"Bisa dibilang begitu, hubungan mereka sangat harmonis, anak-anak bersorak senang menyambut Papanya pulang kerja. Tidak ada hal yang mencurigakan dari hubungan keluarga mereka." Mario menjelaskan.
"Syukurlah, Pi. Berarti Papi disini tinggal fokus sama Rumi saja." Nanta tersenyum senang.
"Iya, Rumi sudah terapi yang ketiga." jawab Mario pada Nanta.
"Progressnya sudah kelihatan Pi?" tanya Nanta.
"Sudah mulai berkurang keinginan minumnya, tapi masih belum hilang, tidak secepat itu." jawab Mario.
"Doakan saja Boy. Kalau sudah normal bantu carikan jodoh." kata Mario terkekeh.
"Hehehe in syaa Allah, Pi." Nanta jadi cengengesan, cuma punya stok jomblo, Larry saja. Tapi Rumi cantik, pasti banyak yang suka.
"Aku tidak jadi ke Brunei." lapor Nanta pada Papanya.
"Senang apa tidak?" tanya Kenan.
"Senang." Nanta tersenyum manis.
"Makan es krim terus nih." omel Nona pada Balen yang asik nikmati es krim yang dibawa Larry minggu kemarin.
"Masih banak tuh talo Mamon mau." malah tawarkan Mamon, baik betul. Mamon yang mau ngomel jadi terdiam.
"Opon mau ndak?' tanya Balen pada Opa Baron.
"Tadi sudah, tidak boleh sering-sering." jawab Baron pada cucunya.
"Enak padahan." kata Balen lagi, Ichie juga tampak menikmati es krim tanpa bersuara. Tidak mau terganggu konsentrasinya.
"Larry belikannya terlalu banyak nih, jadi anak-anak minum es krim terus." keluh Nona.
"Janan dimaahin, Baen yan biang beiinna yan dem." katanya membela Larry.
"Harusnya belikan yang kotakan saja." kata Nona lagi.
"Hai mindu suuh bawa yan totak." jawab Balen santai.
"Enak saja minta dibawakan es krim lagi. Tidak boleh ya. Ini saja masih banyak." tegas Nona pada Balen.
"Tan Mamon biang yan totak tadi." malah salahkan Mamon.
"Ish cucu Papa nih, susah sekali dikasih tahu." adu Nona pada Baron.
"Sabar dong, kasih tahunya perlahan." Baron sabari Nona.
"Tuh sabal Mamon, janan maah teus." mulai bersuara Ichie, es krimnya sudah habis jadi sudah berani tampil. Kalau tadi takut ditegur Mamon rupanya.
"Bodo ah." Nona menghela nafas.
"Anak Opa talo ditasih tau suta ditu." gantian cucu mengadu pada Opa. Kenan tertawa geli tanpa dilihat Ichie dan Balen, sementara Baron menahan tawa.
"Anak sama Mamonnya harus saling sabar. Anak kalau dikasih tahu sama orang tua harus menurut." Baron nasehati cucunya.
"Iya." jawab Richie sambil melirik drum es krim sepertinya mau lagi.
"Cukup ya Ichie, besok lagi." kembali suara Nona naik satu oktaf.
"Atu ndak napa-napain dimaahin tuh Opa." adunya lagi pada Opa.
"Jangan pura-pura deh Mamon tahu kamu mau es krim lagi kan?"
"Atu cuma liat aja, Mamon suta ditu tan maah aja, maah aja." sok ngomel gitu si unyil.
"Ncusss masukkan es krimnya ke kulkas ya, anak-anak tidak berhenti ini. Yang dewasa coba dibantu habiskan." kata Nona pada semuanya.
"Saya boleh bu?" tanya Ncusss pada Nona.
"Boleh-boleh pisahkan untuk yang dimakan Balen dan Ichie besok diwadah, yang di drum kamu bawa kebelakang deh makan ramai-ramai." kata Nona pada Ncusss.
"Abisin aja." kata Balen pada Ncusss.
"Baik betul adik Abang." Nanta terkekeh.
"Hai mindu aban Leyi suuh beiin ladi." katanya santai. Nanta jadi tertawa gemas dengan adiknya.
"Baen tamu udah ndak maah sama Aban Leyi, suuh beiin teus sih. Abis nanti uanna." Richie peringatkan Balen.
"Aban Leyi temaen itu biang, talo mo apa tasih tau aja, aban Leyi beiin." Balen ulangi perkataan Larry padanya saat sabtu lalu.
"Atu ndak denel Aban Leyi bilan ditu."
"Nomonna ama Baen butan ama Ichie sih." Balen mencibir pada adiknya.
"Tamu aja yan dibeiin aban Leyi?" tanya Richie.
"Teseah atu sih mo dibeiin apa ndak." jawab Ichie sok cool.
"Talo Baen dibeiin Ichie juda matan sih. Temaen matan tentan doen, teus es kim."
"Eman, abisna Ban Leyi beiin banak sih." langsung tertawa senang Richie.
"Kalau mau apa kasih tahu Abang saja, jangan repoti Aban Leyi terus." kata Nanta pada adiknya.
"Aban Leyi yan suuh sih." Balen membela diri.
"Iya, tapi Balen jangan mengandalkan Abang Larry juga." kata Nona ikutan ingatkan Balen.
"Yah." Balen menurut.
"Nah gitu dong kalau dikasih tahu nurut, jangan jawab saja bisanya." Nona senang sekali anaknya tidak ada yang mendebat
"Yah." jawab Balen lagi.
"Jangan Iya-iya saja." kata Nona bikin Balen mengerutkan alisnya.
"Kamu juga nih, bikin anak serba salah." bisik Baron pada Nona. Kenan cengengesan saja melihat istrinya.
"Dasan ibu-ibu." celutuk Richie.
"Kenapa Ibu-ibu?" tanya Nona.
"Bisana maah ajah." langsung masuk kamar bergabung sama Ncusss sebelum mendengar Mamon merepet.
"Dini jadi anak deh, diomein teus." Balen beranjak menyusul Ichie. Nona jadi nyengir sendiri.
"Enakkan dibilang begitu sama anaknya." Baron menggoda Nona.
"Kebiasaan dengar mereka menjawab, begitu bilang iya terus jadi aneh, beneran iya atau asal iya saja." Nona terkekeh.
"Positif thinking dong sayang." Kenan baru buka suara.
"Iya sih aku curigaan saja." Nona kembali tertawa.
"Duh jadi mau peluk mereka." kata Nona kemudian menyusul kedua bocahnya ke kamar.
"Maklum ya Ken, kamu tahu sendiri wataknya Nona." Baron terkekeh.
"Sangat maklum lah Bang." jawab Kenan ikut tertawa.
"Kamu tidak intip Bude didapur masak apa?" tanya Nanta pada Dania.
"Takut mual cium bau masakan yang masih di kompor." jawab Dania.
"Oh iya aku lupa." Nanta tertawa.
"Siap-siap ke Malang bulan depan, Pa." Nanta ingatkan Papa.
"Roma lahiran ya?" tanya Baron. Nanta anggukan kepalanya.
"Tidak sabar tuh pasti Bang Ray. Aku saja tidak sabar." Nanta terkekeh ingat Abangnya.
"Sudah tahu anak kalian perempuan apa laki-laki?" tanya Baron.
"Tidak mau tahu Padeh, yang penting sehat saja." jawab Nanta.
"Iya Mas Nanta minta dokter tidak memberi tahu." Dania ikut menjawab.
"Kalau tahu kan belanjanya bisa tentukan warna apa."
"Warna biru juga bisa dipakai laki-laki atau perempuan." jawab Nanta tersenyum.
"Mas Nanta bukannya mau warna orens?" tanya Dania.
"Hehehe iya sih biar seperti warna bola basket." Nanta tertawa.
"Seperti Ichie kecil didandani ala pemain basket sama Nanta, Bang." Kenan tertawa.
"Keren kan Pa?" Nanta tersenyum bangga.
"Iya sih, mau dijadikan atlet juga anakmu ya?" tanya Baron lagi.
"Tidak juga. Terserah anaknya saja minatnya kemana." jawab Nanta.
"Balen saja kamu jadikan atlet renang."
"Bukan aku, memang Balennya yang mau, kebetulan Larry perenang professional dengan senang hati melatih Balen berenang." Nanta kembali tersenyum.
"Karena bisa berenang Balen malah ditawari jadi bintang iklan." Kenan jadi tersenyum lebar.
"Ichie juga minat ke basket aku lihat." Baron berasumsi.
"Ichie sepertinya mau bisa semua, berenang mau, basket mau, bahkan sekarang mau belajar bahasa Inggris." Kenan tertawakan Ichie sedikit terharu dan bangga juga dengan anak-anaknya.