
Kehebohan di Mobil Mike tampak jelas dari mobil yang dikendarai Larry, ia jadi ikut tertawa melihat dua cewek dibelakang tidak bisa diam, tampak rusuh walau tidak terdengar, apa lagi kaca mobil Mike tidak begitu gelap.
"Mereka bahas apa sih, rusuh betul." Larry terkekeh.
"Lain kali kalau jalan begini sewa minibus lah, biar serunya sama-sama." kata Doni tidak terima, mereka dimobil ini tidak seseru Mike dan Nanta.
"Menyesal pilih ikut gue." Larry terbahak.
"Mestinya gue ikut Om Kenan." kata Daniel pada Abangnya.
"Ada Balen dan Richie disana." Dona terbahak. Sudah pasti seru ada duo bocah itu.
Mereka sudah masuki wilayah Cirebon, tinggal beberapa menit lagi tiba dirumah Om Deni. Menjelang sore tepat adzan ashar berkumandang, mereka tiba di halaman rumah Deni, rombongan Papa juga sudah tiba di Cirebon tapi mereka langsung menuju rumah makan terkenal karena sepanjang jalan tadi tidak seperti rombongan Nanta yang tiap sebentar mampir untuk makan.
"Selamat datang." sambut Deni pada adik ipar dan keponakannya.
"Surprise..." teriak Nanta membentangkan tangannya.
"Surprise apanya, dari tadi telepon minta disiapkan makanan." protes Dini membuat semuanya tertawa.
"Nanti malam kita makan ditempat enak ya." kata Deni persilahkan semuanya masuk dengan gerakan tangan.
"Om, kata Mamon kita disuruh menginap yang dekat sini tuh. Yang dulu waktu Papa kecelakaan." Nanta beritahu Deni.
"Oh mau disitu? menginap disini saja sih, banyak kamar." kata Deni pada semuanya.
"Iya disini saja, itu banyak kamar kosong." kata Dini lagi.
"Ya sudah terserah saja, asal tidak merepotkan." jawab Doni sok bijaksana.
"Dari awal sudah merepotkan, pesan ini itu lu. Belum juga sampai sudah minta siapkan oleh-oleh." Dini bergaya akan menonjok adiknya. Doni dan Dona terbahak.
"Gantian, tiap gue ke luar kota, isi koper sama Mobil gue pesanan kakak semua." kata Doni rupanya ingin balas dendam repotkan Kakaknya.
"Kenalkan ini Daniel adiknya Larry." Nanta menunjuk Daniel pada Deni dan Dini.
"Halo Om, Tante." Daniel anggukan kepalanya dan tersenyum dengan manis.
"Duh Daniel, untung gue belum hamil." kata Dini memegang perutnya.
"Kenapa kalau hamil?" tanya Nanta.
"Request anak gue ganteng kaya Daniel." kata Dini tertawa.
"Dulu saja bilang mau anak seperti gue." protes Doni.
"Sebelum gue lihat Daniel." jawab Dini.
"Tidak apa mirip siapapun yang penting bapaknya Deni." jawab Deni terkekeh.
"Pasti bapaknya kamu sayang, mau siapa memangnya." Dini tertawa, Deni pun ikut tertawa.
"Eh ini siapa?" tanya Dini menunjuk Rumi yang berdiri disebelah Dania dan Dona.
"Ini ponakannya Papi Mario. Bos Unagroup dia yang handel iklan kita. Eh Om, ada dokter single boleh kenalkan sama Rumi." langsung saja Nanta promosikan Rumi untuk dikenalkan dengan dokter. Urusan Larry saja belum selesai. Rumi tertawa saja jadinya, Nanta benar tepati omongannya.
"Ada sebentar lagi datang nih." Deni terkekeh.
"Siapa yang datang?" tanya Larry ingin tahu, siapa tahu Femi kan.
"Dokter single yang mau dikenalkan sama Rumi." jawab Deni terkekeh. Larry ikut terkekeh, malah Rumi yang mau dikenalkan sama dokter single.
"Femi bagaimana Om?" tanya Mike lagi.
"Larry nanti kita bicara empat mata ya soal Femi." kata Deni pada Larry.
"Om usahakan bicara empat mata tapi empat belas kuping disini mendengar." kata Mike pada Deni, semua terbahak, tingkat kekepoan tidak bisa Mike sembunyikan.
"Selalu mau tahu urusan gue." Larry gelengkan kepalanya.
"Ya sudah sana istirahat dulu." Deni persilahkan semuanya menuju kamar untuk istirahat, welcome drink dan welcome snack sudah tersedia dimeja.
"Nanta antarkan ke kamar masing-masing dong." kata Deni pada Nanta.
"Kalian sudah tahu kamar masing-masing kan?" tanya Dini pada Nanta dan Doni, rupanya sudah ada kamar khusus untuk mereka dirumah ini. Nanta tempati kamar Opon, sedangkan Doni tempati kamar Papa Jonas.
"Seiqa sini." panggil Dini sepupu rasa sahabat ini.
"Aku sama Rumi tidur dimana?" tanya Seiqa.
"Situ." tunjuk Dini pada kamar tepat disebelah kamar Doni Dan Dona.
"Kalian tiga pria tampan, disini." tunjuk Deni pada kamar didekatnya berdiri." Aman urusan perkamaran, rumah Deni yang tidak bertingkat tapi karena luas jadi banyak kamar disana. Kamar anak-anak sudah disiapkan berhubung anaknya belum lahir sementara dijadikan kamar tamu dulu.
"Assalamualaikum..." rupanya tamu yang Deni tunggu tiba, ia memang meminta staff nya untuk datang antarkan materi yang ia butuhkan untuk presentasi hari senin saat seminar. Deni memang sering diminta jadi narasumber untuk seminar kesehatan.
"Waalaikumusalaam..." jawab Dini segera menuju pintu, ingin tahu siapa yang datang.
"Kamu ikut Fem?" tanya Dini langsung saja Mike siul-siul, cewek yang Larry pertimbangkan walau bukan type eh malah abaikan Larry, bikin penasaran sih sebenarnya, berhubung Larry biasa dikejar cewek jadi terhenti begitu saja karena tidak ada tanggapan.
"Calon kakak ipar lu tuh." bisik Mike pada Daniel.
"Gue jangan keluar kalau begitu, soalnya gantengan gue." kata Daniel tengil, semua jadi tertawa. Rumi ikut cengengesan jadinya, tapi ingin mengintip juga seperti apa cewek yang Larry suka.
"Larry, ada Femi nih." panggil Dini pada Larry, entah apa yang tadi Dini bahas didepan sama Femi.
"Eh..." Larry jadi garuk kepala bingung, kenapa panggil Larry, kan jadi canggung. Tapi ikut keluar hampiri Femi.
"Hai Femi apa kabar?" sapa Larry saat mendekati Femi.
"Alhamdulillah, masih seperti dulu." jawab Femi tersenyum.
"Aku masuk ya ketemu Dokter Deni." ijin pria yang datang bersama Femi tadi.
"Langsung keruang kerja saja, Fin." kata Dini pada Fino, pria berkacamata yang tingginya hampir sama dengan Larry. Pembawaannya kalem dan terlihat pintar, tapi tidak culun. Penampilan menarik, kesan pertama menyenangkan, langsung saja Larry menilai Fin yang akan dikenalkan dengan Rumi. Main Fin saja mungkin namanya Fino, pikir Larry.
"Itu sepupuku." Femi menjelaskan tanpa diminta.
"Oh bukan pacar?" Larry menggoda Femi.
"Hehehe tidak ada yang mau." jawab Femi mancing-mancing.
"Masa? jual mahal sih." jawab Larry apa adanya, Femi terkekeh.
"Jual mahal ada sebab." jawab Femi.
"Eh aku lihat kamu di tv loh, jadi bintang iklan ya, keren." Femi acungkan jempolnya memandang Larry, tapi langsung menunduk saat Larry balas pandangi Femi. Ini yang Larry suka, Femi selalu terlihat malu kalau Larry pandangi lama.
"Temani Balen, sebenarnya bintangnya Balen." jawab Larry, suasana hening didalam, Larry curiga sahabatnya sedang menguping pembicaraannya dengan Femi diteras depan. Iseng Larry menekan tombol handphonenya menghubungi sahabatnya via group, benar saja bunyi handphone berdering bersahutan dekat sekali.
Keluar saja kalau mau ikut ngobrol.
pesan Larry kirimkan ke group. Langsung kasak kusuk bunyi langkah menjauh, dasar geng kwartet keponya sangat maksimal.
"Kenapa?" tanya Femi pada Larry yang tertawa sendiri.
"Jalan yuk, sambil tunggu sepupu kamu." ajak Larry, mending bicara dimobil daripada di teras pada menguping.
"Ijin dulu." kata Femi.
"Tidak usah, setengah jam saja tidak lama-lama." kata Larry lagi segera beranjak ajak Femi cari es krim. Mereka berdua menuju Mobil segera pergi entah kemana.
"Ah, malah pergi, tidak dengar deh." keluh Mike langsung Nanta dan Doni terbahak.
"Larry lebih pintar dari kita." Nanta tertawa.
"Pintar tapi lamban." jawab Mike tengil kembali mereka terbahak.