I Love You Too

I Love You Too
Boozed Up



"Tidak jadi foto bersama?" tanya Andi. Nanda gelengkan kepalanya sambil tertawa.


"Si Ibu minta aku melatih basket anaknya, tapi sudah aku tawarkan tiga temanku dan hall Basket Cabang Utara. Nanti jumat mau kesini lagi ajak temannya yang mau ikut latihan basket." jawab Nanta menjelaskan.


"Baguslah, Hall basket belum jadi, sudah ada yang daftar." Andi terkekeh.


"Iya Alhamdulillah, siapa marketingnya ya. Cepat sekali infonya." Nanta ikut terkekeh.


"Itu yang tadi Papa mau tunjukkan ke kamu, Nan. Papa sudah pasang di media sosial Hall basket dan wajahmu." jawab Andi. Nanta dan Mario terbahak, pantas saja langsung bawa anak itu Ibunya. Rupanya Papa Andi sudah pasang di media sosial miliknya. Sudah pasti akan banyak yang melihat, karena pengikut Papa Andi sudah jutaan.


"Pantas saja, Papa Andi sudah turun tangan rupanya." Nanta tersenyum pada Papa Andi.


"Gerak cepat Boy, jangan buang waktu. Minggu depan sudah bisa berjalan." jawab Papa Andi, Nanta acungkan jempolnya, betul-betul belajar banyak dari petinggi Warung Elite.


Nanta lanjutkan pekerjaannya lagi, setelah membahas mengenai tehnik marketing dengan Andi lebih detail, Nanta juga membahas mengenai konsep kerja di Cabang Utara.


"Apa Perlu kamu dijadikan pimpanan Cabang Utara Boy?" tanya Andi.


"Tidak usah, Pa." Nanta menolak, tidak ingin ada kejadian seperti Cabang Selatan. Bisa banyak musuh Nanta nanti.


"Kalau mau jadikan aku pimpinan cabang, nanti saja jika memang kosong dan aku tidak menggeser posisi orang " jawab Nanta. Bagaimanapun masih banyak yang meragukan kemampuan Nanta, sebagai anak baru pikirnya hanya mengandalkan keluarga dan kekerabatan saja. Kalau tidak kompeten pasti Ayah dan sahabatnya tidak sungkan untuk menegur Nanta.


"Oke Boy." Andi terkekeh, seperti tahu apa yang Nanta pikirkan.


"Ayo pulang." ajak Mario melihat hari sudah pukul lima sore.


"Aku tunggu di jemput, tadi langsung Dari Bandara." jawab Nanta.


"Siapa yang jemput?" tanya Mario.


"Papa sama Pak Atang." Nanta tertawa seperti anak kecil saja masih dijemput Papa, padahal Papa sambil lewat pulang dari kantor.


"Suruh langsung pulang saja, kamu sama Papi." kata Mario, segera hubungi Kenan.


"Ya Bang." jawab Kenan dari seberang.


"Nanta pulang sama gue, tidak usah jemput." tegasnya pada Kenan.


"Kalau sudah perintah bosnya saya bisa apa." jawab Kenan terkekeh, Mario pun ikut terkekeh, mereka bicara ngalor-ngidul lalu matikan teleponnya.


"Pasti mau bahas soal Rumi." tebak Andi, Mario kembali tertawa.


"Kenapa Rumi, Pi?" tanya Nanta.


"Sekalian bahas di jalan saja." kata Mario sambil beberes dimejanya, Nanta dan Andi juga ikut beberes, bersiap untuk pulang.


"Aku yang setir?" Nanta sodorkan tangannya, Mario langsung serahkan kunci mobil, begitu Mobil berbunyi efek tombol buka pada remote ditekan Nanta Andi langsung naik ke bangku penumpang belakang. Mario duduk di bangku penumpang depan.


"Tumben Papa Andi tidak bawa mobil."


"Tidak ada rencana ke wilayah lain jadi satu mobil saja." jawab Andi.


"Betul." jawab Mario.


"Besok?" tanya Nanta.


"Satu mobil lagi, kita bertiga ke cabang utara, kamu tunggu dirumah ya nanti kami jemput." jawab Mario lagi.


"Oke Pi." jawab Nanta.


Nanta mulai lajukan kendaraannya perlahan.


"Jemput Rumi dan Mami dulu, Boy. Mereka habis terapi." kata Mario lagi.


"Dimana?" tanya Nanta, Mario sebutkan nama Rumah Sakit dekat rumah.


"Tidak jadi di dokter Dania, Pi?" tanya Nanta.


"Jadi, dia ada praktek disana juga."


"Boy, bagaimana Larry sama Rumi?" tanya Mario pada Nanta.


"Aku belum ada bahas itu, Pi." jawab Nanta jujur tapi tidak detail. Maksudnya tidak dibahas lagi karena Nanta dan sahabatnya keberatan jika Larry dengan Rumi, mengingat Rumi pecandu.


"Coba cari tahu, karena Rumi sukai Larry, Papi lihat Larry baik. Rumi sendiri lagi memantaskan diri." perintah Mario pada Nanta.


"Nanti ya Pi, aku cari tahu. Tapi aku tidak bisa paksakan Larry ya Pi." kata Nanta lagi.


"Apa Larry jadi malas karena tahu masalah Rumi?" tanya Mario, hmm, Mike sih yang paling keberatan diantara mereka berempat.


"Tidak bahas juga, karena Larry kan banyak yang suka, sementara aku memang awalnya ingin jodohkan Larry sama Rumi, tapi jujur begitu tahu Rumi pecandu aku tidak lagi berani dorong Larry." jawab Nanta.


"Papi mengerti sih, kita semua juga pasti inginkan wanita baik-baik yang jadi istri kita kan." kata Mario maklum.


"Rumi sebenarnya anak baik, hanya Salah langkah saja." kata Andi pada Mario.


"Salah keluarga gue, dari awal tidak cerita sama gue. Tuh jadi main salahkan mereka kan gue." Mario terkekeh.


"Yang penting Rumi semangat sembuh kan?" tanya Andi.


"Gue lihat begitu, gue bilang kalau mau sama Larry pantaskan diri. Tidak mungkin Larry mau punya istri yang suka oleng." kata Mario membuat mereka semua terbahak.


"Papi sudah selidiki Larry, anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya petinggi di Kejaksaan. Sering ganti pacar, hanya saja beberapa bulan ini tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Juga tidak sedang mendekati wanita manapun." kata Mario bacakan hasil penyelidikannya.


"Waduh anak pejabat, jangan sampai seperti gue sama Cindy." Andi mengingatkan karena pernah ditolak karena hanya sebagai pengusaha bukan pekerja di Pemerintahan.


"Itu sih yang gue khawatirkan." Mario terkekeh.


"Paling tidak Rumi perbaiki diri dulu, Pi " kata Nanta.


"Iya, tapi agak berat ini. Apa pejabat mau punya menantu pesakitan." Mario menghela nafas.


"Aku belum pernah bahas detail itu sih Pi." jawab Nanta tersenyum, mulai memasuki halaman parkir rumah sakit.


"Langsung ke Lobby saja mereka menunggu disana." kata Mario. Benar saja saat Nanta hentikan kendaraannya di Lobby, Mami Regina sudah menunggu bersama Rumi.


"Depan, Ndi." perintah Mario pada Andi kemudian mereka bertukar tempat. Rumi dan Regina masuki Mobil setelah sebelumnya bertegur sapa dengan Nanta.


"Langsung ke rumahmu, Boy." perintah Mario pada Nanta.


"Iya Pi." jawab Nanta menurut, kembali lajukan kendaraannya.


"Bagaimana hasil hari ini?" tanya Mario pada Regina dan Rumi.


"Semakin baik." jawab Rumi yakin.


"Sudah bisa tinggalkan alcohol?" tanya Mario lagi.


"Belum, tapi sudah berkurang jauh." jawab Rumi.


"Berkurang jauh bagaimana?" tanya Mario lagi.


"Aku sudah bisa minum air putih, alcohol porsinya seperti porsi air putih aku saat masih suka boozed up (Mabok)." jawab Rumi lagi.


"Semangat Rum." kata Nanta pada Rumi.


"Semangat kalau Larry juga ikut semangati aku." Rumi to the point.


"Telepon saja minta disemangati." kata Nanta sambil fokus menyetir.


"Tidak pernah diangkat." jawab Rumi menghela nafas.


"Kecuali aku chat bilang mau bahas pekerjaan." lanjut Rumi lagi.


"Padahal katanya mau jadi temanku." kembali Rumi bersungut.